Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 90



Nazyela mengambil langkah seribu untuk segera sampai menuju kamarnya. Iya terus memegang dadanya sambil menepuk-nepuk kepalanya sendiri.


Aih... dah gila apa aku?! Bodoh banget ngapain aku kek gitu sih tadi.. Aaargh...bikin malu aja


Gadis itu mondar-mandir sambil menggigit ujung kukunya. Ia sangat gelisah dan malu memikirkan perbuatannya tadi kepada Jongya.


Namun tak dapat ia pungkiri, dirinya bahagia setelah melakukan sebuah keberanian.


Flash Back On


"Aku merasa banyak yang menyaksikan kita"


Ujar Nazyela merasa gugup.


Jongya menyipitkan mata mengamati makhluk yang ada dalam kereta.


"Sepertinya begitu"


Nazyela lalu menarik kembali Jongya untuk kembali rebahan di rumput bunga itu.


"Hehehe... kenapa?"


Jongya terkekeh melihat tingkah Nazyela yang tidak biasanya.


"Jangan meledekku"


"Baiklah...aku akan bicara serius. Bagaimana dengan pernyataan ku tadi?"


Nazyela terdiam sesaat, ada sedikit keraguan di hatinya. Namun gadis itu berusaha mengambil keputusan yang tidak ingin ia sesali di kemudian hari.


"Bolehkah aku memastikan sesuatu?"


"Apa itu?"


"Jawab saja dulu yang mulia, boleh apa tidak?"


"Baiklah...lakukan sesukamu. Saat ini aku hanya ingin kau bahagia. Jika kau merasa bahagia dengan menolakku lakukan sa......... ja"


Jongya terhenti saat tiba-tiba Nazyela mengecup bibirnya. Mata mereka saling menatap dengan lekat.


Wajah Nazyela langsung memerah menahan malu.


"Apa maksudmu kau ingin memastikan perasaanmu padaku?"


Nazyela terdiam ia menutup wajahnya karena menahan malu.


Jongya meraih tangannya lalu perlahan melepaskan kedua tangan gadis itu dari wajahnya.


"Lihat aku Naz, jika ku ingin memastikan hatimu tatap aku dan lakukan seperti ini"


Jongya lalu meraih dagu Nazyela dan mencium bibir gadis itu dengan lembut dan penuh perasaan.


Bagai ada kembang api dalam hati Nazyela hingga hasratnya mulai menyeruak memenuhi isi hatinya. Pangutan-pangutan lembut dari bibir Jongya membuat debaran jantungnya siap meledak kapan saja. Dalam hatinya terasa ringan dan sangat senang menerima perlakuan lembut Jongya.


"Aku masih mencintaimu Nazyela... dan selalu mencintaimu..."


Jongya melepaskan ciumannya dan meletakkan keningnya di kening Nazyela.


Napas keduanya saling memburu, tangan hangat saling bergenggaman seakan tidak ingin terpisahkan lagi.


"Apa kau sudah yakin sekarang akan perasaanmu?"


Perlahan Nazyela menganggukan kepala meski masih malu-malu.


"Jadi sekarang apa kita berpacaran?"


Kembali Nazyela menganggukan kepala dengan perlahan menjawab pertanyaan Jongya.


"Kali ini akan ku jaga baik-baik dan tak akan ku lepas lagi"


Jongya langsung meraup kembali bibir tipis yang yang sudah lama ingin ia sentuh. Pangutan lembut Jongya membuat Nazyela berhasrat dan membuka mulutnya, memberi kesempatan lidah Jongya untuk bermain dengan lidahnya. Ciuman itu semakin lekat seakan-akan mereka tidak ingin melepaskan satu sama lain. Jongya menggigit pelan bibir bawah Nazyela lalu kembali ******* bibir itu tanpa memberi kesempatan Nazyela untuk membalas gigitannya. Entah berapa banyak saliva mereka saling bertukar, namun ciuman itu tak kunjung berakhir.


Jongya memeluk erat tubuh Nazyela dari belakang setelah gadis itu meminta untuk berhenti berciuman. Bibirnya bengkak akibat ******* Jongya.


Lelaki itu menciumi tengkuk indah Nazyela. Gadis itu merasakan hembusan hangat napas Jongya hingga membuat tubuhnya menginginkan lebih dari sekedar berciuman.


Nazyela segera bangun dan melepaskan pelukan Jongya pada dirinya.


"Lamar aku setelah masa iddah ku"


"Apa?! Masa iddah?"


"Masa iddah ku 3 bulan lagi. Lalu aku sudah memeluk agama Islam"


"Aku tahu"


Jawab Jongya singkat.


"Kau tahu? Oh... aku lupa kau juga hadir disana pada waktu itu.


Jongya menganggukan kepalanya.


"Karena aku juga sudah memeluk agama Islam"


"Benarkah?"


Nazyela cukup terkejut mendengar penuturan Jongya.


"Setelah aku tahu kau memeluk agama Islam, aku mulai belajar tentang Islam. Dan aku baru memeluk Islam 2 minggu yang lalu"


Nazyela menutup mulutnya tak percaya. Jujur saja ia sangat bahagia mendengar penuturan Jongya.


"Tapi kau juga harus di sunat sebelum kita menikah"


"Aku sudah melakukannya, semiggu yang lalu.. apa kau mau bukti? "


"Astagaa....tidak?! Aku percaya... aku percaya"


Nazyela langsung berdiri.


"Hehehe... duduk lah.. aku hanya bercanda. Tapi aku serius aku sudah melakukannya"


Gadis itu tanpa sadar menitikkan air mata, rasa haru dan rasa bersalah menyelimuti hatinya.


Jongya langsung menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.


"Jangan menangis, semua itu sudah berlalu. Lebih baik kita menatap masa depan untuk meraih kebahagiaan. Aku hanya ingin melihat mu tersenyum. Aku akan merasa sakit bila melihat mu menangis"


Perlahan Nazyela mencoba menenangkan hatinya dan mengikuti apa kata Jongya. Ia pun kembali tersenyum menatap pria yang ia cintai dulu dan sekarang serta esok nanti.


Flash Back Off


Keesokan harinya.


Wajah Nazyela yang berseri-seri mengundang tanda tanya besar pada Adrian dan Naila yang sedang menggendong Giano.


Setiap pagi Nazyela selalu datang ke kamar Giano untuk melihat pertumbuhan keponakannya. Dan pagi itu ia telah rapi dan bersiap untuk pergi bersama asistennya.


"Kau mau kemana?"


"Oh...aku akan ke Brilane kak bersama Nakuna dan Sir.Yukil"


"Nginap?"


"Mungkin besok aku akan kembali"


"Nona mau pacaran tuan"


Celetuk Nakuna bersemangat.


Nazyela langsung melotot memandangi Nakuna, namun gadis itu terlihat santai dan cuek saja.


"Pacaran? Wah... sepertinya kita tidak tahu apa-apa sayang"


"Hmm.. kau benar sayang, sepertinya kita tidak lagi...."


"Tidak kak, bukan seperti itu"


Nazyela langsung memotong ucapan Naila yang terlihat kecewa.


"Lalu seperti apa?"


Tanya Adrian yang mencoba untuk memancing adiknya agar mau berkata jujur.


"Haaah.... awas kau Naku?! Aku sedang mencoba berpacaran dengan pangeran Jongya. Kami baru memulainya kemarin"


"Wow... ini berita hebat. Dan kalian membuat kencan hari ini?"


Dengan malu-malu Nazyela menganggukan kepala menjawab pertanyaan kakaknya.


Mereka semua tertawa bahagia.


"Cinta lama bersemi kembali rupanya"


Ucap Naila sambil tersenyum.


"Aah... sudah lah. Aku pergi dulu.."


Nazyela buru-buru meninggalkan kedua kakaknya untuk menghindari pertanyaan berikutnya dari mereka. Wajahnya merona jika membahas soal Jongya.


"Sayang, dia lucu sekali. Seperti baru jatuh cinta saja"


"Kau benar sayang..."


Adrian lalu mencium lembut bibir Naila seakan-akan berita bahagia Nazyela membawa rasa romantis di sekitar mereka.


*****


Setelah menyiapkan segala sesuatunya mereka pun menaiki kereta dan menuju Brilane.


Di dalam kereta, Nakuna dan Nazyela terus mengobrol tanpa henti.


"Kami melihat nona dari kejauhan dan kami yakin nona bersama yang mulia, ahh...romantis sekali pertemuan kembali nona dan yang mulia di padang bunga"


"Siapa yang mengijinkan kalian melihat ku"


"Kami punya mata nona"


"Tapi nona, apa yang kalian lakukan berbaring di rumput itu?"


"Ehem... Naku"


Sir.Yukil berdehem untuk menghentikan Nakuna menanyakan hal yang terlalu privasi terhadap nona mereka.


"Kami hanya berbicara, dan karena kalian menatap dari jauh aku merasa malu"


"Lalu nona memilih berbaring untuk menghindari kami?"


Nazyela menganggukan kepala.


"Kalian tidak meraba-raba? Aww...!!"


Tanya Sir.Yukil yang langsung mendapat sikutan maut dari Nakuna.


"Apa kalian kalau berduaan suka meraba-raba?!"


Spontan pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Nazyela.


Yang akhirnya Sir. Yukil mendapat wajah cemberut dari Nakuna.


📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.


~Jangan lupa favorit ❤️


~Rate⭐⭐⭐⭐⭐


~Hadiah


~Vote


Terima kasih 🤗