Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 57



Hari itu Nazyela mendapatkan secarik kertas alamat dimana ia bisa membeli senjata yang ia inginkan. Ia lalu membawa 2 kantung koin emasnya untuk di tukar menjadi uang yang bisa di gunakan di negara Korea itu. Koin emas yang dimiliki Nazyela bukan lah koin uang receh biasa. Namun koin itu benar-benar emas batangan yang berbentuk bulat seperti koin. Nilai emas sangat berharga di negara manapun gadis itu berada. Untuk itu Nazyela tidak merasa kesulitan dalam membiayai hidup mereka sehari-hari.


Tetapi gadis itu mulai berpikir ada baiknya mereka memiliki pekerjaan agar mereka bisa bertahan untuk tinggal disana. Uang yang ada lambat laun tentu akan habis juga.


Dirumah.


"Yukil..dimana kau meletakkan alat perang mu?"


"Ada di gudang nona, kenapa?"


"Kita akan membawanya ke toko barang antik. Sepertinya barang-barangmu itu bisa digunakan sebagai modal untuk membeli pistol"


Nazyela terlihat bersemangat.


"Hah.. nona sungguh kejam. Bukankah nona baru saja mendapatkan uang yang banyak dari penukaran koin tadi?"


Sir. Yukil mulai protes.


"Wah.. wah.. lihat ini. Kau sudah berani membantah rupanya"


"Bukan begitu nona, pedang-pedang itu senjata kesayangan saya nona"


"Kau bisa memilikinya lagi setelah kita kembali ke Theora Yukil.. "


"Hah... apa boleh buat. Baiklah nona...tapi tinggalkan satu pedang berharga untuk saya"


Dengan lesu Sir. Yukil beranjak dari duduknya dan mengambil peti besar yang ia letakkan di gudang rumah itu.


"Tidak perlu sekarang, kalau kita kehabisan uang maka pedang mu akan aku jual"


"Ah.. nona tega sekali"


"Pftt..."


Nakuna terkekeh melihat kelakuan kekasihnya.


"Kenapa kau tertawa Naku?"


Nazyela penasaran melihat Nakuna terkekeh begitu.


"Aku tidak dapat membayangkan, dia yang begitu gagah berani dalam bertarung mengalahkan lawan tapi begitu menciut menghadapi nona"


"Hehehe.. dia bukan takut padaku tapi segan. Mungkin karena aku adalah tuannya"


"Ah.. iya maaf kan saya nona, saya lupa diri. Karena terlalu dekat dengan nona saya jadi merasa nona sahabat dekat saya. Maafkan atas kekurangan ajaran saya ini nona?! "


" Hehehe... tidak apa-apa Naku. Benar juga kau memberikan aku ide.. bagaimana jika kalian memanggil ku dengan nama selama tinggal di negara ini?"


"Ya?!! Itu tidak mungkin nona?!"


"Anda jangan bercanda nona? "


Tanya Sir. Yukil yang bingung dengan sikap nona nya.


"Ini perintah jadi itu mungkin saja"


"Tapi??!! "


Nakuna mencoba untuk membantah.


" Ssstt.. "


Nazyela mengisyaratkan kepada Nakuna untuk diam satelah meletakkan jari telunjuknya di mulutnya.


Nakuna hanya terdiam tidak dapat berkata apa-apa lagi jika nona nya berkata itu adalah perintah.


Keesokan harinya, Nazyela dan Sir. Yukil mendatangi alamat yang tertera di kertas itu.


Mereka berdiri di depan sebuah kafe minuman.


"Apa benar ini tempatnya no.. Naz!"


Sir. Yukil hampir memanggil Nazyela dengan sebutan nona tapi berubah cepat saat Nazyela melototkan matanya pada lelaki itu.


Lelaki itu merasa canggung dan hanya bisa mengusap tengkuk lehernya.


"Ayo masuk?!"


Ajak Nazyela.


Mereka lalu masuk dan duduk menghadap bartender.


"What do you want to drink sir?"


Bartender mencoba berbicara dengan Sir.Yukil ketika melihat tampangnya yang bule tulen itu.


"Jeowa geuege juseuman juseyo.. "


(Berikan aku dan dia jus saja tuan)


Jawab Nazyela dengan bahasa Indonesia namun yang terdengar oleh mereka adalah bahasa Korea.


" Oh.. nona bisa bahasa Korea rupanya. Sebentar... "


Tak lama minuman yang di pesan Nazyela datang.


" Silahkan tuan, nona..."


"Terima kasih tuan dan ini... "


Nazyela menyodorkan uang untuk membayar minuman itu dan menyelipkan sekeping koin emas di antaranya.


Wajah bartender itu berubah serius dan menatap curiga kepada Nazyela dan Sir. Yukil.


"Aku ingin membeli senjata bisa kah anda menunjukkan nya?"


Nazyela menatap tajam bartender itu.


"Pergilah kedapur melewati pintu itu, lalu katakan gagak hitam pada koki disana"


Ujar bartender itu sambil mengelap meja bekas diletakkannya gelas minuman mereka.


"Terima kasih tuan"


Sesampainya di dalam Nazyela dan Sir. Yukil di tatap oleh beberapa mata yang ada disana. Gadis itu tetap tenang lalu mendekati sang koki dan mengatakan apa yang disarankan bartender tadi.


"Gagak hitam"


Sang koki menatap serius lalu Nazyela lalu menuntun mereka ke sebuah ruangan.


Didalam ruangan yang tidak seberapa luas itu kembali Nazyela di ajak masuk kesebuah ruangan di balik lemari besar yang ternyata bisa di geser.


Pemuda itu ternyata hanya menggeserkan lemari saja. Di dalam ruangan lain yang lebih besar tiga pria sedang duduk disana.


Sepertinya yang duduk di tengah itu bosnya.. tapi wajahnya tak kelihatan karena dia menghadap ke dinding. Kira-kira seseram apa ya wajahnya?


Nazyela berhalusinasi membayangkan wajah di balik kursi besar itu.


"Jadi senjata jenis apa yang anda inginkan nona?"


Sang pemilik suara membalikan kursinya dan terlihat lah wajah tampannya yang mengejutkan Nazyela.



"Babang icang?!! Ups!!"


Nazyela terkejut langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Sir. Yukil terlihat kebingungan dengan Nazyela.


Pemuda itu melirik tajam ke arah Sir. Yukil.


Nazyela yang paham akan tatapan itu segera menepis kecurigaan lelaki itu.


"Aku ingin senjata yang ringan dan tidak terlalu besar, mudah di bawa dan bisa menembus tembok dinding yang tebal"


Ucap Nazyela asal-asalan.


"Wah... wah.. lihat ini, ternyata seleramu tinggi juga nona. Baiklah berapa banyak yang kau inginkan?"


Apa?! ternyata ada ya, padahal aku hanya bicara sembarangan


"5 dengan amunisinya"


Bos tadi menggerakkan jarinya, lalu lelaki yang berdiri tidak jauh darinya mengambilkan senjata yang sesuai dengan permintaan Nazyela beserta beberapa pelurunya.



"Ajari aku cara menggunakannya"


Nazyela tampak santai lalu meletakkan kantung kain yang berisi 50 keping koin emasnya.


Lelaki itu mengambil kantung kain dan menuangkannya ke atas meja.


Kepingan koin itu pun mengeliding di atas meja. Lelaki itu mengambilnya sekeping lalu menggigitnya kuat-kuat.


Merasa yakin itu benar-benar emas lelaki itu terkekeh merasa puas akan bayaran yang ia dapat.


"Kau lucu sekali nona, baik lah.. aku akan mengajarimu"


Lelaki itu mengambil salah satu pistol di atas meja itu kemudian merakitnya dan memasukkan pelurunya.


"Perhatikan"


Ucap Nazyela pelan kepada Sir. Yukil.


Lelaki itu menganggukan kepala mengiyakan perintah nona nya.


Lalu bos itu mengarahkan pistol ke arah papan target yang telah di siap kan oleh anak buahnya.


"DOORR...!!"


Peluru mengenai sasaran di tengah.


"Tuan jitu juga ternyata"


Puji Nazyela tersenyum manis.


"Hahahaha... kau pandai merayu juga ya. Baiklah.. sebagai bonus aku tambahkan peluru untuk kau belajar menembak"


"Terima kasih tuan"


Nazyela tersenyum senang.


Pistol-pistol itu lalu di kemas kedalam peti kayu kecil. yang ternyata memiliki dua ruang. Ruang di atasnya barulah di letakkan sebotol minuman anggur yang berusia cukup lama untuk mengelabui bila ada pemeriksaan.


"Senang berbisnis dengan anda nona"


Bos itu mengulurkan tangannya hendak menyalami Nazyela. Gadis itu menerima sambutan hangat tangan lelaki itu.


Kemudian bos itu mengantarkan Nazyela dan Sir. Yukil sampai kedepan pintu.


"Pintu kami terbuka lebar jika anda membutuhkan barang kami lagi nona"


"Wah, kau baik sekali tuan. Terima kasih tentu aku akan kembali lagi jika aku butuh bantuanmu"


Nazyela tampak senang mendengar ucapan pemuda itu.


Sebenarnya yang membuat gadis itu tampak senang adalah ia bisa bertemu lagi dengan bos yang mirip dengan seseorang yang ia kagumi.


Saat pintu itu telah tertutup rapat. Pemuda itu kembali ke kursinya dan terlihat tersenyum sendiri.


"Gadis polos yang berani. Sepertinya aku menyukai gadis itu"


"Dia juga sangat cantik hyung"


Kata salah seorang anak buahnya memberikan pendapat.


"Cari tahu dimana ia tinggal"


"Baik hyung"


Pemuda itu lalu bergegas keluar mengejar Nazyela untuk membuntutinya hingga sampai kerumah.


📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Terima kasih 🤗