
Hujan mereda setelah hari mulai gelap.
Bulan mulai menampakkan dirinya perlahan menyinari dalam kegelapan. Kilatan pedang yang di tempat cahaya bulan menjadi panduan para pertarung yang masih beradu.
Petarungan sengit masih terjadi. Baik pihak Theora maupun timur sudah tidak banyak memiliki kesatria lagi. Jumlah korban peperangan ini sudah mencapai dua ribu lebih nyawa. Mayat-mayat bergelimpangan bagai gundukan sampah.
Dengan napas yang terengah-engah karena kelelahan Jongya terus mencoba mengalahkan sisa-sisa lawan yang ada.
"Jadi kau pria pecundang yang telah membuang tuan putri kami!! AKAN KU BUNUH KAU MATI LAAH...!! "
Seorang kesatria timur menerjang Jongya dengan sekuat tenaga. Jongya yang mulai kehabisan tenaga seketika terjungkal mendapat dorongan dari kesatria itu. Belum sempat Jongya mencoba untuk bangkit kembali ia di hujam tendangan keras serta tebasan pedang yang mengarah ke tubuhnya. Tendangan tak dapat dihindari namun Jongya dapat menangkis sabetan pedang itu dengan pedang nya.
"Hah.. hah.. hah.. !!"
Napas Jongya tersengal-sengal.
"Hohoho... masih sanggup melawan ternyata. MATI LAH!! "
Kembali kesatria itu mengangkat pedang nya dan memberikan serangan bertubi-tubi kepada Jongya.
Jongya yang sudah sangat kelelahan akhirnya tak mampu menghindari serangan terakhir kesatria itu dan sabetan pedang pun mengenai kaki dan lengannya.
" Aaargh...!!"
Rintihan kesakitan keluar dari mulut Jongya. Beruntung tangan dan kaki nya tidak putus karena sabetan itu. Namun Jongya tidak dapat lagi melindungi dirinya sendiri.
"Jongya!! "
Gumam Argen saat mendengar teriakan kesakitan yang tak berada jauh darinya. Argen mengenali suara adiknya itu meski dalam gelapnya malam. Ia pun berusaha sekuat tenaga mengalahkan kesatria yang sedang di hadapinya untuk segera menghampiri Jongya.
" Khekeke.... pergilah ke neraka!!!"
Kemarahan dari kesatria timur siap menghantam Jongya.
Pemuda itu telah pasrah akan membela diri dengan sisa kekuatan yang ada.
"Khuk.. uhuk..!! "
Darah segar keluar dari mulut kesatria yang nyaris membunuh Jongya.
Jongya terkejut dirinya lepas dari maut yang hampir merenggut nyawanya. Kesatria itu langsung roboh ke tanah setelah pedang yang menghunus ke jantungnya di tarik paksa oleh sang pemiliknya yaitu Daniel Bolafra.
Hembusan napas yang keras menandakan rasa lelah yang sangat berat di rasakan oleh pemuda itu. Daniel lalu memapah Jongya mencoba berjalan untuk mencari tempat yang lebih aman.
Setelah berada di dekat meriam yang tak lagi berfungsi karena kehabisan pelurunya, Daniel menyandarkan tubuh Jongya di meriam itu.
"Tunggu lah.. perang ini akan segera berakhir. Apa kau masih punya granat? "
"Jongya merogoh kantung kain tempat penyimpanan granat di pinggangnya. Namun benda bulat itu tak dapat ia temukan. Ia pun menggelengkan kepalanya.
Argen berlari menghampiri Jongya dan Daniel.
" Dia terluka"
Ungkap Daniel menjelaskan keadaan Jongya.
"Terima kasih"
Jawab Argen singkat karena Daniel telah berusaha menolong Jongya.
Daniel pun mengganggukan kepala.
" Pakailah.. saat terdesak. Aku akan segera kembali"
Daniel menyodorkan granat di tangannya kepada Jongya, pemuda itu pun mengambilnya dan menganggukan kepala. Daniel lalu pergi bergabung dengan Khiden ayahnya yang masih bertarung dengan beberapa kesatria timur yang tersisa.
Tanpa banyak kata Argen merobek kain bendera dan melilitkannya ke lengan serta kaki Jongya yang terluka. Darah segar yang keluar dari luka itu pun terhenti sesaat.
Ia lalu menepuk bahu adiknya dan pergi membantu mereka yang masih mencoba untuk menyelesaikan peperangan ini.
"DUAARR..!! "
Satu ledakan granat membinasakan beberapa prajurit dan kesatria timur. Ledakan itu membakar gerobak senjata pasukan timur hingga memberikan cahaya di kegelapan malam dalam sisa-sisa pertempuran itu.Semua mata mengamati area sekitar setelah mendapat penerangan dari ledakan itu.
Pasukan kedua negara itu kini dapat di hitung dengan mata. Beberapa pasukan timur terlihat mundur menancapkan bendera putih lalu pergi dengan menaiki kuda yang masih hidup.
Argen, Daniel, dan Jongya sedikit bernapas lega.
Perang itu pun akhirnya usai. Sir. Kruf yang terluka goresan di pipinya dan lengannya mengarahkan para kesatria yang tersisa untuk mencari mereka yang masih bisa diselamatkan. Musuh yang terluka namun selamat di tangkap dan di obati. Mereka yang tewas di kumpulkan menjadi satu dan di kuburkan dalam satu lubang besar.
Para kesatria dan prajurit Theora yang tewas di kumpulkan dan akan di bawa pulang untuk di kuburkan oleh keluarga mereka.
Di berbagai kota di Theora rakyat bersorak sorai menyambut kemenangan setelah Khiden datang kepada raja dan menyampaikan bahwa perang telah berakhir. Namun sebagian lagi menangis menyambut kedatangan mayat keluarga mereka.
Kurang lebih 7 ratusan kesatria dan prajurit Theora yang tewas akibat peperangan ini. Raja menunjukan rasa belasungkawanya dengan memberikan sekantung koin emas pada keluarga yang di tinggalkan sebagai tanda jasa yang telah di berikan oleh mereka yang gugur dalam peperangan.
Histon Kley juga ikut membantu raja dengan menyumbangkan 100 peti koin emasnya kepada raja agar diberikan kepada keluarga-keluarga itu.
*****
Sementara itu, di negara lain.
Nazyela yang terpukau akan indahnya paris lupa akan masalah hidup yang menghampirinya.
"Cantik sekali... "
Nakuna terkagum melihat menara itu.
Benar.. Eifel memang sangat indah. Kalau di kehidupan dulu belum tentu aku bisa ke tempat ini
Nazyela termenung duduk dikursi taman tepi sungai yang menghadap ke menara.
Adrian dan Naila yang bergandengan tangan berada tak jauh dari mereka sekilas mencium pipi istrinya.
"Kau senang?"
Tanya Adrian pada Naila.
Naila mengangguk senang dan tersenyum.
"Sukurlah Nazyela terlihat senang berada disini"
Adrian melihat ke arah adiknya.
Naila pun ikut memandang ke arah Nazyela dan menyandarkan kepalanya di ceruk leher Adrian.
"Kau benar sayang, hah.. jika dia tahu di negara kita sedang berperang karena dirinya aku rasa kita tidak bisa melihat senyum itu"
"Ssttt... jangan sampai terdengar olehnya. Aku berencana akan membeli rumah di luar negeri untuk tempat tinggal Nazyela sementara"
"Benarkah?"
Adrian mengangguk menjawab pertanyaan Naila.
"Kak.. aku lapar, bagiamana jika kita mencari restoran yang enak?"
Ajak Nazyela dari kejauhan dan menghentikan pembicaraan Adrian pada istrinya tanpa diketahui olehnya.
"Baiklah.. ayo kita cari tempat yang enak"
Ajak Adrian kepada Adiknya.
Mereka pun mendatangi restoran yang menyajikan makanan Indonesia selain makanan asli negara itu.
"Kak.. aku ingin makan di sini!"
Nazyela terlihat bersemangat. Tentu ia sangat merindukan makanan dari negara di kehidupannya yang sebelumnya.
Mereka pun memesan kursi. Nazyela mengajak Nakuna dan Sir. Yukil untuk mencicipi makanan Indonesia. Ia mengatakan bahwa ingin mencoba masakan yang terkenal dengan beraneka ragam bumbu itu. Dua sejoli itu pun tak menolak karena melihat nona nya yang sangat bersemangat.
Makanan pun tiba setelah mereka menunggu selama 20 menit.
Sedangkan Adrian dan Naila menikmati makan malam berdua yang duduk tak begitu jauh dari mereka bertiga.
Mereka menikmati masakan ala Eropa dengan santai.
✨ FAVORITE ❤️, LIKE dan KOMEN ya guys... 🙏😊
👉Jika kalian menyukai komedi baca juga karya Author berjudul Bukan Soulmate. Semoga kalian suka😉
Baca juga Cintai Aku Seikhlasmu , bagi yang suka kisah yang menyesakkan dada 😂.
Terima kasih 🙏