
Surat yang di tulis Camila telah sampai pada sang ayah. Raja negara timur murka setelah membaca surat dari anaknya. Ia segera memerintahkan bawahannya untuk mempersiapkan keberangkatannya menuju negara Theora.
*****
Khiden Bolafra menghadap sang raja siang itu. Ia memenuhi panggilan sang raja terkait masalah regina yang bicarakan oleh raja dan pangeran Argen sebelumnya.
"Khiden bagaimana kabarmu?"
"Saya baik yang mulia, ada apa yang mulia memanggil saya?"
"Sebelumnya aku ingin minta maaf padamu Khiden?"
Khiden Bolafra langsung mengangkat wajahnya dan melihat ke arah sang raja. Ia cukup terkejut mendengar raja mengucapkan kata maat padanya. Pria itu berpikir kesalahan apa yang dibuat raja padanya sampai orang nomor satu di negara Theora itu meminta maaf darinya.
"Yang mulia... saya yang harus meminta maaf kepada yang mulia bukan sebaliknya"
Bolafra menundukkan kepala.
"Kesalahan apa yang kau perbuat Khiden?"
"Ya..?"
Bolafra bingung harus menjawab apa. Ia sendiri tidak tahu kesalahan apa yang ia perbuat.
"Khe.. ke.. ke.. kau memang pengikut setiaku Khiden. Karena itu lah kau menjadi tangan kananku"
Bolafra tidak berani mengangkat kepalanya.
"Tapi.. aku yang bersalah padamu, karena aku meminta untuk pembatalan Regina atas putri mu"
Khiden Bolafra mengangkat wajahnya melihat ke arah sang raja. Ia terlihat bingung dan sedikit kecewa akan keputusan sepihak sang raja.
"Tinggal anakmu satu-satunya calon regina. Dua kandidat lain telah mengundurkan diri. Namun, pangeran Argen putraku ternyata telah mempunyai calon sendiri dan itu ratu dari negara yang ia taklukkan"
Mendengar penuturan sang raja Khiden Bolafra sangat kecewa. Sudah pasti dia harus mundur karena posisi kekuasaanya yang tidak sehebat calon menantu raja.
"Baiklah... yang mulia"
Khiden menunduk pasrah.
"Tapi... aku angkat mengangkat Naila bolafra menjadi putri angkatku sebagai gantinya"
"Yang mulia.....?!"
Khiden terkejut mendengar ucapan sang raja. Ia tak menyangka keberuntungan masih berada di pihaknya.
Raja tidak mungkin melepas Khiden yang merupakan kekuatan militernya. Untuk itu raja telah memikirkan untuk mengangkat Naila menjadi putrinya. Dengan begitu hubungan keduanya akan tetap terjalin erat tanpa harus berbesanan.
*****
Kabar yang dibawa Khiden Bolafra mengejutkan Naila Bolafra ketika pria itu telah kembali ke kediamannya.
Antara sedih dan senang perasaan itu bercampur aduk dalam hatinya.
Setelah beberapa kali bertemu dan mengenal Adrian, Naila merasakan debaran yang tak biasa di jantungnya. Berbeda saat dia bertemu dengan pangeran Argen. Bila mengenang saat-saatnya bersama Adrian saja wajahnya bisa memerah.
"Baiklah ayah.. jika itu sudah menjadi keputusan yang mulia raja"
"Kau tidak kecewa?"
"Bukankah menjadi putri angkat dari raja negara ini tidak lah buruk ayah?"
"Khekeke... kau benar, aku juga setuju dengan pemikiranmu"
"Dan ayah.. ada seseorang yang sedang aku sukai. Sepertinya ini tidak akan merugikan keluarga kita juga"
Naila menatap ayahnya dengan percaya diri.
"Siapa?"
Tuan Bolafra menunggu jawaban putri nya dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Adrian Kley, putra pewaris duke Kley"
Khiden Bolafra tersentak mendengar nama yang disebutkan putrinya. Sesaat terlihat pria paruh baya itu berpikir dengan keras, lalu kemudian tampang ketenangan diwajahnya setelah itu.
"Jadi maksudnya kita tidak akan memiliki musuh namun patner yang dapat mempertahankan kekuatan dan kekuasaan kita begitu"
"Apa ayah kecewa?"
"Khekeke... tentu tidak. Ini menarik dan juga menguntungkan bagi kita"
Naila tersenyum mendengar jawaban sang ayah. Artinya tidak ada yang menghalangi hubungannya dengan Adrian jika itu terus berlanjut. Gadis itu lalu kembali kekamar nya.
"Nona... saya mendapat kabar bahwa tuan Adrian telah kembali dari perjalanan"
"Benarkah?"
Naila tampak senang mendengar kabar itu.
"Benar nona.. saya mendapat kabar itu dari Rosi"
"Baiklah... cari tahu lagi kapan Adrian akan berkunjung lagi ke resortnya"
"Baik nona"
Naila masih mempercayai Rosi sebagai mata-matanya hingga kini. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Nazyela sengaja menyuruh Rosi menyampaikan kepada pelayan Naila bahwa Adrian telah kembali guna mempererat hubungan mereka.
"Nona...!"
Seorang pelayan lain tampak tergesa-gesa mendatangi Naila. Ia membawa seikat buket bunga yang sangat indah dan sebuah kartu ucapan disana.
Pelayan itu mengulurkan buket bunga itu kepada Naila.
Naila tersenyum menerima buket bunga itu. Ia lalu membaca kata-kata dalam kartu ucapan yang ada disana.
Bunga yang indah untuk wanita yang cantik
Hati Naila berbunga-bunga, ia begitu senang menerima hadiah pemberian Adrian.
Bunga itu pun diletakkan dalam vas dan menghiasi kamar Naila Bolafra.
*****
Sementara itu, di kediaman Kley.
"Apa sudah kau kirim bunganya?"
"Sudah nona"
Jawab Sir. Yudan singkat.
"Nona kenapa nona sangat baik kepada lady Naila? Bukankah selama ini dia telah bersikap jahat kepada nona?"
Nakuna terlihat bingung dengan sikap nona nya.
"Seseorang bisa saja berubah Naku. Terlebih kakakku sepertinya mencintai Naila. Ada baiknya bukan perseteruan dua keluarga berakhir menjadi penyatuan dua keluarga?"
Sir. Yudan, Nakuna, dan Sir. Yukil yang sedang menikmati teh bersama nona nya menyimak ucapan nona nya.
"Ada baiknya kita mengurangi musuh dari pada menambah musuh bukan? Bagiku tidak masalah harus berdamai dengan Naila. Justru aku senang, jika kakakku dan orang-orang terdekat ku bahagia bukan kah itu membuat kita merasakan kebahagiaan juga"
"Nona baik sekali"
Nakuna memuji Nazyela, gadis itu seperti mengagumi sikap nona nya.
Nazyela terkekeh.
"Aku lelah Naku... lelah jika harus menghadapi orang-orang yang tidak menyukaiku"
Nazyela terbayang saat-saat Naila menamparnya, Camila memperlakukan dengan buruk serta tatapan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu.
Para asisten itu paham maksud dari perkataan nona nya.
"Tapi nona...emm... bagaimana dengan pria itu?"
Sir. Yukil sedikit ragu menanyakan hubungan Nazyela dengan Daniel.
"Jika nona bersama pria itu, pasti rumit lagi.. kenapa nona suka yang rumit-rumit?"
Nakuna dengan polosnya langsung menanyakan hal itu kepada Nazyela.
Nazyela terkekeh melihat reaksi Nakuna.
"Entahlah.. apa hubungan kami dimata kalian seperti itu?"
Nazyela menatap satu persatu meraka yang duduk bersamanya.
"Huh.. disini rupanya?!"
Suara Adrian menghentikan pembicaraan mereka.
"Aku mencarimu kemana-mana Yudan"
Mereka segera bangun dari duduk nya dan menunduk hormat pada Adrian.
"Maaf kan saya tuan"
"Maafkan aku kak, aku mengajak mereka menemani ku minum teh"
Nazyela menghampiri Adrian.
"Tidak apa-apa Naz, apa kau berwenang-senang?"
Nazyela tersenyum dan menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Adrian.
"Sukurlah. Yudan besok kita akan ke Britaraya dan kota pelabuhan. Persiapkan segala sesuatunya"
"Baik tuan"
"Naz kau mau menunggang kuda bersamaku?"
"Benarkah? Aku ingin sekali naik kuda"
Terlihat binar-binar dimata Nazyela. Ia memang sangat ingin bisa menaiki kuda.
"Kalau begitu ayo?!"
Ajak Adrian antusias.
"Baiklah. Nakuna dan Sir. Yukil kalian beristirahat saja"
"Baik nona" (Suara serempak Nakuna dan Yukil)
Siang itu Nazyela menghabiskan waktunya dengan belajar berkuda. Tawanya pecah saat melihat kuda sang kakak mengencingi sepatu bootnya.
Melihat Nazyela yang tertawa lebar seperti itu Adrian tidak jadi membuang kuda yang telah mengencinginnya.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Terima kasih 🤗