
Air mata jatuh tak tertahan ketika raga telah jauh dari pelupuk mata. Nazyela di kawal oleh Sir. Yukil dan Lani serta pengawal lainnya menaiki kereta dan pergi meninggalkan istana.
Di dalam kereta, Nazyela tampak murung dengan wajah sedihnya. Sesekali air matanya mengalir begitu saja tanpa suara. Sir. Yukil merasa iba melihat kisah cinta yang rumit yang di alami nona nya. Namun pemuda itu tidak dapat berkata apa-apa untuk menghibur Nazyela.
"Lani kembali lah ke toko, periksa lagi semua gaun yang telah dia rusak kan"
Nazyela memecah kesunyian ketika perasaannya sudah mulai mereda.
"Nona tahu itu?"
"Aku lebih percaya perkataan orang terdekatku yang selalu setia kepada ku dari pada orang yang baru saja aku kenal"
"Terima kasih nona.., saya sangat tersentuh. Sungguh saya selalu mengikuti perintah nona untuk selalu mengecek gaun-gaun itu setiap seminggu sekali. Jadi tidak mungkin saya memajang gaun cacat apa lagi menjualnya"
Lani menjelaskan dengan sungguh-sungguh.
"Aku tahu itu. Sudah lah...tidak apa-apa Lani, aku percaya padamu. Dia hanya ingin mencari perkara dengan ku"
Nazyela terlihat tenang mengatakan hal itu.
Lani menghela napas dan melihat iba kepada nonanya.
Sesama wanita ia paham sekali perasaan di alami nona nya.
Wanita mana yang tidak sedih bila di perlakukan bagai penggangu sedang ia tak melakukan hal itu. Terlebih cinta yang pernah ia berikan tak berbalas dan saat ia telah merelakan malah harus mengalami hal semacam itu. Entah sakit seperti apa yang dirasakan Nazyela namun gadis itu berusaha untuk tetap tegar.
Saat di depan toko Lani turun dari kereta. Kemudian Nazyela dan Sir. Yukil melanjutkan perjalanan mereka.
"Kita kemana nona?"
"Aku ingin ke resort di kota pelabuhan. Katakan juga kepada Nakuna untuk menyusul kita kesana"
"Apa nona sudah tidak apa-apa?"
"Kau tahu pasti Sir. bagaimana perasaanku. Apa yang harus aku lakukan jika kau berada diposisiku?"
"Entahlah nona.. jika boleh saya berkata dari awal hubungan nona dengan yang mulia pangeran sudah rumit. Tuan Histon dan yang mulia ratu akan sulit di satukan. Apalagi sekarang pangeran sudah menikah, tentunya nona semakin sulit untuk bersama"
"Apa yang kau katakan benar. Aku sudah rela sebelumnya. Sekarang pun aku berusaha untuk menjauh melupakan apa yang pantas untuk lupakan. Tapi semua itu sangat berat Sir.."
"Saya mengerti nona. Saya akan selalu mendukung apapun keputusan nona. Berusahalah.. saya mendoakan yang terbaik untuk nona"
Nazyela hanya tersenyum mendengar perkataan Sir. Yukil.
"Baiklah.. sebaiknya nona menenangkan diri dan disana adalah tempat yang cocok"
Ujar Sir. Yukil.
Sir. Yukil mengarahkan kusir untuk membawa mereka ke kota pelabuhan. Lalu memerintahkan 2 pengawal kembali ke kastil Kley untuk mengabarkan bahwa nona ingin ke kota pelabuhan dan meminta Nakuna menemui mereka disana.
Sir. Yukil menghela napas. Ia merasa bersalah karena tidak dapat berbuat buat apa-apa, sedangkan nona nya dalam keadaan seperti ini pun masih memperhatikan dirinya dan Nakuna.
Tujuan Nazyela meminta Nakuna menyusul kesana karena untuk kenyamanan hubungan Sir. Yukil dan Nakuna. Nazyela tahu kalau beberapa waktu yang lalu mereka jarang bertemu karena Sir. Yukil yang sering tugas di luar kastil. Nazyela tidak ingin mereka mengalami perjalan cinta yang sulit seperti dirinya. Ia Ingin mereka berdua bahagia sepanjang hidup mereka. Selain itu mereka adalah orang terdekat Nazyela yang bisa di ajak bicara soal isi hatinya.
*****
Di istana.
Dalam sebuah kamar perdebatan sedang berlangsung antara Camila dan Jongya.
Amarah Camila tak tertahankan lagi ketika pelayannya mengabarkan kalau orang-orang yang mereka tangkap telah di lepaskan oleh suaminya sendiri yaitu Jongya.
Pertengkaran pun tidak dapat dihindari lagi. Jongya sangat terkejut mendengar apa yang baru saja Camila katakan.
"Rupanya kau telah menyelidiki aku secara diam-diam"
Jongya menatap tajam Camila.
"saya tak mengerti apa salah saya? Anda seperti memandang saya orang asing dan bagai duri yang harus di jauhi. Apa artinya pernikahan kita?"
"Pernikahan kita hanya lah pernikahan politik tidak didasari oleh perasaan"
"Hah.. tapi yang mulia, jangan lupa bahwa anda telah mengambil virgin saya. Dan juga ini memang pernikahan politik jadi mungkin anda perlu mawas diri untuk menjaga keseimbangan hubungan politik itu"
Hati Camila sakit mendengar perkataan Jongya.
Benar ini hanya pernikahan politik namun terlepas dari itu mereka sekarang adalah suami istri yang memiliki ikatan sakral. Wanita itu hanya seseorang yang meminta haknya sebagai istri. Namun Jongya enggan memberikan hak itu karena baginya ini hanya pernikahan sementara.
Memang terkesan egois karena Jongya terlihat tidak bertanggung jawab sebagai seorang suami. Entah kenapa hatinya begitu berat dan tersiksa jika harus melakukan apa yang di inginkan oleh sang ibu.
Jongya hanya menghela napas. Perdebatan seperti ini akan terus berlangsung tanpa henti pikirnya. Apa yang dikatakan Camila memang benar adanya. Namun Jongya masih tetap pada pendiriannya. Lelaki itu pun pergi meninggalkan Camila tanpa berkata apa-apa.
Menangis Camila meratapi nasibnya yang tak pernah ia sangka akan jadi seperti ini.
Gadis itu mengurung diri setelah ditinggalkan Jongya.
Di lorong istana, Jongya berpapasan dengan sang ratu ibunya.
"Yang mulia..."
Jongya menunduk hormat.
" Bersikap lah layaknya suami yang baik bagi Camila. Jadilah anak yang bisa aku andalkan. Kau paham bukan?!"
Berkata tanpa menoleh sedikitpun ke arah Jongya.
Jongya hanya bisa diam menahan sesak yang menghimpit di dada. Jika itu orang lain, mungkin Jongya telah membunuh orang itu.
Pernah terlintas di pikiran Jongya jika dia bukan anak dari raja maupun ratu. Tapi hal itu di tepis oleh sang raja.
Setelah berkata ratu pun berlalu meninggalkan Jongya.
Aku bisa gila.. apa yang harus aku lakukan? Aku tak punya kekuatan dan pilihan. Aku sungguh tak berguna.
Amarah yang tertahan begitu menyiksa perasaan Jongya. Lelaki itu pun pergi menuju camp latihan mengambil pedangnya dan berlatih seperti orang kesurupan tanpa mengenal lelah. Para kesatria yang ada disana hanya bisa menyaksikan dalam diam. Tak ada satupun yang berani bersuara. Hingga Sir. Adson datang dan melihat Jongya yang kelelahan serta wajah yang penuh kesedihan terus menebas patung kayu yang sudah tak berbentuk lagi.
"Yang mulia...beristirahat lah. Latihan anda sudah lebih dari cukup untuk hari ini"
"Tidak. Rasanya aku ingin membunuh..."
Sir. Adson merasa kasihan dengan pangeran Jongya.
Tanpa rasa takut Sir. Adson berdiri tepat didepan kayu yang nyaris saja di tebas oleh Jongya. Pemuda itu akhirnya menghentikan latihannya. Pedang pun ia lemparkan begitu saja.
Jongya menatap Sir. Adson dengan tatapan sendu. Terlihat jelas wajah yang lelah itu tampak menahan segala emosi dan kesedihannya. Sir. Adson hanya bisa menatap sedih melihat pangeran Jongya.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Terima kasih 🤗