Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 85



Masih segar di ingatan Nazyela, bagaimana Ji Chang yang penuh perhatian dan kasih sayang selalu memanjakan dirinya. Semua ingatan tentang Ji Chang tak mampu ia hentikan, membuat air mata dengan mudahnya lolos begitu saja di pipinya.


Kasus Ji chang belum menemukan titik terang. Pembunuh yang menembaki mereka seperti hilang di telan bumi. Hingga polisi pun sampai tidak bisa mengikuti jejak mereka.


Anak buah Ji Chang yaitu Yojin juga tidak dapat memastikan siapa dalang penyerangan itu. Pasalnya, mengingat jenis pekerjaan yang mereka lakukan selama ini, sudah pasti mereka memiliki banyak musuh.


Yojin meminta Nazyela untuk segera kabur menyelamatkan diri, karena bisa jadi ia adalah orang berikutnya yang akan di incar oleh pembunuh itu.


Awalnya Nazyela begitu berat meninggalkan Ji Chang yang terbaring sepi di rumahnya. Namun akhirnya Yojin memutuskan untuk menempati rumah gadis itu, dan ia pun setuju.


Demi keselamatan Nazyela, Sir. Yukil pun setuju untuk membawa pergi nona nya dari negara itu.


"Nona, sepertinya sudah waktunya kita pulang kerumah "


Ajak Sir. Yukil yang melihat nona nya duduk di depan pusara suaminya.


"Hiks... hiks... hiks..."


"Naku sudah menggemaskan barang-barang anda, kita tinggal berangkat saat nona sudah siap"


Nazyela diam, hanya isak tangisnya yang terdengar.


"Apa anda tidak merindukan tuan besar? Saya mendapat kabar tuan sedang sakit memikirkan nona"


Sir.Yukil terus berusaha membujuk Nazyela dengan caranya.


Nazyela langsung melihat ke arah Sir. Yukil lalu mengusap air mata di pipinya.


Sir. Yukil menghela napas melihat reaksi nonanya.


"Saya tahu ini begitu berat buat nona, tapi nona masih memiliki kehidupan yang harus nona jalani. Dan saya yakin nona bisa, mengingat begitu banyak cobaan berat yang nona lalui dan anda bisa bertahan sampai saat ini"


"Entahlah Yukil, kali ini terasa berat buatku"


"Saya tahu nona begitu kehilangan tuan. Namun saya yakin disana tuan pasti ingin nona bahagia. Apa nona lupa tuan sangat menjaga keselamatan nona. Jadi saya mohon, saya hanya ingin membantu mewujudkan keinginan tuan pada nona. Ayo.. kita kembali ke Theora"


Nazyela tidak bergeming, ia membelai batu nisan Ji Chang.


Tuan... maafkan aku yang terlalu bersedih. Aku tahu tangisku ini hanya menyiksamu. Baru aku sadari aku begitu mencintaimu setelah kepergianmu.


Bagaimanakah aku bisa meninggalkanmu?


"Hiks... hiks.. hiks..."


Kembali Nazyela meneteskan air matanya. Rasa enggan untuk berpisah masih menyelimuti dirinya.


Gadis itu sudah tidak lagi memikirkan keadaan dirinya. Ia terlihat kurus dengan mata yang selalu sembab.


"Nona.... selain anda, orang-orang disekitar anda akan ikut menderita melihat kesedihan nona. Tidak kah nona begitu jahat menyeret kami dalam kesedihan nona? Bahkan ayah nona yang jauh juga sakit memikirkan keadaan nona"


Tidak bergeming, Nazyela hanya terdiam tanpa kata. Setelah cukup lama memeluk pusara Ji Chang, Nazyela lalu bangun dan melangkah meninggalkan pusara itu.


"Ayo kita pulang"


"Ya?Sekarang nona?"


Nakuna bingung melihat perubahan drastis nona nya yang langsung mengajak pulang ke Theora


Gadis itu melihat kekasihnya untuk mendapatkan jawaban disana.


Sir. Yukil yang mengikuti di belakang nonanya pun menganggukan kepala.


"Baiklah ayo kita pulang nona"


Mereka pun bersiap untuk pulang. Nazyela segera membersihkan dirinya dan membawa beberapa barang kenangannya bersama Ji Chang.


Di ruang tamu Yojin sudah menunggu untuk mengantarkan keberangkatan mereka. Selama meninggalnya Ji Chang, Yojin sementara tinggal di rumah Nazyela untuk menjaga keselamatannya.


"Sudah siap nona, saya akan mengantarkan anda"


"Yojin, terima kasih untuk kebaikanmu selama ini. Aku titip rumah ini padamu"


"Percaya pada saya nona, saya akan menjaga rumah ini untuk nona"


Keduanya saling menganggukan kepala. Tetapi, tiba-tiba Nazyela memeluk Yojin dan kembali menangis sambil memeluk pemuda itu.


"Aku tahu ini juga berat untuk mu Yojin. Maafkan aku karena aku kita harus berpisah selama nya dengan Ji Chang"


Pemuda itu mulai menangis sesugukan mengeluarkan sisi hatinya yang telah lama ia tahan, rasa sedih dan sangat terluka langsung menyeruak kedalam hatinya.


Nazyela menepuk-nepuk punggung Yojin untuk memberikan kekuatan pada pemuda itu, mesti dirinya sendiri butuh kekuatan itu.


Yojin membalas pelukan Nazyela dengan erat.


Setelah puas menangis bersama, mereka pun meninggalkan rumah dan pergi menuju pelabuhan.


"Yojin, aku akan menerimamu dengan tangan terbuka jika kau datang ke Theora"


"Terima kasih nona, dan anda harus selalu menjaga kesehatan"


"Terima Kasih Yojin. Kau juga jaga kesehatan"


Mereka saling pandang satu sama lain. Semua saling menganggukan kepala tanda berpamitan, baik itu Nazyela, Nakuna, Sir. Yukil dan Yojin.


Setelah itu, Nazyela beserta kedua asistennya menaiki kapal yang akan segera berangkat membawa mereka ke Theora.


*****


Di tempat lain.


"Hiks.... hiks... hiks... Ji Chang, kau seharusnya melihat ke arah ku? Dengan begitu kejadian ini tak perlu terjadi. Kalian kenapa begitu bodoh?! Sudah aku bilang cukup tembak jal*ng itu, hanya dia target utama!!"


"Praang!!!"


(Suara gelas pecah yang di lempar ke lantai)


"Keluar kalian semua!! KELUAR!!"


Derap langkah kaki terdengar meninggalkan seorang wanita yang sedang menangis di meja kerjanya.


Yoona merasa sedih dan kesal akan kesalahan yang di perbuat oleh anak buahnya. Tapi apa mau dikata, nasi telah menjadi bubur, wanita itu hanya bisa menangis kehilangan orang yang selama ini ia kejar cintanya.


"Tap... tap...tap.."


(Suara sepatu dari langkah seseorang mulai mendekati)


"Kali ini memang sedikit ceroboh, kita sampai kehilangan orang yang sangat berharga. Tapi putriku, lupakan dia yang sudah tiada. Kau masih muda, masih banyak pria yang mengejar-ngejar mu"


"Dia sangat spesial ayah"


"Ayah tahu, tapi dia sudah tiada. Tak perlu ada penyesalan. Ayo.. kemana putri ayah yang selalu ceria dan tak pernah hilang akal?"


Yoona menghapus air matanya dan menatap ayahnya. Ia tahu ayah tidak akan suka menangisi hal yang sia-sia.


"Ayo kau harus temani ayah makan siang, ayah sudah bereskan insiden yang kau buat. Kasus itu sampai kapan pun tidak akan pernah terungkap"


"Terima kasih ayah"


"Bagus, ayo semangat.. pria di dunia ini tidak hanya dia saja"


"Ya, kau benar ayah. Walau cukup sedih kehilangan dia, tapi aku tidak akan larut dalam kesedihan"


"Baguslah.. itu baru putriku"


Yoona beranjak dari duduknya dan melangkah bersama sang ayah keluar ruangan, untuk pergi menikmati makan siang.


Hati pembenci tidak pernah damai. Pikiran pembenci tidak pernah bersih. Dan mata pembenci tidak pernah betul-betul terpejam. Membenci itu melelahkan dan merusak kehidupan. Jangan membenci..


(Kutipan, MARIO TEGUH)


📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.


~Jangan lupa favorit ❤️


~Rate⭐⭐⭐⭐⭐


~Hadiah


~Vote


Terima kasih 🤗


👉Jika kalian menyukai komedi baca juga karya Author berjudul Bukan Soulmate. Semoga kalian suka😉