Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 80



"Se.. se.. lamat pagi yang mulia?"


Nazyela menunduk hormat menyapa Jongya.


Jongya menganggukan kepala menjawab sapaan Nazyela.


"Duduk lah.."


Nazyela lalu duduk setelah mendengar ucapan Jongya.


Tak banyak yang bersuara karena mereka masing-masing hanya berkata dalam hati. Tidak ada yang ingin menanyakan kenapa Nazyela menginap dirumah itu dan tidak pula Nazyela mau menceritakan permasalahannya.


"Makan lah yang banyak"


"Terima kasih nek. Dan aku juga ingin pamit setelah ini, aku akan kembali ke rumah"


"Begitu kah, apa kau tidak ingin menginap lagi semalam disini?"


"Tidak nek, aku tidak ingin menambah ke khawatiran para asisten ku dirumah. Terima kasih nenek begitu baik padaku"


"Aku senang jika rumah ini ramai. Aku tidak akan menahan mu, tapi berkunjung lah jika kau ingin. Pintu ini akan selalu terbuka untukmu"


"Terima kasih nek"


Nazyela menikmati sarapan paginya tanpa memandang Jongya yang sesekali mencuri pandang dirinya.


Setelah selesai makan, Nazyela pun pamit pulang dan di antar oleh Wilson dan juga Jongya.


Nazyela yang duduk di belakang bersama Jongya merasa canggung bukan main.


"Bagaimana kabarmu?"


Jongya membuka obrolan.


"Aku baik-baik saja yang mulia"


"Bagaimana kau bisa menginap di rumah nenekku?"


"Ah... secara tidak sengaja aku bertemu Wilson dan ia mengajak ku kerumah nenek"


"Tapi aku heran kenapa kau mau saja di ajak Wilson?"


"Ada hal yang tidak bisa aku ceritakan yang mulia, tapi aku sangat berterima kasih Wilson sudah membawaku ke tempat anda"


Wilson hanya melihat mereka dari kaca mobil.


"Baiklah aku tidak akan menanyakan lagi. Jika kau butuh tempat bersembunyi datanglah kapan saja kau mau"


Nazyela merasa malu mendengar ucapan Jongya. Walau pun gadis itu tidak menceritakan masalahnya, namun secara garis besar mereka bisa menebak apa yang terjadi padanya.


"Sudah sampai nona"


"Oh..."


Jongya lalu turun dan membukakan pintu mobil untuk Nazyela. Gadis itu keluar dan langsung berjalan menuju pintu rumahnya diikuti Jongya dan Wilson.


"Terima kasih kalian sudah mengantarkan aku"


"Ketuk lah.. aku akan lebih tenang jika mereka sudah menyambutmu"


Ucap Jongya penuh perhatian.


Nazyela lalu mengetuk pintu. Setelah beberapa kali mengetuk akhirnya pintu itu terbuka juga.


"Nona?!! Anda dari mana saja? Kenapa tidak pulang? Apa yang terjadi? Anda tidak apa-apa? Apa anda terluka?"


Sederet pertanyaan tanpa henti dilontarkan Nakuna dengan wajah cemas nya sambil memeluk Nazyela lalu memperhatikan gadis itu dengan seksama.


"Aku baik-baik saja Naku, maaf membuat mu khawatir"


"Aah sukurlah..."


Nakuna memegang dadanya untuk memastikan jantungnya tenang setelah tahu nona nya baik-baik saja.


"Yang mulia"


Sir. Yukil menundukan kepala memberi hormat pada Jongya. Pemuda itu menjawab dengan anggukkan kepala.


"Silahkan masuk nona dan yang mulia"


Ujar Sir. Yukil.


"Oh.. maaf kan saya yang mulia, saya sampai lupa memberi salam"


Ucap Nakuna yang baru tersadar dari rasa cemasnya.


"Tidak apa-apa, masuk lah Nazyela.."


Ujar Jongya.


Mereka pun masuk ke dalam dan berkumpul di ruang tamu. Nakuna segera menyiapkan minuman untuk mereka semua.


"Tuan Ji semalam menunggu anda begitu lama disini nona, ia terlihat begitu cemas"


Ucap Nakuna setelah meletakkan minuman beserta camilan untuk mereka.


"....."


Hening tidak ada satu pun yang bicara, bahkan Nazyela pun tidak menjawab perkataan Nakuna.


Gadis itu merasa sudah salah bicara hingga wajahnya berubah gelisah.


Ucap Jongya memecah kesunyian. Lelaki itu seakan mengerti bahwa Nazyela tidak ingin masalahnya di bicarakan. Ia pun berinisiatif untuk pergi agar gadis itu lebih tenang dan tidak membencinya.


"Terima kasih yang mulia sudah mengantarkan saya sampai kerumah"


Jongya hanya tersenyum menjawab ucapan terima kasih dari Nazyela. Pemuda itu pun berdiri di ikuti Wilson dan melangkah meninggalkan ruang tamu. Namun di ambang pintu, ia berhadapan dengan Ji Chang yang baru saja datang dan hendak masuk ke dalam rumah itu.


Jongya menatap tajam Ji Chang. Namun Ji Chang tetap tenang menghadapi tatapan Jongya.


"Ucapan ku waktu itu tidak pernah aku tarik"


"Dan aku juga tidak ingin melepaskan Nazyela"


Keduanya saling membalas perkataan dalam intonasi pelan agar tidak terdengar oleh Nazyela.


Jongya pun pergi karena ini bukanlah masalahnya. Namun lelaki itu bukan pergi begitu saja, ia masih menunggu di dalam mobil yang tak jauh dari rumah Nazyela. Lalaki itu ingin menyaksikan sendiri bahwa wanita pemilik hatinya tidak kenapa-kenapa.


"Anda tidak berada di dalam saja yang mulia?"


"Kalau Nazyela meminta maka aku akan berada disana. Tapi aku tahu gadis itu ingin menyelesaikan sendiri permasalahannya"


Wilson akhirnya tidak bertanya lagi. Mereka pun menunggu sampai Ji Chang keluar dari rumah Nazyela.


*****


Di dalam rumah.


"Aku ingin bicara dengan nona kalian"


Ji Chang meminta secara halus agar kedua asisten Nazyela itu meninggalkan mereka berdua.


"Maaf saya tidak berani mengambil resiko tuan, karena anda nona kami tidak pulang semalaman"


Ucap Sir. Yukil tegas.


"Tidak apa-apa Yukil. Pergilah..."


Ucap Nazyela memastikan kepada Sir. Yukil bahwa ia akan baik-baik saja.


Lelaki itu dan Nakuna lalu meninggalkan mereka berdua untuk berbicara. Tetapi mereka bukan hanya pergi begitu saja. Seperti yang di lakukan Jongya, mereka juga menunggu nonanya di balik dinding sebuah ruangan. Bahkan mereka masih bisa mendengarkan percakapan sepasang kekasih itu.


"Haaah, mungkin kau akan bosan mendengar alasanku. Aku tidak akan berkata apa-apa selain ayo kita menikah dalam waktu dekat ini. Mungkin kau sudah mendengar percakapan kami tadi malam tapi kau belum mendengar penolakan ku atas Yoona pada tuan besar. Maafkan aku yang sudah menyakiti mu tanpa sengaja. Jadi ayo kita menikah.. aku juga tidak ingin ada kesalahan pahaman di antara kita terus menerus"


Bohong jika Nazyela tidak bersedih mendengar ucapan Ji Chang. Gadis itu tentu telah meneteskan air mata. Entah itu perasaan kesal, sedih maupun terharu semua campur manjadi satu.


Perlahan Ji Chang mencoba meraih tangan Nazyela dan menggenggamnya. Nazyela tidak menolak meski sakit dan kecewa namun dalam hati kecilnya percaya kalau Ji Chang tidak mungkin melakukan hal itu padanya.


"Ayo kita menikah?"


Kembali Ji Chang mengajak Nazyela untuk menikah.


Nazyela menatap Ji Chang mencari kesungguhan dimata lelaki itu.


"Baiklah ayo kita menikah"


Nazyela pun merasa lelah untuk perjalanan cintanya yang selalu mengalami jatuh bangun. Ia pun memutuskan untuk segera mengakhiri masa lajangnya.


"Tapi aku punya permintaan tuan, kita menikah ala muslim karena aku sedang mempelajari agama itu dan ingin memeluk ajarannya"


Nazyela terpaksa berbohong, karena sejatinya dalam tubuhnya adalah Kuin ia tidak mau menikah kalau bukan secara islami.


"Muslim?"


"Apa anda pernah mendengar tentang agama Islam tuan?"


"Sepertinya aku pernah mendengar"


"Cobalah mencari tahu tuan. Nanti kita sama-sama memeluk agama itu sebelum menikah"


"Baiklah.. untukmu apa pun akan ku lakukan"


"Dan satu hal lagi tuan, dalam Islam umatnya harus di sunat sebelum menikah. Apakah anu mu sudah di potong tuan?"


"Anu ku? Anu itu apa?"


"Maksud ku alat kelamin mu"


"Apa?! Kenapa harus dipotong?! Lalu bagaimana aku akan melakukan itu padamu jika punya ku tidak ada lagi?!"


Nazyela menepuk jidatnya. Ia bingung bagaimana harus menjelaskan pada Ji Chang.


"Intinya, carilah orang yang sudah memeluk agama Islam disini. Lalu tanyakan padanya bagaimana menikah dengan cara Islami. Dan jangan lupa tanyakan apa itu sunat dan bagaimana caranya. Nah sekarang tuan kembali lah.. aku ingin istirahat"


Mau tidak mau Nazyela mendorong Ji Chang keluar pintu dan penutupnya. Gadis itu sangat malu menghadapi Ji Chang yang tidak tahu apa-apa.


Ji Chang kebingungan menatap pintu yang sudah di tutup. Sementara itu, dari kejauhan Jongya sudah mengira mereka pasti akan bertengkar dan setelah melihat Ji Chang di dorong paksa oleh Nazyela.


📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.


~Jangan lupa favorit ❤️


~Rate⭐⭐⭐⭐⭐


~Hadiah


~Vote


Terima kasih 🤗


👉Jika kalian menyukai komedi baca juga karya Author berjudul Bukan Soulmate. Semoga kalian suka😉