Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 22



# Jangan lupa arahin jempol kamu untuk favorit❤️ kan novel aku karena favorit itu ga bayar ya guys 😉. Terus kalau udah selesai baca, like dan komen yang seru-seru oke... 😘


*****


Langit biru mulai tergeser oleh awan mendung yang telah siap menumpahkan hujannya. Tiupan angin membuat hawa panas perlahan-lahan menjadi dingin.


Derap langkah hewan masih terdengar samar-samar kesana kemari dengan ringkihan yang di pecut oleh penunggangnya. Ke empat orang itu telah siap keluar dari goa dengan strategi yang telah mereka sepakati bersama.


Mereka membagi diri menjadi 2 kelompok. Sir. Yukil dengan Nakuna dan Nazyela dengan pangeran Jongya. Mereka berpencar kebarat dan ke timur untuk sampai di titik selatan yaitu mension pangeran Jongya.


Mereka lalu keluar dari goa dan langsung berlari menembus semak belukar. Namun sayangnya bayangan mereka tertangkap mata oleh salah satu pemburu.


"Itu mereka!!! Tangkap jangan sampai lepas!! Kalian kesana biar aku yang menghadapi wanita itu!!"


Hujan yang turun dengan lebatnya, menyamarkan pandangan mata walau sudah melihat dengan maksimal. Walau lelah mereka terus berlari karena dikejar tanpa henti.


Sir. Yukil berlari sambil menggenggam erat tangan Nakuna yang terlihat sangat kelelahan. Napas yang tersengal-sengal dan keringat yang telah bercampur dengan tetesan hujan membasahi wajah dan tubuhnya. Goresan ditubuh kian bertambah oleh semak-semak yang mereka lalui. Suara petir bersahut-sahutan menambah cekam suasana.


" Berhenti sebentar.. tolong berhenti aku rasa tidak sanggup lagi berlari"


Nakuna menyandarkan dirinya di batang pohon


"Naku kita akan tertangkap bila berhenti disini. Jarak mereka sudah sangat dekat"


"Saya sudah tidak sanggup Yukil..."


Terlihat wajah Nakuna tampak memohon dan sangat kelelahan.


"JDEEERRR!!" (Suara petir)


"Apa Naku ingin mati disini?! Saya belum ingin, karena kita juga belum menikah?!"


Napas Nakuna yang tersengal-sengal makin bertambah karena ia terkekeh mendengar perkataan Sir. Yukil. Wajah pucat karena hujan dan dingin yang mulai dirasakan Nakuna menutupi rona di wajahnya.


"Apa anda sekarang sedang melamar saya? Maaf saya tidak terima?!"


Napas Sir. Yukil yang juga tersengal-sengal makin terasa berat manakala mendengar perkataan Nakuna. Ia merasa hanya dirinya yang begitu mencintai gadis itu. Wajah nya mulai terlihat sedih. Namun laki-laki itu berusaha menutupinya.


"Baiklah... Naku boleh menjawab apa saja. Tapi setidaknya kita harus selamat?!"


Sir. Yukil mengulurkan tangannya kembali untuk menggenggam tangan gadis itu dan bersiap lari kembali. Nakuna meraih uluran tangannya lalu bersiap lari lagi.


"Itu mereka!!! Tangkap!!!"


Terkejut Nakuna dan Sir. Yukil medengar teriakan sang pemburu yang berada tidak jauh dari tempat mereka bersembunyi dibalik pohon.


Tenyata pemburu itu melepaskan kuda mereka menyisir hutan mencari keberadaan mereka.


"Larilah Nakuuu...!!!"


Perintah Sir. Yukil saat pedangnya mulai diarahkan ke salah satu pemburu. Perkelahian tak terhidarkan lagi. Pedang di acungkan kelawan dengan tenaga yang dikerahkan untuk saling menjatuhkan.


"Aku tidak akan lari sendiri tanpamu?!!!"


Pedang sang pemburu dan pedang Sir. Yukil saling bertemu dan mengeluarkan suara berdentang-denting. Sang pemburu mencoba menebas kepala Sir. Yukil namun laki-laki itu dengan cepat menghindar.


" Aku akan mengejarmu nanti kau larilah dulu?!!!!!"


Sir. Yukil membungkuk lalu menendang kaki sang pemburu. Pemburu terjatuh namun segera bangkit kembali. Hunusan pedang kembali berdenting mencoba melukai lawannya.


"Tidak.. tanpamu!!"


"Uhh... dasar keras kepala sekali!! Hiiiiyyaaaaa"


"Tang... tang.. tang!!!" (Suara pedang saling beradu)


Dengan sekuat tenaga Sir. Yukil mencoba mendorong lawannya saat pedang mereka saling bersilang.


Sang pemburu terdesak mundur, namun berusaha berbalik badan dan memukul leher Sir. Yukil dari belakang, lalu dengan sigap menebas punggung besar laki-laki itu dengan pedangnya. Sir. Yukil pun jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri.


Darah segar mengalir membasahi punggung lelaki yang tergeletak tak bergerak.


"Tidaakkk!!!"


Teriak Nakuna yang amat sangat panik dan ketakutan.


"Khe.. khe.. khe.., sungguh pasangan yang romantis aku baru tahu ternyata putri dari seorang Kley memiliki hubungan dengan pengawalnya sendiri"


Melihat lawannya yang sudah roboh, pemburu itu berjalan perlahan medekati Nakuna.


Ternyata pemburu itu tidak menyadari bahwa yang berdiri dihadapannya bukanlah putri dari bangsawan Kley. Strategi mereka berhasil untuk mengelabui, namun nyawa Nakuna kini sedang terancam.


Nakuna menutup mulutnya sambil mengelengkan kepala dan terisak menangis. Derai air mata tak terlihat karena hujan yang ikut membasahi pipi. Hatinya sedih dan terluka melihat sang kekasih yang terbaring tak berdaya. Dengan tangisan yang menyayat hati gadis itu mulai melangkah mundur perlahan manakala sang pemburu perlahan berjalan mendekatinya.


"Cukup cantik, apa sebaiknya aku coba dulu sebelum aku serahkan ke tuan ya?!"


Senyum seringai terlihat jelas diwajah sang pemburu.


Nakuna yang mendengar perkataan itu segera berbalik badan dan berlari, mencoba untuk menyelamatkan diri. Namun sayang, baru beberapa langkah gadis itu terjatuh karena tersandung akar pohon yang tertutup rumput.


Jeritan ketakutan keluar dari mulut gadis itu saat tubuhnya berhasil ditangkap oleh sang pemburu. Tawa nyaring menggema bersamaan dengan gemuruh guntur dikejauhan. Ia berusaha memenuhi hasratnya dengan memaksa mencium Nakuna. Gadis itu meronta-ronta mengelak dan mencoba untuk melawan. Gaunnya sobek saat sang pemburu mencoba membuka paksa bajunya.


Terlihat pakaian dalam yang begitu ketat masih menutupi tubuh yang hampir terbuka itu. Tangannya diikat oleh pria beringas itu dengan sobekan gaunnya sendiri. Kedua kakinya yang penuh lumpur diduduki pria yang mulai meloroti celananya.


"Lepaskan aku!!! Dasar laki-laki brengsek!! Lepaskan!!!"


Dunia Nakuna terasa hancur tak berkeping. Ia sudah tak memiliki kekuatan lagi untuk melawan.


"Craattt!!!"


Cairan berwarna merah segar menyembur keluar dari leher sang pemburu. Kepalanya jatuh menggelinding akibat tebasan pedang disusul tubuhnya dengan tangan yang memegang batang tumpul yang seketika layu sebelum di tancapkan.


Tubuh yang penuh darah berjalan terhuyung mendekati sang kekasih. Ia berusaha menahan segala rasa sakit untuk meraih tubuh Nakuna yang nyaris ternodai. Lelaki itu melepaskan ikatan yang masih membelenggu kedua tangan gadis itu. Nakuna pun segera memeluk Sir. Yukil dan menangis sejadinya-jadinya. Lelaki itu balas mendekap erat tubuh Nakuna dan mencium pucuk kepala gadis itu.


"Kau sudah tidak apa-apa, semua baik-baik saja sekarang "


Sir. Yukil meyakinkan Nakuna agar hati gadis itu menjadi lebih tenang.


Ia mengusap lembut punggung gadis itu, lalu melepaskan dan meraih wajah gadis yang masih berurai air mata dengan kedua tangannya.


"Kau sudah aman Naku, aku akan melindungimu. Dan akan selalu melindungimu.."


Nakuna mengangguk dan meraih kedua tangan yang memegang wajahnya.


"Kau terluka aku sangat takut... takut kehilanganmu..."


"Aku masih sanggup menahan luka ini. Aku hanya tidak sanggup bila harus kehilanganmu..."


Kembali mereka saling berpelukan. Perasaan takut kehilangan antara keduanya dilukiskan dengan dekapan hangat penuh kasih sayang.


"Aku tidak terima bila kau melamarku di saat hujan turun dan dikejar-kejar seperti ini?!"


Sir. Yukil melepaskan dekapannya dan melihat wajah cantik walau berhiaskan percikan lumpur di pipinya. Lelaki itu tersenyum bahagia.


Senyum bahagia keduanya terukir indah dibawah rintik hujan yang mulai berakhir.


"Ayo... kau sanggup berjalan? Kita masih harus bergerak keselatan untuk mendapatkan bantuan. Dan semoga nona dan pangeran baik-baik saja"


Nakuna mengganggu. Sir. Yukil melepaskan jubah yang ia pakai lalu memakainnya ketubuh gadis itu dan mengikatnya hingga menutupi bagian yang terbuka dari tubuh Nakuna.


Sesaat gadis itu lupa akan kondisinya. Setelah Sir. Yukil memberikan jubahnya kepada dirinya, ia baru sadar dan merasa begitu malu. Nakuna tertunduk dengan wajah memerah. Sir. Yukil yang tahu dari sikap sang kekasih segera menggenggam tangan gadis itu dan melanjutkan perjalanan mereka. Lelaki itu tidak ingin kekasihnya merasa tertekan dengan apa yang sudah terjadi.


" DUUAAAARRR!!!!"


Suara ledakan mengagetkan kedua sepasang kekasih itu.


"Nona!!!"


Suara serempak menyebutnya siapa yang membuat ledakan itu.


*****


Deru napas yang terengap-engap sambil berlari menembus rumput liar yang menghalangi jalan membuat gerak langkah keduanya melambat.


"Kesana dibalik batu itu!"


Bersembunyi Jongya dan Nazyela menutupi tubuh mereka di antara bebatuan.


"Masih tersisa berapa?" (Dalam bisikan)


"Sepertinya 2, aku hanya mengenai 1 orang saja"(Balas berbisik)


"Benar 2 dan mereka mendekat!"


Bisik Nazyela setelah mengintip musuh mereka.


Nazyela mengeluarkan granat dari dalam tasnya.


"Tinggal ini?!"


"Biar aku saja yang lempar. Kau hampir saja membunuh kita berdua tadi"


Saran Jongya lalu mengambil granat dari tangan Nazyela.


"Kakiku tadi terpeleset karena jalan licin yang terkena hujan. Apa kau masih ingat cara menggunakannya?"


Wajah Nazyela merengut menjawab perkataan Jongya disaat nyawa mereka sedang terancam.


Granat yang di lempar Nazyela hampir saja membunuh mereka jika Jongya tidak segera menyepak dengan sekuat tenaga ke arah para pemburu. Dan untungnya meledak tanpa sia-sia walau hanya membunuh satu pemburu. Dan kini tinggal 2 pemburu yang masih tersisa.


"Kita mengejar yang salah. Ini gadis yang melempar peledak?!"


"Huh... nasib kita sungguh sial!! Berarti yang dikejar Jack adalah gadis satunya. Tapi baju biru itu...?! "


" Sial!! Mereka mencoba mengecoh kita rupanya! "


" Bagaimana, apa kita kembali saja dan melaporkannya kepada tuan?"


"Kau mau mati?!! Kembali dengan tangan kosong sama saja mengantarkan nyawa kekandang singa?!"


"Huh... kalau bagitu kita harus bisa menangkapnya. Dengan peledak seperti itu kita disini juga akan ma...."


"DUUAAAARRR!!!"


Suara ledakan menggema memenuhi hutan pinus yang daunnya meneteskan sisa-sisa air hujan.


Kedua pemburu yang sedang berdiskusi tentang langkah mereka selanjutnya menjadi akhir perjalanan hidup mereka. Bahkan mereka belum sempat menyelesaikan kata-kata terakhir mereka.


Nazyela ternganga melihat Jongya yang melempar granat tepat didepan para pemburu itu. Serpihan tubuh mereka berjatuhan tersebar kemana-mana. Bau daging terbakar dan bau amis darah bercampur menjadi satu.


Akhirnya mereka berhasil memenangkan pertarungan. Mereka pun berdiri dari tempat persembunyiannya.


"Nona!!"


Teriak suara yang tidak asing ditelinga Nazyela.


Mereka mencari pemilik suara, dan terlihat Sir.Yukil dipapah Nakuna berjalan mendekati mereka.


"Sukurlah kalian baik-baik saja. Tetapi kenapa kalian kemari? Bukankah seharusnya kalian ke selatan menuju mension?"


"Kami hendak kesana ketika kami mendengar suara ledakan. Kami pikir nona sedang masa genting"


Sir. Yukil menjelaskan.


"Kau lupa nonamu ini wanita seperti apa?"


Jongya berkata sambil menepuk pundak Sir. Yukil. Nazyela langsung menatap keduanya bergantian. Kedua lelaki itu menjadi salah tingkah ditatap tajam gadis itu.


Nakuna hanya bisa menahan tawa melihat anak pemilik negeri ini dan pria yang memliki bakat berpedang begitu menciut ditatap nona mudanya.


"Kau terluka?! Sebaiknya kita segera menuju mension"


Saran Jongya mengalihkan pembicaraan begitu melihat baju yang dikenakan Sir. Yukil penuh dengan bercak darah.


"Mengapa kau bisa terluka? Kemana granat yang kuberikan padamu? Kau tidak perlu sampai luka begini jika hanya melempar granat?!"


Sir. Yukil dan Nakuna saling pandang.


"Saya lupa adanya benda itu"


Ujar Sir.Yukil tertunduk.


Nazyela menepuk keningnya dan Nakuna menggelangkan kepala. Jongya hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka.


"Hah... sudahlah.. ayo kita segera obati lukamu"


Sir. Yukil dan Nakuna mengangguk. Mereka pun berjalan menuju mension.


Beri dukungan untuk aku dong😘


* Like 👍


* Komen


* favorit ❤️


*Rate⭐⭐⭐⭐⭐


*Hadiah


*Vote, Terima kasih 🤗


Baca juga Cintai Aku Seikhlasmu , bagi yang suka kisah yang menyesakkan dada 😂.


Terima kasih 🙏