
Keesokan harinya, Nazyela ditemani Nakuna pergi mencari gaun untuk pernikahannya nanti. Ji Chang tidak menemaninya karena harus kedokter.
Gaun-gaun indah membuat Nazyela cukup sulit untuk memilih. Namun akhirnya ada satu gaun sederhana yang sangat memikat hatinya. Nazyela tidak menunda lagi, gadis itu langsung membayar gaun pilihannya. Bersama Nakuna kemudian ia melepaskan lelah sesaat di sebuah kafe.
"Gaun nona sangat indah"
"Hehehe.. aku sangat menyukainya"
"Nona pasti akan terlihat cantik saat memakai gaun itu"
Nazyela tersenyum bahagia sambil membayangkan dirinya saat di pernikahan nanti.
"Wah.. lihat ini?! Masih bisa tersenyum walau pacarnya mencampakkan dirinya. Hihihi... kasihan sekali.. ckckck?!"
Senyum Nazyela langsung memudar saat melihat Yoona yang berjalan hendak melewatinya.
Kenapa harus ketemu wanita ini disini sih?!
Nazyela kesal dalam hatinya. Moodnya langsung berubah melihat wajah Yoona yang tersenyum sinis.
"Sepertinya seseorang akan butuh tisu, karena mendengar pria yang di cintainya akan menikah dengan wanita pilihannya. Hihihi.. padahal sudah aku peringatkan untuk menjauh"
Yoona terkekeh menertawakan Nazyela yang masuk dalam perangkapnya waktu itu. Orang suruhannya berhasil mengelabui Nazyela hingga gadis itu datang ke restoran XXX yang sudah di atur Yoona.
Nazyela merasa kesal. Ia baru sadar masuk ke jebakan Yoona.
Baiklah... kita lihat apa kau bisa tersenyum lagi
"Oh... ada wanita yang bertepuk sebelah tangan rupanya?!"
Raut wajah Yoona langsung berubah.
"Kasih sekali... aku kira semua itu nyata, ternyata dia cuma berangan-angan"
Yoona mengepalkan tangannya geram mendengar ucapan Nazyela.
"Dan sepertinya orang itu lebih butuh banyak tisu dari aku, lagi pula aku tidak butuh tisu... mungkin aku lebih butuh bunga yang banyak untuk menghiasi tempat acara pernikahan ku nanti"
Wajah Yoona langsung merah padam mendengar ucapan Nazyela. Apalagi ia melihat kantung yang berisi gaun pengantin di dekat tempat duduk Nazyela.
Gadis itu lalu mengambil gelas minuman Nazyela dan melempar isinya ke wajah gadis itu.
Nazyela terkejut namun kali ini ia tidak tinggal diam. Dia pun berdiri dan menghempaskan kakinya meninjak kaki Yoona.
"YA?!!!"
Yoona berteriak tidak terima perlakuan Nazyela sambil meringis kesakitan.
Kegaduhan mulai terdengar hingga mata pengunjung tertuju pada mereka.
Nazyela langsung mendekat Yoona dan menjambak rambut wanita itu hingga kepala nya tertarik kebelakang dan meringis kesakitan. Gadis itu berusaha menggapai Nazyela dan berhasil menarik baju Nazyela hingga robek bagian bahu.
Nakuna yang melihat pertengkaran itu tentu saja berusaha melerai mereka, namun naas ia kena pukulan Yoona yang tadinya di arahkan untuk Nazyela. Walhasil Nakuna terduduk lemas.
Tiba-tiba tiga orang berpakaian hitam menodongkan senjata ke arah Nazyela dan Nakuna. Dan seorang lagi mencoba membantu Yoona berdiri dengan tegak.
Namun berapa detik kemudian segerombolan orang juga menodongkan senjata ke arah pengawal Yoona dan dirinya.
"Yojin?"
Serempak Nazyela dan Nakuna mengenali salah satu dari mereka.
Para pengunjung lain segera keluar mengamankan diri masing-masing. Pemilik kafe beserta pelayan sudah pucat dan terlihat sedih kafe akan hancur oleh perkelahian para gengster.
"Hentikan nona, atau anda sendiri akan merasakan kemarahan Hyung ku?!"
"Huh?!!"
Yoona mendengus kesal lalu pergi begitu saja dengan para pengawalnya.
"Maaf aku datang terlambat nona?"
"Tidak Yojin, belum.. hanya nyaris saja.."
Nazyela masih menyempatkan tersenyum walau tangannya sudah gemetar setelah adegan reality Show nya terhadap Yoona.
Yojin tersenyum sambil mengucap tengkuknya walau tak lelah.
"Apa tuan menugaskan mu?"
Nazyela langsung peka dengan kehadiran Yojin.
"Benar nona, bos takut nona kenapa-napa"
"Saya akan mengantarkan nona pulang dengan selamat"
"Baiklah Yojin, mohon bantuanmu"
Sambil mengawal Nazyela, Yojin mendekati pemilik kafe itu. Pemilik kafe bernapas lega karena Yojin mengganti rugi atas keributan itu. Mereka pun menaiki mobil Yojin dan segera menuju pulang.
*****
Seminggu setelah pekerjaannya di luar negeri selesai, Suly langsung mendatangi rumah neneknya karena mendapat kabar kalau kedua pemuda itu sudah semggu pula tidak datang ke kantor. Mereka bagai hilang di telan bumi, tanpa kabar berita apa-apa.
Suly dengan wajah kesal bersiap memarahi keduanya. Wanita itu menghampiri sang nenek yang sedang duduk bersantai sambil menikmati bunga yang sedang bermekaran.
"Selamat siang nek? Apa nenek sehat?"
"Oh.. Suly? Kau sudah kembali, ya.. aku sehat. Duduk lah.."
Nenek menyuruh Suly duduk setelah mereka melepaskan pelukan rindu.
Suly melihat kesana dan kemari seperti mencari sesuatu dengan wajah kesal nya.
"Apa kau mencari Jongya dan pengawalnya?"
"Iya nek, dimana mereka?"
"Mereka sudah kembali ke negara nya 2 hari yang lalu"
"Apa?!! Tapi kenapa? Maksudku kenapa tiba-tiba?"
"Jongya sudah menyerah. Wanita yang dikejarnya sudah akan menikah dalam waktu dekat ini"
"Apa? Jadi mereka benar-benar sudah kembali nek?"
"Iya..."
Suly menggigit bibir bawahnya. Banyak pertanyaan yang berada dalam kepalanya. Raut yang tadinya kesal dan marah berubah menjadi kesal dan sedih. Ketara sekali ekspresi di wajahnya sampai-sampai nenek menggelengkan kepala.
"Susul saja mereka"
"Nenek..."
Suly menghela napas lalu beranjak dari duduknya. Ia melangkah kaki menuju kamar Wilson. Perlahan dibukanya pintu kamar itu, lalu mendekat ke tempat tidur dan duduk disana sambil termenung.
Kau?! Dasar lelaki tak bertanggung jawab! Setelah membuatku berdebar tapi kau malah meninggalkan ku. Sialan..
Suly melihat sekeliling, tanpa sengaja ia melihat sebuah kertas di atas nakas yang di timpa oleh vas bunga. Ia segera mengambil dan membaca tulisan yang ada di kertas itu.
Hai gadis galak, setelah membaca ini mungkin aku sudah kembali ke negara ku. Tadinya aku ingin menciummu sekali lagi tanda pamit ku. Tapi kau tidak datang-datang. Aku jadi menulis pesan ini untuk kau kejar ke negara ku, hehehe...
Jika kau sampai di negara Theora langsung lah menuju istana kekaisaran karena aku pasti ada disana.
Suly meremas kertas itu, meski rada kesal namun hatinya berbunga-bunga walau hanya ditinggalkan pesan seperti itu.
Sepertinya aku harus menemui wanita yang di kejar Jongya. Aku harus tahu apa yang terjadi.
"Nek, aku pergi dulu..."
"Kenapa begitu cepat, bukankah kau baru saja tiba?"
"Aku ada sedikit urusan nek"
"Pulang lah kemari, dan tinggal seperti dulu. Rumah ini kembali sepi setelah kepergian mereka berdua. Padahal mereka disini sudah 8 bulan tapi rasanya baru kemarin"
Nenek terlihat bersedih. Anak-anak dan cucunya yang lain jarang sekali mengunjungi nenek. Hanya Suly yang selalu berada di dekat sang nenek.
"Iya nek, setelah bekerja nanti aku akan kembali kesini"
Suly memeluk sang nenek, kemudian pamit pergi seraya melambaikan tangannya. Wanita itu segera melaju dengan mobilnya.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.
~Jangan lupa favorit ❤️
~Rate⭐⭐⭐⭐⭐
~Hadiah
~Vote
Terima kasih 🤗
👉Jika kalian menyukai komedi baca juga karya Author berjudul Bukan Soulmate. Semoga kalian suka😉