
Nazyela berlari sekencang-kencangnya dan berusaha menghindar sejauh-jauhanya, hingga ia lelah dan tak tahu berada dimana.
Malam yang semakin larut dengan angin dingin yang menerpa tubuh dan wajahnya menambah nelangsa hati gadis yang sedang terluka. Nazyela terus berjalan walau tertatih-tatih, mengikuti langkah kaki yang membawanya. Air mata yang terus mengalir tanpa ia minta membuat sembab di kedua kelopak matanya.
Ketika membuka mata di dunia ini, Nazyela merasa senang bukan main karena disini sesuatu hal yang belum pernah ia miliki dan rasakan menjadi takdir yang sangat ia dambakan. Namun perjuangan untuk memiliki takdir bahagia itu merupakan perjuangan yang sangat berat yang terkadang di luar nalar akal sehatnya. Apa lagi untuk masalah hati yang sangat melukai dan menyakiti dirinya terus berulang tanpa henti, seakan-akan sudah menjadi takdir bahwa kehidupannya memiliki perjuangan cinta yang sangat sulit untuk di raih.
Langkah kaki yang mulai gemetar membawa Nazyela di titik kekuatan terakhirnya. Tubuhnya ambruk terduduk ditepi jalan yang entah berantah. Ia tertunduk menangis sambil memeluk kedua lututnya.
"Apa yang anda lakukan disini nona?"
Jiwa ingin tahu Wilson tak dapat ditahan ketika melihat seorang gadis yang begitu mengasihani menangis di pinggir jalan di malam yang sepi.
Nazyela menengadahkan wajahnya melihat orang yang mengajaknya bicara.
"Nona Nazyela?! Anda kenapa?"
Wilson mengenali wajah itu yang tak lain adalah wanita yang membuat tuannya galau setengah mati. Pemuda itu terlihat mencemaskan Nazyela yang kebingungan terhadap lelaki yang tahu dirinya tapi ia sendiri tidak mengenalnya.
Tersirat dari dari wajahnya bahwa gadis itu kebingungan.
"Saya Wilson, pengawal yang mulia pangeran Jongya nona"
Wilson memperkenalkan dirinya, barulah Nazyela merasa tenang karena sebenarnya gadis itu juga sedikit takut.
"Apa anda mampu berdiri nona? Mari saya antar nona kembali kerumah anda"
Nazyela menganggukan kepala menjawab ajakan Wilson. Mereka pun menaiki mobil yang di bawa oleh pemuda itu.
Wilson sengaja pulang larut malam untuk menghindari kerumulan penggemarnya yang ternyata malah menjumpai Nazyela di pinggir jalan dengan keadaan yang memprihatinkan.
Mereka hanya diam sepanjang perjalanan. Wilson sengaja tidak menanyakan kenapa Nazyela menangis di pinggir jalan. Namun ia akan siap mendengarkan apabila gadis itu mau bercerita.
"Apa kau tahu rumahku?
"Ya nona"
"...."
Hening setelah Nazyela menanyakan satu pertanyaan.
Dan mereka pun hampir sampai dikediaman gadis itu.
"Stop!"
Nazyela tiba-tiba meminta Wilson menghentikan kendaraannya.
Gadis itu memincingkan mata untuk memperjelas penglihatannya ke depan.
"Sepertinya itu kekasih nona"
Ucap Wilson membantu memperjelas pandangan gadis itu.
Nazyela tertegun, bahkan siapa kekasihnya pengawal itu juga tahu.
Apa selama ini mereka memata-matai aku? Aku akan coba mengetesnya.
"Putar balik antar aku ketoko"
"Baik nona"
Dan benar saja Wilson juga tahu dimana toko bunga Nazyela terletak.
Nazyela kini gelisah, bukan karena pemuda itu tahu akan segalanya tentang dirinya namun gelisah karena dimana ia akan bermalam untuk malam ini kareka ia sedang tidak ingin bertemu Ji Chang. Toko belum selesai direnovasi sedang Ji Chang menunggunya di rumah.
"Apa nona ingin ketempat saya?"
Wilson menawarkan diri setelah memperhatikan Nazyela yang terlihat sedang berpikir sambil menggigit ujung kuku nya
"Kenapa kau bisa tahu jalan pikiranku?"
Wilson memutar kendaraannya dan melaju ke arah tempat ia tinggal tanpa menunggu lagi kata iya dari Nazyela.
"Disaat kondisi seperti nona, biasanya orang akan memilih untuk memiliki waktu sendiri tanpa di kenali orang-orang. Dan apa yang terjadi pada nona saat ini saya tidak akan bertanya"
Tepat sekali, saat ini aku emang lagi butuh sendiri.
Nazyela hanya diam, ia hanya melihat ke arah luar jendela membiarkan angin dingin menerpa wajah kusutnya.
Hanyut dalam lamunannya, tenyata mereka sudsh sampai di kediaman Wilson.
"Masuk lah nona"
Wilson membukakan pintu lalu mengajak Nazyela masuk dan ia pun kembali menutup pintu itu.
"Wil, kau kah itu? Kenapa malam sekali baru pulang?"
Nenek melangkah perlahan mendekati Wilson.
"Oh.. nenek, anda belum tidur?"
"Aku belum bisa memejamkan mataku. Tapi siapa gadis ini Wil?"
Wilson lalu membisik sesuatu ketelinga sang nenek yang merupakan nenek Jongya. Nenek tersenyum mendengar nya apa yang di ucapkan Wilson padanya.
"Oh.. terima kasih nek"
"Mari nona saya antar"
Nazyela mengganggukan kepala menjawab ajakan Wilson. Sampai di ujung lorong Wilson segera membukakan pintu itu dan Nazyela segera pun segera masuk.
"Beristirahat lah nona, besok saya akan mengantarkan nona kembali kerumah anda jika anda sudah siap"
"Terima kasih Wil, kau tahu sekali apa yang aku mau tanpa bicara. Kalau begitu aku akan menutup pintu ini"
Ucap Nazyela.
"Silahkan nona"
Wilson menunduk hormat lalu meninggalkan Nazyela.
Nazyela segera ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah selesai ia lupa kalau ia tidak memiliki pakaian lain selain yang tadi ia pakai dan baju itu sudah terlihat kotor dan lusuh.
"Tok.. tok?! Nak ini aku?"
Suara sang nenek yang berada di luar pintu membuyarkan pikiran Nazyela. Ia lalu membukakan pintu namun hanya setengah.
Dari balik pintu itu tubuhnya bersembunyi hanya kepalanya saja yang ia perlihatkan.
"Oh nenek.."
Nazyela langsung membuka pintu lebar-lebar setelah memperhatikan ada satu set pakaian yang di bawa oleh sang nenek dan berserta nampan yang berisi segelas susu hangat serta kue.
"Biar aku bantu nek?"
Nazyela sesegera mengambil nampan dan meletakkannya di meja. Ia segera menutup pintu setengah terbuka karena sedari tadi ia hanya menggunakan handuk.
"Ini pakailah.. aku yakin bajumu kotor. Namun ini sedikit terbuka karena ini adalah baju cucuku yang sudah lama tidak terpakai"
"Apakah tidak apa-apa nek, bagaimana jika ia melihat aku memakai bajunya?"
"Dia tidak akan ingat karena ia memiliki banyak sekali pakaian. Dua set pakaian ini aku sudah bertahun-tahun tidak pernah melihat ia memakainya lagi, jadi pakai lah. Aku juga membawa beberapa pakaian dalam yang baru untuk mu"
"Terima kasih nek"
"Jangan sungkan Nak, beristirahat lah selesai mengisi perut mu. Pagi esok ikutlah sarapan bersama kami"
"Baik nek. Sekali lagi terima kasih"
Ucap Nazyela sambil menundukan kepala.
Sang nenek pun pamit dan menutup pintu kamar Nazyela.
Nazyela langsung memakai baju yang di bawa oleh sang nenek dan menghabiskan susu dan juga kue yang ada di meja. Ternyata ia baru merasa lapar setelah berlari jauh dan teringat ia juga belum makan karena ia berpikir akan makan malam bersama Ji Chang.
Ia mencoba merebahkan tubuhnya sambil membaca buku yang ada di nakas dekat tempat tidurnya. Hingga lama kelamaan akhirnya Nazyela tertidur juga.
Keesokan harinya.
Sinar matahari mulai menampakkan cahayanya yang hangat dan mulai terasa menyelimuti bumi hingga kedalam kamar Nazyela. Gadis itu sudah bangun dan bersiap untuk sarapan. Setelah sarapan ia berencana untuk kembali kerumah dan akan kembali lagi kerumah ini keesokan harinya membawa sesuatu untuk membalas kebaikan Wilson dan sang nenek.
Nazyela pun melangkah kaki menuju ruang makan.
"Selamat pagi nek?"
"Oh selamat pagi nak, kau sudah cantik di pagi hari. Apa kau mandi pagi sekali? Duduk lah kita sarapan bersama"
"Baiklah nek"
Nazyela lalu mendekati meja makan dan melihat Wilson yang sudah duduk disana berserta seorang pria yang langsung membuat jantungnya bedegub dengan kencang.
"Jongya?!"
Lelaki yang sedang menyantap sarapannya itu sama terkejutnya dengan Nazyela ketika melihat suara orang yang menyebut namanya.
Masalah yang menghampirinya malam itu menguras habis tenaga dan pikiran Nazyela sampai melupakan tuan yang di layani oleh Wilson. Padahal pemuda itu telah mengatakan kalau dia adalah pengawal Jongya. Dan tentu saja pemuda itu akan tinggal bersama tuannya.
Mampus aku...
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.
~Jangan lupa favorit ❤️
~Rate⭐⭐⭐⭐⭐
~Hadiah
~Vote
Terima kasih 🤗
👉Jika kalian menyukai komedi baca juga karya Author berjudul Bukan Soulmate. Semoga kalian suka😉