
Pagi itu, suasana tenang dan sakral menyelimuti toko bunga Nazyela yang telah di hias sedemikian rupa untuk acara pernikahan Ji Chang dan Nazyela.
Keduanya tampak serasi dengan balutan pakaian yang berwarna cream. Senyum tak pernah lepas dari keduanya yang sangat berbahagia di hari itu.
Tamu yang datang tidak lah ramai, hanya orang-orang terdekat saja yang hadir seperti, Nakuna dan Sir. Yukil, Suly dan neneknya, lalu beberapa anak buah Ji Chang yaitu Yojin dan beberapa pengawal, serta ustad dan beberapa pengikutnya yang akan menikahkan kedua pasangan itu
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Nazyela Estelle Kley binti Histon Kley dengan maskawin tersebut tunai"
"Sah"
"Sah"
"Sah"
"Alhamdulillah..."
Dengan lancar Ji Chang mengucap ijab kabul tanpa hambatan dan sah menurut Ustad berserta pengikutnya. Ustad pun membacakan doa-doa menyempurnakan ijab kabul pada hari itu.
Nazyela lalu mencium tangan Ji Chang, Ji Chang pun mencium kening Nazyela. Lalu Ji Chang menyematkan cincin emas ke jari Nazyela.
Para tamu bercengkrama saling bersilahturahmi satu sama lain. Mereka pun menikmati suguhan makanan yang telah tertata rapi di meja makanan.
"DOR!! DOR!!"
"AAAAGGHH..."
Mereka semua sedang menikmati prasmanan ketika dentuman peluru pistol mengenai pengawal yang tepat berada di samping Nazyela.
"KYIAAAAA....!!"
"LARI... !!"
"DOR!! DOR!!DOR!!"
Suara histeris ketakutan menggema dalam ruangan yang tidak terlalu besar itu. Mereka berlari menyelamatkan diri masing-masing. Para anak buah Ji Chang membalas serangan dengan mengeluarkan senjata masing-masing. Adu tembak pun bersahut-sahutan memekakkan telinga.
"Cklek...DOR!! DOR!!"
"DOR!! DOR!!DOR!!"
"AAAAGGHH..."
"LARI CEPAT, LARI... !!"
"DOR!! DOR!!DOR!!"
"NAZYELA BERLINDUNG!!!"
"DOR!! DOR!!"
Ji Chang berusaha melindungi Nazyela yang terlihat panik dan sangat ketakutan hingga seluruh tubuhnya gemetar. Bagaimana tidak, ia baru kali ini menghadapi baku tembak tepat di depan matanya. Andai itu pertarungan yang hanya menggunakan pedang mungkin Nazyela masih sanggup berdiri tegak untuk melawan. Ji Chang lalu mengambil senjata dari salah satu anak buahnya yang tewas. Ia pun menembakkan senjatanya ke arah dentuman pistol dari luar toko itu.
"DOR!! DOR!!DOR!!"
"AAAAGGHH..."
Pelurunya mengenai sasaran. Beberapa musuh tergeletak tak berdaya di sisi jalan.
Warga sekitar pun panik dan berlarian menjauhi area sambil berteriak ketakutan.
"KYIAAAAA....!!"
"DOR!! DOR!!"
"Cklek...DOR!! DOR!! DOR!!!"
"Aaaghh"
Sebuah perluru menembus dada kiri Ji Chang, hingga pemuda itu ambruk ke lantai.
"TIDAK?!! JI CHANG...?!!"
Nazyela berteriak histeris melihat suaminya mengeluarkan dara segar di dadanya. Ia pun mencoba mendekati Ji Chang dengan mengendap perlahan. Namun serangan peluru masih menghujam di arena Ji Chang.
"Tidak, Ji Chang, hiks... hiks...huaaaa.."
"DOR!! DOR!!DOR!!"
"NONA MENYINGKIR BAHAYA!!"
Sir. Yukil dengan sigap menahan tubuh nona nya dan membawanya ketempat yang lebih aman.
"Nona sembunyilah disini, saya akan mencoba membawa tuan kesini"
Dengan isak tangis Nazyela hanya bisa menganggukan kepala.
"Ninu... ninu... ninu... ninu...!!"
Dari kejauhan suara sirine mobil posisi setempat telah terdengar. Musuh di seberang mulai menghentikan tembakan dan mencoba kabur.
Yojin menyuruh teman-temannya untuk segera mundur dan bersembunyi. Ia pun mengambil senjata api dari tangan Yukil dan Ji Chang lalu memberikan nya kepada pengawalnya. Pengawal itu pun segera lari dan bersembunyi.
"Kalian tenang saja. Jangan banyak bicara biar aku yang urus semuanya"
Sambil meneteskan air mata, setelah melihat keadaan hyung nya, Yojin segera menggelap wajahnya dan bersiap menghadapi pertanyaan polisi.
"Letakkan senjata kalian, dan angkat tangan ke atas!!"
Teriak pasukan polisi yang datang untuk mengamankan situasi.
Nazyela tidak peduli, ia terus memeluk Ji Chang dengan bersimbah air mata. Tubuh Ji Chang yang mulai dingin menambah pilu tangisan wanita yang baru saja menjadi seorang istri dari lelaki yang kini terbujur kaku itu.
Polisi semakin mendekat lalu memeriksa keadaan dalam ruangan itu. Dua orang tewas dan dua orang lagi luka tembak di kaki dan lengan nya.
"Kami diserang oleh segerobolan orang yang tidak dikenal, hingga hyung ku tewas. Padahal kami sedang melaksanakan acara pernikahan"
Jelas Yojin kepada para polisi itu. Sambil menahan kesedihan melihat Ji Chang.
Polisi mengamati para korban dan Nazyela serta Ji Chang yang terbaring dalam pelukan Nazyela
"Tidak satu pun kami menemukan senjata disini pak, sepertinya mereka diserang saat pesta"
Ungkap anak buah yang menyelidiki seluruh tempat kejadian perkara itu.
"Baiklah tuan, kami akan mengusut tuntas dalang dari tragedi ini. Mohon kerja samanya untuk segala informasi yang kami butuhkan. Lalu mengenai jasad itu..."
"Biar saya yang urus pak, kami akan segera memakamkannya. Karena istrinya sangat terpukul jadi ijinkan kami yang mengurusnya"
Ucap Yojin.
"Baiklah tuan. Kami akan manggil semua orang yang ada disini ketika kasus terungkap sebagai saksi kelak. Lalu korban luka akan kami bawa kerumah sakit"
"Baik pak"
Yojin mengajak Nazyela beserta rombongan kembali kerumah Nazyela . Yojin pun membawa mayat Ji Chang ke rumah Nazyela. Bersyukur sang ustad selamat hingga dapat membantu mereka dalam proses pemakaman Ji Chang nanti.
Saat tiba dirumah, tangis Nazyela tiada henti meratapi kematian suaminya yang secara tiba-tiba. Baru saja janji suci di ikrarkan kembali Nazyela harus kehilangan kebahagiaan dalam seketika.
"Nona, jangan meratapi ia yang telah tiada. Sebaiknya kita berikan dia doa untuk kebahagiannya di akhirat. Dimana jasad suami nona ini akan di kuburkan?"
"Di belakangan rumah ini ada halaman yang tidak terlalu besar. Kubur kan saja suamiku di situ"
"Baiklah.. saya akan meminta beberapa orang untuk menggali tanah"
Perlahan Nazyela menghapus air matanya setelah mendengar ucapan sang ustad lalu menganggukan kepalanya. Satu persatu mereka membersihkan diri dari pakaian yang lusuh serta ternoda oleh darah.
Setelah beberapa waktu, orang-orang mulai berkumpul kembali menghadap jasad Ji Chang yang sudah di mandikan serta di balut kain kafan, dan akan segera di makamkan.
Mereka mengusung mayat hingga ke liat lahat. Kumandang azan menyertai kepergian Ji Chang sebelum lubang itu dituntut kembali dengan tanah. Di sertai doa-doa ustad menutup lubang itu dengan tanah kembali.
Selesai pemakaman kembali Nazyela bersimpuh menangis di atas pusara Ji Chang. Nakuna yang tak kuasa melihat kesedihan nona nya ikut pula menangis dalam pelukan Sir. Yukil.
Nazyela merasakan ke hampaan yang luar biasa. Serasa hilang separuh nyawanya hingga ia tak mampu berkata selain tetesan air mata yang terus mengalir di pipinya. Sedih, terluka dan sakit yang teramat sangat di tinggal pergi oleh seseorang yang begitu di cintai. Tubuhnya lemah seakan-akan jiwa semangatnya telah pergi meninggalkannya.
🎶Ku ingin saat ini engkau ada disini... Tertawa bersama ku bagai dulu lagi... walau hanya sebentar Tuhan mohon kabulkanlah.. bukan nya diri ini tak menerima kenyataan... hati ini sangat rindu... 🎶
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.
~Jangan lupa favorit ❤️
~Rate⭐⭐⭐⭐⭐
~Hadiah
~Vote
Terima kasih 🤗
👉Jika kalian menyukai komedi baca juga karya Author berjudul Bukan Soulmate. Semoga kalian suka😉