
Hari demi hari dilalui Nazyela terasa berat. Gadis itu berusaha menghibur diri sendiri dengan menjalani aktifitas seperti biasanya. Ia selalu berusaha untuk menemui Jongya bila ada kesempatan. Tetapi pemuda itu terus menghindar darinya. Hingga satu saat di kota Brigfresh secara tak sengaja mereka bertemu di sebuah kafe di dalam hotel kecil.
Nazyela sedang menikmati tehnya sambil menunggu Nakuna membereskan barang-barangnya bersiap kembali ke kediamannya. Ia terlihat asik melihat suasana hingga matanya tanpa sadar mengamati pria yang menggunakan jubah yang menutupi hingga ujung kepalanya. Pria itu menarik perhatiannya dengan postur tubuh yang mirip dengan pangeran Jongya.
Saat pria itu berbalik badan, sekilas wajahnya benar-benar mirip Jongya. Nazyela segera bangkit dari duduknya dan mengejar sosok lelaki yang hendak meninggalkan penginapan itu. Sir. Yukil yang bertugas mengawal nonanya mengikuti kemana nonanya berlari.
"Berhenti!!"
Teriak Nazyela kepada lelaki bertudung itu.
Gadis itu lalu berjalan mendekat dan menarik tudung kepala untuk melihat wajah dibalik jubah itu.
"Pa... pangeran?!"
Suara Nazyela tertahan sambil menutup mulutnya dengan tangannya. Gadis itu mundur beberapa langkah kebelakang, seakan tak percaya siapa yang sedang berada di hadapannya.
Berbulan-bulan ia mencari lelaki itu. Dan bertemu dalam keadaan seperti ini. Pemuda itu tampak lebih kurus dari sebelumnya. Wajah putihnya terlihat memucat. Hati Nazyela sedih bercampur bahagia bertemu lelaki itu. Debaran jantungnya kian berdetak dengan laju. Rindu yang ia tahan selama ini telah sampai di puncaknya. Ingin ia mendekat dan memeluk lelaki itu. Tapi kakinya terasa kaku untuk melangkah. Air mata dipelupuk sudah menggenang dan siap untuk jatuh.
"Kenapa selama ini yang mulia menghindar?"
Jongya hanya terdiam ditempatnya. Sekalipun ia tak menatap wajah gadis yang sangat merindukannya.
"Ini hanya salah paham, waktu itu saya mencoba untuk menjelaskan. Tetapi yang mulia pergi begitu saja. Saya sudah mundur dari regina?!"
Nazyela berusaha menjelaskan apa yang terjadi selama ini. Ia sangat berharap lelaki itu tidak menjadi salah paham lagi pada dirinya.
Jongya sedikit tersentak mendengar pernyataan Nazyela. Namun tetap saja ia tak bergeming di tempatnya. Tatapannya mengarah ke lain.
Nazyela yang melihat sikap dingin Jongya terhadap dirinya merasa begitu sakit ia rasakan. Jantung yang berdetak karena rasa bahagia itu terasa jatuh begitu saja.
"Hiks...hiks...hiks...Katakanlah sesuatu jangan diam saja. Sebegitu besarkah kesalahan saya hingga yang mulia seperti ini. Hiks.."
Air mata tak lagi terbendung. Hatinya begitu terluka mendapat perlakuan dingin dari Jongya.
Lelaki itu menghela napas lalu tertunduk.
Kemudian menatap teduh Nazyela yang terisak tangis.
"Pergilah... kita tak mempunyai hubungan apapun. Kurang dari 2 bulan lagi aku akan menikah. Jagalah diri dan kesehatanmu baik-baik lady.."
Jongya menunduk hormat. Lalu segera pergi meninggalkan Nazyela.
"Hiks... hiks.. hiks... tidak, jangan pergi.. hiks.. hiks.. maafkan aku.. ku mohon...hiks..hiks aaa.....?!!"
Nazyela ambruk dilantai yang bersalju. Tubuhnya gemetar menangis. Hatinya begitu sakit dan hancur berkeping-keping. Dadanya terasa sesak seakan-akan ada batu yang tertanam disana. Pikirannya kosong hilang arah entah kemana. Saat ini yang hanya ingin ia lakukan adalah menangis.
Sir. Yukil yang melihat dari kejauhan. Berjalan mendekat ke arah nona mudanya. Wajahnya begitu sedih melihat keadaan nonanya. Tangannya terkepal tapi tak bisa melawan keadaan.
"Nona.. bangunlah, anda bisa sakit kalau seperti ini"
"Maafkan saya nona"
Sir. Yukil meminta ijin untuk memapah gadis itu membawanya kembali ke penginapan.
Betapa terkejutnya Nakuna melihat keadaan nonanya saat pintu kamar dibuka oleh Sir. Yukil. Dia sedang membereskan barang-barang milik nonanya bersiap kembali ke kediaman bangsawan Kley, harus berhenti berkemas dan segera menghampiri nonanya.
Nazyela yang terlihat pucat, lemah tak berdaya serta mata sembab dan wajah yang berantakan membuat pelayan itu panik dengan keadaannya.
"Asataga nona... ? Nona kenapa?!"
Nakuna menatap Sir. Yukil menunggu jawaban dari lelaki itu.
"Nona bertemu pangeran saat keluar penginapan ini"
Nakuna menutup mulutnya. Pasti telah terjadi sesuatu hingga nona mudanya seperti itu pikirnya. Ia membayangkan mirip apa yang terjadi dengan Nazyela tanpa bertanya lebih pada Sir. Yukil. Sesama wanita paham akan perasaan seperti itu.
"Tunggu lah sebentar di luar.. saya akan mengurus nona. Berbaring lah nona.."
Sir. Yukil mengangguk atas permintaan kekasihnya. Ia pun menutup pintu kamar itu rapat-rapat. Dengan perlahan dan sabar, Nakuna membersihakan wajah nona mudanya. Mengganti pakaian yang lembab dan kotornya dengan pakaian yang bersih. Nakuna mengambil pakaian dari koper yang telah ia bereskan tadi. Setelah dirinya bersih kembali Nazyela tertidur karena kelelahan setelah lama menangis.
Nakuna berjalan perlahan tanpa ingin membuat sedikitpun suara. Ia menutup pintu kamar rapat-rapat dan menatap kekasihnya yang sedari tadi berjaga diluar kamar.
"Nona tidur.. kasihan hatinya pasti terluka"
Ungkap Nakuna tertunduk sedih membayangkan perasaan nonanya.
"Sebaiknya besok saja kita kembali. Setelah nona merasa lebih baik. Saya akan memberi kabar ke kastil. Masuklah kedalam, temani nona. Saya akan menemui Sir. Afik"
Nakuna mengangguk mendengar perkataan Sir. Yukil. Gadis itu pun kembali masuk ke dalam kamar.
*****
Seorang pria terseyum sendiri mengingat apa yang baru saja dilihat dengan mata kepalanya.
Bagus... rencanaku jadi lebih mudah karenanya.
Diluar dugaan ternyata aku banyak mendapatkan informasi disini. Jika hubungan mereka tidak segera berakhir pasti sangat sulit jika harus berurusan dengan pihak kerajaan. Ternyata titik kelemahannya adalah hati. Pantas saja beberapa waktu ini dia terlihat murung. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk bertindak.
Dimalam yang dingin Nakuna terlihat terlelap dalam tidurnya di kursi dekat tempat tidur Nazyela. Ia tak menyadari seseorang yang membuka jendela dengan perlahan dan mencuri-curi masuk kedalam kamar itu.
Dalam keadaan tidur dari belakang punggungnya mulut dan hidungnya dibekap dengan sebuah kain. Ia sempat terkejut dan meronta berusaha melepaskan diri sesaat. Namun tidak beberapa lama dia pun terdiam dan kembali tertidur.
Pria itu melangkah mendekati Nazyela yang tertidur. Lalu melakukan hal yang sama seperti ia lakukan pada Nakuna . Nazyela pun kembali tertidur. Ia lalu membungkus Gadis itu dengan Jubah tebalnya dan melompat ke bawah sambil menggendong Nazyela layaknya karung beras. Nazyela jatuh menimpa sang pria. Tumpukan salju menyelamatkan nyawa keduanya. Pria itu segera bangkit dan menggendong kembali tubuh gadis itu menaiki seekor kuda dan memacu kuda itu lari sekencang-kencangnya.
Angin yang berhembus dari celah pintu kamar Nazyela terasa sangat dingin tidak seperti biasanya. Sir. Yukil yang datang untuk melihat keadaan nonanya menjadi sedikit curiga dengan situasi itu. Ia membuka pelan pintu kamar itu dan terkejut saat mendapati nonanya tidak ada di kamar itu dengan jendela yang terbuka lebar serta Nakuna yang tertidur di kursi begitu saja.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Terima kasih 🤗