
Kicauan burung bersahut-sahutan di pagi hari, aroma rerumputan dan bunga bercampur membawa rasa segar ketika di hembus oleh angin.
Suara dentingan pedang yang samar-samar dari base came kesatria membuat Nazyela merasa tenang. Gadis itu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Wellcome home... Aku rindu suasana ini
"Selamat pagi nona"
Sapa Lani menunduk hormat.
"Pagi Lani"
"Anda di tunggu di ruang rapat nona"
"Wah, kalian tidak memberiku kesempatan untuk bersantai rupanya. Baiklah ayo kita kesana"
Sudah satu minggu sejak kembalinya gadis itu ke negara asalnya. Perlahan ia mulai membangun hatinya dari rasa sedih yang sebulan lalu menyelimuti dirinya. Nazyela mulai menampakkan senyumnya kembali. Suasana rumah memang lebih bisa menghibur hatinya menjadi jauh lebih baik.
Nazyela bersama Lani melangkah menuju ruang rapat. Disana sudah ada Sir. Afik, Sir Yudan, dan Adrian sang kakak.
"Baiklah apa yang mau di bicarakan"
Sir.Yudan dan Sir Afik berdehem ketika melihat Nazyela yang duduk santainya seperti dulu saat dia mengikuti rapat. Namun kali ini ada yang berbeda dari biasanya. Sesekali kedua lelaki itu melirik Nazyela dan meronalah wajah mereka. Adrian yang menyaksikan perubahan wajah mereka mencari tahu apa yang membuat kedua lelaki itu terus mencuri lirik kepada Nazyela. Setelah Adrian amati, ternyata memang ada yang berbeda dari Nazyela.
Lelaki itu segera mendekati Nazyela dan menutupi tubuh gadis itu dengan jubahnya, sambil menatap membunuh pada kedua asisten itu.
Nazyela tertegun mendapati jubah kakaknya yang sudah menyelimuti dirinya. Sedangkan kedua lelaki itu tersentak terkejut dengan keringat dingin yang mulia keluar dari pori-porinya menemani wajah pucat mereka.
Gadis itu baru menyadari gaya berpakaiannya yang telah berubah dari gaya asal negaranya. Ia sedikit kikuk namun akhirnya timbul ide di kepalanya untuk membawa trend berpakaian korea ke negara Theora.
"Aku ada ide"
Nazyela lalu melepaskan jubah sang kakak lalu berdiri.
Kedua lelaki yang tadinya pucat kini kembali merona dan duduk tegak melihat posisi Nazyela yang berdiri menggoda.
"Aku ingin kita menjual pakaian yang seperti model sedang aku pakai ini"
"De.. de.. dengan terbuka begitu nona?"
Sir. Afik terbata-bata.
"Tidak semua pakaian terbukan seperti ini. Tapi ada juga yang beberapa seperti ini. Di Korena trend seperti ini sudah biasa. Malah menurutku menggunakan pakaian seperti ini lebih simple dan tidak terlalu berat. Bukankan disini masih menggunakan gaun? Gaun masih bisa kita pakai saat acara yang lebih tempat, misalnya pesta.. "
Adrian manggut-manggut. Dia yang sering berpergian keluar negeri sudah cukup banyak melihat gaya berpakaian tiap negara yang berbeda.
"Boleh juga tapi untuk awal sebaiknya jangan terlalu terbuka seperti yang sedang kau pakai ini Naz?!"
Adrian berkata sambil menutup kembali tubuh Nazyela dengan jubahnya.
Nazyela sedikit malu, ia merasa bersalah karena pakaiannya memang terlalu mendadak untuk ia gunakan di acara rapat seperti ini. Apalagi orang-orang di negaranya belum terbiasa melihat pemandangan segar duniawi.
Gadis itu merapatkan jubah yang di berikan Adrian ke tubuhnya.
"Ada beberapa pakaian yang bisa di jadikan trend untuk saat ini. Lani, bisa kah kau katakan pada Nakuna untuk membawakan baju-baju ku yang tidak terlalu terbuka?"
"Baik nona"
Lani lalu bergegas keluar ruangan menuju kamar Nazyela.
"Aku ingin kita membuat pakaian untuk musim gugur dan musim dingin. Lalu beberapa di musim panas dan semi. Sir.Afik, kau bisa membawa beberapa orang yang bisa menjahit pakaian. Untuk pakaian-pakaian ini nantinya, dan sebaiknya kita buat sendiri tidak perlu membeli dari orang lain"
Nazyela melanjutkan pembicaraan.
"Aku setuju, bukankah kita juga punya toko penghasil kain?"
"Dan kakak juga bisa memperluas kinerja toko menjadi pabrik. Kumpulkan saja semua bangsawan atau orang-orang yang mampu mengasihkan bahan kain"
"Wah...aku suka ide mu Naz"
"Nona ini pakaian-pakaian anda"
Nazyela lalu mengambilnya dan masuk ke ruangan kecil yang ada dalam ruangan itu. Beberapa saat kemudian ia keluar dengan menggunakan pakaian yang lain.
"Mantel seperti ini bisa digunakan saat musim gugur"
Lalu Nazyela, berganti lagi pakaian untuk menunjukan gaya pakaian dalam tiap musim.
"Saya rasa awalnya akan sulit nona, terlebih lagi di negara kita etika sangat di junjung tinggi"
Aaah...benar juga. Aku melupakan hal itu.
"Bagaimana kalau gaun simple saja. Sebentar.."
Kembali Nazyela berganti pakaian.
"Sepertinya yang ini lebih bisa kita pasarkan"
Ujar Sir. Afik.
"Benar, saya setuju"
Sir. Yudan menimpali.
"Lani kau suka yang mana?"
"Saya nona? untuk trend nona yang paling paham. Saya pasti mengikuti nona jika ingin mengikuti trend"
"Begitu ya, baiklah.. aku punya cara tersendiri. Nah kalian bisa jalankan rencana kita tadi dengan contoh dari baju-bajuku. Lalu jika ada desain baju lain bisa kalian ajukan untuk aku seleksi lagi"
"Baik nona"
"Baiklah rapat kita selesai hari ini"
Adrian segera meninggalkan ruangan di susul Nazyela.
"Dimana Naila?"
Nazyela berusaha menyusul langkah kaki kakaknya.
"Mungkin di dapur"
"Apa dia sedang membuat sesuatu, aku jadi tertarik"
"Bukan membuat tapi menghabiskan"
"Kenapa bisa begitu?"
"Selama masa ngidamnya lewat, dia sangat sering kelaparan"
"Hehehe... aku jadi makin penasaran"
"Dia sudah mirip ikan buntal"
"Baiklah aku akan sampaikan pesan kakak"
"Jangan?!"
"Hehehe... Kenapa?"
Nazyela terkekeh melihat ekspresi Adrian.
"Apa kau ingin kakak mu ini tidur di luar?"
"Bukannya sempit tempat tidur kalian jika kakak iparku sudah jadi ikan buntal"
"Tapi dia jadi semakin imut..."
"Apa? Hehehe... dasar pria bucin"
"Apa yang kau katakan? Bucin?? Apa itu?"
"Sudah lah.. aku tak ingin menjelaskannya padamu mu"
Dulu aku harus menjelaskan baper aja pusing lah ini bucin pula..
Nazyela mengambil langkah seribu meninggalkan Adrian dalam kebingungannya.
*****
Di dapur.
"Emm.... nyam... nyam... "
"Apa kau tidak akan menyisakan makanan untukku?"
Nazyela sengaja mengejutkan Naila yang sedang menikmati camilannya.
"Oh...Naz, sini coba ini?!"
Naila menawarkan sepiring camilan kue yang ada di tangannya.
Nazyela lalu duduk di dekatnya dan mengambil makanan itu, ikut menikmatinya.
"Wah...enak, pantas saja kau suka ke dapur"
"Rasanya aku ingin memindahkan kamarku disini"
"Hehehe... Lalu para pelayan dan koki apa akan kakak pindahkan ke kamar kakak?"
"Wah...kau berani mengejekku ya..?"
Dengan wajah cemberut, Naila menghabiskan camilannya. Nazyela hanya terkekeh melihat kelakuan ibu hamil yang satu itu.
"Uughh..... sssshhhh"
Naila tiba-tiba merintih kesakitan. Kue yang ada di genggaman tangannya terjatuh. Wanita itu memegangi perutnya dengan kedua tangannya.
"Kak, kau kenapa?!"
Nazyela pun panik melihat Naila yang kesakitan.
"Aaaghh, uugh... Saakiit?!"
What?!! Jangan bilang Naila mau melahirkan di dapur ini!
"Pelayan panggil tuan Adrian dan katakan kakakku mungkin akan melahirkan?!"
"Baik nona?!"
"Dan kalian bantu aku membawa Naila ke kamarnya. Cepat!! "
Nazyela memerintahkan seorang pengawal dan beberapa pelayan untuk membawa Naila ke kamarnya.
Naila terus merintih kesakitan sepanjang lorong menuju kamarnya.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.
~Jangan lupa favorit ❤️
~Rate⭐⭐⭐⭐⭐
~Hadiah
~Vote
Terima kasih 🤗