Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 47



Pagi itu, Naila telah bersiap menuju kota pelabuhan untuk bertemu dengan Adrian. Atas infomasi dari Rosi gadis itu bisa bertemu Adrian kembali. Bersama dengan Nena dan 4 orang pengawalnya gadis itu menaiki kereta dan berangkat menuju kota pelabuhan.


Perjalanan yang memakan waktu 1 jam cukup membuat lelah gadis itu. Setiba disana dia langsung memesan kamar dan segera beristirahat di tempat favoritnya.


"Sebentar lagi senja, aku ingin melihat sunset sebelum kembali ke kamar ku"


Naila berkata sambil menatap ke arah laut jingga.


"Baik nona"


Naila duduk sendiri menatap laut biru yang berubah berwarna jingga karena pantulan dari matahari yang mulai terbenam. Tersenyum sendiri manakala gadis itu mengingat pertemuan pertamanya dengan Adrian.


"Tak berubah dan tak akan pernah bosan saat melihat sunset, sama seperti aku saat melihat mu lady"


Suara yang tidak asing lagi didengar oleh Naila membuat hatinya berdebar-debar. Ia segera menoleh ke arah pemilik suara.


"Kapan anda kembali?"


Wajah Naila terlihat sengat gembira menyambut kedatangan Adrian.


"Baru beberapa hari yang lalu. Dan sepertinya aku sangat merindukan seseorang"


Adrian meraih tangan Naila lalu menciumnya.


Debaran jantungnya kian menjadi. Rona merah terlihat jelas diwajah cantiknya.


"Maukah lady makan malam dengan ku?"


Adrian yang tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bersama Naila mengajak gadis itu untuk menikmati makan malam bersama.


Naila tersenyum senang mendengar permintaan Adrian.


"Tentu.."


Jawabnya singkat.


Mereka menikmati malam yang penuh kebahagian.


Menikmati wine terbaik yang ada di resort itu. Tawa bahagia menghiasi wajah mereka di setiap kata yang di ucapkan.


Naila meneguk minumannya hingga habis tak bersisa. Wajahnya kian memerah. Adrian pun ikut meneguk minumannya hingga habis. Setelah itu mereka saling berpamitan. Naila bangun dari tempat duduknya, namun tubuhnya oleng karena banyak nya wine ia teguk. Alkohol yang terkandung dalam wine itu membuat Naila dan Adrian sedikit mabuk. Tidak hanya Naila, wajah Adrian pun memerah karenanya.


"Lady biar saya antar anda kekamar"


"Terima kasih, Nena dan kalian boleh beristirahat"


Naila memberi perintah kepada pelayan dan pengawalnya untuk beristirahat.


"Baik nona"


Adrian lalu membantu memegang tangan Naila untuk membantu gadis itu berjalan.


"Oh.. aku punya hadiah untuk lady, sebentar!"


Adrian baru teringat ia membelikan hadiah untuk Naila dan tertinggal dikamarnya. Pemuda itu bergegas kembali ke kamarnya dan mencari hadiah yang dimaksud.


Sambil menunggu Adrian kembali, Naila berjalan menuju ke arah kamar Adrian dengan sempoyongan. Saat berada di ambang pintu kamar Adrian, tiba-tiba kakinya tersandung kakinya sendiri dan nyaris jatuh jika tidak segera di tangkap Adrian.


Wajah mereka nyaris saja bertemu. Aroma napas mereka saling menerpa wajah lawannya. Debaran jantung mereka berdegub dengan kencang, hasrat kian melanda dua orang yang sedang jatuh cinta. Bibir tipis berwarna yang cerry itu semakin menggoda Adrian untuk mengecupnya. Perlahan wajahnya mendekati wajah Naila hingga akhirnya mereka pun berciuman.


Puncak dari kerinduan menciptakan gairah yang menggebu yang tak dapat ditahan lagi. Adrian segera menutup pintu dengan kakinya. Pangutan demi pangutan membuat saraf seluruh tubuh menegang. Lidah mereka bertemu dan membuat saliva mereka saling bertukar.


Merasa tidak ada penolakan dari Naila kini lelaki itu mulai melancarkan aksinya dengan gesit. Rona merah di wajah Naila menandakan gadis itu dipenuhi gairah hasrat dan nafs*u yang mulai menguasai dirinya.


Seolah-olah dia sendiri pun menginginkan untuk dijamah.


Naila bagai bayi polos yang sangat menggemaskan untuk dimanja. Adrian lalu melepas semua pakaiannya.


Sesuatu yang sadari tadi menegang tak mampu ia tahan lagi. Ciumannya semakin ganas, meninggalkan kissmark di beberapa tempat favoritnya.


Des*ah*an Naila kian menjadi, membuat nafs*u Adrian yang semakin memuncak.


Tangan pemuda itu mulai begerilya menyusuri tempat - tempat yang sensitif bagi wanita. Naila mendesah kuat, tubuhnya menggeliat akibat dari sentuhan-sentuhan Adrian


"Adriaaann......."


Melihat reaksi Naila yang kian menggoda, membuat Adrian siap menerobos masuk pertahan terakhir Naila.


"Naila maafkan aku, tapi aku berjanji akan menikahi mu. Aku sudah tidak mampu menahannya lagi. Bolehkah?"


Senyum yang terukir di wajah Naila menandakan gadis itu telah siap menerima Adrian sepenuhnya.


Adrian mulai menciumi tubuh Naila dari atas hingga kebawah. Menciptakan sensasi-sensasi kenikmatan. Naila terus melenguh hingga menjambak rambut Adrian saat pemuda itu menemukan apa yang ia cari.


Dan mereka pun melakukannya.


Keringat membasahi sekujur tubuh yang lemas tanpa sehelai benang pun . Dengan napas yang tersengal-sengal Adrian mencium pucuk kepala Naila, merangkuh gadis itu kedalam pelukannya dan tertidur dengan lelapnya.


*****


Keesokan harinya.


Nena mencoba mengetuk pintu kamar nona nya. Tidak ada jawaban disana. Beberapa kali ia coba mengetuk dan tetap tidak ada jawaban dari nona nya. Nena sedikit khawatir lalu membuka pintu kamar yang tidak di kunci itu. Ia terkejut saat melihat ranjang itu rapi tak tersentuh. Gadis itu mulai mengkhawatirkan nona nya.


Nena lalu mencari asisten Adrian dan menanyakan keberadaan tuannya. Pasalnya nona nya terakhir kali bersama Adrian kala itu.


"Saya mencari nona saya tuan?"


Nena langsung berkata pada Sir. Yukil ketika mereka bertemu di depan sebuah kamar.


"Kembalilah.. nona mu baik-baik saja bersama tuan Adrian. Mereka... ehem..?!"


Sir. Yudan tidak melanjutkan kata-kata.


Telinga dan wajahnya yang memerah memberi jawaban kepada Nena bahwa tadi malam terjadi pergulatan panas di kamar yang sedang di jaga oleh Sir. Yudan.


Flash Back On


Sir. Yudan mendatangi kamar Adrian untuk menyerahkan hadiah yang pemuda itu titipkan padanya. Karena dia melihat tuannya yang sedang tergesa-gesa seakan mencari sesuatu sambil di tunggu oleh Naila. Dan sudah pasti hadiah yang ada padanya lah yang di cari tuannya. Saat mendekati pintu sekilas pemuda itu melihat tuannya yang sedang berciuman dengan Naila. Adrian yang hanya menutup pintu dengan kakinya membuat Sir Yudan harus berjaga di depan pintu mengingat pintu itu tidaklah dikunci.


Suara des*ah*an-des*ah*an Naila yang terdengar seksi membuat jantung pemuda itu berdebar mendengarnya. Wajahnya merona, telinga nya memerah bahkan yang di bawah sana ikut menegang.


Aih.. kenapa kau harus menegang juga, aku harus menabrak lubang mana jika kau tak mau tidur begini.


Ah.. tuan, anda memberi saya tugas yang sangat berat.


Sir. Yudan mencoba menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Matanya terpejam, sambil berpikir berapa banyak uangnya jika dijadikan koin.


Flash Back Off


📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Terima kasih 🤗