
Mereka duduk bertiga di ruang santai dalam kamar Jongya. Suly terkesima melihat kamar yang begitu besar seukuran sebuah rumah di negaranya. Kamar yang di lengkapi ruang baca, ruang tamu serta ruang santai membuat mulut gadis itu ternganga lebar. Jongya sengaja membawa Suly berbicara di dalam kamarnya karena sikap gadis itu yang tidak biasa di negara Theora. Bagi kepala pelayan maupun pengawal sikap Suly sangat jauh dari etika di Theora. Namun bagi Jongya yang sudah biasa, tidak mempermasalahkan sikap sepupunya padanya.
"Jadi kenapa kau tiba-tiba kemari?"
Tanya Jongya penasaran.
"Apa lagi kalau bukan karena kau?!"
"Siapa yang menemani nenek disana?"
"Semua orang sedang berkumpul di rumah nenek. Aku mengelabui mereka, ku bilang saja nenek sedang sekarat. Dan akhirnya mereka semua datang untuk melihat nenek, bahkan mereka yang tidak pernah kembali semenjak tinggal di luar negeri juga datang"
"Kau benar-benar cari mati!"
Suly hanya memonyongkan bibirnya kedepan mendengar ucapan Jongya.
"Lepaskan tangan kalian di kolong meja, beraninya kalian bermesraan di depanku?!"
"Ehem.. uhuuk.. uhuk..."
Wilson terbatuk-batuk mendengar ucapan pangerannya yang memandang tajam dirinya.
Suly segera menyelipkan rambutnya di balik telinga membuang rasa malunya.
"Ck... aku kesini membawa kabar. Entah kau sudah dengar atau belum"
Suly mencoba mengalihkan suasana.
"Kabar apa?"
"Kekasih mu itu sudah kembali ke negara ini"
"Aku sudah tahu. Tadi aku tidak sengaja melihatnya di ibu kota"
"Kalian sudah bertemu? Atau kau hanya menguntitnya seperti biasa?"
Jongya tidak menjawab pertanyaan Suly. Gadis itu lalu memandang Wilson sebagai ganti jawaban yang ingin dia ketahui.
"Ehem..."
Wilson hanya bisa berdehem di tatap tajam Suly.
"Ck.. sudah ku duga. Kau hanya menguntitnya"
"Aku tidak ingin merusak kebahagiaannya. Jika suaminya melihat ku mendekatinya lagi bukankah aku terlihat seperti orang yang mengemis cinta?!"
"Apa orang yang sudah di dalam kubur bisa memarahi mu?!"
"Apa?!! Apa maksudmu?!"
"Jadi kau belum tahu kalau kekasihmu itu sudah menjadi janda?"
"Apa?!!"
Jongya mendadak berdiri dari duduknya, terkejut mendengar ucapan Suly yang mengatakan Nazyela telah menjadi janda.
"Kau jangan main-main Suly"
"Ck...apa aku terlihat main-main sekarang?!"
Jongya terdiam. Pikirannya kemana-mana setelah mendengar ucapan Suly. Perlahan laki-laki itu duduk kembali di kursinya.
Suly lalu menceritakan apa yang ia lihat dan alami saat menghadiri pernikahan Nazyela tanpa terlewatkan sedikit pun.
Antara senang dan sedih, perasaan Jongya bercampur menjadi satu. Namun lelaki itu terlihat murung setelah mengetahui suami Nazyela yang mati dibunuh sebelum mereka melangkah ke hari berikutnya. Jongya dapat merasakan betapa sedih dan terlukanya Nazyela yang di tinggal pergi untuk selama-lamanya.
"Ini kesempatan mu untuk merengkuh hatinya"
Ucap Suly meyakinkan.
"Kau akan tinggal berapa lama disini?"
"Haish... kau mengusirku?!"
Suly kesal dengan Jongya.
"Wil, bawa Suly istirahat di kamar tamu. Dan sebaiknya kalian jangan melakukan apapun di lorong istana. Bahkan dinding disini juga memiliki telinga"
Ucap Jongya menyarankan, karena lelaki itu tahu mereka sedang berpacaran.
Suly ternganga mendengar ucapan Jongya. Sepupunya itu tidak berubah sekalipun ia kembali menjadi pangeran disini.
Wilson lalu mengantarkan Suly ke kamar tamu yang telah di siapkan. Lelaki itu mengarahkan satu pelayan untuk melayani Suly jika dia memerlukan sesuatu.
Wilson lalu beranjak bersiap meninggalkan Suly untuk mendampingi pangerannya.
Secepat kilat Suly menarik baju Wilson hingga pemuda itu mundur kebelakang. Suly langsung menutup pintu rapat-rapat.
"Kau mau kemana? Setelah membuat aku tersesat lalu kau mau meninggalkan ku begitu saja?"
"Saat ini aku sedang bertugas Suly"
"Jadi kau tidak.... em... merindukan ku?"
"Aku yakin tidak cukup waktuku bila sekarang harus melepaskan rinduku padamu"
Suly tersenyum senang mendengar ucapan Wilson. Dengan perlahan gadis itu mendekat ke arah Wilson hingga menyisakan jarak satu senti diantara wajah mereka. Suly menggigit bibir bawahnya menahan debaran jantung yang hampir saja meledak.
Hembusan napas keduanya saling beradu. Membius pusat saraf hingga mengalirkan hasrat terpendam yang mulai menguasai hati dan pikiran.
Wilson langsung menarik tengkuk Suly dan mendaratkan ciumannya pada bibir basah gadis itu.
Ciuman itu langsung disambut hangat oleh Suly yang telah menahannya sejak tadi. Lidah mereka bertemu dan saling berpangutan. Saliva mereka saling bertukar merasakan buncahan rindu yang tak terbendung lagi. Tangan Wilson mulai bergerilya kesana kemari hingga membuat Suly melenguh.
Wilson mulai mencium leher Suly hingga ke bahu mulus gadis itu.
"Wil, nanti saja kau lanjutkan. Temani aku ke kota Brigfresh?!"
"Ck..!!"
Suara Jongya dari balik pintu membuyarkan suasana. Darah asmara keduanya langsung terhenti dan jatuh merosot jauh, napasnya terengah-engah akibat ciuman yang tanpa jeda.
Suly cemberut mendengar Jongya memerintahkan Wilson. Pemuda itu hanya terkekeh melihat wajah kekasihnya, kemudian ia mencium kening Suly lalu mengacak rambut gadis itu. Di saat seperti itu Suly terlihat menggemaskan bagi Wilson. Jika tidak sedang bertugas tentu Suly sudah di lahap habis olehnya.
"Aku pergi dulu. Kau beristirahat lah.."
Wilson segera mengelap bibirnya dan membuka pintu lalu menyusul langkah Jongya yang telah jauh berada di depan.
Suly tersenyum sendiri setelah menutup pintu dengan rapat. Gadis itu merebahkan tubuhnya sambil mengulang kembali ingatan yang baru saja di ciptakan oleh nya dan Wilson.
Di kota Brigfresh.
Padang bunga yang dulu menjadi awal perkenalannya dan Nazyela menjadi tempat untuk menghilangkan rasa gelisahnya. Lelaki itu merebahkan tubuhnya, tertimbun di antara bunga-bunga yang indah bermekaran. Sedangkan Wilson bersandar pada pohon yang tak jauh dari tempat pangerannya berada.
Dari kejauhan terdengar derap langkah kuda menyeret sebuah kereta. Lama-kelamaan suara itu semakin dekat dan semakin jelas terdengar.
"Ck... berisik sekali?! Padahal aku ingin suasana tenang di sini"
Gumam Jongya pelan.
"Nona hati-hati, kami akan menunggu di kereta"
"Kalian tidak perlu cemas, ini bukan pertama kalinya aku kesini kan?"
Suara ini...
(Dalam hati Jongya).
Pemuda itu lalu bangun dan mengintip siapa wanita yang mendekati padang bunga tematnya berada.
Nazyela!!
Jongya kembali merebahkan tubuhnya. Jantungnya berdebar tak menentu. Rasa rindu dan cinta yang ia kubur dalam-dalam menyeruak begitu saja. Di tambah lagi kenangan nya bersama Nazyela dulu ikut melintas dalam kepalanya.
"Aku rindu tempat ini. Hmm... udaranya begitu segar, tidak ada yang berubah"
"Kau benar"
Nazyela langsung berdiri, terkejut ketika mendengar suara laki-laki yang menyambung ucapannya.
"Ada apa nona?!"
Teriak Sir. Yukil dari kejauhan untuk memastikan keamanan nonanya.
"Tidak ada apa-apa, aku terkejut karena ada tikus yang lewat"
Balas Nazyela ikut teriak.
"Duduklah...apa aku tikus itu?"
Suara ini....Jongya?!!
"Maafkan yang mulia, saya tidak bermaksud me.. ohh..?!!"
Nazyela terkejut saat Jongya tiba-tiba menghampirinya dan langsung menindih tubuhnya.
Jantungnya berdebar dengan cepat, ada percikan-percikan kecil yang rasanya mulai menguasai hatinya.
"Maaf kalau harus seperti ini. Tapi aku ingin melihatmu dari dekat"
Nazyela merasa canggung namun tidak bisa berkata apa-apa. Mata mereka saling bertemu, namun Jongya akhirnya merebahkan diri disamping Nazyela.
"Bagaimana kabarmu? Maaf aku terlambat, aku turut berduka cita atas suami mu"
"Tidak apa-apa yang mulia. Terima kasih dan saat ini aku sudah baik-baik saja"
Nazyela menoleh ke arah Jongya yang sedari tadi memperhatikannya.
"Sukurlah..."
"Yang mulia kenapa kita tidak berbicara sambil duduk saja?"
Nazyela merasa canggung berbaring berdampingan dengan Jongya.
"Aku ingin mengulang seperti dulu, boleh kah?"
Nazyela menatap wajah Jongya yang terlihat serius namun hangat.
Gadis itu lalu tersenyum.
"Sepertinya aku juga bersalah pada anda. Selama ini aku sudah salah sangka terhadap Suly"
Jongya langsung duduk mendengar ucapan Nazyela. Gadis itu juga duduk dan berhadapan dengan Jongya.
"Apa kau cemburu dengan Suly?"
Nazyela merasa malu untuk menjawab pertanyaan Jongya.
"Jadi kau menerimanya karena berpikir aku sudah memiliki Suly?"
Nazyela semakin menundukkan kepala tak mampu menjawab kebenaran yang ada.
"Hehehe..."
Jongya terkekeh.
Nazyela langsung melihat senyum manis Jongya. Selama ini ia belum pernah melihat tawa manis dari pemuda itu.
"Jadi sekarang kau sudah tahu siapa Suly. Jadi apa boleh aku memulai kembali kisah kita?"
Deg... jantung Nazyela berdebar. Serpihan-serpihan hatinya terasa mulai menyatu kembali. Debaran-debaran yang sudah lama tidak ia rasakan kini mulai mengisi jantung dan paru-parunya. Rasa yang dulu sempat ia tahan dan tidak terbalaskan rasanya meledak berebutan untuk keluar dari benteng pertahanan.
Hati lembek.. kenapa mudah sekali untuk jatuh cinta lagi padanya..
Dari balik pohon Wilson menyimak apa yang ia dengar dan lihat.
"Aah.. suatu kebetulan yang langka. Semoga anda beruntung yang mulia"
Gumam Wilson pelan.
Dari kejauhan di dalam kereta, Sir. Yukil dan Nakuna saling berpegangan tangan melihat Jongya dan Nazyela dari kejauhan. Lani ikut menyaksikan pertemuan antara Romadhon dan Juleha tanpa mereka berdua sadari.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.
~Jangan lupa favorit ❤️
~Rate⭐⭐⭐⭐⭐
~Hadiah
~Vote
Terima kasih 🤗
👉Baca juga kisah Dara Dan Damar yang pastinya penuh kejutan👈😉