
Pagi itu, toko sudah ramai di datangi oleh pelanggan. Namun mereka tampak sedikit kecewa karena sebenarnya yang mereka cari adalah Ji Chang namun mereka tidak menemukan sosoknya.
Setiap pelanggan yang masuk mereka selalu menanyakan kehadiran Ji Chang terlebih dahulu. Ada sedikit rasa kesal di diri Nazyela saat para gadis itu menanyakan Ji Chang.
Hingga siang hari Ji Chang masih belum mendatangi toko bunga Nazyela. Gadis itu mulai bertanya-tanya dalam hati nya.
Sepertinya dia sangat sibuk hari ini.
Ah.. sudahlah, biarkan saja
"Naz, tumben sekali tuan Ji Chang hingga siang begini belum datang juga. Biasanya pagi-pagi sekali dia sudah datang. Dan di jam seperti ini kita sudah nyaris kehabisan stok bunga karena nya"
Nazyela mengamati ruang toko itu. Dan apa yang di katakan Nakuna memang benar. Stok bunga di tokonya masih banyak. Padahan jika ada Ji Chang di waktu siang begini stok bunga di tokonya nyaris habis terjual.
"Mungkin saja dia sibuk"
"Apa anda yakin Naz, dia tidak tahu tentang pertemuan anda dan pangeran?"
Tanya Nakuna penasaran.
"Aku yakin karena aku juga tidak memberi tahu dia, bahkan aku berusaha menghindar agar mereka tidak saling bicara"
Jawab Nazyela percaya diri.
"Apa kau berpikir mereka akan berkelahi karena mu?"
"Itu bisa saja terjadi kan. Karena aku juga telah menceritakan kisah cintaku pada tuan Ji Chang"
Ungkap Nazyela.
"Apa?! Anda menceritakan kisah anda. Itu berarti anda cukup dekat dengannya"
Nakuna sedikit terkejut dengan penuturan nona nya.
"Aku pikir dia lelaki yang bisa aku ajak bicara masalah hidup ku"
Kata Nazyela.
"Awalnya aku juga takut padanya. Namun di balik tampangnya yang dingin itu ternyata dia laki-laki hangat. Aku pikir anda bisa cocok bila bersama dengannya"
Ungkap Nakuna apa adanya.
"Ting...!"
Suara bel pintu menghentikan percakapan Nazyela dan Nakuna.
"Selamat datang tu.... an, yang mulia....!"
Sapa Nakuna tertahan.
Deg.. jantung Nazyela berdebar saat mendengar perkataan Nakuna yang seperti terkejut.
Gadis itu segera berdiri memastikan seseorang yang datang dan di sebut yang mulia oleh Nakuna.
"Jongya?!!"
Gumam Nazyela pelan.
Nazyela terkejut melihat sosok yang berada di hadapannya benar-benar Jongya.
"Apa aku mengganggu?"
"Ti.. tidak. Silahkan duduk yang mulia"
Nazyela sangat gugup.
"Tadi aku mendengar walau pelan kau hanya memanggil ku Jongya. Aku ingin tetap begitu, karena kita juga sedang berada di Theora"
Ujar Jongya.
Jongya duduk bersama dengan Nazyela.
Lalaki itu terlihat tenang dan memandang hangat kepada Nazyela.
"Apa kabarmu Nazyela?"
"A.. aku baik-baik saja"
Nazyela tidak dapat menenangkan degub jantungnya. Terlihat sekali ia sedikit gelisah karena merasa gugup.
"Sukurlah..."
Beberapa saat pun berlalu dan hening, tidak satu patahpun yang keluar dari mulut Jongya maupun Nazyela. Mereka larut dalam pikiran dan kata hati mereka masing-masing.
Jongya dan Nazyela hanya saling mencuri - curi pandang sesekali.
"Kalau begitu aku pamit, tadi aku hanya lewat dan ingin menyapa sebentar"
Ujar Jongya.
"Oh.."
Jongya lalu berdiri dari duduknya di ikuti Nazyela dan melangkahkan kaki ke ambang pintu toko.
"Lain kali aku akan mampir lagi"
Ucapnya sebelum meninggalkan Nazyela.
Nazyela hanya bisa memandang punggung lelaki yang ia cintai mulai menjauh. Lalu ambruk terduduk di lantai.
"Nona!!"
Nakuna bergegas menghampiri Nazyela yang terlihat lemas tak berdaya sambil meletakkan telapak tangan di dadanya.
Jantungnya berdegup dengan cepat sehingga membuat napasnya turun naik. Perlahan Nazyela mencoba menenangkan dirinya dengan mengatur alur napasnya.
"Anda tidak apa-apa? Ayo Naz sebaik nya anda berbaring di dalam?!"
Nakuna lalu bergegas membalikan sign board ke close dan kembali memapah Nazyela menuju kamar istirahat.
"Minum lah Naz.."
Nazyela meneguk minuman itu. Wajahnya mulai terlihat tenang perlahan.
"Cinta kalian menyiksa orang dengan sangat luar biasa"
Nakuna berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Nazyela meresa malu terhadap Nakuna.
"Padahal kalian punya waktu dan kesempatan untuk saling bicara. Lalu apa yang kalian lakukan.. hanya saling diam dan saling memandang saja"
"Entahlah Naku... tiba-tiba rasanya lidah ku menjadi kelu"
Nazyela masih terlihat bingung.
"Ting!"
Suara bel pintu berbunyi
"Siapa sih, padahal aku sudah memberi tanda close tapi tetap saja ada yang masuk"
Gumam Nakuna.
"Pergilah lihat siapa yang datang"
Ujar Nazyela.
Nakuna mengangguk lalu pergi melihat siapa yang datang ke toko mereka.
"Oh... tuan Ji Chang?!"
Nakuna terperangah melihat siapa yang datang.
"Tadi aku mampir kerumah setelah melihat tanda close di pintu. Namun katanya kalian belum kembali jadi aku balik lagi kesini, dan ternyata kalian di dalam. Ada apa? Dimana Nazyela?"
"Nona ada di ruang istirahat tuan"
"Oh.. kenapa, apa dia sakit?"
"Nona mungkin hanya sedikit lelah. Sebentar akan saya panggilkan. Silahkan duduk tuan.."
"Baiklah.."
Ji Chang duduk dengan santai sambil menunggu Nazyela keluar dari ruang istirahat.
"Aku kira anda tidak datang hari ini tuan?"
Ucap Nazyela yang muncul dari sela dinding ruangan.
Suara Nazyela yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Ji Chang.
Gadis itu pun duduk bersama Ji Chang.
"Kau tak apa-apa? Kata asisten mu kau sedang tidak enak badan?"
"Tadi iya.., mungkin karena kelelahan tidak ada yang membantu menjual bunga ku di pagi hari. Jadi aku lelah"
Nazyela sedikit berbohong memberikan alasan.
"Hehehe, apa kau mulai menggoda ku? Apa sebaiknya aku jarang-jarang datang saja biar kau jadi rindu padaku"
"Hehehe...mau kau apakan penggemarmu yang semakin hari semakin banyak tuan? apa yang harus aku katakan pada mereka?"
"Hahaha... kau pintar beralasan"
Nakuna yang melihat ke akraban mereka sedikit merasa kesal pada nona nya.
Coba aja tadi nona bisa bersikap santai menghadapi pangeran, pasti beres kan urusannya. Nona... nona...
Nakuna menggeleng-gelengkan kepala dan pergi ke dapur meninggalkan mereka berdua.
"Bungamu masik banyak kenapa kalian tutup?"
"Sudah aku katakan aku kerepotan menghadapi penggemar mu tuan"
"Hehehe.. baiklah. Aku akan mengurus mereka kau tenang saja"
Ji Chang melangkah mendekati pintu dan membalikkan sign board ke open.
Lalu tersenyum menatap Nazyela yang ikut tersenyum kepadanya.
Selang 45 menit kemudian datang seorang wanita pelanggan toko bunga itu. Setelah ia pergi tak butuh waktu lama para wanita dan remaja mulai berdatangan ke toko bunga itu.
Mereka seperti memiliki komunitas sendiri yang khusus untuk melihat Ji Chang dengan alasan membeli bunga.
"Nah... benarkan apa kataku, penggemar mu sungguh banyak tuan?"
"Hehehe...."
Ji Chang tak sempat membalas ucapan Nazyela karena sibuk meladeni para pelanggan hanya bisa terkekeh mendengar perkataan gadis itu.
Nazyela pun jadi sibuk di balik meja kasir melayani pembayaran dari pelanggan.
Nakuna melihat mereka tersenyum sambil mengikat bunga menjadi buket yang cantik.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.
~Jangan lupa favorit ❤️
~Rate⭐⭐⭐⭐⭐
~Hadiah
~Vote
Terima kasih 🤗