Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 45



Di istana.


Pertengkaran antara Jongya dan Camila terus belanjut. Kamar bagai kapal pecah, barang-barang berserakan di mana-mana. Jongya semakin tidak tahan dengan sikap Camila.


"Kenapa Jongya? Apa salahku padamu?"


"Sudah berapa kali aku bilang aku tidak mencintaimu.. ini hanya pernikahan politik!"


"Walau bagaimana pun aku isteri sah mu bukan jala*ng itu!!"


"Berhenti menjelekkan dia! Kau lupa aku bisa saja memiliki 2 sampai 5 selir? Kau tak bisa melarangku untuk menikah lagi!"


Camila menggelengkan kepala, ia tidak mau hal itu terjadi.


Benar ia melupakan satu hal bahwa negara Theora membebaskan raja atau pangerannya memiliki beberapa selir. Sedangkan di negara timur tempatnya tidak di perbolehkan memiliki isteri lebih dari satu jika sang isteri masih hidup.


Jongya akhirnya memutuskan untuk pisah ranjang.


Camila menangis sejadi-jadinya. Ia tak lagi mampu menahan pahit nya pernikahan yang ia jalani.


Dengan derai air mata ia menulis surat kepada sang ayah dan menceritakan semua kisah perjalanan pernikahannya.


Keretakkan rumah tangga Jongya sampai ketelinga sang ratu. Ratu marah besar terhadap Jongya. Namun kali ini Jongya tidak ingin menuruti perkataan ibunya. Pemuda itu tetap memilih pisah kamar dengan istrinya. Ratu tetap tidak tinggal diam. Hal itu di adukan kepada suaminya raja Theora. Ratu mencoba berdiskusi masalah Jongya pada sang raja. Ia berusaha agar raja mau membantunya membujuk Jongya.


"Sayang... apa niat baikku ini tidak berarti? Aku hanya ingin melihat mereka bedua bahagia"


"Apa memaksakan keinginanmu itu membuat mereka bahagia? Lihat lah apa yang terjadi sekarang "


"Semua itu karena gadis tak tahu diri itu!"


Ratu terlihat sangat membenci Nazyela.


"Semua itu karena keegoisan mu"


Raja melirik ke arah Ranom.


"Sayang...?!"


Ratu tak menyangka raja akan menyalahkan dirinya. Selama ini raja selalu memenuhi keinginannya.


"Kau lah orang yang akan menanggung akibatnya bila terjadi sesuatu pada kerajaan!"


Ranom mengepalkan tangannya dengan gemetar mendengar ucapan raja.


"Aku tidak pernah menyetujui pernikahan itu. Tapi kau memaksa pangeran atas keinginan mu"


"Yang mulia... aku akan berusaha agar hal itu tidak terjadi"


"Dengan apa? Memaksa lebih kehendakmu! Apa pernah sekali saja kau memikirkan kebahagian putra mu? Apa kau yakin ia selalu bahagia tiap memenuhi keinginan mu!"


Raja menatapnya dengan tajam. Ranom terdiam tidak bisa berkata apa-apa. Saat ini raja sedang memarahinya. Raja tidak pemah seperti ini sebelumnya. Ranom sedikit terkejut akan perubahan sikap raja padanya.


"Yang mulia, sayangku... maafkan aku.. "


Ranom mencoba menggapai tangan sang raja. Namun raja menepisnya pergi begitu saja meninggalkan dirinya.


Ranom mulai terlihat panik, ia menggigit ujung kuku jarinya mencoba mencari jalan keluar permasalahannya.


*****


Dua bulan berlalu semenjak kejadian di penginapan kota Brigfresh. Nazyela tidak pernah lagi keluar dari kediaman Kley. Ayahnya tuan Histon melarangnya berpergian setelah mengetahui apa yang terjadi pada dirinya.


Tuan Histon tidak melarang hubungan Nazyela dengan Jongya jika memang mereka saling mencintai. Menjadi selir bukanlah hal yang di larang di negara itu. Namun Nazyela sendirilah yang tidak ingin menjadi selir.


Setelah kejadian itu, pangeran Jongya sering mengirimnya surat lewat merpati seperti yang mereka lakukan dulu. Awalnya Nazyela membalas surat itu karena merasa senang. Namun, setelah beberapa kali datang Nazyela tidak lagi membalas, hanya membaca apa yang tertulis di kertas itu. Mau bagaimana pun keadaan masih belum berubah. Kebahagiaan yang dirasakan adalah semu semata.


Gadis itu kini hanya menikmati hidup sebagai putri bangsawan yang kaya. Berusaha melupakan cinta yang membelenggu dirinya. Para asistennya berperan aktif membantu Nazyela untuk bangkit dari masalah hatinya.


Adrian menghela napas, ia merasa takdir adiknya begitu sulit karena seringnya mendapat cobaan hidup yang teramat berat.


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"


"Nona baik-baik saja tuan"


"Sukur lah.."


"Tuan besar melarang nona untuk keluar rumah jika tidak ada hal yang penting. Kami semua juga berusaha menghibur nona"


"Terima kasih untuk kerja keras kalian"


"Itu bukan apa-apa tuan, kami juga senang dapat melayani keluarga Kley"


Kley kini menjadi pusat bagi rakyat untuk menaikan taraf hidup mereka. Kley yang memiliki banyak usaha menjanjikan lapangan pekerjaan yang lebih banyak. Para bangsawan yang berstatus rendah mengantri untuk bisa bekerja dalam kastil Kley, baik itu menjadi pelayan maupun kesatria.


Pelayan dibagi berdasarkan kelasnya. Demikian pula kesatria. Pelayan tertinggi adalah kepala pelayan rumah dan asisten-asisten pribadi. Dibawah itu ada pelayan yang melayani keperluan pribadi setara dengan kepala pelayan dapur. lalu setelahnya barulah pelayan yang membersihkan kastil serta yang membantu di dapur. Yang paling rendah adalah pelayan yang bekerja sebagai tukang cuci dan kuli barang dapur. Namun, gaji para pekerja paling rendah itu hampir setara dengan pelayan yang bekerja di toko milik bangsawan lain. Bisa di bayangkan berapa besar gaji para asisten yang menduduki posisi tinggi di dalam kediaman Kley. Karena itu lah banyak orang yang ingin melayani keluarga itu. Kley berusaha memakmurkan orang-orang yang melayani mereka.


Adrian telah sampai di kediaman Kley setelah menempuh dua jam naik kereta. Ia langsung menuju kamar adiknya dan memeluk tubuh mungil yang terkejut melihat dirinya yang langsung tiba-tiba datang memeluk.


"Kau tak apa-apa?"


Nazyela tersenyum mengangguk menjawab pertanyaan Adrian.


"Kapan kakak datang?"


"Baru saja. Aku punya kabar baik dan tidak untukmu. Mana yang akan kau pilih dulu?"


"Emm.. kabar buruk?"


"Maaf aku tidak bisa menemukan J. Robert. sepertinya keberadaannya di sembunyikan. Namun aku menemukan orang yang bisa membuat kita tetap berkomunikasi lewat jarak jauh"


Adrian terlihat begitu semangat.


Nazyela mengerutkan dahi mendengar penuturan Adrian.


Jangan-jangan telepon. Ah iya.. bener lupa aku disini belum ada telepon.


"Aku mencari J. Robert sampai ke Skotlandia tapi aku menemukan Alexander Graham Bell disana. Dia adalah seorang ilmuwan yang menemukan perangkat telepon pertama pada tahun 1876. Awalanya dia mulai mengerjakan telegraf harmonik, perangkat yang memungkinkan banyak pesan dikirim melalui kabel pada saat yang bersamaan. Saat mencoba menyempurnakan teknologi itu, ia juga mengerjakan proyek lain, yakni mencari cara untuk mengirimkan suara manusia melalui kabel. Pada tahun 1875, ia dengan bantuan rekannya Thomas Watson, berhasil menemukan perangkat sederhana yang dapat mengubah listrik menjadi suara. Lalu mendaftarkan temuannya itu ke kantor paten, dan menerima hak paten atas perangkat tersebut pada 7 Maret 1876. Alexander Graham Bell tercatat sebagai pemegang hak paten sekaligus penemu dari telepon"


Penjelasan Adrian yang panjang lebar membuat Nazyela ternganga mendengarnya.


"Bagaimana kakak bisa tahu sedetail ini?"


"Aku mendengar kisahnya dari patner bisnisku. Lalu aku coba mengajaknya bekerja sama agar kita bisa menggunakan telepon itu. Itu sungguh penemuan manakjubkan bagiku. Aku tidak perlu bersusah payah lagi memikirkan bagaimana kabar kalian disini. Selama ada telepon nanti kita tetap bisa berkomunikasi meski jauh"


Adrian tampak begitu senang. Kepergiannya kali ini tidak lah sia-sia meski ia tidak dapat menemukan penemu bom atom.


Aih.. bang bule seneng sampe segitunya. Gimana kalo abang sampe liat gudget, nggak kebayang deh girangnya ntar kayak apa


Nazyela tersenyum sendiri larut dalam pikirannya. Sedang Adrian terus sibuk bercerita kisah sepanjang perjalanannya.



Alexander Graham Bell


Lahir : 3 Maret 1847, Skotlandia


Meninggal : 2 Agustus 1922


Ilmuan pencipta dan pendiri perusahan telepon.


📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Terima kasih 🤗