
"Masuk dan beristirahat lah..., aku akan menemui mu lagi besok"
Ucap Ji Chang dari dalam mobilnya.
Nazyela mengangguk lalu segera turun dari mobil Ji Chang.
Gadis itu mengurung dirinya setelah di antar pulang oleh Ji Chang.
Berapa kali Nakuna mengetuk pintu kamarnya untuk mengajak nya makan malam namun gadis itu menolaknya.
Setelah larut malam, Nazyela membuka pintu kamarnya dan duduk bersama Nakuna dan
Sir. Yukil.
Kedua asisten nya itu sempat terkejut kedatangan nona nya yang tiba-tiba. Terlihat mereka mencoba menutupi rasa canggung di diri mereka.
"Yukil katakan yang sesungguhnya padaku, benar pangeran meminta alamat kita pada kakak?"
Nakuna dan Sir.Yukil cukup heran tiba-tiba nona nya bertanya masalah yang mereka pikir tabu untuk di bicarakan.
"Benar nona, 3 bulan yang lalu tuan Adrian telah memberi alamat kita pada yang mulia pangeran. Ada apa nona?"
"Sepertinya aku melihat nya di negara ini. Tapi.. jika benar itu dia kenapa ya dia tidak kemari? "
Nakuna dan Sir. Yukil sedikit terkejut.
" Mungkin yang mulia punya alasan"
Jawab Sir. Yukil.
"Mungkin juga nona salah lihat"
Jawab Nakuna.
"Tapi aku yakin itu dia... "
Nazyela terlihat tak bersemangat dan sedih.
Terlihat jelas gadis itu sangat merindukan seseorang yang sedang mereka bahas.
Nakuna dan Sir. Yukil saling pandang dan tak tahu harus bagaimana.
Nakuna mencoba mencari tahu dimana nona nya melihat Jongya.
"Anda melihat nya dimana Naz?"
"Kau ingat kafe tempat kita membeli senjata Yukil?"
Nazyela menatap Sir. Yukil. Lelaki itu menganggukan kepala menjawab pertanyaan nona nya.
"Disitu aku bertemu dengan nya saat bersama tuan Ji Chang"
"Apa tuan itu tahu?"
Tanya Nakuna.
"Entah lah...sepertinya dia tidak tahu"
"Lalu kenapa nona bersedih. Apa nona berbicara dengan yang mulia pangeran?"
Tanya Sir. Yukil.
"Tidak, kami hanya menatap sesaat sebelum aku pergi"
"Hanya itu, setelah sekian lama anda dan yang mulia tidak bertemu?!"
Nakuna setengah berteriak nyaris tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Dia... sedang bersama seseorang"
Nazyela tak bersemangat.
"Apa dia wanita?"
Nazyela tak menjawab pertanyaan Sir. Yukil. Dia memilih menyadarkan tubuhnya di sofa.
"Khekeke... anda sedang cemburu nona?!"
Sir. Yukil terkekeh.
"Hm... entahlah"
Nazyela menatap tajam ke arah Sir. Yukil.
"Lalu bagaimana perasaan anda pada tuan Ji Chang"
Tanya Nakuna penasaran.
"Saat ini aku menyukai hanya sebagai sahabat. Dia orang yang menyenangkan tapi aku belum bisa menyukainya lebih dari itu"
Nazyela terlihat jujur mengatakan isi hatinya.
"Tadinya saya tidak suka anda dekat dengannya nona, tapi setelah beberapa bulan ini anda terlihat senang bersamanya. Jadi saya rasa dia juga pria yang baik"
"Masih terlalu awal untuk menilai seseorang. Tapi aku harap apa yang kau katakan benar Yukil"
Nazyela menghela napas panjang. Lalu bangkit dari duduknya.
"Anda ingin makan Naz, malam ini sepertinya anda belum makan"
Ujar Nakuna.
Nazyela bangkit dari duduk nya setelah Sir. Yukil menjawab rasa penasaran nya.
"Jangan terlalu larut tidurmu Naku. Besok kau bisa kesiangan. Dan Yukil... jangan lupa membersihkan area sekitar bibirmu. Ada bekas lipstik disana. Selamat malam... "
Nazyela meninggalkan kedua sejoli itu yang merona karena menahan malu.
"Aaargh, aku malu?!"
Nakuna terlihat kesal melihat Sir.Yukil yang terkekeh melihat Nakuna.
" Mau bagaimana lagi, nona pasti juga tahu. Untuk apa kita tutupi"
"Ah.. sudah lah.. anda menyebalkan"
Nakuna beranjak dari duduk nya dan meninggalkan Sir. Yukil masuk ke kamar nya.
Sir. Yukil masih terkekeh dan menggaruk kepala nya walau tak gatal.
*****
Semalaman Jongya tidak bisa tidur memikirkan pertemuan nya dengan Nazyela sore tadi. Napas nya terdengar gusar dan berat. Sedari tadi ia mencoba memejamkan mata, berbalik ke kanan dan kekiri namun tak kunjung juga matanya terpejam secara alami.
"Hah... "
Kali ini akan aku hadapi, bagaimana pun juga aku ingin membawa Nazyela kembali bersama ku.
Pikiran-pikiran Jongya melayang kemana-mana. Hingga menjelang pagi akhirnya Jongya tertidur juga.
Suly datang pagi-pagi kerumah itu mencari Jongya, namun ia bertemu wilson yang menjaga pintu kamar Jongya. Dengan tatapan bengis Suly memandang Wilson. Entah kenapa gadis itu benci terhadap Wilson.
Sikap Wilson yang patuh, cuek dan tenang namun tegas ternyata tidak di sukai oleh Suly.
"Maaf nona, yang mulia sedang beristirahat"
Tangan kanan Wilson terbentang menghalangi langkah Suly untuk masuk ke kamar Jongya.
Suly semakin memberikan tatapan membunuh pada Wilson. Namun lelaki itu tetap diam dan tenang menanggapi sikap Suly.
"Huh.. minggir, aku ada perlu dengan pangeran mu?!!"
Suly tetap berusaha untuk bisa masuk ke kamar Jongya.
Wilson menghela napas dan menggelengkan kepala menanggapi sikap Suly.
"Maaf nona, yang mulia baru saja beristirahat"
Wilson masih bersikap tegas tidak mengijinkan Suly masuk.
Suly menghentakkan kaki nya mendengus kesal dan akhirnya pergi menuju ruang makan.
Neneknya sudah duduk sambil menikmati sarapan pagi itu.
"Oh... Suly, kenapa kau datang pagi sekali. Kau sudah sarapan? Kemarilah dan duduklah.. kita sarapan bersama"
Ajak nenek ramah terhadap Suly.
Nenek hafal dengan sifat Suly yang meledak-ledak. Pada dasarny Suly memiliki sifat periang sama seperti ibunya. Namun jika ia penasaran akan sesuatu, ia mudah marah jika tidak dapat mengetahuinya.
Namun begitu, dia adalah anak yang baik dan penuh perhatian.
Suly duduk di samping neneknya.
"Nenek harus banyak makan, nah ini baik sekali untuk kesehatan nenek"
Suly mengambil beberapa potongan buah dan diletakkan di piring neneknya.
"Kau pintar menyuruh orang lain makan sedang dirimu sendiri pasti belum sarapankan? Nah...makan lah, jangan sampai kau jatuh sakit"
Suly mencomot roti dengan tidak bersemangat.
Nenek memperhatikan cucunya dan tersenyum. Sepertinya sang nenek tahu penyebabnya cemberut di wajah cucu nya itu.
"Kau bertengkar lagi dengan Wilson?"
Suly memandang neneknya. Sepertinya pertanyaan sang nenek tepat sasaran.
"Dia pemuda yang baik. Dia hanya berusaha yang terbaik untuk Jongya. Kau jangan sering-sering memarahi dia"
"Tapi dia menyebalkan?!"
"Dia sudah bersikap lembut menanganimu. Apa kau lupa dia seorang kesatria handal di negaranya? Aku yakin sudah banyak nyawa yang melayang di tangannya"
Ucap nenek sambil mengunyah buah yang tadi di ambilkan oleh Suly.
Garpu yang sedang di pegang oleh Suly terlepas dari tangannya. Gadis itu terkejut mendengar penuturan neneknya. Benar, ia telah melupakan hal itu. Kalau Wilson adalah seorang kesatria yang juga bisa melenyapkan nyawanya.
Mendadak Suly memegang lehernya dan bergidik ngeri.
Ia menggeleng-gelengkan kepala tanpa berbicara sepatah kata.
Nenek semakin terkekeh melihat tingkah cucunya.
"Hehehe... sudah lah... habis kan sarapanmu. Setelah itu panggil Wilson kemari untuk sarapan"
Ujar nenek.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Jangan lupa favorit ya. Terima kasih 🤗
👉Jika kalian menyukai komedi baca juga karya Author berjudul Bukan Soulmate. Semoga kalian suka😉