Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 88



Setelah pelayan mengatakan Naila akan melahirkan, Adrian langsung mengutus orang untuk menjemput dokter ke rumah. Dokter pun datang dengan tergesa-gesa.


Sudah 10 jam berlalu, wanita itu masih berjuang mengeluarkan buah hatinya.


Naila yang merintih kesakitan melampiaskan rasa sakitnya kepada Adrian.


Naila menarik rambut Adrian dan menjambaknya dengan kasar. Begitulah pemuda itu menjadi sasaran empuk isterinya.


Namun dengan sabar Adrian tetap menunggu isterinya dengan penuh perhatian. Rasa sakit di kepalanya tak sebanding dengan rasa sakit yang sedang di perjuangkan sang isteri. Adrian tetap memberikan semangat tanpa kenal lelah.


"Terus sayang... ayo dorong yang kuat?!"


"Kyiaaaa..... hah...hah... hah...!"


"Sedikit lagi sayang, rambutnya sudah terlihat, ia akan segera keluar. Ayo.. dorong lagi sayang jambak aku semau mu?!"


"Aaaagh.... hah... hah... kyiaaaaa....!"


Nazyela dan tuan Histon menunggu di luar. Mereka gelisah mendengar suara erangan kesakitan Naila yang terus terdengar hingga ujung lorong. Mereka berdoa menurut kepercayaan masing-masing untuk keselamatan ibu dan anak yang akan segera lahir.


"Oeek... oeek.. oekk.."


Tangisan bayi menggema menggantikan suara erangan sang ibu.


Senyum lebar terukir di semua wajah yang mendengar tangisan itu. Rasa bahagia memenuhi seluruh kediaman Kley.


Kini Kley mempunyai garis keturunan baru, begitu juga Bolafra.


Pelayan dengan sigap membersihkan dan merawat Naila.


Adrian menggelap keringat yang bercucuran di pelipis Naila. Kedua nya tersenyum bahagia manakala dokter mengatakan bayinya adalah seorang anak laki-laki. Bayi mereka lalu di bersihkan dan di potong ari-arinya. Setelah itu barulah dokter memberikan bayi itu kepada ibunya.


Dalam dekapan hangat sang bayi tertidur dalam pelukan ibunya. Naila mencium lembut sang bayi dengan penuh kasih sayang.


"Sayang.. matanya seperti mu"


Ungkap Adrian kepada isterinya.


"Rambut nya dan hidungnya seperti mu sayang"


"Iya dia jadi lebih mirip denganku. Baiklah aku sudah menyiapkan nama untuknya. Giano Caesar Kley"


"Aku setuju sayang"


Naila terlihat mengantuk setelah perjuangan lelahnya menjadi seorang ibu. Wanita itu tertidur lelah setelah Adrian mengambil putra mereka dari dekapan ibunya.


Nazyela dan tuan Histon masuk setelah Adrian membuka pintu sambil tersenyum lebar menampakkan deretan putih giginya yang sedang menggendong Gian. Tuan Histon mencoba menggendong cucunya. Wajahnya yang mulai keriput tidak dapat menutupi rasa bahagianya yang begitu besar. Nazyela langsung mencium ponakannya dan kemudian mendekat ke arah Naila.


"Terima kasih kak, kau memberikan kebahagiaan besar untuk ayah dan kakakku"


Gumam Nazyela pelan, sambil mengelus tangan Naila yang sedang tertidur pulas.


Lalu gadis itu kembali melihat keponakannya.


"Siapa namanya kak?"


"Giano Caesar Kley"


Jawab Adrian dengan rasa bangga.


"Wah...nama yang bagus, Giano suatu hari kau pasti akan menjadi orang besar"


Ungkap Nazyela dengan penuh rasa bahagia.


Tak ingin lepas dari cucunya, tuan Histon bahkan meletakkan sendiri cucunya dalam box bayi yang terletak bersebelahan dengan kamar orang tuanya. Ibu asuh yang telah di siapkan untuk menjaga Giano mulai melakukan pekerjaannya.


Tuan Histon, Nazyela dan Adrian pun meninggalkan kamar Giano.


*****


Hari-hari kini di penuhi gelak tawa bahagia di kediaman Kley. Semua orang berbahagia dengan adanya Giano Caesar Kley.


Tuan Histon memutuskan untuk pensiun dan hanya bekerja dirumah saja. Adrian kini menggantikan sang ayah mengambil tanggung jawab besar untuk kemakmuran Kley dan para pengikutnya. Nazyela dan para asisten kembali ikut aktif berperan membantu sang kakak.


Hari ini Nazyela melakukan peninjauan dari hasil rapat mereka waktu itu tentang tren model baru.


Nazyela yang di ikuti Sir. Yukil, Nakuna, dan Lani mendatangi satu persatu toko mereka di Britaraya.


Banyak mata yang memperhatikan Nazyela dari ujung kepala hingga kaki, dan tak sedikit orang yang berisik setelah melihat penampilannya.


Namun Nazyela dengan santai berlalu tanpa peduli gunjingan orang di belakangnya.



Ada juga beberapa yang terus melihat dan memperhatikan gaya berpakaian Nazyela.


"Apa ini rencana nona untuk memulai trend baru kita?"


Lani mulai berkomentar hasil pengamatannya hari ini.


"Benar, sebelum di pasarkan mulai sekarang kalian bergantilah model pakaian kalian seperti gaya ku. Dan Sir. Yukil ada baiknya pakaian-pakaianmu Waktu disana bisa kau gunakan disini"


"Baik nona"


Nazyela keluar masuk toko pakaian sambil terus di ikuti para asistennya. Ia memerintahkan untuk menjual gaun-gaun lama yang tidak laku ditoko dengan harga yang sangat murah, untuk menggantinya dengan stok model baru kelak.


Para pembeli pun mulai berkerumunan di setiap toko yang langsung meletakkan harga murah di samping tumpukan gaun yang pada dasarnya memiliki bahan yang sangat bagus.


Namun, untuk menciptakan tren baru Nazyela harus mengurangi jumlah model lama dengan tidak memperbanyak kerugian.


Kapan dia kembali? Apa dia akan berbulan madu disini? Atau dia ingin mengenalkan suaminya pada keluarganya disini? Haaah...kenapa aku terlalu pusing memikirkan urusan orang. Sudah lah... lagi pula dia sudah hidup bahagia.


"Yang mulia, di istana ada seorang tamu menanti anda"


Seorang pengawal tergesa-gesa dan tampak ngos-ngosan mencari Jongya.


Pemuda itu lalu melihat ke arah Wilson. Wilson yang di tatap penuh tanda tanya hanya bisa mengangkat bahu menjawab tatapan sang pangeran.


"Ayo kita kembali Wil, kita lihat siapa tamu yang mencari ku hingga mengutus pengawalku kesini"


Jongya dan para pengawalnya kembali ke istana setelah dari pagi berkeliling mengamati perkembangan hidup rakyat nya di Britaraya.


*****


Di Istana.


"Dimana tamuku?"


Tanya Jongya setibanya di depan pintu istana.


Begitu pintu di buka, Jongya mengambil langkah seribu menuju ke ruang tamu.


Dari arah belakang seseorang berlari menuju ke arah Jongya dan siap menerjang. Wilson yang sigap menyadari seseorang yang membahayakankan langsung menarik pedangnya keluar dari sarungnya.


"Sriing...!!"


(Suara pedang yang di tarik paksa dari sarungnya)


"KAU INGIN MEMBUNUHKU?!!"


Suara lengkingan seseorang yang sangat ia kenal membuat Wilson langsung membuang pedangnya. Dan kejadian itu sangat cepat, tahu-tahu sang wanita telah naik ke punggung Jongya.


Para pengawal dan pelayan yang melihat mereka semua berkumpul dengan wajah kebingungan bercampur marah melihat orang asing memperlakukan anak raja dengan seenaknya.


"Suly?! Turun dari punggungku, kau sudah seperti kera?!"


"Aku tidak peduli?! Ini hukuman mu karena meninggalkan nenek begitu saja dan tanpa pamit dengan ku?!!"


Suly terus mendekap erat leher Jongya untuk bertahan agar tidak jatuh dari punggung pemuda itu.


"Uhuuk... Uhuuk, kau mau membunuhku?!"


"Minta maaf dulu padaku?!"


Mendengar keributan dalam istana, raja segera mendatangi mereka dan ingin melihat apa yang sedang terjadi disana.


Raja tertegun melihat seorang wanita yang bergelantungan di punggung Jongya bagai anak kera.


"Wil, turunkan dia dari tubuhku?!"


"Kau mau mati?!!"


Ancaman Suly pada Wilson dengan melototkan matanya. Seketika Wilson menciut di hadapan pujaan hatinya yang sedang ia rindukan.


"Baiklah.. baiklah... aku minta maaf, Suly turunlah.. kau itu berat. Uhuuk... uhuuk...?!"


Suly lalu melepaskan tangannya dan turun dari tubuh Jongya.


Raja terkekeh melihat pemandangan tak biasa itu.


Mendengar tawa sang raja semua pangawal dan pelayan menunduk hormat. Tak terkecuali Wilson dan juga Jongya. Suly yang melihat semua menunduk ikut menunduk dan memberi hormat pada sang raja.


"Suly memberi hormat pada paman, raja dari kekaisaran ini. Semoga paman diberi kesehatan, umur yang panjang serta dilimpahkan kejayaanan tiada tara dan memimpin rakyat dengan adil dan bijaksana serta memakmurkan seluruh rakyat di negara ini. Lalu..."


Suly menghentikan kata-katanya setelah mendapat senggolan lengan dari Jongya.


Tidak ada orang yang menyapa dengan ucapan panjang tanpa jeda seperti Suly. Raja terkekeh senang, sepertinya pria paruh baya itu menyukai Suly yang berani.


"Jadi dia sepupu mu yang kau ceritakan?"


"Benar yang mulia, hukum saja dia bila sudah membuat kekacauan di istana ini"


"What?!"


Suly langsung bertolak pinggang menatap Jongya.


Raja terkekeh, melihat keakraban anaknya dan keponakannya.


"Selamat datang Suly...dan anggap saja ini rumahmu. Jongya akan memandumu selama disini. Layani Suly karena dia anggota keluarga kekaisaran. Selamat bersenang-senang..."


Setelah mengucapkan pesannya raja lalu meninggalkan keramaian itu dan kembali ke ruang singgasananya.


"Wah.. selain tampan, paman juga sangat baik hati dan bijaksana.."


Wilson menyeka wajah nya dengan telapak tangannya. Dan Jongya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Suly.


📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.


~Jangan lupa favorit ❤️


~Rate⭐⭐⭐⭐⭐


~Hadiah


~Vote


Terima kasih 🤗