Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 58



Setiba dirumah, Nazyela langsung menuju baseman yang berada di bawah rumahnya. Melalui sebuah pintu yang terletak di sudut dapur, Nazyela menuruni tangga yang berada dibalik pintu itu. Sir. Yukil yang mengikuti nona nya dari belakang merasa kebingungan.


"Dari mana nona tahu di bawah sini ada ruang rahasia?"


"Apa kau lupa memanggilku apa Yukil? Aku tidak akan memotong gajimu apa lagi membunuhmu jika kau memanggil dengan namaku"


Nazyela berbalik badan dan menatap tajam Sir . Yukil.


Sir. Yukil bergidik ngeri ditatap tajam oleh nona nya seperti itu.


"Maaf nona saya tidak terbiasa"


"Biasakan dirimu Yukil"


"Hah..akan saya coba nona.. eh.. maksud saya N.. Naz"


Sampai di ruangan yang dituju Nazyela meminta Yukil mengeluarkan senjata tadi lalu menyuruhnya mencoba untuk belajar menembak dalam ruangan itu.


"Nah cobalah..?!"


Nazyela bergeser menjauh dari Sir. Yukil.


Sir. Yukil mengambil pistol dari dalam peti minuman itu. Ia yang memperhatikan sewaktu bos tadi mengarahkan cara menggunakan pistol itu mencoba untuk mempraktekkan nya sendiri.


"DOORR!! "


Tembakan meleset ke samping dari target yang di arah kan.


Tubuh Sir. Yukil sedikit terdorong kebelakang akibat tekanan dari pistol yang di tembakan. Ia lalu membenarkan posisinya dan menegapkan kakinya, kekuatan tangan ia tumpukan pada saat memegang pistol agar saat menembak nanti ia mampu menahan keseimbangan tubuhnya.


Kali ini ia mencoba untuk lebih fokus.


"DOORR!! "


Tembakan hampir mengenai target sasaran. Kali ini tembakan menjadi lebih baik dari sebelumnya.


"Bagus teruslah berusaha, ini lebih baik bukan dari pedang? Tapi belatimu boleh juga kau bawa untuk berjaga-jaga jika kehabisan amunisi"


Ujar Nazyela sambil melipat kedua tangannya.


"Nona... sikap mu yang seperti itu mirip mereka"


Nazyela melangkahkan kaki dengan cepat mendekat ke arah Sir. Yukil, dan..


"Pletak!!"


Jidat lelaki itu di sentil oleh Nazyela


"Uh... galak sekali"


Gumam Sir. Yukil.


Jitakan itu tidak lah sakit, namun Sir. Yukil merasa segan dimarahi nona nya seperti itu.


"Simpan lah dengan baik senjata-senjata itu. Kau boleh beristirahat"


Nazyela berkata lalu meninggalkan Sir. Yukil sambil menaiki tangga.


Nakuna yang berpas-pasan didapur dengan Nazyela melihat bingung nona nya keluar dari pintu itu.


"Apa ada ruangan lain dari balik pintu itu nona? saya kira pintu itu terhubung dengan taman"


Nakuna sambil memegang dagu nya merasa heran.


"Ayo lah.. kau lupa Naku memanggilku apa?"


"Ah... maafkan saya nona.. saya lupa eh.. Naz?! "


Nakuna terlihat canggung memanggil nona nya dengan sebutan nama.


"Hah... sering-sering saja kau sebut namaku. Maka nantinya akan terbiasa"


" Baik lah Naz.. "


Nazyela tersenyum kepada Nakuna.


Melewati hari demi hari di negara Korea, Nazyela semakin merasa dia membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup disana. Koin emas miliknya hanya tinggal 10 kantung kain saja yang berisi 100 keping tiap kantungnya.


Nazyela mengatakan kepada kedua asistennya bahwa ia ingin bekerja. Tentu saja keinginannya itu dilarang oleh Nakuna dan Sir. Yukil.


Nazyela merasa sedih, karena kedua asistennya itu kompak sekali dalam hal melarang apa yang gadis itu inginkan.


Ia pun memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman dekat rumahnya.


Cuaca sore itu cukup enak di nikmati dengan duduk santai dikursi taman. Nazyela mengamati lingkungan sekitar, banyak anak-anak sedang bermain dengan teman-temannya. Ada juga orang dewasa yang sedang bersantai seperti dirinya. Dan ada juga beberapa yang sedang berolah raga di sore itu. Pandangan Nazyela terfokus pada seorang bibi yang membawa banyak bunga di keranjang sepedanya. Sepeda bibi itu nyaris saja tumbang jika Nazyela tidak segera menghampiri dan membantu menahan sepeda itu.


"Oh.. thank you.. thank you.. "


"Ajumma gwaenchanha..?"


"Oh.. kau bisa berbahasa kami?"


"Iya aku bisa, Apa bibi tidak apa-apa?"


"Aku baik-baik saja. Berkat bantuanmu.. terima kasih ya.."


"Ah.. itu bukan apa-apa. Bunga ini banyak sekali, apa bibi menjual bunga?"


"Ah.. iya, itu bunga dari hasil kebunku dan suamiku"


"Oh..,, apa ini pesanan orang?"


"Benar.. aku harus mengantarnya disana. Biasanya suamiku yang mengantar. Tapi kali ini pinggangnya lagi sakit jadi aku yang mengantar"


"Oh.. begitu. Bibi tinggal dimana?"


"Aku tinggal di ujung jalan sana nona. Terima kasih ya..aku harus mengantarkan bunga ini segera"


"Baiklah.. hati-hati bi.. "


Setelah memandangi punggung bibi itu, kemudian terlintas ide di kepala Nazyela. Gadis itu segera kembali kerumahnya dan menemui Nakuna dan Sir. Yukil.


Dan pada akhirnya setelah melakukan diskusi mereka pun memutuskan untuk menjual bunga. Dengan tabungan yang Nazyela punya mereka menyewa sebuah ruko kecil dan membuka toko bunga disana.


*****


Di negara Theora.


Kepulangan Adrian dan Naila di sambut hangat tuan Histon. Pria tua itu merasa kesepian ditinggal oleh anak-anaknya. Tuan Histon menyampaikan kabar baik untuk sang menantu. Ia mengatakan bahwa raja akan mengadakan acara penobatan pengangkatan putra mahkota serta pengangkatan Naila menjadi putri angkat kerajaan Theora. Tentu saja kabar itu membuat Naila dan Adrian merasa senang.


Pesta pun digelar dengan sangat megah.


Semua anggota bangsawan turut hadir dalam perayaan itu. Para bangsawan yang semula berpihak pada ratu kini berbalik arah kepada putra mahkota. Mereka yang selalu tamak akan kekuasaan berusaha mencari tempat perlindungan yang teraman bagi mereka. Banyak yang mencoba untuk mendekati Argen demi kepentingan politik mereka.


Para muda-mudi pun berkumpul mencari lawan jenis mereka. Dimana ada pesta maka disitu adalah ajang mencari jodoh untuk mereka.


Jongya mengamati para gadis-gadis itu mencari keberadaan Nazyela yang belum terlihat hingga acara telah sampai di puncaknya.


Naila yang kini telah resmi menjadi putri raja mendekati Jongya mencoba untuk akrab dengan pemuda itu.


"Kau mencari Nazyela?"


Naila mencoba memulai percakapan di antara mereka.


Jongya menatap Naila penuh tanda tanya, tetapi pemuda itu tak menjawab pertanyaan Naila.


"Dia tidak tinggal di negara ini lagi"


Dengan santai Naila berkata sambil memandang beberapa pasang bangsawan yang sedang berdansa.


Jongya menatap Naila semakin penasaran.


"Kenapa kau memberi tahu ku?"


"Jadi kau tidak ingin tahu keberadaan Nazyela sekarang? "


"Apa kau tahu dia tinggal dimana?"


Pemuda itu mencoba mencari informasi tentang Nazyela. Karena Jongya tahu mereka bersama saat pergi liburan dulu.


"Apa kau benar-benar mencintainya?"


Naila balik bertanya dan menatap serius ke arah Jongya.


"Apa bukti cinta yang aku lakukan masih kurang? Aku bahkan menciptakan perang yang merenggut ribuan nyawa untuk bisa bersama dengannya. Aku mungkin egois menginginkan dirinya, dan ini terdengar menyedihkan karena aku menceritakan semua ini padamu. Aku mungkin tidak bisa hidup tanpanya".


Jongya membalas tatapan Naila dengan serius pula.


"Apa kau benar-benar telah bercerai?"


"Cerai?? Catatan dalam pemerintahan pun telah menuliskan nama kami sebagai pasangan yang sudah berpisah. Mungkin surat pengesahan berpisah juga telah sampai di negara timur"


Naila terlihat berpikir mendengar penuturan Jongya.


"Aku hanya bisa membantumu sekali. Dan manfaat ini baik-baik.. tapi ingat jangan sakiti dia. Sekarang dia berada di Incheon Korea selatan. Carilah.. semoga kalian bisa bersama dan hidup bahagia"


Mendengar jawaban dari Naila, putus asa yang di rasakan Jongya sedikit memiliki harapan. Pemuda itu menganggukan kepalanya kepada Naila.


"Terima kasih"


Jongya langsung meninggalkan pesta yang nyaris selesai. Ia segera menyusun rencana untuk menemui Nazyela di negara kimchi tersebut.


Naila lalu kembali bergabung dengan Adrian suaminya.