Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 41



Adrian menuju kota pelabuhan hendak berangkat ke Jerman mencari orang yang Nazyela minta.


Tiba disana pemuda itu bertemu dengan Nazyela yang telah lebih dulu ada disana. Lelaki itu ingin memastikan keadaan adiknya baik-baik saja.


Setelah mendapat pesan dari pengawal utusan Nazyela, pemuda itu segera mempercepat rencana mereka untuk mencari J. Robert.


Sesampainya di Resort di kota pelabuhan, Adrian langsung menemui Nazyela dikamarnya.


" Kau tak apa-apa?"


Adrian mengelus kepala Nazyela dengan penuh kekhawatiran.


Nazyela membalas perlakuan kakaknya dengan tersenyum.


"Aku baik-baik saja. Sepertinya aku selalu membuat khawatir kakak saja".


"Sukurlah kalau kau tak apa-apa. Aku sangat khawatir, tapi aku tak akan tinggal diam saja jika kau tetap ditahan disana. Jika perlu aku akan menyerang kekaisaran"


"Kak, hati-hati dengan perkataan kakak. Kakak bisa dituduh memberontak terhadap negara. Kita memang memiliki kekuatan, namun bila seluruh rakyat Theora bergabung melawan kita, kita juga bisa kalah. Tenang lah kak... setelah kakak kembali baru kita menyusun rencana berikutnya"


Ungkap Nazyela menenangkan Adrian yang terlihat sangat marah.


"Aku telah mengirimkan pengawalan tambahan disini. Kau beristirahat dan segera lah kembali karena tempat teraman adalah rumah kira sendiri"


Saran Adrian.


"Baik kak"


"Aku mau lihat-lihat dulu perkembangan resort ini"


Adrian pamit undur diri dan beranjak pergi setelah mendapat anggukkan kepala dari Nazyela.


Adrian menuju kafe yang terletak disudut resort mengamati pengunjung yang datang ke tempat itu. Semenjak kejadian runtuhnya Shaden, resort keluarga Kley jadi semakin maju.


Adrian terlihat sangat puas. Hasil kerja keras adiknya dengan dirinya membuahkan hasil yang patut dibanggakan.


Tersenyum lelaki itu melihat pengunjung yang terlihat menyukai pelayanan dari resort nya. Hingga tanpa sengaja ia bertemu pandang dengan gadis yang sama di tempat yang sama dulu. Jantung nya bedegub mana kala mata mereka saling beradu.


Sekilas Adrian melihat rona di wajah gadis yang ia temui itu. Pemuda itu lalu mendekati sang gadis dan menyapa.


"Apa kabar lady... sungguh sebuah takdir yang baik kita bertemu lagi disini"


Adrian menyapa dan mengambil tangan gadis itu lalu menciumnya.


Wajah gadis itu kian merona.


"Aku hanya sedang melintas di kota ini"


"Kalau begitu maukah lady minum teh bersama ku?"


Terlihat ragu gadis itu mengiyakan permintaan Adrian namun akhirnya ia nurut juga.


Mereka berbincang-bincang tanpa ada rasa canggung di keduanya. Adrian yang selalu dapat mengisi suasana terlihat tertawa lepas disambut tawa kecil yang membuat hati terbuai melihatnya.


Entah bagaimana mereka mulai terlihat saling tertarik satu sama lain. Adrian yang merasa ada peluang untuk mengambil hati gadis itu terus mencoba memenangkan hatinya.


Dulu lelaki itu sempat ragu untuk mendekati gadis itu. Namun sepertinya ia tak mampu menepis hasrat dirinya untuk memiliki gadis yang telah mencuri hatinya.


"Saya beruntung bertemu lady yang cantik dan menyenangkan seperti anda. Jika boleh meminta lebih saya ingin lebih dekat mengenal lady"


Adrian terlihat bersungguh-sungguh mengatakan isi hatinya. Walau sebenarnya ia tahu bahwa gadis ini telah menjadi calon milik orang lain. Namun baginya sebelum pernikahan di gelar tidak ada salahnya mencoba membalikkan arah kapal berlayar.


Dari kejauhan dua orang sedang memperhatikan dengan seksama kedua muda mudi yang sedang dilanda panah asmara.


"Nona...?!"


Sir. Yukil tak meneruskan kata-kata saat melihat nonanya. Lelaki itu tak ingin mengatakan hal yang salah karena telah melihat sesuatu yang di luar dugaan.


Nazyela melihat ke arah Sir. Yukil dan tersenyum lalu kembali menatap dua orang yang sedari tadi mereka amati.


"Aku tak apa-apa Sir...lagi pula itu sudah berlalu. Dan sampai saat ini aku masih hidup dan baik-baik saja. Sekarang yang terpenting aku tak ingin melihat wajah yang tersenyum itu harus muram karena ku"


Jelas Nazyela dan memperlihatkan kesungguhannya.


Bukankan dia ingin membunuh ku karena Argen?


*****


Di Istana.


"Yang mulia.. ada yang ingin saya katakan. Sebelumnya saya minta maaf bila harus mengecewakan yang mulia"


Pangeran ke 1 Argen sedang menghadap sang raja ayahnya di ruang kerja sang raja.


"Bangunlah.. anakku dan panggil aku ayah saat kita hanya berdua. Kenapa kau sampai harus berlutut begitu. Apa kau melakukan kesalahan yang besar?"


Argen berdiri tegap dan tampak berpikir sebelum ia mengatakan apa yang ada di pikirannya.


"Saat ayah mengutus saya untuk menaklukkan negara barat, negara itu memang benar saya taklukkan. Tetapi bukan melalui peperangan melainkan saya telah jatuh cinta kepada ratu dari negara itu"


Argen tampak tenang mengatakan apa yang terjadi.


"Hmm... bagaimana bisa kau mencintai wanita milik orang lain?!"


"Bukan seperti yang ayah bayangkan. Dia belum menikah.. ayahnya baru saja meninggal dunia dan hanya memiliki keturunan dirinya seorang. Dia juga telah kehilangan ibunya sewaktu kecil. Rasanya saya kurang pantas menyerang negara yang hanya diperintahkan oleh wanita yang tidak punya ambisi"


"Karena itu kau malah berusaha melindunginya namun kemudian kau jatuh cinta padanya. Apa seperti itu?"


Raja mencoba memahami pemikiran anaknya.


"Benar sekali ayah, maafkan saya?"


"Buahahahaha...., jika aku jadi dirimu mungkin aku juga melakukan hal yang sama. Untuk apa berperang mempertaruhkan banyak nyawa jika ada cara yang lebih baik untuk menaklukannya"


Argen merasa tenang melihat ayahnya tertawa. Terlebih sang raja sepemikiran dengannya.


"Jadi, ayah setuju jika saya menikah dengannya?"


"Hmm... bukankah itu juga sangat menguntungkan kita?"


"Tapi bagaimana dengan regina?"


"Anak bangsawan Kley sudah lama mengundurkan diri. Gadis itu menaruh hati pada Jongya namun ratu menentang mereka dan menikahkan adikmu dengan pernikahan politik"


Jelas sang raja.


Argen hanya diam menyimak perkataan sang ayah.


"Lalu bangsawan Shaden anaknya entah kemana. Aku juga tidak mungkin mau menerima gadis itu"


"Berarti sekarang hanya tersisa Naila Bolafra"


Argen terlihat berpikir dengan kerutan di dahinya.


Raja yang melihat sikap anaknya itu mencoba untuk membantunya.


"Mengenai itu aku akan berbicara dengan duke Bolafra"


Mereka pun mengakhiri pembicara tentang regina dan beralih ke politik. Raja mengajak Argen sebagai calon penerus tahta bertukar pendapat mengenai rumor yang sedang banyak diperbincangkan di kalangan bangsawan yaitu tentang kekuatan bangsawan Kley.


Argen juga mendengar tentang rumor itu. Ia tak menyangka Kley kini sekuat itu mengalahkan kekuatan Bolafra secara kasat mata.


Raja juga menceritakan tentang informasi yang diberikan Jongya mengenai sang ratu yang merupakan penyebab jatuhnya ratu sebelumnya. Argen yang telah mengetahui hal itu, tampak tenang mengikapinya. Ia tahu bahwa Jongya memang tidak sejalan dengan sang ratu. Namun karena Jongya adalah anak dari wanita yang membunuh ibunya ia tak dapat menahan rasa bencinya juga kepada Jongya.


Setelah kematian sang ibu, Argen sangat membenci ratu Ranom. Kelahiran adiknya Jongya semakin menambah rasa benci yang ada.


Jongya yang saat itu masih kecil mencoba untuk dekat dengan Argen. Namun Argen menolak dan menjauh. Hingga mereka dewasa pun Jongya sama sekali tak pernah menunjukan sikap benci terhadap Argen. Apa lagi setelah tahu penyebab kematian ratu sebelumnya karena ibunya sendiri.


" Setelah aku mencapai kesepakatan dengan Bolfra, kau boleh mengumumkankan calon istrimu saat pesta pengangkatanmu nanti sebagai putra mahkota"


"Baiklah ayah.."


Pembicaraan itu pun berakhir saat pelayan raja mengatakan makan malam telah disiapkan.


📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Terima kasih 🤗