
Sebulan berlalu masa hanymoon mulai berakhir. Aktifitas kembali seperti sedia kala. Karena tugas Wilson selalu berada di samping Jongya, kini Suly selalu mengikuti Nazyela kemana-mana. Dan Mereka selalu bertiga bersama Nakuna.
Nazyela dan Jongya memilih tinggal di mension yang tidak berada jauh dari istana.
"Apa kau tidak ingin kembali ke negara mu Suly?"
Tanya Nazyela penasaran. Suly yang merupakan wanita karir tentu merasakan bosan bila hanya berpangku tangan pikirnya.
"Saat ini aku betah disini. Yah, kadang aku juga rindu suasana Korea. Sesekali pasti aku akan ke sana"
Jawab Suly santai.
"Korea negara yang indah, meski ada kenangan piluku disana"
Ungkap Nazyela yang mengingat suami pertamanya Ji Chang.
"Tuan Ji Chang ya, dia sudah tenang disana. Oh ya.. bagaimana malam pertamamu?"
"Uhuk... uhuk.. uhukk...?!"
Nazyela terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Suly.
"Nona Suly anda ini terlalu blak-blakan sekali"
Nakuna berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kau sendiri bagaimana malam pertamamu?"
"Astagaa...."
Nakuna langsung memerah menahan malu mendengar pertanyaan Suly yang di tuju kan padanya.
"Hehehe...."
Suly merasa puas mengerjai dua wanita di hadapannya itu.
"Nona... ada yang ingin bertemu dengan anda"
Ucap Sir.Yukil yang datang menyampaikan pesan.
"Siapa?"
"Kalian sudah melupakan aku?"
Nenek muncul dari balik punggung Sir.Yukil.
"Nenek..."
Serempak Nazyela dan Suly menyapa wanita tua itu.
"Hohoho.... lihatlah wajah para pengantin baru ini"
"Ehem..."
Sir. Yukil berdehem mendengar ucapan sang nenek yang secara tak langsung juga mengenai dirinya.
Nazyela lalu berdiri dan mempersilahkan sang nenek duduk.
"Bagaimana dengan bisnis-bisnismu Nazyela.. apa kau masih bekerja?"
Tanya nenek yang tahu bahwa Nazyela di sini adalah wanita pebisnis.
"Semua sudah diserahkan pada asisten ku nek, berberapa waktu sekali mereka akan memberikan laporannya kepadaku"
"Oh.. sukurlah. Kalian tidak boleh memporsirkan tenaga secara berlebihan jika ingin segera memiliki keturunan"
Ketiganya merona mendengar perkataan nenek.
"Hmpp....mmpp"
Nazyela menutup mulutnya karena melakukan hal yang tidak sopan di hadapan semua orang. Tiba-tiba saja ia seperti ingin muntah karena merasakan mual yang teramat sangat.
"Oh.. maafkan aku, sepertinya hari ini aku kurang sehat"
"Waaah... kau banyak menghabiskan malam indah ternyata sampai-sampai kau masuk angin karena keseringan melepas pakaian"
"Husss Suly...?!"
Suly langsung beralih pandangan setelah di tegur sang nenek.
"Beristirahat lah nak, Nakuna bawa lah nona mu kembali ke kamarnya"
"Baik nek"
"Maafkan aku nek, kalau begitu aku permisi"
Nazyela pun berlalu dari hadapan sang nenek.
Wajah nenek tersenyum bahagia, ia pun bersenandung riang sambil meneguk minumannya.
"Nenek terlihat senang sekali"
Suly yang memperhatikan perubahan sikap sang nenek menjadi penasaran.
"Tentu saja, tidak lama lagi kau akan memiliki ponakan"
"Ponakan?? Apa nenek pikir yang tadi itu Nazyela sedang hamil?!"
Suly menutup mulutnya tak percaya, namun kabar itu juga membuat dirinya ikut bahagia.
"Aihh... Wilson, ****** dan strategimu ternyata masih kalah unggul dengan Jongya"
"Suly....?!"
"Ups... maaf nek, hehehe...."
Nenek hanya bisa menggelengkan kepala atas sikap cucunya yang satu itu.
*****
Sementara itu, di kamar Nazyela.
Saran Nakuna pada nonanya.
Nazyela tidak dapat membantah, entah kenapa tubuhnya tiba-tiba lemas seperti itu.
Sejam kemudian dokter datang memeriksa Nazyela. Nenek, Suly dan Nakuna menemani Nazyela di dalam kamar sembari di periksa oleh dokter.
Dokter tersenyum setelah memeriksa Nazyela.
"Selamat nona, saat ini anda sedang mengandung dan sudah mulai memasuki usia dua minggu "
"Apa?!"
Semua orang di ruang itu menutup mulutnya mendengar kabar bahagia itu terkecuali nenek yang sudah menebak keadaan Nazyela.
Dokter lalu memberikan resep untuk mengurangi rasa mual yang akan di alami Nazyela.
"Selamat nona.. ini sungguh kabar gembira untuk negara ini"
Ungkap Nakuna antusias.
"Waah, kau mengalahkan aku"
Ucap Suly bercanda namun ikut bahagia.
"Aku tidak menyangka akan hamil secepat ini padahal baru saja rasanya pesta pernikahan ku di gelar"
"Bersyukur lah nona, anda membuat kami semua iri"
"Ini berkah dan anugerah yang luar biasa, tentu saja aku sangat bersyukur"
Nazyela merasa sangat bahagia, kebahagiaannya hampir sempurna dengan janin yang mulai tumbuh dalam perutnya. Wanita itu lalu berencana mengunjungi kediaman Kley untuk berbagi kebahagiaan bersama keluarganya disana.
Saat malam tiba ketika semua telah kembali keperaduan masing-masing. Nazyela sudah tidak sabar mengatakan pada suaminya berita bahagia yang baru juga ia ketahui tadi siang.
"Sayang, sini...."
Dengan manjanya Nazyela meminta Jongya mendekatinya.
"Mau berapa ronde malam ini?"
"Seperti jadwal manggung mu harus dikurangi mulai malam ini"
Jongya terperangah mendengar ucapan sang isteri.
"Apa aku telah melakukan kesalahan? Kita masih pengantin baru sayang..."
"Aku tidak menolak untuk bercinta tiap malam sayang, tapi setidaknya satu malam hanya sekali saja agar anak kita di dalam perutku ini tidak mengomeli ayahnya yang selalu membawa pentungan tiap malam"
Jelas Nazyela sambil tersipu malu.
"Apa?? Anak?! Anak kita?! maksud mu kau sedang hamil sayang??"
Nazyela mengangguk mengiyakan pertanyaan sang suami.
"Serius?!"
Masih tidak percaya pada sang isteri, Jongya berulang menanyakannya kembali.
Dan masih dengan jawaban yang sama, Nazyela menganggukan kepala menjawab pertanyaan Jongya.
"Hahahaha... aku akan menjadi seorang ayah.., aku akan jadi ayah...!!"
Suara keras Jongya mengisi ruang kamar bahkan kelorong mension yang mereka tempati. Para pengawal dan pelayan yang mendengar suara itu ikut tersenyum bahagia.
"Terima kasih ya Allah.., terima kasih sayang..."
Jongya langsung mendaratkan ciumannya bertubi-tubi ke seluruh wajah Nazyela. Kabar itu merupakan berita yang paling membahagiakan baginya.
Pemuda itu lalu mendekati perut Nazyela yang masih rata, mengusap dengan lembut sambil berbicara kepada janin yang seolah-olah bisa mengerti obrolan nya.
"Nak, tumbuh lah dengan sehat di dalam perut ibumu. Baik-baik lah di dalam sana dan jangan nakal"
Jongya lalu mencium perut Nazyela dengan perlahan.
"Baiklah... aku tidak akan memaksa jika kau tidak ingin sayang. Aku ingin kau dan bayi kita terus sehat, dan mulai sekarang kurangi pekerjaan mu yang membuat lelah apalagi stres. Kau mengerti..."
"Hehehe... iya, iya..."
Malam itu pun di lalui mereka tanpa pergulatan yang menguras habis tenaga. Mereka melakukannya lebih hati-hati dan perlahan.
"Sakit??"
"Tidak...."
"Begini enak?"
"Yah... lumayan"
"Apa lumayan?"
"Hehehe..."
"Oh.. tidak boleh. Kalau begitu harus begini..."
"Oohh... sayang"
Dan akhirnya mereka pun melakukannya, puncak kenikmatan menyemburkan cairan di dalam goa gelap yang menjadi pintu menuju tempat dimana sang janin sedang tertidur dengan lelap. Dan setelah itu, mereka tertidur pulas dalam dekapan hangat tanpa sehelai benang pun di tubuh mereka.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.
~Jangan lupa favorit ❤️
~Rate⭐⭐⭐⭐⭐
~Hadiah
~Vote
Terima kasih 🤗