
Gadis mana yang tak terluka mendengar kekasihnya akan menikah dengan wanita lain. Hati terasa begitu sakit, dada terasa begitu sesak dan rasanya ingin teriak sekuat-kuatnya.
Amarah, sedih, dan kecewa bercampur menjadi satu.
Udara dingin menyeruak menusuk hingga ketulang-tulang. Hembusan angin menerpa ke wajah cantik yang mendadak pucat saat mendengar beberapa pelayan membicarakan tentang pangeran ke 2.
Gadis itu tak lagi mampu menahan hatinya. Ia berlari sekencang-kencangnya disusul Adrian sang kakak dibelakangnya.
Air matanya tak mampu ia bendung lagi.
Adrian hanya menghela napas dan membiarkan adiknya menangis untuk sesaat.
Sir.Yukil yang melihat Nazyela menangis menjadi bingung dan khawatir apa yang terjadi dengan nonanya. Ia tak pernah melihat gadis itu nangis seperti ini bahkan ketika menghadapi para pemburu.
"Sabarlah.. itu baru rencana. Kita belum tahu rumor itu benar atau tidak. Lagi pula pangeran pasti menolaknya. Kau jangan takut kita punya kekuatan untuk membalikkan keadaaan"
Adrian menggenggam tangan gadis itu mencoba memberinya kekuatan dari genggaman tangannya.
Nazyela hanya diam dengan air matanya yang berlinang. Tangis tak dapat ia bendung lagi, hatinya bergitu gelisah dan kecewa.
Walau Jongya tidak pernah menyatakan cintanya kepada gadis itu, namun Nazyela tahu bahwa cintanya tidaklah bertepuk sebelah tangan. Ia beranggapan ada sebagian laki-laki di dunia ini yang sulit untuk menyatakan isi hati mereka namun mereka lebih menunjukkan dengan perbuatan.
Hah... bang bule nggak tahu aja kalau kami udah hampir 2 bulan nggak bertukar kabar.
Aku yakin dia sudah salah paham.
Kenapa hati ku sakit sekali mendengar dia di jodohkan.
Mata sembab dan hidung yang memerah membuat wajah cantiknya terlihat menyedihkan. Nazyela tidak berbicara sepatah katapun hingga tiba di penginapan tempat mereka beristirahat.
Sir. Yukil yang menemani mereka mengantarkan makanan ke kamar Nazyela lalu meletakkan makanan itu dimeja. Lelaki itu terlihat sedih melihat keadaan nona mudanya.
Kasihan sekali nona muda, wajahnya sampai pucat begitu. Hah... dari awal hubungan ini memang sulit. Kenapa juga harus pangeran yang memiliki ibu sang ratu tiran. Bersabarlah nona.. semoga nona selalu diberi kebahagian..
"Nona makanlah, saya bawakan makanan untuk nona. Dari siang tadi nona belum makan apa-apa"
Sir. Yukil menunggu jawaban dari nonanya.
Nazyela hanya diam, tidak sedikitpun merespon kehadiran pengawal itu.
Terlihat Sir. Yukil menghela napas, dan laki-laki itu pun meninggalkan Nazyela dalam kesendiriannya. Ia berpikir mungkin nonanya butuh waktu untuk sendiri.
Salju turun semakin lebat. Nazyela hanya menatap jauh kedepan dari jendelanya, melihat lampu-lampu bangunan yang menghiasi malam.
Malam yang sunyi seakan tahu gadis itu membutuhkannya untuk menenangkan hati yang berkecamuk. Derai salju yang turun seakan tahu hatinya sedang menangis. Lampu-lampu yang bercahya seakan-akan ingin memberikan kehangatan didiri gadis itu. Terlena ia akan suasana malam itu, hingga ia tak sadar bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang selalu memperhatikannya.
Ketika pandangan Nazyela beralih kearahnya, secepat kilat ia bersembunyi dan menghindar. Dan tentu saja hal itu membuat Nazyela tidak menyadarinya. Kembali gadis itu tenggelam dalam lamunannya.
*****
"Dimana dia?!!"
Gadis itu menerobos masuk ke dalam ruang kerja lalu pergi berjalan ke kamar di ikuti oleh seorang asisten di tempat itu.
"Maaf nona, tuan Dion Hanya kembali sebentar lalu pergi lagi"
"Tugas apa sih sebenarnya yang di beri ayahku?!!"
Ia menatap tajam kepada lawan bicaranya.
"Maafkan kami nona, kami tidak mengetahui tugas apa itu. Hanya tuan Dion dan tuan besar yang tahu. Tuan Dion melaksanakan tugas itu dengan tangannya sendiri"
Pelayan itu mencoba menenangkan anak dari tuan besarnya.
"Hah... bisa gila aku!"
Gadis itu mengigit ujung kukunya. Ia telihat sangat cemas dan bingung lalu segera pergi setelah tidak berhasil menemui orang yang dia cari.
Sang pelayan mengikuti nona itu mengantar sampai kepintu utama. Setelah memastikan nona itu benar-benar pergi, pelayan tadi menghampiri sebuah pintu rahasia lalu mengetuk pintu itu.
"Tuan.. nona sudah pergi"
"Hmm..."
Dion keluar dari ruang yang gelap itu.
Lalu pergi kekamarnya dan merebahkan dirinya.
Ini menarik, setelah beberapa waktu mengikuti gadis itu dia terlihat berbeda dari kebanyak gadis lainnya. Siapa dirimu sebenarnya? Sampai kau bisa memusnahkan Red Dragon yang aku didik hanya dalam sehari. Sayang sekali rasanya jika kau kubunuh dengan cepat.
Setelah beberapa kali mengamati dan melihat langsung Nazyela secara sembunyi-sembunyi, ia menjadi penasaran dengan sosok Nazyela. Perlahan laki-laki itu mulai menjauhi dari gadis yang mencarinya tadi yang tak lain adalah Roana Shaden. Entah kenapa tiba-tiba saja kini ia merasa risih bila mendengar nama gadis itu. Lelaki itu lalu bangun dari tempat tidurnya dan mengambil jubah yang tergantung dipojok pintu kamar itu. Ia pun pergi meninggalkan kediamannya. Kembali ia bersembunyi mengawasi target yang hendak ia bunuh.
*****
Malam yang kian larut dengan lebatnya salju yang turun. Di sebuah rumah kecil, Jongya duduk didepan perapian merenung sambil melihat api yang menari-nari melahap kayu yang kering. Matanya tampak sayu, wajahnya semakin tirus dengan kantung mata menghitam di kedua matanya.
" Yang mulia minum lah... ini bisa menghangatkan tubuh yang mulia"
Pelayan yang senantiasa mengikuti Jongya menyodorkan gelas yang berisi wine berwarna merah. Pemuda itu menerima lalu meneguknya begitu saja.
Hah... regina..,, aku tidak menyangka dia akan menjadi calon istri dari kakakku sendiri.
Kenapa hatiku begitu sakit rasanya.
Bukankah aku seharusnya bahagia kakakku mendapat calon yang sangat baik.
Pikirannya melayang kemana-mana, tatapan matanya tampak kosong. Untuk kesekian kalinya Jongya kabur dari istana karena keegoisan sang ratu yang memaksanya menikah dengan putri dari negara tetangga.
Ratu mencoba memperkuat posisinya dengan pernikahan politik terhadap Jongya. Ratu yang mengetahui hubungannya dengan Nazyela menjadikan gadis itu sebagai senjata untuk menaklukkan anaknya sendiri. Jongya merasa keselamatan Nazyela lebih penting dari hidupnya. Laki-laki itu mau tidak mau mengikuti perintah sang ibu, dan akan melepas masa lajangnya 2 bulan lagi.
Pemuda itu tidak pernah menginginkan apa-apa. Hidupnya selalu diatur oleh sang ibu. Ibu yang tidak pernah memberikan kasih sayang terhadap putranya. Selama ini ia berpikir jika memenuhi semua keinginan ibunya, ia akan mendapat perhatian dari sang ibu. Namun sayang, harapan itu hanya angan-angan yang sulit di gapai olehnya.
Jongya menepuk-nepuk dadanya. Rasanya begitu sakit menahan sesak yang menghimpit didadanya. Bukan lah sesuatu yang sulit ia inginkan namun begitu sulit ia dapatkan.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Terima kasih 🤗