
Naila tersenyum sendiri sepanjang jalan kembali ke kamarnya. Didepan pintu kamarnya gadis itu berpaspasan dengan Daniel bolafra kakaknya.
Pemuda itu hanya diam melihat adiknya tersenyum sendiri. Sifatnya yang acuh membuat Naila enggan untuk berbicara dengannya. Daniel hanya berlalu tanpa sepatah kata. Ia memilih pergi mencari suasana yang tenang untuk membaca bukunya.
Ditaman, Nazyela duduk ditemani Nakuna yang baru saja tiba dan Sir.Yukil. Sir. Yukil terlihat sangat senang karena kekasihnya telah datang.
"Aku ingin berjalan-jalan disekitar sini. Kalian berbicara saja dulu"
Nazyela bermaksud meninggalkan mereka untuk saling melepas rindu. Karena ia tahu dengan kehadirannya mereka berdua tentu tidak bisa lebih leluasa.
"Nona..anda tidak perlu seperti ini. Kami akan menemani"
Sir. Yukil dan Nakuna serempak berdiri melihat Nazyela yang beranjak hendak meninggalkan mereka.
"Kalian duduk saja. Lihat lah.. aku hanya akan berada disekitar sini saja jadi jangan khawatir"
"Tapi nona anda tidak..."
"Ini perintah!!"
"Haaah... "
Nakuna dan Sir. Yukil hanya bisa menghela napas.
"Baiklah nona, tapi saya mohon untuk tidak berada jauh dari kami"
Sir. Yukil terlihat memohon.
Nazyela tahu mereka sangat mengkhawatirkan dirinya setelah banyak kejadian yang telah menimpa dirinya.
Gadis itu mengangguk lalu tersenyum dan meninggalkan mereka berdua.
Nazyela mengamati lingkungan sekitar. Udara yang segar membantunya merefreshingkan diri dari segala kepenatan yang ada. Hingga matanya tertuju kepada seorang pemuda yang sedang asik duduk sendiri.
Terlihat orang itu sangat fokus membaca bukunya tanpa menyadari kedatangan Nazyela yang datang perlahan.
Gadis itu tertarik akan buku yang dibaca oleh pemuda itu. Nazyela menghentikan langkahnya ketika ia baru menyadari dirinya sudah begitu dekat dengan laki-laki itu.
Wajah tampannya membuat Nazyela membeku. Tampilannya yang elegan menandakan bahwa pemuda itu golongan bangsawan kelas atas. Lelaki itu menutup bukunya saat aroma tubuh Nazyela yang tertiup angin menerpa wajahnya.
Pemuda itu lalu menatap gadis yang berdiri tak berada jauh di sampingnya. Ia cukup terpana melihat wajah Nazyela yang anggun dan terkesan lembut itu.
"Oh.. maafkan saya tuan, saya telah mengganggu anda. Kalau begitu saya permisi"
Nazyela menunduk hormat kepada lelaki itu.
"Tidak apa-apa. Aku juga telah selesai membaca"
Nazyela mengamati buku yang di pegangan pemuda itu. Sedari awal memang buku itulah yang menarik perhatian Nazyela.
"Mozart bukankah dia komposer dunia?"
Spontan Nazyela mengucapkan nama yang tertulis dibuku itu.
"Anda juga mengetahuinya lady?"
"Tidak terlalu tapi aku menyukai karya-karyanya"
"Wah.. anda juga penggemar beliau rupanya"
"Saya menyukai syimphony no. 40 dan piano sonata no. 11"
Tutur Nazyela sambil tersenyum.
Pemuda tersenyum, ia tampak terkesan mendengar penuturan Nazyela. Ia merasa memiliki seseorang yang sepemahaman dengannya.
"Oh.. maafkan saya kurang sopan. Silahkan duduk lady.. sepertinya pembicaraan kita akan sangat panjang"
Pemuda itu berdiri menunduk mempersilahkan Nazyela untuk duduk di kursi taman itu.
Sesaat Nazyela melihat ke arah Sir. Yukil dan Nakuna. Tampak kedua orang itu sedang asik mengobrol. Nazyela memutuskan untuk memberikan mereka waktu lebih banyak untuk berduaan.
Gadis itu pun duduk di kursi panjang yang sama dengan pemuda tadi. Pemuda pun tadi duduk tak jauh dari Nazyela.
"Sepertinya akan lebih sopan jika kita saling memperkenalkan diri. Saya Daniel Bolafra"
Daniel mengulurkan tangannya.
Nazyela sempat terkejut mendengar nama Bolafra. Namun gadis itu berusaha untuk tetap tenang.
"Saya Nazyela Estelle Kley"
Nazyela menjabat tangan Daniel.
Terlihat Daniel juga sedikit terkejut mendengar nama Nazyela.
Jadi gadis ini yang menjadi rival Naila. Tapi kelihatan dia tidaklah pantas untuk di musuh. Hah... Naila...! (Daniel)
Daniel mencoba mengesampingkan masalah Naila dan gadis yang ada di depannya. Ia berusaha untuk tetap netral dengan sikap tenang nya.
"Aku juga menyukai karya-karya itu. Alunannya sangat indah dan menyentuh"
Nazyela tersenyum mendengar perkataan Daniel.
"Namanya sangat panjang aku bahkan kesusahan untuk mengingatnya, lebih mudah untuk menyebut dengan Mozart saja"
"Johannes Chrysostomus Wolfgangus Theophilus Mozart..."
Nazyela terkekeh karena dirinya tidak dapat menyebutkan nama panjang mozart.
Daniel tersenyum, pemuda itu semakin terkesan terhadap Nazyela.
Dia tampak manis saat tertawa seperti tadi. Gadis ini tidak lah seperti apa yang diperkirakan Naila. Bocah itu hanya mementingkan ambisinya saja. (Daniel)
Perbincangan itu pun terus belanjut hingga tanpa sadar senja mulai memperlihatkan warna jingga ke emasan di langit tua.
Sir. Yukil dan Nakuna menghampiri nonanya untuk mengajak gadis itu kembali ke resort.
"Maaf kan saya mengganggu, nona sebaiknya kembali karena langit sebentar lagi akan gelap"
"Oh.. Sir? Apa urusanmu sudah selesai?"
Nakuna terlihat merona mendengar pertanyaan nona nya.
"Sudah nona"
Jawab Sir. Yukil singkat.
"Baiklah tuan.. sepertinya kita harus mengakhiri obrolan kita sampai disini"
"Tentu lady... maaf saya sudah mengganggu waktu anda"
"Tidak tuan. Saya juga senang dapat berbincang-bincang dengan anda. Kalau begitu saya permisi"
Nazyela menunduk hormat, Daniel membalas dengan anggukan kepala.
"Semoga kita bisa bertemu lagi.. senang bisa mengenal lady Nazyela.."
Nazyela membalasnya dengan tersenyum. Gadis itu lalu melangkah meninggalkan Daniel untuk kembali ke resortnya.
"Sir. Yukil ada sesuatu yang lupa aku tanyakan"
"Apa itu nona?"
"Bagaimana dengan Roana Shaden?"
"Beberapa waktu lalu Roana bunuh diri dalam kurungan. Ia membenturkan kepalanya di tembok batu penjara hingga meregang nyawa disana"
Langkah Nazyela terhenti lalu menatap Sir. Yukil
"Mayatnya sudah dikubur dengan layak nona. Asitennya di jadikan buruh dan dikirim ke wilayah selatan yang tandus oleh tuan Adrian"
Nazyela hanya bisa menghela napas mendengar penjelasan Sir. Yukil. Gadis itu pun melanjutkan langkahnya kembali ke resort.
Malam harinya yang belum terlalu larut ,Nazyela yang telah berganti pakaian menikmati waktu santainya di kafe setelah makan malam bersama Adrian. Di temani Sir. Yukil dan Nakuna Nazyela mendengarkan lantunan musik piano yang dimainkan oleh pianis yang bekerja di resortnya itu.
Setelah sebuah lagu berakhir, Ia melihat Daniel melangkahkan kakinya mendekati piano dan duduk disana. Dengan elegan lelaki itu mulai menggerakkan jari jemarinya.
Rupanya pemuda itu mengetahui bahwa ada Nazyela di deretan kursi penonton. Sengaja pria itu memainkan Sonata No. 11 untuk dipersembahkan kepada Nazyela.
Nazyela terlihat sangat menikmati alunan musik yang dimainkan oleh Daniel.
"Nona.. seperti nya tuan tadi selalu melirik ke arah nona"
Ujar Nakuna berbisik pada Nazyela.
"Apa kalian tahu siapa dia?"
Nazyela bertanya kepada kedua sejoli itu.
Nakuna menggelengkan kepala sedangkan Sir. Yukil tampak menanti jawaban dari nona nya.
"Daniel Bolafra"
Nakuna menutup mulutnya karena terkejut.
"Nona.. kenapa anda selalu berada disekitar musuh?!"
Sir. Yukil tampak bingung dengan sikap nona nya.
"Bukankah aku sudah harus belajar memaafkan orang lain apalagi kau tahu dia juga bakal jadi iparku"
Sir. Yukil menghela napas. Ia sangat bingung harus berkata apa.
"Sungguh saya tidak dapat memahami nona"
"Sepertinya Bolafra tidak lah sedingin kutub Utara atau sekejam algojo. Mereka bersikap baik jika kita juga demikian"
Nakuna dan Sir.Yukil saling pandang mendengar nona mereka memuji Daniel Bolafra.
Johannes Chrysostomus Wolfgangus Theophilus Mozart
Lahir : 27 Januari 1756
Meninggal : 5 Desember 1791
Seorang komponis musik klasik dunia.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Terima kasih 🤗