
"Yang mulia, pantauan selama 2 hari ini pergerakan negara timur hanya sebatas di perbatasan saja. Tapi pasukan mereka terus bertambah setiap harinya"
Seorang kepala kesatria istana menjelaskan secara analisa.
"Apa tidak ada pergerakan lainnya?"
"Sampai sejauh ini tidak ada yang mulia"
"Berarti mereka hanya menyerang di perbatasan saja"
"Kira-kira begitu yang mulia"
"Kita jangan lengah ayah, jika mereka menguasai perbatasan bukan tidak mungkin mereka perlahan akan masuk dan menguasai wilayah-wilayah kekaisaran ini"
Saran Jongya.
"Hmm.. kau benar. Kita tetap harus waspada. Tempatkan beberapa pasukan di kota-kota besar untuk berjaga-jaga"
"Baik yang mulia"
"Berapa banyak pasukan yang mereka miliki?"
"Sekitar 400-500 prajurit yang mulia"
Jawab kepala kesatria istana.
" Khiden berapa banyak pasukan yang kita miliki?"
"Kita memiliki 2500 prajurit. Sekitar 900 prajurit untuk bertempur di perbatasan. Sisa nya akan di bagi di beberapa kota serta untuk pertahanan istana"
Jawab Bolafra menjelaskan.
"Saya telah mengirimkan 50 peti granat di perbatasan dan 50 peti terbagi di beberapa kota untuk pertahanan. Lalu 20 meriam sedang dalam perjalanan menuju perbatasan"
Histon Kley menambahkan.
"Wah... kau memiliki aset yang tak ternilai rupanya Histon"
"Tidak lah banyak yang mulia itu hanya untuk pertahanan saya saja"
"Terima kasih atas bantuanmu. Khiden kau bisa mempersiapkan kesatria-kesatria mu dalam menggunakan senjata yang diberikan Histon"
Perintah sang raja.
"Baik yang mulia"
"Sir. Kruf akan membantu menjelaskan kinerja senjata itu kepada anda Duke"
Jelas Histon.
"Terima kasih Histon"
Tuan Histon dan Khiden sama-sama menganggukkan kepala.
Berita peperangan tersebar dengan cepat. Pasukan di sebar untuk berjaga di berbagai kota. Rakyat mulai panik karena sudah lebih dari 10 tahun negara Theora tidak lagi berperang. Desas-desus dipenjarannya ratu juga menambah kekacauan di sekitar bangsawan yang berpihak kepada ratu. Mereka sedang memojokkan diri bersembunyi bagai tikus mati tak berkutik apa-apa.
Diperbatasan.
Terompet peperangan telah di tiupkan.
Para kesatria dan prajurit yang menunggu komando telah siap berperang dengan segenap jiwa dan raga. Bagi negara timur mereka yang mati hari ini demi membela negara, bagi negara Theora mereka yang mati hari ini demi mempertahankan kan negara.
Sir. Kruf, Argen, Jongya, Daniel, serta Khiden berada di garis depan. Bendera kedua negara telah dikibarkan ke atas tanda siap menyerbu.
"SERAAAANG...!!!"
Ratusan pasukan kesatria berkuda negara timur mulai turun menyerbu. Disusul ratusan prajurit yang berlari dengan mengangkat senjata yang mereka bawa siap untuk menebas lawannya. Teriakan-teriakan kemarahan meramaikan derap langkah kuda yang di pacu sekencang-kencangnya. Bagai gerombolan semut yang disentuh, mereka langsung menyebar ke segala arah.
Khiden mengangkat tangan kanannya ke atas, memberikan komando kepada pasukannya untuk bersiap. Setelah jarak yang di perkirakan sesuai dengan strategi yang mereka rencanakan, Khiden pun memberi perintah kepada pasukan pelempar meriam dengan menunjukkan tangannya ke depan.
"LEMPAAAR !!!"
Teriak Khiden Bolafra memberi komando. Meriam pun di tembakkan ke arah musuh.
"DUUM...... DUUAAARRR!!!
DUUM..... DUUAAARRR!!!"
Dentuman-dentuman meriam yang di tembakan secara bersamaan hampir memekakan gendang telinga.
Pasukan lawan seketika berhamburan kemana-mana. Korban mulai berjatuhan, mayat-mayat mulai bergelimpangan. Rintihan dan jeritan terdengar dimana-mana namun tak menyurutkan tekad dan semangat mereka untuk tetap melawan.
Mereka yang selamat dari ledakan masih berusaha maju dan menyerang.
Khiden mengangkat tangan kirirnya, memberikan komando pasukan pelempar granat untuk bersiap ketika jarak lawan sudah hampir dekat.
"LEMPAAAR!!!"
Tangan kiri di tunjukkan ke depan.
"DUUAARRR... DUUAARRR... DUUAARRR!!!"
Ledakan granat membuat kocar kacir pasukan lawan.
Beberapa prajurit negara timur mulai terlihat cemas dan panik. Mereka menghunuskan pedang dan tombak ke segala arah menyerang membabi buta tanpa memikirkan nyawa taruhannya.
Nyawa yang berguguran sudah tak dapat lagi dihitung berapa banyaknya.Jeritan dan rintihan yang memilukan terdengar di mana-mana.
"MAJUUUU....!!!"
" MAJUUUU...!!!"
Teriakan kedua pangeran Argen dan Jongya memberikan komando kepada pasukannya untuk maju menerjang lawan.
Mereka yang selamat dari meriam, dan granat kini menghadapi musuh dengan ayunan pedang yang telah di asah tajam beberapa hari sebelumnya.
" TANG... TING !!! DUAARR.. DUAARR!!"
Dentang-denting pedang di sambut dengan dentuman granat dan meriam membuat arena perang bagai neraka. Hunusan pedang membelah dan memotong tubuh lawan nyaris tak terhitung banyaknya.
"Tuan jumlah mereka bertambah lagi!!"
Sir. Kruf terengah-engah setelah berhasil menumbangkan kesatria yang menyerangnya.
Ia mencoba mengatakan apa yang sempat dia amati.
"Pasukan mereka ternyata lebih banyak dari yang kita kira!!"
Khiden melihat pasukan lawan dengan meneropong dari jarak jauh.
Benar saja, jumlah mereka makin bertambah. Awalnya negara Theora memimpin dalam jumlah pasukan. Namun kini mereka kalah jumlah. Pasukan dari negara timur terus berdatangan.
Terlihat mereka juga mengeluarkan senjata yang besar. Beberapa orang terlihat membentuk kelompok dan mendorong senjata itu maju kedepan.
"TEMBAAAKK!!!"
Teriakan komando kesatria negara timur menggema.
Hujan panah dan tombak berterbangan ke langit dan menghujam pasukan Theora.
Pasukan Theora lumpuh sesaat. Hujan panah dan tombak itu menewaskan sejumlah prajurit dan luka parah pada mereka yang masih bertahan hidup.
Khiden membalas dengan menembak meriam ke arah senjata besar mereka. Beberapa mengenai dan langsung hancur beserta prajurit yang berada didekatnya.
Seperti semut yang keluar dari lubang sarangnya. Pasukan negara timur terus berdatangan tak ada habisnya
"SEMUANYA BERSIAPLAH KITA AKAN BERTARUNG HABIS-HABISAN RENCANA B DIJALANKAN!!!"
Teriak Khiden memberi perintah bahkan untuk kedua pangeran sekali pun. Karena pengalamannya yang lebih banyak menghadapi perang, raja memberikan keputusan sepenuhnya kepada Khiden sebagai pemimpin arena perang.
Jumlah musuh yang kian bertambah terus berdatangan.
Pasukan Theora tidak menyerah, khiden terus menggerakan tangannya kanan dan kiri untuk mengomandoi pasukan kesatria meriam dan granat.
Disisi lain, mereka yang bertarung dengan pedang dan tombak tak mengenal kata lelah. Lengah berarti mati.
Dengan sigap kedua pangeran dan Sir. Kruf melawan musuh sekuat tenaga. Kekuatan musuh tidak dapat diremehkan. Mereka adalah orang-orang yang terlatih yang kerap kali menghadapi medan perang.
Sir. Kruf mengayunkan pedang nya ke seorang prajurit yang mendekati belakang Jongya dan hendak menebas punggung pemuda itu yang sedang bertarung dengan musuh didepan nya.
"Aaagh....!!"
Jeritan kesakitan mengalihkan pandangan Jongya ke arah belakangnya. Prajurit itu mati seketika dengan pedang yang menembus jantungnya. Darah segar mengalir keluar dari tubuh prajurit itu.
Dengan napas tersengal-sengal Jongya menganggukan kepala kepada Sir. Kruf tanda terima kasihnya telah menyelamatkan dirinya.
Mereka lalu kembali mengadapi musuh yang datang menyerang.
Perlahan angin bertiup menggeser awan yang putih menjadi awal mendung. Langit bersiap runtuh dengan awan gelapnya. Namun perubahan cuaca itu tak menghalangi peperangan yang telah merenggut ribuan nyawa.
"Zraashhh...!!!"
Hujan turun pun dengan lebatnya.
Air hujan membasahi mayat-mayat yang tergeletak di tanah. Warna merah menghiasi tanah bagai lautan darah. Hembusan angin membuat bau amis yang mulai nyeruak keseluruh arah. Wajah-wajah kelelahan terlihat pada kesatria dan prajurit yang masih bertahan.
Pandangan mata mulai kabur karena derasnya hujan yang turun. Perlahan pasukan timur mulai memperlambat gerak mereka. Jumlah mereka sedikit demi sedikit mulai berkurang.
Pasukan Theora pun telah kehabisan peluru meriam maupun granat. Hanya beberapa yang masih menyimpan benda bulat itu untuk pertahanan terakhir mereka. Para kesatria dan prajurit Theora mulai berjatuhan. Jumlah mereka lebih sedikit dari pasukan lawan.
✨ FAVORITE ❤️, LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊
👉Jika kalian menyukai komedi baca juga karya Author berjudul Bukan Soulmate. Semoga kalian suka😉
Baca juga Cintai Aku Seikhlasmu , bagi yang suka kisah yang menyesakkan dada 😂.
Terima kasih 🙏