Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 53



"Ayah, sekalipun ibu telah berbuat banyak kesalahan tolong ibu jangan di hukum mati. Biarlahkan lah beliau tetap hidup"


Jongya memohon kepada sang ayah.


"Hah.. dia sangat beruntung memilliki putra sepertimu.


Dia telah bunuh ratu terdahulu, agar bisa naik ke posisi sekarang. Sudah berapa banyak kejahatan yang ia perbuat tanpa kita ketahui. Menyiksamu sejak kecil, memprovokasi para bangsawan untuk bersekutu dengan nya. Entah berapa nyawa yang ia korbannya untuk mencapai tujuannya. Biarkan dulu dia menikmati dinginnya penjara"


Jongya sedikit bernapas lega. Walau pun ibunya harus dipenjara namun setidaknya ia terbebas dari hukuman mati.


"Besok kau mulai bergerak. Sampaikan pesanku pada mereka bahwa kita akan bersiap menghadapi negara timur"


"Baik ayah"


"Dan Argen susunlah strategi terbaik yang kau punya"


"Baik ayah"


Raja ngutus Jongya ke kastil Bolafra dan Kley


Di kastil Bolafra, Jongya bertemu dengan Khiden serta Daniel Bolafra. Ia mengatakan pesan dari ayahnya bahwa mereka harus bersiap untuk berperang dengan negara timur.


Daniel yang mendengar hal itu segera mengutus asistennya untuk menyampaikan pesan suratnya kepada Adrian dan adiknya Naila yang telah tinggal di mensionnya sendiri.



Adrian membalas pesan Daniel dan mengatakan bahwa Nazyela tidak menginginkan perang karena dirinya. Perang itu memang secara tidak langsung berhubungan dengan dirinya karena Jongya yang bertekad menceraikan Camila demi bisa bersama Nazyela. Akhirnya dalam surat itu Adrian mengatakan akan mengirim Nazyela liburan ke luar negeri.


Membaca isi surat Adrian itu, Daniel memutuskan untuk bertemu dengan Adrian dan merundingkan hal tersebut. Tadinya ia sempat berpikir untuk mengajak Nazyela liburan. Lalu ia berpikir akan lebih baik jika Adrian mengajak Nazyela mengunjungi negara Mozart dan menonton konsernya disana. Karena peperangan disini pasti nya skill Daniel juga diperlukan disana. Merekapun bertemu di kota terdekat antara Brikalis dan Brimarich yaitu di Brigfresh.


"Apa Nazyela yang mengatakannya padamu?"


"Bukan. Aku mengetahuinya dari pelayan terdekatnya. Tapi aku bingung, kenapa kau begitu peduli pada adikku?"


Daniel terkekeh, ia tahu bahwa suatu hari Adrian pasti curiga akan kepeduliannya pada Nazyela.


"Aku sempat terpikat oleh adikmu. Tapi aku segera mundur setelah tahu dia mencintai pangeran ke dua"


"Apa kau menyelidiki adikku?"


Adrian manatap curiga ke Daniel.


"Tentu saja aku harus tahu detail wanita yang aku sukai. Tapi sepertinya harapan untuk lebih dekat lagi harus aku urungan mengingat hubungan antara kau dan Naila. Yah.. walau hanya menjadi hubungan kerabatnya aku cukup puas"


Daniel berbicara terbuka tentang isi hatinya.


Adrian hanya bisa menghela napas.


"Kau pergilah.. anggap saja bulan madu dengan Naila. Bawa Nazyela menikmati konser Mozart dia sangat menyukai karya komposer itu. Aku akan bertarung disini"


Adrian tidak habis pikir, lelaki dingin di depannya bisa terpikat oleh adiknya Nazyela.


"Sebaiknya keberangkatan kalian di percepatan. Agar Nazyela tidak perlu mendengar kabar peperangan"


"Hmm... baiklah. Saranmu aku terima. Aku akan memberikan bantuan alat perang padamu. Kelak para kesatria ku akan mengajari pasukanmu cara menggunakannya. Lusa aku akan segera berangkat"


"Baiklah.. jaga diri baik-baik dan berhati-hati lah"


"Kau juga"


Mereka pun mencapai kesepakatan bersama dan segera kembali ke kota masing-masing.


Malam itu juga Adrian mengajak rapat di mensionnya. Ia memanggil Sir. Kruf, Sir. Yudan dan beberapa orang kesatria terbaik di kediaman Kley. Adrian mengatakan kepada mereka agar mereka bekerja sama bersama Bolafra untuk memerangi negara timur. Adrian juga meminta Sir. Kruf untuk menyampaikan berita ini kepada ayahnya serta rencananya membawa Nazyela kabur dengan alasan liburan ke luar negeri.


Keesokan harinya, Adrian mengajak Nazyela untuk liburan bersamanya. Awalnya Nazyela menolak dengan alasan mengganggu bulan madu kakaknya. Namun akhirnya gadis itu luluh juga setelah melihat binar di kedua mata Nakuna mendengar liburan ke luar negeri bersama Sir. Yukil dan tentu saja nona nya.


Nazyela lalu meminta ijin kepada ayahnya. Pria tua itu menyarankan agar Nazyela menikmati waktu liburannya lebih lama. Semua bisnis disini telah diserahkan kepada Sir. Yudan, Sir. Afik dan juga Lani.


Mereka pun tidak menunda waktu keberangkatan dengan alasan Adrian telah membeli tiket kapal perjalanan. Sir. Yukil yang tahu rencana Adrian turut serta membantu melancarkan rencana tuan mudanya. Siang itu mereka pun berangkat menuju kota pelabuhan untuk pergi ke negara Austria.


Di hari yang sama Jongya mendatangi kediaman Kley dan menyampaikan pesan dari raja Theora. Tuan Histon yang lebih dulu tahu kabar itu dari putranya tetap bersikap tenang.


"Baiklah.. aku akan ke istana besok. Beristirahat lah disini malam ini yang mulia, aku telah menyuruh kepala pelayanku menyiapkan kamar untuk anda. Terlalu malam untuk yang mulia kembali lagi ke istana"


Jongya menganggukan kepala. Memang seperti itulah tujuannya, menyampaikan pesan dimalam hari agar dia memiliki kesempatan untuk bertemu Nazyela lebih lama. Sayang nya Nazyela telah berangkat siang tadi. Dan Jongya tidak mengetahuinya.


"Kenapa kastil ini sepi sekali?"


Jongya menanyakan kepada kepala pelayan yang menunggunya setelah menyantap makan malamnya.


"Nona beserta beberapa asistennya sedang berpergian ke luar negeri bersama tuan Adrian dan nona Naila"


"Tadi siang yang mulia"


"Hmm... begitu rupanya. Aku ingin kembali ke kamarku"


"Baik yang mulia"


Jongya lalu kembali kekamarnya.


Sia - sia aku menginap disini tapi tidak berjumpa dengannya. Hah.... Nazyela... sedikit lagi aku akan bersamamu tunggu lah aku


Jongya berusaha memejamkan matanya.


*****


Sementara itu, di negara timur.


Camila menangis di kamarnya, ia tak menyangka harus berpisah di usia mendekati 7 bulan pernikahannya. Tidak ia pungkiri ia mencintai Jongya suaminya. Wanita itu jatuh cinta pada pandangan pertama ketika pertama kali bertemu dengan Jongya.


Ibunya sang ratu mendekati putrinya dan memeluk hangat tubuh yang bergetar karena tangis yang tersedu-sedu.


"Maafkan kami anakku... seharusnya kami tidak menikahkanmu dengannya"


"Aku mencintainya ibu...."


Dalam isak tangis Camila mengungkap perasaannya.


"Cinta itu sulit di gapai jika hanya cinta sepihak nak.., relakan saja... dia bukan lelaki yang terbaik untukmu. Kau pantas bahagia sayangku, lepaskan perasaan mu untuknya. Jika terus kau memaksa tidak kau maupun dia akan bahagia. Ibu tidak ingin seperti itu..."


" Tapi bu...! "


Camila melepaskan pelukannya dan melihat ke arah ibunya.


Ibu menglap air mata yang membanjiri pipi putrinya dengan jari lembut penuh kasih sayang.


" Sssttt.... dengarlah, sedalam apa pun cintamu padanya hanya akan membuat dirimu sendiri yang terluka jika dia tidak mencintaimu. Apa kau cukup puas hanya memiliki tubuhnya tapi tidak hatinya? "


Camila terdiam, perlahan isak tangisnya mereda mendengar penuturan sang ibu.


Ratu yang melihat reaksi anaknya pun tersenyum.


" Lupakan dia sayang... kau masih bisa bahagia walau tanpa dirinya. Ibu yakin kau akan bertemu dengan lelaki yang kau cintai dan juga mencintai mu"


Di ruangan yang berbeda.


Raja telah mengumpulkan semua bawahan terbaiknya serta para bangsawan yang selalu mendukunt raja. Mereka sedang mempersiapkan strategi perang untuk menyerang negara Theora.


"Negara Theora telah meremehkan keluarga kerajaan. Itu berarti mereka juga tidak menghargai kita semua.


Saya menghormati keputusan yang mulia untuk menyerang mereka"


"Saya turut perihatin akan perlakuan mereka terhadap yang mulia putri, sudah sepantasnya mereka menerima balasan atas perbuatan mereka"


"Yang mulia, anda bisa meminta pertolongan dari negara-negara yang telah anda bantu selama ini. Saya yakin mereka tidak akan menolak"


"Benar yang mulia, anda begitu baik terhadap mereka sudah sepantasnya mereka membalas budi baik anda"


"Hmm... begitu ya"


Raja terlihat memikirkan perkataan para bangsawan yang menyerukan pendapat mereka.


"Lalu yang mulia sebaiknya peperangan ini tidak lah harus kita menyerang langsung di ibu kota negara Theora. Disana pasti banyak terdapat anak-anak yang tidak berdosa"


"Tidak. Aku telah memikirkan untuk berperang di perbatasan negara kita dan Theora"


Raja segera menjawab perkataan dari Paul bangsawan yang dikenalnya sebagai bangsawan yang memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi.


"Baginda sungguh bijaksana"


Paul merasa lega dan memuji keputusan rajanya.


Setelah beberapa waktu berlalu akhirnya mereka pun telah mencapai kesepakatan.


Raja mulai memerintahkan kepada bawahannya untuk melaksanakan rencana yang telah disepakati.


✨ FAVORITE ❤️, LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊*Baca juga Cintai Aku Seikhlasmu , bagi yang suka kisah yang menyesakkan dada 😂.


Terima kasih 🙏