
Akhirnya pesta telah usai, kedua pengantin masuk ke dalam kamar honeymoon mereka. Sang wanita telah siap dengan gaun tidur tipisnya. Namun Jongnya masih menggunakan pakaian yang tadi dipakai saat pesta. Lelaki itu hendak keluar dari kamarnya tetapi tangannya di cekal oleh sang wanita.
"Apa anda akan meninggalkan ku begitu saja? Ini adalah malam pertama kita. Jangan rusakkan reputasiku disini. Jika anda keluar dari pintu itu para pelayan akan mencemoohkan aku dan itu akan mempermalukan aku"
Pernyataannya terus terang sang istri tidak membuat Jongya goyah. Ia terus melangkahkan kaki keluar dari kamarnya.
Sang istri meremas geram baju tidurnya. Hatinya begitu sakit dicampakan di malam pertama pernikahannya. Harga diri wanita itu begitu terluka. Ia menggigit bibir bawahnya hingga terluka.
Lihat saja aku akan mengadukan semua ini kepada ibu ratu. Kalian tanpaku bukan apa-apa. Kita lihat nanti apa kau masih bisa bersikap acuh padaku.
Wanita itu lalu menarik selimut dan membungkus dirinya rapat-rapat.
Sementara itu, Jongya berjalan ditaman sendiri menikmati angin malam dengan bulan purnama yang menyinari di kegelapan.
Pikirannya melayang kemana-mana. Dalam hatinya pemuda itu sangat ingin bertemu dengan Nazyela. Gadis itu kian lama selalu mengisi hati dan pikirannya. Jongya merasa belum tenang jika tidak mengetahui kabar gadis itu.Tetapi keinginan yang kuat dalam hatinya harus ia kubur dalam-dalam jika mengingat statusnya yang tidak lagi sendiri.
Helaan napas nya begitu berat, hingga langkahnya terhenti ketika melihat sesorang yang sangat ia kenal dan berpengaruh di negeri ini berdiri dihadapannya menatap ke arah lain.
"Malam yang indah yang mulia"
Jongya menyapa dengan menundukkan kepala.
"Oh.. Jongya"
"Mengapa yang mulia keluar disini sendirian tanpa pengawalan?"
Tanyanya kepada orang di hadapannya.
" Panggil saja aku ayah ketika kita sedang berdua"
Jongya hanya diam menanggapi perkataan sang ayah yang tak lain adalah raja Theora.
" Apa kau bahagia dengan pernikahanmu?"
Raja tampak terlihat mencemaskan putranya.
"Apa saya berhak memiliki kebahagiaan itu sekarang ini?"
Jongya berkata dengan nada sendu.
"Tentu saja"
Raja terlihat tegas mengatakan itu.
Jongya menatap wajah ayahnya, lalu tertunduk. Ia merasa harapan untuk merasakan kebahagiaan itu sudah tidak ada lagi.
"Dulu ada seorang gadis yang sangat berani bertemu denganku. Gadis itu melepaskan posisi yang banyak diinginkan gadis lain. Namun dengan berani ia mengatakan bahwa telah ada seseorang dihatinya"
Nazyela...?! Aku tahu itu pasti dirimu
Jongya menatap wajah ayahnya.
"Aku tahu kau tidak menyukai pernikahan ini. Apa aku salah?"
"Tidak. Ayah benar... saya terpaksa menikahi wanita yang sekarang menjadi istri saya"
Jongya tidak bisa menyangkal lagi setelah melihat sorot mata sang ayah yang sepertinya mengetahui sesuatu.
"Karena ibumu?"
Jongya terkejut mendengar ayah mengatakan itu.
"Waktu itu aku sudah bertanya padamu, apa kau yakin akan menikahi wanita itu?
Kau bilang itu pilihan terbaik"
Jongya tertunduk. Ia tahu telah salah mengambil keputusan. Seandainya saja ia tahu bahwa ia bisa mendapat dukungan dari sang ayah. Tapi karena ancaman ratu yang tidak pernah main-main, ia takut Nazyela akan terluka bahkan bisa ke hilangan nyawanya.
"Saya menyukai gadis yang ayah bicarakan. Tapi saya tidak ingin dia terluka karena saya"
"Waktu itu aku sudah bertanya padamu dan aku memberikan pilihan kepadamu. Semua terserah padamu. Aku bisa menyingkirkan Ranom jika kau tak lagi ingin memiliki ibu seperti dia"
Raut wajah yang terlihat tegas menandakan perkataan raja tidaklah main-main.
"Mungkin ini sudah terlambat ayah, jika saya melepaskan Camila sekarang kita akan memiliki musuh dari negaranya"
Raja menarik napas dalam-dalam dan menepuk bahu pemuda itu.
"Demi kebahagiaan kau dan Argen apapun akan aku lakukan"
Jongya terkejut, perkataan itu artinya sang ayah mampu mengerahkan seluruh kekuatan Theora untuk berperang melawan musuh.
"Tidak ayah. Saya tidak ingin menambah banyak nya rakyat yang menjadi janda dan kehilangan keluarga mereka karena tewasnya para kesatria kita"
Raja tersenyum mendengar perkataan Jongya. Sisi baik Jongya adalah mementingkan kepentingan rakyat Theora namun ia terlalu lemah jika harus memimpin negara yang butuh kekuatan besar untuk mempertahankan kekuasaan.
Berbeda dengan Argen walau ia sama seperti Jongya yang juga sangat mementingkan rakyat namun ia tegas dan tidak pandang bulu ketika mengambil tindakan. Lebih baik kehilangan satu nyawa demi menyelamatkan seribu nyawa, begitu prinsipnya.
Rasa cinta raja kepada Ranom ibu dari Jongya perlahan mulai sirna setelah Jongya sendri yang menceritakan rahasia terbesar ibunya kepada sang raja beberapa waktu yang lampau.
Selama ini raja telah dibutakan oleh tutur kata yang lembut, perangai yang anggun serta sikap manja yang penuh perhatian terhadap dirinya. Sedang dibelakang raja wanita itu bagai ular berbisa. Ratu diam-diam mengumpulkan bangsawan-bangsawan yang berpihak padanya dan memberikan mereka kekuasaan di daerah mereka. Untuk mengulingkan kekaisaran Theora dan menjadikan Jongya raja berikutnya. Namun impian sang ratu akan sulit terwujud karena Jongya sendiri tidak memiliki ambisi seperti itu dan raja mengetahui itu.
"Saya akan mencoba untuk mencintai dia"
"Kembali lah kekamarmu, jangan biarkan dia menunggu lama. Bukankan ini malam pengantin kalian?"
Jongya menatap wajah sang ayah yang tersenyum.
"Ayah segerlah kembali, angin malam tidak baik untuk kesehatan"
Raja mengangguk mendengar kata yang penuh perhatian dari putranya.
"Sebentar lagi aku akan kembali"
"Kalau begitu saya permisi"
Jongya menundukan kepala lalu berjalan meninggalkan sang ayah yang menatap bulan.
*****
Malam itu, pasukan telah siap di posisi masing-masing di dua tempat yang berbeda. Tepat tengah malam saat semua mata mulai terlihat lelah dan mengantuk penyerangan besar-besaran pun di lakukan. Tanpa bersuara mereka menyergap para pengawal yang menjaga kastil Shaden. Hampir disetiap lorong pengawal telah dilumpuhkan.
"Hah... siapa kau!!!"
Teriak seorang pengawal yang sempat melihat seseorang membunuh pengawal lain yang sedang berjaga bersamanya. Sayang sekali kesatria dari pihak Kley kurang cepat menangkapnya, ia pun berhasil berlari ke arah lonceng dan menyerukan tanda bahaya.
" TENG.. TONG... TENG... TONG... TENG...!!!"
Mendengar lonceng kediaman Shaden berbunyi Sir. Kruf dan Adrian segera menarik pelatuk granat dan melemparkannya ke camp-camp milik kesatria Shaden.
"DUAAAR..!!"
"DUAARR..!!"
Dua camp besar berhasil di ledakan. Teriakan histeris para kesatria yang sedang terlelap dan mencoba keluar mengambil senjata mereka meramaikan kesunyian malam.
Para kesatria yang selamat berlarian kesana kemari mencari tahu apa yang terjadi sambil mencari senjata mereka.
"DUUAAR!!"
Sekali lagi ledakan keras meruntuhkan bangunan yang merupakan gudang senjata mereka.
"SERAAANG...!!"
Teriakan Sir. Kruf menggema menyerukan kepada pasukannya.
Pertempuran sengit pun terjadi, dentingan pedang dan suara keras ledakan saling bersahut-sahutan.
Para kesatria saling hunus dan baku hantam. Pasukan lawan yang tidak siap karena terkejut dan nyaris tidak memiliki senjata mulai kewalahan menghadapi pasukan Kley. Mereka terlihat ketakutan dan berusaha melawan sekuat tenaga.
Satu persatu mulai berjatuhan. Mayat-mayat bergelimpangan bagai tak berharga. Bau amis dari darah segar mulai mengisi udara malam. Rintihan kesakitan terdengar bagai lagu kematian. Tragis dan kejam pembantaian dalam gelapnya malam.
Beberapa kesatria rendah yang menyerah dan terluka namun tetap ingin hidup di biarkan hidup. Mereka dikumpulkan dan di jaga ketat oleh beberapa pengawal yang siap menghunuskan pedang jika mereka kembali melawan.
Sementara itu.
Wajah pucat pasi serta keringat yang mengalir terlihat di wajah pria tua itu. Tuan Shaden tengah tertidur lelap saat pengawalnya membangun dirinya ketika mendengar suara lonceng tanda bahaya. Dentuman ledakan mengejutkan dirinya yang tak pernah menduga akan diserang secara mengejutkan seperti itu.
"PANGGIL DRAGON KEMARI..!!!"
Tuan Shaden berteriak marah.
"Mereka juga mengalami penyerang yang sama tuan. Baru saja saya mendapat kabar dari burung pembawa pesan kalau mereka meminta bantuan kita"
Ungkap si pengawal yang terlihat cemas.
"Aarrgghh...!!"
Emosi dan kemarahan tak bisa di bendung lagi. Tuan Shaden mengambil pedang dari bawah tempat tidurnya dan bersiap kabur lewat lorong rahasia mereka.
Baru saja tuan Shaden berlari beberapa meter Adrian telah menemukannya dengan wajah penuh kemarahan dan tatapan membunuh. Telah sekian lama pemuda itu menahan amarahnya dan sekarang lah puncak amarah itu meledak.
Tuan Shaden terhenti dengan napas terengah-engah.
"Kau...?!!"
Tuan Shaden bingung melihat Adrian yang berlari menjauh darinya setelah melemparkan sesuatu.
"Klekleklek.."
Suara bola besi menggelinding mendekat yang di tatap heran oleh tuan Shaden. Dan..
" DUAAARR...!!"
Darah berwarna merah tersebar kemana-mana. Bau daging terpanggang menyeruak di lorong yang kini telah hancur itu. Serpihan-serpihan tubuh bertaburan.
Kastil Shaden runtuh hanya dalam satu malam.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Terima kasih 🤗