Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 94



Malam yang mulai larut, ketika semua mulai terlelap karena lelahnya melewati hari pesta.


Di lantai atas sebuah mension yang tidak terlalu mewah. Di dalam sebuah kamar yang di hias dengan sangat indah. Angin yang berhembus dari jendela yang sengaja tidak di tutup menerpa wajah Nakuna yang terlihat merona.


Jantungnya berdegub kencang mana kala Sir.Yukil sudah berjalan mendekati ranjang yang sedang ia duduki.


Linger tipis berwarna biru gelap melekat di tubuh ramping gadis yang tampak malu-malu itu.


Perlahan Sir. Yukil merebahkan tubuh Nakuna di ranjang pengantin mereka. Dan...


"Sreekkk..."


Sir. Yukil menarik kuat linger yang di pakai Nakuna ke dua sisi hingga robek.


"Yaaa?! Ini hadiah dari nona, dan ini sangat mahal. Kenapa kau main robek tanpa membuka perlahan?!"


Nakuna sangat kesal dengan kelakuan suaminya.


"Sudah lama aku ingin melakukannya. Aku ingin membalas mereka yang dulu memperlakukanmu dengan keji. Seharusnya kan aku yang berbuat begitu"


Ungkap Sir.Yukil yang mengenang peristiwa dulu ketika Nakuna hampir saja mengalami pemerkosaan.


"Astagaaaa....?!"


Nakuna menepuk jidatnya, lalu menutup mulutnya karena kehabisan kata-kata.


"Kau tahu saat itu aku sangat marah, tubuh ini punyaku dan hanya milikku"


"Iya...iya...itu sudah berlalu, jadi tolong lupakan saja. Aku tidak ingin mengingat peristiwa yang menyakitkan dulu"


"Tentu saja, aku akan membantumu melupakannya. Maka dari itu, kali ini aku yang merobek bajumu. Agar kau ingat malam pertama kita ini, tak akan mudah kau lupakan"


Ucap Sir. Yukil langsung manangkap wajah Nakuna dengan kedua tangannya lalu mencium lembut bibir gadis itu.


Nakuna tidak lagi menolak karena kini ia telah resmi menjadi pasangan suami isteri. Ia pun membalas ciuman itu dengan lembut pula.


Pangutan demi pangutan mengawali hasrat mereka untuk bercinta malam itu. Saliva mereka sudah saling bertukar entah sudah berapa banyak.


"Emmh..."


Nakuna melenguh saat Sir. Yukil mulai beraksi menciumi leher Nakuna lalu ke bahu wanita itu.


Kiss mark mewarnai jenjang leher Nakuna dan hampir di seluruh tubuhnya.


"Oouhh..."


Nakuna mende*ah saat Sir. Yukil menyentuh kedua bukit kembarnya, mencium dan meremasnya dengan penuh perasaan.


Pemuda itu lalu melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya tanpa terkecuali.


Nakuna yang melihatnya seketika memerah namun cukup terkesima dengan postur tubuh yang dimiliki oleh suaminya. Dan tentu saja, sesuatu yang di bawah sana mencuri perhatiannya.


"Wah... lihat matamu? Kau mulai nakal ya... hehehe.."


"Aaa.... jangan lihat aku?!"


Nakuna menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Tenanglah.. aku akan melakukannya perlahan. Meski ini juga pertama kalinya untukku, tapi aku sudah banyak bertanya pada mereka yang sudah sangat berpengalaman"


Sir.Yukil segera menangkap tangan itu dan membawanya ke arah bawah dimana mata Nakuna tertuju. Keduanya hanyut dalam panasnya gelora asmara. Napas mereka saling memburu menujukan bawah hasratnya telah menjalar ke seluruh pusat saraf. Nakuna pun perlahan mulai berani mengekspresikan hasratnya. Dan pergulatan panas pun di mulai. Ranjang mulai bergoyang tiada henti, rintihan kesakitan bercampur kenikmatan mewarnai kamar pengantin yang sedang menunaikan hasrat mereka. Noda darah terlihat mewarnai seprai saat Sir. Yukil mencabut tongkatnya dan terbaring lelah di samping Nakuna.


Keringat membasahi tubuh keduanya, mereka terengah-engah saling pandang satu sama lain.


Belum sampai 20 menit kembali Sir. Yukil sudah berada di atas tubuh Nakuna.


"Lagi?! Kau bisa membuatku tidak dapat bangun besok?!"


"Hehehe...biar saja, orang akan mengerti karena kita baru saja menikah"


"Ka.... empp... emph.."


Sir. Yukil tidak memberikan kesempatan Nakuna untuk berbicara. Pemuda itu segera ******* bibir tipis sang isteri dengan hasrat yang mulai naik kembali. Sekali lagi pergulatan panas terjadi dan mereka pun melakukannya.


*****


Burung berkicau menyemangati waktu pagi yang mulai beranjak naik. Matahari perlahan pun mulai menampakkan sinarnya. Semilir angin berhembus dengan perlahan mengantarkan hawa dingin dengan samar-samar.


Kedua pasangan pengantin baru saja tidur dengan lelapnya. Pergulatan panas yang di lakukan sepanjang malam baru saja berakhir menjelang pagi.


Mension yang tidak terlalu mewah tapi tetap terkesan elegan di hadiahkan Jongya dan Nazyela kepada kedua asistennya itu karena telah berjasa menjaga dan menemani Nazyela selama ini.



"Emh..."


Nakunan perlahan bergerak.


"Sudah bangun?"


Sir.Yukil mengelus lembut pipi sang isteri.


Nakuna membuka matanya sedikit demi sedikit. Hawa panas yang mulai menyeruak masuk kedalam kamar membuat wanita itu terlonjak bangun.


"Jam berapa ini?"


"Sepertinya sudah siang sayang"


Jawab Sir. Yukil santai sambil mengusap lembut dan mencium rambut panjang Nakuna.


"Apa, siang?!"


Nakuna mencoba beranjak dari tempat tidurnya, namun wanita itu merintih kesakitan.


Sir. Yukil hanya terkekeh melihat kesakitan sang isteri.


Nakuna lalu menatapnya tajam.


"Ini semua karena ulahmu?!"


"Hehehe... jangan begitu, kau juga menikmatinya kan?"


Nakuna segera mengalihkan pandangan. Sedikit banyak apa yang di katakan suaminya juga benar adanya. Teringat kembali akan ke agresifannya malam tadi membuat kedua pipinya kembali memerah.


Sir.Yukil yang peka terhadap isterinya semakin terkekeh.


Ia lalu memeluk erat Nakuna dan kembali merebahkan diri di atas ranjang mereka.


"Mau sampai kapan kita begini. Aku sudah mulai gerah, tubuh ku terasa lengket dimana-mana"


Sir.Yukil hanya memejamkan matanya tak menjawab pertanyaannya sang isteri.


Nakuna hanya bisa menghela napas. Lalu wanita itu mulai menyadari ada sesuatu yang bangun dan mulai mengeras yang menyentuh bokongnya.


Segera Nakuna bangun dari tempat tidurnya. Sakit yang ia rasakan tidak lagi menghalangi instingnya untuk segera menjauh dari tubuh suaminya.


Dengan kaki yang gemetar menahan rasa sakit di antara selangkangannya Nakuna mencoba tetap berjalan menuju kamar mandi di sudut kamar itu.


"Hehehe... wah, junior kenapa kau membuat isteriku jadi ketakutan. Kau ini semangat sekali. Berilah waktu isteriku istirahat jika tidak kau tidak akan bertemu soulmate mu"


Sir. Yukil berbicara sendiri, mencoba menekan hasrat yang mulai menyeruak keseluruh tubuhnya. Perlahan ia menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan.


Sementara itu, di dalam kamar mandi. Nakuna merileksasikan dirinya dalam bak air hangat yang di tabur beberapa kelopak bunga sebagai wangi-wangian.


Matanya terpejam sambil sesekali tersenyum mengingat pergulatan tadi malam. Ia tak menyangka suaminya sangat tangguh dan tak memberikannya waktu istirahat yang cukup.


Namun tak dapat ia pungkiri, ia sangat bahagia. Menikah dengan Sir. Yukil adalah salah satu keinginannya. Perasaan yang sudah lama ia jaga untuk suaminya itu akhirnya menemukan kebahagian bagi mareka.


"Ah.. bagaimana jika aku hamil, sepertinya aku harus menyiapkan nama untuk anak-anakku kelak"


Nakuna berkata sendiri sambil tersenyum bahagia. Baru saja melakukan malam pertama, wanita itu telah membayangkan memiliki anak yang lucu bersama suaminya.


📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.


~Jangan lupa favorit ❤️


~Rate⭐⭐⭐⭐⭐


~Hadiah


~Vote


Terima kasih 🤗


🌠Baca juga karna Othor berjudul Bukan Soulmate dan Dara dan Damar. Semoga suka😉