
Nazyela diantar oleh Yojin dengan selamat sampai kerumah. Gadis itu langsung masuk ke kamar dan berganti pakaian serta membenahi wajahnya yang lusuh. JI Chang yang sedari tadi telah sampai duluan sedang terbaring di kamar tamu tak bisa berbuat apa-apa. Nazyela pun menghampirinya untuk melihat keadaannya. Terlihat Ji Chang meringis dalam diam, ia mengalihkan wajahnya ke dinding karena malu terhadap Nazyela.
"Tuan kenapa anda masih pakai celana? Itu akan membuat tuan merasa lebih kesakitan. Sebentar, sepertinya aku punya sesuatu agar tuan lebih leluasa"
Nazyela langsung kembali lagi kekamar nya dan mengambil rok panjangnya yang berbahan tipis dan lembut. Lalu gadis itu kedapur mengambil seutas tali kecil. Gadis itu pun segera mendatangi kamar Ji Chang.
"Nah ini, gunakan ini tuan. Cukup ini saja, anda tidak perlu memakai apa-apa lagi"
Wajah Nazyela memerah sambil memberikan rok panjang miliknya kepada Ji Chang. Gadis itu mau tidak mau harus merawat Ji Chang pasca sunat karena saat ini hanya dialah yang tahu cara menghadapi kondisi seperti itu.
"Bagaimana mungkin hanya memakai ini?"
"Turuti saja tuan, aku yakin Junior anda akan merasa senang diterpa semilir angin"
Ji Chang mengambil rok itu dari tangan Nazyela dengan wajah memerah karena malu.
"Aku akan memandang ke lain. Segeralah berganti.."
Nazyela lalu membaikkan badannya menghadap ke dinding dan memejamkan kedua matanya.
" Ehem... sudah"
Ji Chang tampak malu dan menoleh ke lain.
Nazyela lalu mengikat tali ke atas jendela yang terletak dekat dengan tempat tidur Ji Chang.
"Nah tuan ini, ikatkan ke kain di atas junior anda agar terangkat sedikit"
Ji Chang mengikuti nasehat Nazyela, dan benar saja kini ia tidak perlu meringis kesakitan.
"Jika makanan mu betul dan kau juga rajin mengolesi salap, aku yakin seminggu kemudian sudah sembuh tuan"
"Apa bisa langsung digunakan?"
Nazyela tersentak mendengar pertanyaan Ji Chang. Gadis itu langsung menoleh ke arah lain.
"Ehem... aku juga tidak tahu tuan. Aku akan menyiapkan makan siang untuk mu. Oh.. ya, sementara untuk membersihkan diri anda menggunakan lap saja. Aku akan menyiapkan bila waktunya tiba"
Nazyela segera keluar dari kamar Ji Chang setelah mengatakan apa yang perlu ia sampaikan.
Ia ke dapur dan memisahkan bahan makanan yang sementara tidak boleh di makan Ji Chang untuk mempercepat kesembuhannya.
Setelah masakan jadi Nazyela segera mengantarkan ke kamar dan menunggui Ji Chang makan.
"Enak... ternyata kau bisa masak juga"
"Tidak juga tuan, aku hanya bisa masak makanan itu saja"
"Setelah kita menikah nanti, aku tidak akan memintamu untuk masak setiap hari. Lakukan apa yang kau mau dan suka, aku tidak akan melarang mu"
"Jadi aku masih bisa menjaga toko tuan?"
"Tentu saja, dan aku juga akan mampir setiap hari seperti biasa. Jika sudah kelar kita akan pulang kerumah"
"Aku setuju"
Senyum bahagia mewarnai suasana siang itu. Baik Nazyela maupun Ji Chang sudah siap untuk menempuh hidup baru mereka kelak.
*****
Hari berganti hari, tak terasa Ji Chang mulai pulih dan bisa bergerak kesana kemari meski belum bisa melakukan kegiatannya secara normal. Cara jalannya belum begitu normal, hingga ia masih menghabiskan waktu di rumah Nazyela.
"Tok... tok... tok! Permisi tuan dan nona, ada tamu yang menunggu nona di ruang tamu"
Nakuna mengetuk pintu, dan membawa kabar untuk Nazyela.
"Sebentar ya.."
Nazyela meminta ijin kepada Ji Chang yang sedang bersantai membaca koran sambil menikmati kopinya sore itu.
"Pergi lah..."
Ucap Ji Chang sambil tersenyum.
Nazyela pun menuju ruang tamu, dan disana sudah ada Suly yang sedang duduk menunggunya.
Bukankah dia kekasih Jongya? Ada apa ya? Apa harus terulang lagi peristiwa seperti dulu?
Nazyela terdiam di sebelum mendekat ke arah sofa, pikirannya sudah kalut mengetahui siapa yang datang mencarinya.
"Oh.. kau Nazyela?"
Suly berdiri menyapa Nazyela ketika tak sengaja melihat gadis itu terdiam dan tidak datang menghampirinya.
"Benar, anda...."
Suly mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Nazyela.
Nazyela yang sambil berjalan mendekati Suly lalu meraih tangan gadis itu dan menjabatnya.
Apa?! Mereka sepupu?Apa selama ini aku sudah salah paham?
"Duduklah..."
Nazyela mempersilahkan Suly duduk kembali.
"Aku kesini hanya ingin tahu, apa kau tidak mencintai Jongya lagi?"
Apa? kok tiba-tiba nanya begini?
"Maksud nona?"
"Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu sekarang terhadap Jongya?"
"Maaf nona, sepertinya pertanyaan itu sudah tidak pantas lagi untuk di jawab. Aku akan segera menikah dalam waktu dekat ini"
"Oh.. pantas saja dia pulang ke negaranya jadi ini alasannya"
Gumam Suly pelan namun masih bisa didengar Nazyela meski samar.
Jadi Jongya sudah kembali..
"Aku kira kalian selama ini masih bertahan dengan perasaan masing-masing. Ternyata kau sudah mulai membuka hati untuk yang lain. Kasihan sekali sepupuku"
Nazyela hanya menggigit bibir bawahnya merasa Suly sedang kecewa padanya. Gadis itu mencoba untuk tetap tenang.
"Aku kira kalian dekat sebagai sepasang kekasih. Beberapa kali aku melihat kalian bersama dan sangat dekat. Untuk itu aku mencoba mencari kebahagianku. Dan yah.. aku akan menikah"
"Jadi begitu rupanya. Bukan salah mu sepenuhnya karena sepupuku juga orang yang tidak bisa mengekspresikan perasaannya. Ya sudah.. mau gimana lagi. Aku ucapkan selamat padamu dan semoga kau bahagia dengan calon suamimu"
Suly pun beranjak dari duduknya. Suly menatap Nazyela sesaat lalu tersenyum dan kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
Nazyela tertegun, dan kembali duduk dan larut dalam pikirannya. Ternyata selama ini dia sudah salah paham terhadap Jongya. Namun nasi sudah menjadi bubur, Ji chang yang kini menjadi calon suaminya pun adalah pria yang sangat baik menurutnya. Ia pun tidak merasa menyesal atas segala keputusannya.
Nazyela lalu kembali menemui Ji Chang setelah menutup pintu rumahnya.
"Siapa?"
Tanya Ji Chang setelah melihat Nazyela masuk dalam kamarnya.
"Dia mengatakan kalau dia sepupu pangeran"
"Oh... lalu?"
"Yah.. dan aku mengatakan kalau kita akan segera menikah"
"Begitu kah? Kemari lah.. duduknlah di dekatku"
Nazyela lalu menarik kursinya dan duduk di dekat Ji Chang. Ji Chang meraih tangan Nazyela lalu menggenggamnya dengan hangat.
"Nanti kau ingin memiliki anak berapa?"
"Haruskah kita membahas itu di saat junior mu terluka tuan?"
"Hehehe... kau berani mengejekku ya?"
"Hehehe... tidak tuan, baiklah aku ingin 4 anak. 2 laki-laki dan 2 perempuan"
"Wah... lihatlah.. kau agresif juga ternyata. Aku kira kau akan menyebut kan 2"
"Hehehe.. aku berencana 6 kalau bisa"
"Hahaha... kau sungguh mengejutkan"
Obrolan mereka pun di warnai gelak tawa bahagia meski mereka baru sekedar berangan-angan. Baik Ji Chang maupun Nazyela sama-sama memancarkan senyum kebahagiaan.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.
~Jangan lupa favorit ❤️
~Rate⭐⭐⭐⭐⭐
~Hadiah
~Vote
Terima kasih 🤗
👉Jika kalian menyukai komedi baca juga karya Author berjudul Bukan Soulmate. Semoga kalian suka😉