
Di istana.
Raja dari negara Timur yang merupakan ayah dari Camila datang ke negara Theora. Mereka di sambut hangat oleh semua anggota kekaisaran. Namun sayang ekspresi raja timur tidak lah menyenangkan.
Melihat ekspresi ayah Camila seperti itu raja Theora dan juga ratu merasa yakin bahwa kedatangannya pasti berhubungan dengan masalah pernikahan putrinya dan pangeran Jongya.
Rupanya Camila telah mengadu kepada raja timur.
Bagaimana ini.. aku harus berpikir jernih agar hubungan politik ini tetap berjalan sesuai rencana ku
Ratu Ranom tampak cemas dengan kedatangan raja timur yang secara tiba-tiba.
"Ayah...?!"
Camila berseru memanggil ayahnya. Wanita itu bergegas menghampiri sang ayah dan memeluknya.
"Aku merindukan ayah"
"Kau baik-baik saja? Kau terlihat lebih kurus disini. Apa kau diperlakukan tidak adil disini?"
Raja melepaskan pelukan anaknya dan sengaja mengatakan hal demikian untuk menyindir besannya.
Tentu saja perkataan ayah Camila menohok ratu Ranom. Ratu lalu melirik sinis ke arah Jongya. Namun Jongya terlihat santai dan tidak merasa terintimidasi oleh tatapan itu.
"Hahahaha... mana mungkin kami membiarkan menantu yang kami sayangi di perlakuan tidak adil. Kami sudah mempersiapkan kamar untuk raja timur yang kami hormati untuk beristirahat dengan nyaman. Mari..."
Ratu mencoba mencairkan suasana. Ia mengajak raja timur menuju kamar untuk beristirahat setelah melewati perjalanan yang jauh.
Raja timur pun beristirahat di kamarnya. Lalu malam nya mereka menikmati makan malam yang canggung dan tegang. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mereka yang duduk di meja makan itu hingga makan malam selesai.
Malam harinya ketika semua sedang bersantai si raja timur mulai membuka percakapan.
"Kapan kau akan memberikan aku cucu Jongya? Aku sudah tidak sabar menanti. Bukankah pernikahan kalian sudah lebih dari 6 bulan berlalu?!"
Camila dengan santai meminum tehnya. Dia tahu ayahnya akan memberikan pukulan-pukulan telak untuk Jongya.
Jongya berdiri lalu menunduk hormat, dalam posisi itu ia menguatkan dirinya untuk memutuskan benang kusut yang melilitnya selama ini.
" Maafkan saya yang mulia , sepertinya keinginan yang mulia tidak akan pernah terwujud. Saya berencana untuk menceraikan putri anda"
Dengan keyakinan dan nyali yang besar Jongya berkata seperti itu.
Jedarr! Bagai petir siang bolong, kalimat yang di ucapkan Jongya mengejutkan semua orang yang ada disana. Namun raja Theora tetap tenang mengamati suasana.
Camila tersedak dan terbatuk-batuk, wanita itu tak menyangka Jongya akan berani berkata demikian di depan semua anggota keluarga serta ayahnya.
"APA!!"
"JONGYA!!"
Teriakan sang ratu mengalahkan rasa terkejut raja timur.
"Maafkan Jongya raja timur, sepertinya anakku sedang mabuk berat"
"Tidak!! Aku berkata dalam keadaan sadar sepenuhnya"
Bantah Jongya.
Ratu bangkit dari duduk nya dan langsung mendaratkan tamparan keras di pipi pemuda itu. Jongya tak bergeming sedikitpun.
Raja Theora memandang tajam sang ratu.
"Aku merestui perceraian ini. Pernikahan mereka tidak bisa lagi di paksakan. Mereka tidak saling mencintai bagaimana mereka bisa bahagia jika demikian?!"
Raja Theora buka suara.
"Sayang.. tidak bisa seperti itu?!"
Bantah sang ratu.
"Camila kemasi barang-barangmu!!
Ini peng. hi. na. an besar terhadap kita!! Baiklah hubungan diplomatik kita akhiri. Bersiap lah menerima kemungkinan yang terjadi!!"
Raja timur murka. Ia sengaja menekankan kata penghinaan agar semua tahu bahwa dia sangat kecewa dan marah.
" Ayah?! "
Camila hanya bisa pasrah atas keputusan sang ayah. Tadinya ia berharap kedatangan sang ayah dapat menundukan Jongya agar lebih memperhatikan dirinya. Namun rencananya tak berjalan sesuai keinginan. Ia kini harus bersiap merima status baru yaitu janda.
Raja berlalu meninggalkan ruangan itu begitu saja beserta Camila. Malam itu juga raja timur beserta putrinya Camila kembali ke negara mereka.
Sementara itu, perdebatan antara raja dan ratu berlangsung sengit.
"Bersiap lah kita mungkin akan berperang!"
"Sampai kapan kau akan menyiksa anakmu!!
Sebenarnya apa tujuanmu mempertahankan mereka?
Bukankah dari awal aku sudah mengatakan biar kan Jongya yang memutuskan dia ingin menikah dengan siapa"
"Dia menikah atas keinginannya sendiri!"
"Benar, setelah menerima ancaman dari mu! Ibu macam apa kau ini? Apa kurang status tinggi dan kemewahan yang aku berikan selama ini?!!
JAWAB!!
Teriak raja geram.
Ratu terdiam. Ia terlihat sedikit menciut mendengar teriakan sang raja. Baru kali ini semasa mereka bersama raja berteriak padanya. Tangan sang ratu bergetar mengepal.
"Sudah seharusnya dia menurut apa kata orang tuanya. Aku hanya ingin melihat dia bahagia"
"Apa kau buta?! Selama ini apa dia bahagia dalam pernikahannya??!!"
"Itu karena kebodohannya?!"
"ITU KARENA KESERAKAHAN MU!!"
Sekali lagi teriakan sang raja membuat ratu terdiam kembali.
Apa yang di katakan raja semua menusuk hatinya. Namun ratu yang keras kepala dan ambisi tidak mudah menyerah begitu saja.
"DIA ANAKKU, AKU JUGA BERHAK MENENTUKAN HIDUPNYA, DEMI KEBAHAGIAAN NYA!!"
Tak kalah nyaring ratu juga membalas teriakan sang raja. Ia tetap berkilah semua demi Jongya.
Raja tidak habis pikir dengan sifat asli istrinya yang mulai terlihat jelas membuat pria paruh baya itu mengambil keputusan yang selama ini terus ia tunda karena permohonan Jongya.
"PENGAWAL!! TANGKAP DIA DAN JEBLOSKAN KE PENJARA!!"
"SAYANG!!"
Raja menatap tajam ratu dengan penuh kebencian. Wajahnya merah menahan amarah.
Ratu yang melihat tatapan raja yang seperti itu berusaha melunakkan sang raja.
"Kau tidak bisa seperti ini sayang?!Apa salahku??!!
Kalian jangan ada yang berani mendekat!!
Pengawal cukup bingung perkataan siapa yang akan mereka turuti.
" KALIAN TUNGGU APA LAGI, BAWA DIA!! "
Raja mengeluarkan pedangnya dan menunjuk ke arah sang ratu. Amarah sang raja tak tertahan kan lagi. Pengawal pun segera menangkap ratu dan menyeretnya paksa keluar dari ruangan itu.
Ratu terkejut karena perkataan suaminya ternyata tidak main-main.
"TIDAK, LEPASKAN AKU. AKU TIDAK BERSALAH Apapun. SAYAANG... YANG MULIA!! JONGYA TOLONG AKU, BUJUK AYAHMU!! INI HANYA SALAH PAHAM!!"
Jongya tiba-tiba membuka pintu ruangan itu setelah mendengar desingan pedang yang keluar dari sarungnya.
Pemuda itu menatap sang ayah. Melihat raut wajah ayahnya Jongya paham, ayahnya telah mengambil keputusan bulat. Ia mengerti lelaki tua itu sudah tidak mungkin lagi menahan emosinya setelah mengetahui kebenaran yang ada.
Jongya memalingkan muka dari sang ratu yang menandakan ia tidak ingin menolong lagi wanita yang kerap menyiksa dirinya berkedokan ibu.
Jeritan histeris sang ratu tidak menggerakan sedikit pun hati raja.
"Bersiaplah kita akan berperang melawan negara timur. Jongya kau tahu apa yang harus kau lakukan?"
"Ya ayah"
Argen yang baru saja masuk ke ruangan itu tampak bingung setelah mendengar jeritan ibu tirinya.
Pemuda itu melihat ke arah ayahnya dan Jongya.
"Aku sudah lama tahu dari Jongya. Aku tidak bisa lagi tinggal diam melihatnya semakin merajalela"
Ungkap sang raja, geram.
Argen melihat ke arah Jongya, ia tak menyangka adiknya tidak berpihak pada sang ratu. Ternyata selama ini Argen telah salah menilai Jongya.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Terima kasih 🤗
👉Jika kalian menyukai komedi baca juga karya Author berjudul Bukan Soulmate. Semoga kalian suka😉