
Setelah mendengarkan kisah Jongya, sore itu Suly membawa Jongya ke sebuah kafe yang menjadi tempat langganannya.
Ia pun memesan minuman kepada pelayan.
"Bawakan aku segelas minuman dengan kadar alkohol rendah. Dan dia... jus saja?! "
Jongya hanya di ijinkan minum jus agar mereka tidak mabuk berdua.
" Kau terlihat suntuk?"
"Ini karena kisahmu...aku jadi ikutan pusing. Lalu kau sekarang mau bagaimana?"
Mereka mulai menyambung lagi obrolan yang sempat terhenti di mobil.
"Aku ingin kami bersatu kembali. Selama ini aku berusaha selalu mendekatinya lagi. Bahkan aku pernah menawarkannya untuk menjadi selirku, tapi dia menolak. Aku juga sudah bilang padanya akan menceraikan istriku demi bisa bersamanya"
"Hah...kau gila?! Mana ada wanita yang mau berbagi cinta. Pantas saja kau di tinggalkan olehnya?!"
"Tapi saat itu aku tidak mencintai istri ku. Aku hanya mencintai dia"
"Hey... dengar ya tuan pangeran.., kalau kau mencintai seseorang jangan pernah menjadikan orang itu pihak ke tiga. Kau harus menentukan dia atau istri mu"
"Aku sudah bercerai, meski dengan perjuangan yang berat aku tetap ingin bersamanya dan hanya mencintainya"
"Lalu katamu kau telah menemukannya?!"
"Benar, tapi dia sedang dekat dengan laki-laki lain".
"Hah... rumit. Baiklah... beri dia waktu. Kau jangan terlalu memaksa. Coba untuk mengerti apa maunya. Dan jika menurut mu dia bahagia apa pun kebahagiaan itu kau dukung saja. Mungkin dia bukan jodohmu"
"Kau menyuruhku menyerah?! "
"Sesuatu yang dipaksakan tidak lah berakhir dengan semua hal baik"
Jongya hanya diam mendengar perkataan Suly.
Suly menghela napas, sebenarnya setelah mendengar kisah hidup Jongya wanita itu merasa kasihan padanya.
"Kau ini terlalu memaksakan perasaan mu padanya. Kau kan bisa jatuh cinta lagi. Memangnya kau sudah pacaran berapa kali?"
Suly melanjutkan obrolan nya.
"Dia cinta pertamaku, aku menikah lebih dulu belum sempat pacaran dengan nya"
"Apa...?! Ya Tuhan, pantas saja kau terobsesi padanya"
"Terobsesi??"
Jongya kebingungan.
"Iya.., itu seperti kau harus memilikinya apapun caranya meski dia tidak mencintaimu?!"
"Tidak. Ini bukan obsesi karena aku tahu dia juga mencintaiku"
"Lalu kenapa dia menolakmu?!"
"Dia tidak ingin mengorbankan perasaan apa lagi nyawa orang lain karenanya"
"Huh... kalian sama saja. Apa susahnya egois sesaat untuk kebahagiaan sendiri. Kalau seperti ini kalian sudah menyakiti diri sendiri dan juga mengorbankan orang lain demi cinta kalian yang tidak bisa bersama. Buat apa saling mencintai tapi tak ingin bersama"
Suly menggerutu, minuman yang telah di sajikan di meja nya langsung di tenggak habis.
Gadis itu tak bisa mengendalikan dirinya. Ia terlalu terbawa perasaan mendengar cerita Jongya.
*****
Hari itu kembali toko dibanjiri oleh para wanita dan remaja yang datang membeli bunga karena dilayani oleh pria tampan. Bunga yang habis terjual menjadi kesempatan Ji Chang membawa Nazyela ke tempat yang ia janjikan.
" Sesuai janjiku kemarin aku akan membawamu ke tempat yang sepadan "
"Wah...aku jadi tidak sabar tuan"
Ji Chang berhenti di sebuah kafe. Lalu mengajak Nazyela turun dari mobilnya dan memasuki kafe.
Ji Chang kini lebih berani terhadap Nazyela, ia menggenggam jemari gadis itu sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
"Kau masih ingat tempat ini?"
Tanya Ji Chang pada Nazyela.
"Tentu saja, ini adalah salah satu kafe dari bisnis yang kau jalankan tuan?"
Jawab Nazyela santai. Gadis itu duduk di dekat jendela.
"Benar, nah duduk lah senyaman mu... "
Ji Chang lalu memesankan Nazyela minuman dan desert.
Nazyela terlihat menikmati waktu bersama Ji Chang sore itu. Ji Chang pun terlihat senang bersama Nazyela.
"Tuan boleh aku bertanya?"
Nazyela sambil mencicipi makanannya.
"Apa yang mau kau tanyakan?"
"Itu... kenapa tuan bisa menyukai ku?"
Nazyela menatap serius kepada Ji Chang.
"Hanya itu?"
"Iya"
Nazyela menganggukan kepala.
"Cukup sederhana... karena kau selalu memanggil ku tuan "
"Ah... kau bercanda tuan"
Gadis itu melengos.
Ji Chang berkata dengan wajah yang terlihat santai.
"Hehehe... sudah lah aku tak akan menanyakannya lagi"
"Kenapa mudah sekali kau menyerah. Ayolah tanyakan lagi kepada ku"
"Hehehe... lihatlah.. kau itu tuan pemaksa"
Nazyela terkekeh hanya dengan candaan ringan oleh Ji Chang.
Canda tawa menghiasi wajah mereka sore itu. Hingga akhirnya terhenti setelah Nazyela menangkap pemandangan yang membuat jantungnya berdebar dengan kencang.
Nazyela mencoba menutupi ekspresi nya dengan tetap bercanda. Sesekali ia melirik ke arah belakang Ji Chang di sudut ruangan yang agak jauh dari mereka. Nazyela beberapa kali melirik memastikan apa yang ia lihat.
Tidak salah lagi itu Jongya, meski tampilan nya berubah sedikit tapi aku tahu itu dia.
Siapa wanita yang sedang bersamanya?
Nazyela menggigit bibir bawahnya. Degub jantungnya tidak dapat ia kontrol.
Perasaan senang dan rindu menyeruak di hati Nazyela. Namun ada juga rasa sakit hati saat melihat Jongya sedang bersama wanita lain.
Apa dia datang mencariku, tapi kenapa dia tidak langsung menemuiku? Bukankah dia sudah tahu alamat ku dari kak Adrian?
Nazyela meneguk minumannya, ia hanya terseyum membalas obrolan Ji Chang. Pikiran nya sedang kemana-mana. Nazyela yang mengetahui Jongya telah bercerai sangat ingin menghampiri pemuda itu. Namun ia menahan karena melihat ada wanita lain yang terlihat sangat dekat dengannya.
Secepat itu kah kau melupakan aku? Dimana kata cinta yang selalu kau ucapkan saat bertemu denganku..
"Naz.... Nazyela, hei...?! "
"Oh... apa?!"
Nazyela kebingungan.
"Aku menanyakan apa setelah ini kau mau ke jalan-jalan lagi?"
"Oh... maaf, aku tidak terlalu jelas mendengarkan mu tadi. Tiba-tiba saja kepalaku pusing"
Nazyela terpaksa berbohong.
Ji Chang mengamati Nazyela, dan melihat gadis itu gelisah tidak seperti biasanya. Ji Chang sempat curiga terhadap perubahan di diri Nazyela namun ia segera mengambil sisi positif dan mempercayai perkataan gadis itu bahwa ia sedang pusing.
"Habiskan saja dulu makananmu setelah itu kita pulang"
Ujar Ji Chang melihat makanan Nazyela yang masih banyak.
"Maaf, tapi aku sudah tidak berselera lagi. Bisakah kita pulang secepatnya"
Nazyela terlihat memohon kepada Ji Chang.
"Baiklah... jika itu mau mu"
Ji Chang lalu membantu Nazyela berdiri dan berjalan melangkah keluar pintu.
Saat melintas tempat dimana Jongya duduk, sekilas Nazyela menatap ke arahnya dengan sendu.
Tanpa sengaja tatapan mereka bertemu sekilas.
Jongya yang baru menyadari terkejut saat Nazyela sudah berlalu dari hadapannya.
Pemuda itu menghentikan pembicaraan Suly dan mendadak keluar dari kafe untuk memastikan Nazyela sekali lagi.
Sayangnya Nazyela telah masuk ke dalam mobil Ji Chang dan telah melaju meninggalkan kafe itu.
Suly yang terkejut dengan sikap Jongya, ikut keluar menghampiri pemuda itu.
"Ada apa?!"
Suly terlihat kebingungan dengan sikap Jongya.
Jongya terlihat gelisah dan sedikit kesal karena baru menyadari ada Nazyela di kafe itu.
Pemuda itu mengepalkan kedua tangannya.
"Hei, jawab pertanyaan ku ada apa?"
Jongya masih tidak menanggapi pertanyaan dari Suly, ia memastikan lagi dengan apa yang di lihatnya barusan.
Sorot matanya terlihat sedih, apa yang terjadi?
Apa lelaki itu menyakitinya?
Aku tak akan membiarkan dia menyakiti Nazyela.
Jongya melihat ke arah Suly yang masih kebingungan.
"Kau terlihat mabuk. Kita pulang saja... nenek bisa memarahimu nanti"
Ajak Jongya pada sepupunya.
"Ah.... menyebalkan. Kau harus cerita padaku di rumah nanti?! "
Suly terlihat kesal pada Jongya menutupi sesuatu.
Mereka pun kembali ke dalam kafe melakukan pembayaran lalu keluar kembali.
Suly memberikan Jongya kunci mobil agar Jongya bisa membawa mereka pulang karena Suly dalam pengaruh alkohol.
Jongya hanya menatap kunci itu dan tak bergerak sedikit pun.
"Aku tidak bisa bawa mobil?! "
Ucapnya dengan polos.
Suly melongos dan menarik rambutnya stres dengan situasi itu.
" Aargh... bisa gila aku?!!"
Akhirnya mereka hanya duduk di dalam mobil sambil menunggu mabuk Suly mereda.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Jangan lupa favorit ya. Terima kasih 🤗
👉Jika kalian menyukai komedi baca juga karya Author berjudul Bukan Soulmate. Semoga kalian suka😉