
Suasana menjadi tegang, tidak ada satu pun pembicaraan di antara mereka. Terlebih Nazyela, gadis itu sudah mulai terlihat pucat. Ujung jari tangan dan kakinya mulai dingin. Jantung nya terus berdebar bukan main.
Ya Allah... aku harus gimana ini? Yang satu mantan yang satu kekasih. Aku nggak mau dua-duanya saling baku hantam.
"Tuan.. dia adalah yang mulia pangeran Jongya"
Nazyela membuka keheningan dan memperkenalkan Jongya kepada Ji Chang. Nazyela berharap Ji Chang bisa mengerti maksud Nazyela.
Ji Chang yang duduk di samping Nazyela merangkul gadis itu memperlihatkan ke mesraan mereka di depan Jongya yang ia tahu adalah mantan Nazyela setelah mendengar namanya.
Nazyela yang tiba-tiba di rangkul Ji Chang mulai mengeluarkan keringat dingin.
Kenapa aku malah seperti tersangka selingkuh begini sih?!
Jongya berdiri dan mengulurkan tangannya mencoba berkenalan dengan gaya di negara itu.
Ji Chang pun ikut berdiri dan menggenggam tangan Jongya dengan kuat.
"Aku Jongya"
"Ji Chang"
Jongya merasakan kalau Ji Chang tidak menyukai dirinya dari cara kuatnya lelaki itu menggenggam tangan nya.
Jongya tersenyum lirih dengan menatap tajam Ji Chang.
Ji Chang yang sedari tadi menahan diri membalas tatapan Jongya dengan tatapan membunuh.
"Apa kalian tidak lelah berdiri? Duduk lah.."
Jongya maupun Ji Chang langsung duduk mendengar ucapan Nazyela.
Haaaah? Apa ini? Mereka langsung nurut aja aku suruh duduk
"Hem..., yang mulia dia adalah pacar ku"
Jongya tampak tenang mendengar ucapan Nazyela karena ia juga sudah tahu kalau gadis itu sudah dekat dengan laki-laki lain.
Ji Chang merasa cukup puas setelah Nazyela mengatakan kalau dirinya adalah pacarnya
Melihat tidak ada reaksi yang berlebihan dari keduanya, Nazyela mulai sedikit tenang. Berangsur-angsur kecemasan yang ia rasakan mulai mereda.
"Jadi ada perlu apa seorang pangeran datang kemari?"
Tanya Ji Chang yang mulai memojokkan Jongya.
"Aku hanya ingin tahu kabar Nazyela, karena kami dulu cukup dekat"
Jongya membalas sinyal yang di lancarkan oleh Ji Chang.
What apa lagi ini, atmosfer nya mulai tegang lagi
Kembali Nazyela tegang menghadapi keduanya. Ia segera berpikir keras untuk memisahkan keduanya agar tidak terjadi peristiwa pembunuhan di rumah itu.
"Em... aku hari ini sangat lelah sekali. Jadi aku mungkin tidak bisa menemani kalian berlama-lama. Aku minta maaf..."
Nazyela beralasan agar keduanya bisa segera pergi.
Keduanya paham akan sinyal yang diberikan Nazyela. Jongya tidak ingin melihat Nazyela bersedih karena kehadirannya yang akan mengusik mereka lalu memutuskan untuk menemui gadis itu di lain waktu. Sedangkan Ji Chang yang tidak ingin Nazyela jatuh sakit mengurungkan niatnya untuk bertemu kangen karena perpisahan mereka yang sudah hampir semingguan berlalu.
"Baiklah... lain waktu aku akan mengunjungi mu lagi. Rasanya senang bisa bertemu orang yang berasal dari negara sendiri"
Jongya ya pun berdiri dan melangkah kan kaki mendekati pintu untuk pergi.
Nazyela ikut berdiri dan melangkahkan kakinya mengantarkan Jongya sampai di ambang pintu rumahnya.
"Istirahat lah.."
Nazyela menganggukan kepala menjawab ucapan Jongya.
Jongya menatap sebentar wajah Nazyela dengan penuh kehangatan lalu pergi meninggalkan Gadis itu.
Ji Chang yang masih duduk di sofa menggertakan giginya melihat adegan di depan matanya.
Nazyela lalu kembali dan duduk di sofa.
"Apa dia datang untuk merayu mu kembali?"
Tanya Ji Chang yang mulai di rasuki rasa cemburu.
"Dia datang tidak lama sebelum tuan datang, dan hanya menanyakan kabarku"
"Apa kau senang?"
Ji Chang berkata dengan tatapan mata yang terlihat ada amarah disana.
"Tuan..?!"
Nazyela sedikit kesal dengan pertanyaan Ji Chang terlihat memojokan dirinya.
"Dia adalah putra dari yang mulia raja di negaraku, dan aku adalah rakyat nya jadi tidak mungkin aku menolak kedatangannya"
Nazyela sedikit kecewa dengan Ji Chang yang melupakan posisi nya.
Ji Chang menyadari dirinya salah karena tersulut emosi menghela napas panjang.
"Haaaah, sudah lah.. dan maafkan aku. Mungkin karena pekerjaan ku berat akhir-akhir ini. Maaf kan aku ya.. kau mau kan?"
Ji Chang mencoba membujuk Nazyela dengan tatapan memohon.
Nazyela tertuduk, ia lalu memikirkan kejadian tempo hari saat dia bersitegang dengan Yoona di sebuah pertokoan. Kebenaran yang ingin ia ketahui dari Ji Chang sampai ia harus datang ke kafe pemuda itu.
Mungkin ini saatnya aku harus menanyakannya agar semua menjadi jelas
"Aku bertemu wanita itu lagi"
Nazyela berkata sambil menatap ke arah Ji Chang. Ia ingin melihat reaksi lelaki itu setelah mendengar perkataan nya.
Ekspresi Ji Chang tampak bingung kemudian terlihat serius.
"Maksud mu Yoona? Ada apa?"
"Dia bilang kalian sepasang kekasih dan aku harus menjauhi mu tuan"
"Dan kau percaya?"
"Entah lah.. aku harus percaya atau tidak. Tapi dia memberikan aku bukti kedekatan kalian"
"Bukti apa?"
Ji Chang bingung dan semakin penasaran dengan ucapan Nazyela.
Nazyela lalu berdiri dan melangkah kaki menuju kamarnya nya. Beberapa saat kemudian ia kembali sambil membawa selembar foto dan menunjukkan nya pada Ji Chang.
Nazyela tidak bisa menutupi rasa kecewa, marah dan juga kesal di wajahnya.
"Apa yang ingin kau katakan tuan?!"
"Hah... foto ini tidak seperti yang kau bayangkan Nazyela?"
"Terus lah berbohong tuan?!"
"Nazyela dengarkan aku. Duduk lah dulu.. kita bicarakan baik-baik. Jika setelah mendengar kata-kataku kau masih tidak percaya maka aku tidak akan lagi menemui mu"
Ji Chang terlihat sungguh-sungguh dengan perkataannya.
Nazyela menghela napas mencoba membuang emosinya lalu duduk di sofa.
Ji Chang lalu meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya.
"Kau adalah cintaku untuk saat ini esok dan nanti"
Nazyela terlihat jenuh dengan kata-kata rayuan yang di ucapkan Ji Chang, seakan-akan ia telah mendengar kata-kata itu ribuan kalinya.
"... Haaaah, saat itu tiba-tiba dia sudah ada di rumah ku ketika aku pulang. Saat menghidupkan lampu aku terkejut seseorang tiba-tiba mendorongku membuat ku jatuh di sofa. Dia mencoba menggoda ku yang saat itu masih berduka. Sungguh aku tidak memiliki perasaan apa pun padanya"
Nazyela terenyuh dalam hatinya namun masih enggan menatap Ji Chang karena ia berpikir bisa saja itu hanya sekedar alasan untuk membujuknya.
"Yoona adalah sahabat dari mendiang istriku. Aku mengenalnya dari istriku. Lalu karena istriku menceritakan pekerjaan ku padanya, ia mengajak ku bekerja sama dengan ayahnya. Hubungan kami menjadi akrab, dan kami pun sering pergi bertiga bila ada waktu luang. Lalu suatu hari aku menjalankan misi yang diberikan ayah Yoona. Saat itu aku tidak menyadari musuhku mengintai kelemahanku. Istriku di culik dan di aniaya oleh mereka. Aku terlambat menolongnya hingga ia menghembuskan napas terakhirnya disana. Lalu setelah itu, aku memutuskan untuk tidak memiliki pasangan hidup. Aku takut akan kehilangan lagi orang yang aku cintai. Sejak saat itu aku jarang bertemu Yoona walau dia sering mencoba mencariku dan mendatangi tempat-tempat yang biasa aku datangi. Aku mulai curiga dia menyukai ku karena aku selalu di beri misi tanpa putus olehnya ketika ia berhasil menemukan ku. Lalu dengan imbalan yang ia berikan aku mulai mencoba membuka usaha. Dan mulai berkembang ketika ayahnya memperkenalkan aku pada orang-orang yang berkuasa. Namun berbeda setelah mengenalmu. Aku jatuh cinta saat pertama kali melihat mu saat kita bertransaksi dulu itu"
Nazyela baru mau menatap Ji Chang setelah mendengarkan cerita hidup pemuda itu.
Tangan Ji Chang meraih rambut yang menutupi wajah cantik kekasihnya itu dan menyelipkannya di balik telinga gadis itu.
Ia lalu mencium kening gadis itu.
"Bagaimana aku bisa berpaling dari wanita cantik yang berada didepanku ini. Bahkan aku berharap kau menjadi pendampingku kelak"
Luluh, hati Nazyela merasa lega mengetahui Ji Chang tidak memiliki hubungan apa pun pada Yoona setelah tahu wanita itu hanya berusaha menjauhkan dirinya dari Ji Chang. Ia mulai tersenyum menatap Ji Chang.
"Lalu apa mantan mu itu mengajakmu kembali?"
"Ck, kau kembali merusak suasana tuan. Aku sudah memilih mu apa kau ingin aku kembali padanya?"
"Hehehe jangan, aku tidak mau kehilangan mu"
Mereka berdua kembali tersenyum, masa tegang sudah lewat dan masalah hati sudah bisa di atasi.
Di balik dinding lorong rumah, Nakuna dan Sir. Yukil pun berpelukan karena senang semuanya baik-baik saja. Sedari awal mereka rupanya ikut tegang melihat situasi yang di hadapi Nazyela. Bahkan Sir. Yukil telah menyiapkan pedang dan pistolnya jika terjadi hal yang tidak di inginkan.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.
~Jangan lupa favorit ❤️
~Rate⭐⭐⭐⭐⭐
~Hadiah
~Vote
Terima kasih 🤗
👉Jika kalian menyukai komedi baca juga karya Author berjudul Bukan Soulmate. Semoga kalian suka😉