Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 81



Empat hari berlalu semenjak kejadian itu, Nazyela dan Ji Chang sudah final memutuskan untuk menikah.


Sir. Yukil lalu mengirim surat untuk memberikan laporan ke kediaman Kley. Berdasarkan dengan apa yang ia dengar, ia menulis kan bahwa Nazyela akan segera menikah.


Proses persiapan pernikahan juga ia ceritakan bahwa Nazyela ingin memeluk kepercayaan yang berbeda dari keluarganya.


Siang itu, Jongya berkunjung ke rumah Nazyela. Ia ingin mengetahui kabar gadis itu setelah kemarin ia sempat melihat adegan Nazyela mendorong paksa Ji Chang.


Rumah Nazyela sedang kedatangan beberapa tamu dengan pakaian jubah beserta sorban di atas kepala.


"Tok... tok..., Ceklek!"


"Oh.. yang mulia, silahkan masuk"


Terlihat Nakuna muncul dari balik pintu itu, lalu menunduk hormat dan mempersilahkan pemuda itu masuk. Ia tidak mungkin menolak apalagi menyuruh pergi anak raja dari negaranya.


"Apa sedang ada acara? Kalian sedang menerima banyak tamu"


"Itu... mereka adalah orang muslim yang akan menuntun nona dan tuan Ji memeluk agama Islam"


Jelas Nakuna sesuai apa yang ia ketahui sekadarnya.


"Agama Islam?"


"Iya yang mulia, saya juga kurang paham. Tapi itu adalah syarat yang di ajukan nona sebelum menikah dengan tuan Ji"


"Apa?!! Menikah?!! Apa aku tidak salah dengar?"


"Tidak yang mulia, mereka sudah mulai melakukan persiapan. Dalam waktu dekat ini mereka akan menikah"


Nakuna tertunduk merasa tidak nyaman menjelaskan semuanya kepada pangerannya. Ia menilai sedikit banyak sang pangeran masih menyimpan hati untuk nona nya.


Jongya merasa ada belati yang menancap di jantungnya. Sakit yang tidak bisa dijabarkan serta sesak yang begitu menghimpit dadanya. Serasa nyawanya hilang separuh raga dan getaran tubuh mulai bereaksi entah itu karena terluka, kecewa atau merasa bersalah atas apa yang pernah ia lakukan pada Nazyela dulu.


Seperti ini kah dulu perasaan yang kau rasakan saat aku mengatakan akan menikah? Aku dulu tidak tahu akan sesakit ini, aku pikir nyawa mu lebih penting dari sekedar perasaan mu. Tapi ternyata nyawa dan perasaan saling bergantung satu sama lain. Rasanya aku ingin menghilang entah kemana, rasanya tiada gunanya aku hidup. Apa kau juga seperti itu Naz? Sungguh maafkan aku...


Jongya berusaha menahan perasaannya, dan duduk dia antara tamu-tamu itu. Ia mencoba untuk merelakan jika itu membuat Nazyela bahagia.


Nazyela dan Ji Chang muncul dari balik lorong rumah lalu duduk berkumpul bersama tamu-tamu itu. Mereka sudah siap lahir batin untuk memeluk agama Islam. Tamu yang di panggil Ustad itu menjelaskan sedikit tentang Islam, syarat masuk Islam, serta rukun Islam dan rukun iman kepada kedua nya. Ustad juga menjelaskan syarat nikah pada keduanya.


Setelah selesai menjelaskan ustad lalu menuntun Ji Chang terlebih dahulu untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.


Awal nya Ji Chang kesulitan, namun setelah mengulang beberapa kali barulah ia bisa mengucapkan syahadat dengan benar.


Setelah itu, ustad kemudian menuntun Nazyela mengucapkan dua kalimat syahadat pula.


Hanya sekali di ajarkan, Nazyela sudah fasih mengucapkan syahadat. Dan Akhirnya mereka telah sah memeluk agama Islam.


Ji Chang dan Nazyela meminta untuk terus di bimbing oleh ustad itu. Dan mereka juga meminta untuk di nikahkan saat harinya tiba nanti. Ustad menyanggupi, dan tak berapa lama kemudian ustad pun pamit karena ad keperluan yang lain.


Setelah mengantarkan tamu-tamu itu kembali, Nazyela terperangah melihat Jongya yang duduk disofa ruang tamunya.


Sejak kapan Jongya ada disana?


Nazyela sedikit terkejut melihat kehadiran Jongya.


"Oh... ada tamu rupanya"


Ji Chang merangkul pundak Nazyela sambil melangkah mendekati Jongya. Ia sengaja memperlihatkan dan menegaskan dengan sikapnya bahwa Nazyela sebentar lagi akan menjadi miliknya seutuhnya.


Jongya lalu berdiri dan mencoba untuk tersenyum menanggapi apa yang sudah ia lihat.


"Selamat untuk pernikahan kalian nanti"


"Oh.. kau sudah tahu rupanya"


"Aku harap kau bisa bahagia Naz, dan sampai kapan pun aku akan berada di pihak mu"


Jongya meraih tangan Nazyela lalu menciumnya seperti tradisi yang di lakukan di negaranya.


"Terima kasih yang mulia, semoga anda juga menemukan kebahagian anda"


Sedikit merasa bersalah namun Nazyela mencoba menepis semuanya.


"Oh.. baik yang mulia"


Tanpa banyak kata lelaki itu segera berdiri dari tempat duduknya. lalu melangkah pergi meninggalkan Nazyela dan Ji Chang yang masih memandanginya.


Sekuat tenaga Jongya menekan perasaannya untuk tidak menangis. Wajahnya merah meski air mata tidak keluar. Semangat nya serasa terbang meninggalkan tubuhnya. Jongya langsung masuk ke dalam mobil dengan Wilson yang sedari tadi menunggunya di kursi supir.


"Yang mulia?"


Wilson sedikit khawatir melihat perubahan sikap Jongya yang tadinya biasa saja berubah seperti orang yang hilang arah setelah keluar dari rumah Nazyela.


Jongya yang memejamkan matanya sambil memijit pelipisnya mencoba untuk tenang dengan mengatur napasnya.


"Wil, bekemas lah... tidak ada lagi tujuanku untuk tinggal di negara ini. Kita akan pulang sesegera mungkin ke Theora"


"Yang mulia kena..."


"Jangan banyak bertanya Wil, lakukan apa yang aku perintahkan. Sekarang kita kembali kerumah nenek"


"Baik yang mulia"


Wilson langsung menjalankan mobilnya tanpa bertanya lagi pada pangerannya. Dalam hati pemuda itu bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada Jongya.


Apa artinya yang mulia menyerah? Sepertinya begitu jika sampai kami harus kembali ke Theora, berarti nona Nazyela sudah tidak mencintai yang mulia. Lalu kisah ku dengan Suly yang baru saja akan di mulai apa akan bernasib sama?Haaaah..., bisa gila aku


"Ck.."


Wilson berdecak sambil menggelengkan kepala memikirkan nasib percintaannya kelak. Namun ia tidak bisa apa-apa karena tugas dan kewajiban utamanya adalah melindungi pangerannya.


Sesampainya dirumah, kedua pemuda itu terduduk lemas di sofa tamu dan hanyut dalam pikiran masing-masing.


*****


Sementara itu di rumah Nazyela, rona kebahagiaan kedua sepasang kekasih itu terus menghiasi wajah mereka. Ji Chang memberitahukan persiapan pernikahan mereka tinggal sedikit lagi. Tempat dan makanan sudah di pesan bahkan toko Nazyela juga akan rampung di hari yang sama.


Kabar itu tentu saja membuat Nazyela senang. Mereka tinggal mencari gaun pengantin untuk pernikahan mereka nanti.


"Ingat lah.. kau harus segera ke dokter tuan. Kau harus di sunat sebelum kita nikah"


"Iya.. iya, aku tahu. Aku berencana ke dokter setelah menemani mu mencari gaun pengantin"


"Tidak tuan, biar aku bersama Nakuna saja. Tuan bisa ke dokter lebih cepat untuk menghemat waktu"


"Benar juga. Baiklah...aku akan menuruti perintahmu. Tapi apa proses penyembuhannya lama?"


"Tidak juga, sekitar 7-10 hari. Anda juga harus menjaga makanan serta hal-hal yang perlu di hindari setelah sunat. Karena jika salah bisa-bisa anda tidak bisa menggunakan juniormu tuan"


Bagai kepiting rebus muka Nazyela merah padam setelah memberi penjelasan pada Ji Chang.


"Wah... lihat ini, kau sudah membayangkan yang tidak-tidak rupanya. Wajah mu merah sekali. Hehehe.."


Nazyela makin malu lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Baiklah, sementara aku akan tinggal disini semasa perawatan. Aku ingin kau merawatku agar junior ku ini bisa digunakan kelak. Hehehe..."


Ji Chang berkata sambil menggoda Nazyela yang semakin merona.


Kedua nya tersenyum bahagia, karena pernikahan mereka sudah hampir di depan mata. Tinggal proses sunat dan mencari gaun saja, mereka akan menjadi suami istri yang sah.


📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.


~Jangan lupa favorit ❤️


~Rate⭐⭐⭐⭐⭐


~Hadiah


~Vote


Terima kasih 🤗


👉Jika kalian menyukai komedi baca juga karya Author berjudul Bukan Soulmate. Semoga kalian suka😉