
Rasanya enggan untuk melepaskan pelukan itu. Namun mereka akhirnya melakukannya ketika mendengar suara ketukan pintu dikamar Nazyela. Nakuna berulang kali memanggil Nazyela untuk mengajaknya makan malam.
Nazyela memutuskan untuk membuka pintu kamar Jongya dan memberitahu keberadaannya.
"Naku..."
"Nona..! Kenapa anda berada dikamar itu?"
Jongya menampakkan diri agar Nakuna gadis itu tidak terlalu mengkhawatirkan Nazyela.
"Oh... yang mulia..."
Nakuna menunduk hormat lalu melihat kearah Nazyela. Gadis itu mengangguk mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Kalau begitu saya permisi"
Nakuna pamit undur diri, ia mengerti nona nya mungkin butuh waktu untuk mereka berdua. Karena permasalahan yang mereka hadapi belakang ini sungguh menguras waktu, pikiran, dan tenaga.
Setelah kepergian Nakuna Jongya langsung menutup pintu dan membawa Nazyela kembali kedalam kamar.
"Sudahlah... saat ini kita sedang berbuat salah. Walau pun kita sama-sama saling mencintai tapi status kita berbeda. Dan aku tahu ini berat bagimu juga bagiku"
"Hah..."
Jongya hanya bisa menghela napas meratapi keadaan yang ada.
"Aku mencintaimu Nazyela..."
"Aku tahu..aku juga mencintaimu.. tapi kita tidak bisa bersama"
"Apa tidak mungkin jika kau menjadi selirku"
Jongya menatap dua bola mata indah yang sayu itu. Tatapan mereka bertemu seakan-akan ingin mengetahui lebih dalam perasaan masing-masing.
"Maafkan aku, aku tidak ingin berbagi cinta dengan yang lain"
Nazyela berpaling dari tatapan Jongya. Ia sedikit kecewa membayangkan jika dirinya harus menjadi selir.
"Tapi aku tidak akan menyentuhnya karena aku tidak mencintainya?!"
"Bagaimana jika yang mulia raja atau ratu menginginkan anak dari kalian? Apa kau masih bisa tidak menyentuhnya?"
Nazyela langsung menatap tajam Jongya.
Jongya terdiam.. pikirannya benar-benar kalut. Sungguh ia tidak ingin berpisah bahkan harus kehilangan Nazyela.
"Kembali lah Jongya..."
Nazyela telihat seperti memohon walau dalam hatinya sendiri begitu terluka melepaskan orang yang dicintai berada di pelukan wanita lain. Hatinya kembali sakit mengingat Jongya yang kini menjadi suami orang lain.
"Berjanjilah kau akan menungguku Nazyela.."
Jongya terlihat bersungguh-sungguh.
"Kau mau apa...?"
Nazyela mantap Jongya dengan kekhawatiran.
"Aku sedang berusaha mengumpulkan kekuatan. Aku berencana cerai dengan wanita itu. Tapi aku yakin kerajaannya tidak akan tinggal diam"
"Maksudmu kau akan berperang melawan mereka?"
"Mungkin itu jalan terakhir"
Nazyela nyaris tak percaya mendengar penuturan Jongya. Sebenarnya dia sendiri memiliki kekuatan itu. Namun apakah harus menghilang ratusan bahkan ribuan nyawa hanya untuk mempersatukan cinta mereka.
Nazyela tidak dapat membayangkan para kesatria-kesatria itu harus meninggalkan ibu, istri dan anak-anak mereka. Pilu hatinya membayangkan jika itu terjadi karena dirinya.
"Tidak...!! Kumohon Jongya..., Berjanjilah kau tak akan melakukan itu?! Kita mungkin memang ditakdirkan untuk saling mencintai namun tidak untuk bersama"
"Nazyela... apa kau tahu sakit yang kurasakan?"
"Aku tahu... aku juga merasakan hal itu Jongya"
"Lalu kenapa?"
"Aku tidak bisa"
"Kenapa Nazyela...?"
"Berhentilah bertanya kenapa Jongya. Seberapa banyak kita berdebat untuk hal ini tetap saja kita tidak memiliki jalan keluar"
Jongya tidak memahami apa pemikiran Nazyela. Ia bingung akan sikap gadis itu padahal mereka saling mencintai. Mereka bisa saja bersama jika Nazyela mau di jadikan selir atau Jongya menceraikan Camila istrinya sekarang. Tapi Nazyela menolak itu semua.
"Jelaskan padaku agar aku bisa memahami mu?"
Nazyela menghela napas yang terasa begitu berat. Ia terlihat pasrah dengan keadaan yang ada.
"Aku... aku tidak ingin orang lain terluka karenaku. Aku tidak ingin banyak nyawa yang dipertaruhkan untuk kebahagiaan ku.., dan aku pasti akan terluka jika berbagi cinta dengan yang lain"
Rasa sedih yang menyelimuti hati kian membuat luka di hati Nazyela. Gadis itu tak mempu menahan air matanya.
"Nazyela dengar lah... cinta itu butuh pengorbanan, tidak ada cinta yang mudah di gapai dengan mudah. Semua pasti ada jalan berliku yang sulit dilalui serta penghalang dan rintangan yang mesti kita lewati... "
"Maka dari itu ...."
"Tapi tidak untuk menyerah Nazyela.."
Jongya berusaha meyakinkan gadis itu.
"Lalu harus bagaimana?"
"Percayalah padaku Nazyela.. ijinkan aku berusaha untuk membahagiakan mu, untuk kebersamaan kita"
Nazyela tak sanggup membayangkan apa yang terjadi kedepannya. Gadis itu terdiam tak bisa berkata apa-apa.
"Pergilah... kau pasti lapar, aku tidak ingin kau sakit. Makanlah.. mereka pasti telah lama menunggumu. Kita akan bertemu lagi... "
Akhirnya Jongya memberikan Nazyela pergi untuk makan makan.
Dengan berat hati gadis itu pergi meninggalkan Jongya. Gadis itu terlihat khawatir dan pikirannya entah kemana-mana.
Sir. Yukil dan Nakuna menyambut nona nya saat melihat wajah sedih itu menuruni tangga bangunan.
Nakuna yang bercerita pada kekasihnya bahwa Nazyela menemui pangeran membuat Sir. Yukil iba setelah melihat kondisi nona nya yang kembali bersedih.
"Nona tidak apa-apa?"
Nakuna segera memegang tubuh Nazyela yang terlihat lemah.
"Aku tidak apa-apa, mari kita makan"
Nazyela menutupi perasaannya, ia tidak ingin kedua asistennya cemas karenanya.
Keesokan harinya. Nazyela bersiap meninggalkan penginapan beserta para pengawal dan asitennya.
Jongya mengantarkan gadis itu sampai kedepan kereta kuda mereka.
"Berhati-hatilah dijalan.. aku akan memberi kabar untukmu nanti"
Nazyela mengangguk lalu menunduk hormat.
"Oh...jadi begini kalian di belakangku!!"
Suara nyaring dan lantang mengejutkan beberapa orang disekitar tempat itu. Bahkan Nazyela terkejut melihat Camila yang datang tiba-tiba.
"Plak!!"
"Apa yang kau lakukan!!"
Teriak Jongya begitu marah pada Camila.
Tamparan mulus mendarat di pipi Nazyela ketika semua menunduk hormat kepada Camila kecuali Jongya.
Gadis itu menahan rasa panas di pipinya.
Jongya segera menahan Camila ketika wanita itu berusaha melampiaskan kembali kemarahan nya pada Nazyela.
"Pengawal tahan Camila!!"
"Baik!!"
"Lepaskan aku!! Kenapa kau perlakukan aku seperti ini!! Harusnya wanita jal**g itu yang kau singkirkan bukan aku!! Lepaskan aku!! Kalian tidak pantas menyentuhku!!"
Camila terus berteriak meronta agar dirinya terlepas dari pengawal yang mengepung menjaganya.
"Dasar kau wanita murah*an!! Apa tidak ada laki-laki lain selain suami ku hah?!! Jangan harap kau bisa merebut suamiku, kau harus sadar diri jangan mengganggu hubungan orang lain!
"Pergilah.. aku akan mengurusnya, maafkan atas tindak kasarnya padamu"
Jongya segera membuka pintu agar Nazyela segera masuk kedalam kereta.
"Dasar wanita tidak tahu diri!!"
Nazyela menatap sedih Jongya.
"Tidak apa-apa, pergilah..."
"Hei..!! Wanita lakna*t bagaimana jika itu kau, Lalu aku merebut suamimu hah!!"
Nazyela menghentikan langkahnya lalu melihat ke arah Camila. Sesaat wanita itu terdiam.
"Baik aku maupun yang mulia merasakan hal yang sama. Sebelum yang mulia aku lebih dulu mencintai pangeran tetapi yang mulia merebutnya dari ku. Seperti itu lah yang aku rasakan"
"Ja*lang!! Masih berani kau membela dirimu hah!! Lepaskan aku biar ku robek mulutnya!!"
Nazyela terlihat tak kuasa menahan rasa malunya. Ia terlihat pasrah. Gadis itu tidak menyalahkan Camila yang memperlakukannya dengan buruk. Namun hatinya juga sakit harus menerima kenyataan pahit seperti ini.
Nazyela menaiki keretanya dan segera meninggalkan tempat itu.
Tangis Nazyela pecah, air mata berlinang tanpa bisa dibendung lagi. Nazyela merintih menahan sakit yang ada di hatinya. Suara tangisan nya menyayat hati membuat iba orang yang mendengarnya.
Ya...Allah...bukan ingin ku begini. Aku juga tak ingin menyakiti hati sesama wanita. Aku tahu rasa sakit itu karena aku juga merasakannya.. aku harus bagaimana ya Allah... sakit sekali...
Nazyela berulang kali menepuk dada. Rasa yang begitu berat menyesakkan dadanya. Nakuna memberanikan diri menarik nona nya dan memeluk erat tubuh mungil itu. Nakuna menangis sambil memeluk Nazyela
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Terima kasih 🤗