
Nazyela bergegas bangun, dan berlari meninggalkan Jongya meski dengan tubuh bergetar. Gadis itu berusaha berada sejauh mungkin dari Jongya.
Nazyela bukannya membenci Jongya, hanya saja ia tak mampu menahan rasa yang ada dalam hatinya. Bisa saja ia terbawa suasana dan membalas ciuman Jongya jika ia tidak segera menghindar dari lelaki itu. Dia juga sama, sangat merindukan pemuda itu yang telah mengobrak abrik perasaannya. Namun ia sedang tak kuasa mengikuti kata hatinya selama Jongya masih berstatus suami orang lain.
Jongya terpaku, ia tidak segera menghentikan Nazyela yang berlari menjauhi dirinya. Jongya tahu perbuatannya tadi adalah kesalahannya. Lelaki itu menahan amarahnya, merutuki keadaan dirinya yang tidak dapat segera melepaskan semua masalah yang ada.
Hiks... Kenapa harus disaat seperti ini?
Aku tidak bisa terus menahan jika sikapnya seperti ini
Nazyela bersandar pada dinding setelah ia merasa telah berada jauh dari Jongya.
Gadis itu memutuskan meninggalkan suasana pesta dan kembali ke kamarnya.
*****
Di Istana.
Camila yang sengaja tidak ikut ke pesta pernikahan kedua Duke di negara Theora itu menghabiskan waktunya dengan minum teh ditaman.
Matahari yang tidak terlalu panas, dengan semilir angin yang berhembus perlahan menjadikan suasana hati wanita itu menjadi lebih baik. Karena sebelumnya ia bertengkar hebat seperti biasa dengan suaminya Jongya.
Camila melarang Jongya untuk menghadiri pesta itu, karena pasti disana Jongya akan bertemu dengan Nazyela. Tentu hal itu membuat Camila sangat tidak suka. Namun Jongya tidak peduli akan pendapat Camila dan tetap pergi bersama sang raja dan pangeran Argen.
"Apakah aku boleh bergabung? Sayang sekali jika wanita cantik harus minum teh sendirian"
Camila menatap pemuda tampan yang menghampiri dan menyapa nya dengan ramah. Sedikit rasa bingung saat melihat sikap pemuda itu yang tampak santai dengan dirinya.
"Oh.. perkenalkan aku Rudy Askhan"
Camila serasa pernah mendengar nama itu. Sesaat kemudian ia baru teringat bahwa Askhan adalah nama kerabat dari sang raja Theora ayah mertuanya.
Camila pun mencoba bersikap ramah.
"Duduk lah.. tuan Askhan"
"Istana terlihat sepi hari ini"
"Apa anda baru datang?"
"Ah.. tidak. Aku datang sebulan yang lalu"
"Kenapa aku tidak melihat anda sebelumnya"
"Ah.. aku mengikuti Jongya ke suatu tempat dan menghabiskan waktu sebulan ini disana"
Rudy dengan santai mengungkapkan hal itu.
"Dimana?"
"Kastil utara"
"Dimana itu?"
Tanya Camila penasaran.
"Oh.. lady tidak tahu?"
Camila menggelengkan kepala.
"Kapan-kapan aku akan membawa lady kesana.
Ngomong-ngmong, anda tidak pergi ke pesta lady?"
"Hahaha... tidak. Pesta itu tidak penting bagiku"
"Baiklah.. aku tidak akan menanyakan mengapa, tentu lady memiliki alasan sendiri. Bagi ku kadang pesta itu menjemukan. Meladeni sekian banyak orang, harus menjaga lisan dan perbuatan yang di sebut etiket"
"Oya...? Tapi sepertinya tuan tidak begitu. Tuan lebih suka bergaul menurutku"
"Hehehe.. apa karena sikap ramahku?"
"Yah...sepertinya begitu"
Perbincangan terus berlanjut. Kadang sesekali menciptakan tawa yang lepas terdengar bagai beban yang hilang begitu saja.
Kehadiran Rudy membuat perasaan Camila menjadi lebih baik. Sikapnya yang supel membuat Camila merasa nyaman mengobrol dengannya.
"Ah... sepertinya sudah hampir sore.., maafkan aku yang menyita banyak waktu lady"
"Tidak. Aku senang telah berbincang-bincang dengan anda. Anda.. orang yang menyenangkan"
Puji Camila.
"Oh.. benarkah? Wah.. aku sangat tersanjung. Baiklah.. kapan-kapan maukah lady mengobrol dengan ku lagi"
"Tentu.. aku menantikannya nanti".
Mereka pun berpisah kembali ke kamarnya masing-masing.
Flash Back On
Sesampai di gerbang kastil Kley, Jongya menghentikan kudanya.
Ah.. aku lupa Rudy orang yang seperti apa. Jika dia tahu aku dan Camila pisah ranjang lelaki itu pasti akan mengejekku habis-habisan. Sebaiknya aku membawanya ke kastil utara saja.
Jongya memutar balik kudanya kembali menuju istana.
Sesampai disana ia segera mendatangi Rudy dan memaksa pemuda itu untuk ikut dengannya.
Rudy yang menaruh curiga akan sikap Jongya yang seperti itu akhirnya nurut saja dan bertekad akan mengorek informasi dari pemuda itu tentang apa yang ia sembunyikan.
Flash Back Off
Sore menjelang malam.
Pesta yang di gelar akhirnya berakhir juga. Para tamu yang di undang satu persatu kembali ke kediaman mereka. Khiden kembali ke kastil Bolafra sedangkan Daniel memutuskan untuk menginap disalah satu penginapan di kota Brikalis. Ia memiliki pekerjaan di kota itu. Namun saat berpamitan dengan kedua pengantin, Daniel sempat berbicara dua mata dengan Adrian.
Lelaki itu menanyakan hubungan antara Nazyela dengan pangeran Jongya. Pasalnya, saat mereka bertemu di balkon kastil, rupanya Daniel tidak berada jauh dari mereka dan bersembunyi ketika Jongya mendekati Nazyela. Awalnya ia hendak menemani Nazyela yang sendirian namun setelah melihat Jongya, ia mengurung kan niatnya dan memilih menyembunyikan keberadaannya.
Daniel yang cukup terkejut melihat Jongya mencium paksa Nazyela membuat rasa ingin tahu nya kian membesar. Karena dia sendiri tahu status pangeran Jongya bukan lah laki-laki single seperti dirinya.
Adrian mengatakan bahwa ia akan menemui Daniel besok di salah satu kafe yang ada di Brikalis. Adrian dan Naila yang tampak kelelahan lalu kembali ke kamar pengantin yang telah disiapkan oleh Nazyela.
Adrian memasuki kamarnya bersama Naila.
Mereka berdua segera membersihkan diri karena malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang bagi mereka.
*****
Keesokan harinya,
Adrian membawa Naila jalan-jalan ke pusat Brikalis. Ia juga mengajak isteri nya menemui Daniel disana. Mereka pun bertemu dan mengbrol bersama.
"Jadi.. apa yang mau kau katakan?"
"Hmm... dari mana aku harus memulai. Aku hanya akan berkata intinya saja. Mereka sudah lama menjalin kasih sebelum pangeran Jongya menikahi putri Camila. Pernikahan mereka adalah pernikahan politik yang di inginkan yang mulia ratu. Namun Jongya tidak pernah mencintai tuan putri. Itu yang aku tahu"
"Sebab itu Nazyela mengundurkan diri dari regina?"
"Benar sayang..."
"Lalu pangeran masih terus mengejar Nazyela hingga kini?"
"Yah.. kira-kira seperti itu lah. Kisah mereka rumit. Bahkan aku sangat kasihan terhadap adikku. Nazyela sangat mencintai pangeran Jongya tapi ia tidak ingin merusak rumah tangga pangeran dan putri Camila"
"Tapi.. masih ada jalan mereka untuk bersama, bukankah pangeran bisa menjadikan Nazyela selir jika mereka ingin bersama?"
"Ya sayang.. tapi sayang nya Nazyela tidak mau berbagi suami. Jadi selama ini ia berusaha menekan perasaannya dan mencoba menjauhi pangeran Jongya"
"Hubungan seperti ini menyakiti ketiga belah pihak"
Daniel tampak berpikir keras.
"Aku dengar pangeran Jongya ingin menceraikan Camila. Namun aku yakin kita akan segera berperang dengan negara timur jika hal itu terjadi"
Adrian terlihat serius mengatakan hal itu.
"Ya sudah berperang saja"
Jawab Daniel santai.
Adrian terpaku mendengar perkataan Daniel.
Anak dewa perang memang berbeda. Pantas saja mereka ditakuti banyak orang. Jika anaknya seperti ini, aku tidak dapat membayangkan ayah mertuaku seperti apa.
Adrian bergidik ngeri membayangkan apa yang ada di pikirannya.
"Benar.. bukankah kekuatan yang kita miliki bila disatukan bukankah cukup memukul mundur lawan?!"
Naila tampak bersemangat mengutarakan pendapatnya.
Adrian hanya mampu menepuk jidat mendengar dua bersaudara itu menyatakan perang seperti mengajak bermain bola.
Camila, 24 tahun.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Terima kasih 🤗
👉Jika kalian menyukai komedi baca juga karya Author berjudul Bukan Soulmate. Semoga kalian suka😉