
Bulan beralih bulan, perut Nazyela semakin membesar. Karena takut terjadi sesuatu padanya, Jongya memutuskan untuk tidak mengijinkan isterinya bepergian kemana-mana. Walhasil, setiap hari selalu ada yang berkunjung ke mensionnya.
Nazyela tidak pernah merasa kesepian. Setiap hari Naila membawa putranya bermain ke mensionnya. Ada juga sang nenek yang sementara waktu ingin tinggal di kediaman cucunya. Hal ini membuat Nazyela senang karena ia di datangi orang-orang terdekat yang ia sayangi.
"Perut mu semakin membuncit, berapa lama lagi kau akan melahirkan?"
Tanya Suly sambil memangku Giano.
"Dua bulan lagi"
Jawab Nazyela sambil mengusap lembut perutnya.
"Bagaimana kau melakukannya dengan perut sebesar itu?"
Celetuk Suly.
"Uhuuk... uhuk.. uhukk..!"
Nazyela terbatuk-batuk ketika sedang meneguk air karena di serang Suly dengan pertanyaan seperti itu.
"Hahahaha, itu mudah. Gairah mu akan mengatur posisi yang enak untukmu".
Jawab Naila.
"Kalian cocok sekali".
Ungkap Nazyela.
Ngeri banget kalau udah 2 orang ini ketemu, obrolan nya kayak aliran listrik, penuh kejutan.
"Apa kau juga begitu?"
Kembali Suly menanyakan hal itu pada Nazyela.
"Tidak, sudah berapa bulan aku tidak melakukannya"
Jawab Nazyela jujur.
"Wah... kasihan sekali pangeran, ia pasti stres mimikirkan anu nya, hehehe... "
Ungkap Naila sambil terkekeh.
"Coba kau konsultasi sama dokter nak, mungkin ada solusi yang baik untuk hubungan kalian"
Kata nenek yang baru saja bergabung dan tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
"Oh.. nenek, baiklah nek"
Nazyela tersenyum kepada sang nenek yang memegang lembut tangannya.
Perbincangan terus berlanjut, hingga menjelang sore hari Naila, dan Suly pamit pulang.
*****
Ketika malam mulai larut, Jongya duduk dalam ruang kerjanya. Nazyela menghampiri sang suami yang belum kunjung datang ke kamar mereka.
"Kau masih kerja sayang? Ini sudah larut malam"
Nazyela berjalan perlahan mendekati suami dengan perut buncitnya.
"Kenapa menyusul kemari? Kau bisa kelelahan sayang"
Jongya bergegas menghampiri sang isteri dan membawanya perlahan duduk di sofa.
Lelaki itu lalu mengusap lembut perut Nazyela, dan menciumnya.
"Sehatlah terus anakku, jangan repotkan ibumu"
Jongya berjongkok dan membelai perut istrinya.
"Sayang, ku dengar kau belum makan malam, mau aku temani. Jangan terlalu keras bekerja, jangan membuat ku cemas kalau kau menjadi sakit"
Ucap Nazyela sambil membelai rambut suaminya.
"Kau mau makan dengan ku?"
Jongya menatap isterinya lembut dengan posisi masih berjongkok.
"Tidak"
Jawab Nazyela singkat.
"Kalau begitu aku juga tidak ingin makan"
"Jangan begitu...,baiklah aku akan makan camilan"
Kata Nazyela mengalah agar Jongya mau mengisi perutnya.
"Wil, siapkan makan malam untuk ku dan camilan untuk istriku"
Nazyela sedikit terkejut karena ternyata Wilson juga ada dalam ruangan itu. Ia menjadi sedikit malu karena baru menyadari lelaki itu mungkin melihat adegan dia dan Jongya.
"Baik yang mulia"
Jawab Wilson singkat dan segera berlalu dari hadapan mereka.
"Aah, kau masih mempekerjakan Wilson sampai selarut ini? Aku yakin besok kau akan di amuk Suly sayang"
Nazyela mengingatkan Jongya, betapa galaknya sepupu suaminya itu.
"Biar saja, aku sengaja ingin menyiksa mereka"
"Apa karena kau tidak bisa melakukan hubungan badan denganku hingga kau juga tidak ingin mereka melakukannya? Hehehe kau kejam sayang. Pantas saja kalau Suly membalasmu"
Nazyela terkekeh melihat kelakuan suaminya yang kekanak-kanakan.
"Kau sebenarnya di pihak siapa sayang, aku apa mereka?"
"Tentu saja kau sayang, tapi aku tidak ikutan jika kau dimarahi Suly"
Ungkap Nazyela masih terkekeh.
Wilson datang dan berkata di ambang pintu.
"Kenapa cepat sekali?"
Tanya Nazyela pada Wilson.
"Masih ada beberapa pelayan yang belum tidur nona, dan saya sudah minta mereka untuk berjaga jika yang mulia ingin makan malam"
Jelas Wilson.
"Cekatan sekali"
kata Nazyela.
"Terima kasih nona"
Wilson membungkuk hormat setelah mendapat pujian dari Nazyela.
"Ehem..., jangan memujinya berlebihan. Itu sudah tugasnya"
Ujar Jongya yang tampak sedikit cemburu karena Wilson mendapat perhatian dari sang isteri.
Mereka pun berjalan menuju ruang makan. Disana telah tersaji beberapa menu makanan dan 2 orang pelayan yang menunggu mereka.
"Wah... kelihatannya enak"
Mendadak Nazyela menjadi lapar melihat menu di atas meja makan itu.
"Pelayan siap kan piring untuk isteri ku?!"
"Dan juga Wilson?!"
Sambung Nazyela cepat.
Jongya bingung sekaligus kesal karena isterinya perhatian pada pengawalnya. Ia menatap Wilson dengan tajam.
"Ehem..."
Wilson berdehem karena di tatap oleh sepupu isterinya. Ia tidak merasa takut malah tersenyum tertahan karena sikap pangerannya itu lucu baginya. Wilson sangat berdedikasi untuk urusan pekerjaan dan tugasnya karena Jongya adalah tuannya sekaligus sahabat baginya. Sekalipun Jongya kerap memarahinya, namun ia yakin itu adalah bentuk perhatian Jongya untuknya.
"Kenapa kau jadi kejam pada Wilson sayang, kalau dia mati siapa yang mengurusmu. Jangan lupa jasa-jasanya selama ini. Susah senang ia selalu ada di dekatmu"
Nazyela mulai mengomeli suaminya.
"Baiklah...baiklah..., kau tenanglah sayang, marah-marah, itu sangat tidak baik untukmu dan anak kita"
Ujar Jongya mencoba menenangkan isterinya sambil tersenyum lembut.
"Pft...."
Wilson tertawa tertahan melihat pangerannya langsung takluk setelah di marah sang isteri.
"Ck!!"
Namun Jongya yang sekilas mendengar tawa itu melirik tajam ke arah Wilson.
"Maafkan saya yang mulia"
Wilson menundukkan kepala.
"Duduklah Wil, kau pasti juga belum makan"
Ajak Nazyela.
Tanpa ragu Wilson duduk di ujung meja menjauh dari mereka. Tentu saja kesempatan itu tidak di sia-siakan olehnya. Karena sedari tadi perutnya sudah keruyukan mencium aroma masakan.
Mereka pun menikmati makan malam yang sudah sangat larut itu.
"Pulang lah Wil, isteri mu pasti sudah menunggu dengan cemas"
Ujar Nazyela setelah mereka selesai makan.
"Baik nona, kalau begitu saya pamit".
Tanpa ragu Wilson langsung bergegas melakukan apa yang di perintahkan Nazyela. Ia menundukkan kepala lalu segera melangkah meninggalkan ruangan itu.
"Sayang.. aku belum mengijinkan dia untuk pulang?!"
Kata Jongya pada isterinya.
"Kau dengar tidak aku tuanmu kau tidak boleh pulang seka.. mpph..mpph.."
Kata-kata Jongya untuk Wilson terhenti dan tak terdengar lagi setelah Nazyela mencium bibirnya dengan paksa, namun segera di sambut sang suami dengan lembut.
Adegan itu membuat Wilson terkekeh saat melihat sekilas sang tuan yang mengomelinya.
"Jangan menggodaku, kau tahu sayang itu sangat menyakitkan"
Ungkap Jongya yang menjatuhkan kepalanya di bahu sang isteri sambil menghela napas panjang.
"Siapa bilang aku hanya menggoda? Atas saran nenek, aku tadi konsultasi ke dokter. Dan hasilnya akan aku praktekkan malam ini"
Nazyela tersenyum menggoda kepada sang suami.
Mendengar hal itu Jongya langsung tersenyum lebar. Dan tidak menyia-nyiakan waktu, lelaki itu segera menuntun isterinya berjalan perlahan menuju kamar mereka. Dan mereka pun melakukannya.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.
~Jangan lupa favorit ❤️
~Rate⭐⭐⭐⭐⭐
~Hadiah
~Vote
Terima kasih 🤗