
Jongya melewati Suly dan neneknya yang sedang berada di ruang santai di ikuti Wilson.
"Hei... kau dari mana?!"
Pertanyaan Suly yang setengah berteriak menghentikan langkah Jongya.
"Kemari lah cucuku, bergabung lah bersama kami"
Ajak nenek ramah.
Meski Jongya adalah cucu dari abangnya namun nenek sangat menyayangi Jongya bagai cucunya sendiri. Karena keturunan Boong Joon hanya memiliki cucu yaitu Jongya anak dari Ranom dan Elsa anak dari Rana.
Nenek sendiri memiliki 6 orang cucu di antaranya adalah Suly yang sering datang menemaninya. Oleh sebab itu nenek sangat senang Jongya mau tinggal bersamanya sehingga nenek tidak terlalu merasa kesepian.
Jongya lalu duduk di antara mereka berdua.
Dan mencomot buah yang di potong Suly untuk neneknya.
"Ya..!! itu buat nenek?!!"
"Hehehe... tidak apa Suly, makan lah Jongya. Kau dari mana pagi-pagi sudah tidak ada dirumah"
"Hanya sekedar jalan-jalan cari angin"
"Cih... kau pikir aku bodoh?! Kau pasti menguntit wanita itu kan?"
Suly menatap Jongya penuh selidik.
"Aku tidak menguntit"
Bantah Jongya.
"Sudah lah Suly... , Jongya bagaimana perkembangan mu dengan gadis itu?"
"Aku sudah menemui nya nek"
Jawab Jongya santai.
"Oh ya...? Itu berita baik. Lalu apa kalian sudah mengambil keputusan?"
Tanya nenek penasaran.
"Em... itu, kami hanya sekedar saling tanya kabar. Lalu setelah itu aku pamit pulang"
Kata Jongya sedikit malu.
"Bhahahahaha.... hanya basa basi saja?!"
Suly meledak tertawa.
"Hahahaha... jangan mengharap lebih dari nya nek. Dia itu kura-kura, dia akan masuk ke dalam tempurung jika bertemu dengan makhluk hidup lainnya"
Ledek Suly menggambarkan sifat Jongya.
Jongya merasa malu, ingin rasanya ia mencekik Suly sepupunya itu karena mulut jahilnya. Tetapi Jongya tidak membenci gadis itu.
" Sudah aku katakan gadis yang tarik ulur begitu jangan di kejar. Biar dia datang sendiri nantinya "
Gerutu Suly.
"Wilson jangan berdiri saja duduklah..."
Ajak sang nenek ramah.
Suly melirik sinis sekilas pada pemuda yang menuruti perintah sang nenek.
"Nanti kau akan aku kenal kan pada salah satu model agensi ku. Aku yakin kau suka nanti"
Suly berusaha meyakinkan Jongya.
"Tidak perlu, aku tidak ingin ngulang kesalahan yang sama"
Tolak Jongya.
" Aku tidak menyuruhmu mengulang hal yang sama, tapi bila kau sudah menyerah akan cintamu, aku yakin kau pasti jatuh cinta sama wanita yang aku kenal kan nanti"
"Aku tidak butuh wanita manapun. Sekarang aku hanya butuh pekerjaan ?"
"Yang mulia... maksud saya tuan?!"
Wilson berusaha mencegah ke inginan Jongya.
"Ini bukan Theora Wil, aku butuh bekerja untuk mencapai tujuanku"
Jongya mulai berpikir ia harus memiliki banyak uang. Koin emas yang ada sekarang tidak lah tersisa banyak. Lelaki yang selalu memperhatikan Nazyela dari jauh itu ternyata juga memperhatikan Ji Chang yang merupakan saingannya.
"Kalau begitu saya juga akan bekerja dengan tuan?!"
Wilson tidak bisa membiarkan pangerannya melakukan pekerjaan sendiri sedangkan dia hanya berpangku tangan.
"Bagus!! Besok kalian berdua datang ke kantorku untuk bekerja. Mengenai gaji kalian percayakan padaku"
Suly yang mencium bau-bau uang yang akan mengalir seperti air sungai langsung mendukung keinginan mereka. Matanya sudah berbinar-binar membayangkan kesuksesan yang sudah berada di depan mata. Ia sangat yakin kedua laki-laki itu akan menjadi model terkenal.
"Baiklah besok aku akan kekantormu"
Ucap Jongya lalu berdiri dan melangkah hendak menuju kamarnya. Tetapi lelaki itu tiba-tiba berbalik badan melihat ke arah Suly.
"Jemput ya, koin emas ku tidak banyak lagi untuk naik kendaraan umum?"
Suly terlihat bingung.
Jongya melontarkan sebuah koin. Koin itu berputar sebelum akhirnya tumbang di depan Suly.
Suly memungut koin itu dan memperhatikannya dengan seksama. Ia lalu menggigit koin itu untuk memastikan emas atau bukan.
" Ya!! Kau naik kendaraan umum dengan ini?! Kau sinting!!"
Jongya hanya mengangkat bahu. Hanya koin itu alat untuk dia bisa kemana-mana. Pemuda itu pun lalu meninggalkan Suly yang masih syok karena koin miliknya .
Jongya memasuki kamarnya lalu merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
"BRAKK!!"
Suly masuk dengan mendorong pintu sekuat tenaga nya.
"Mana lagi sisa koin emasmu?! Tunjukan padaku!"
Perintah Suly.
Jongya yang memejamkan mata dan menutupnya dengan lengan tangan nya hanya menunjuk ke arah tempat ia menyimpan koinnya.
Lelaki itu tak kuasa meladeni Suly. Ia hanya mendengar omelan Suly tanpa merespon sedikit pun.
Suly mendekat tempat yang di tunjuk oleh Jongya dan melihat ada 3 kantung kain di sana. Ia lalu menuangkan isi kantung itu dan terkejut saat sekitar 100 koin emas menggelinding di depannya.
Suly tercengang sambil melihat ke arah Jongya yang menutupi wajahnya dengan lengan.
"Kau... gila?! Sudah berapa banyak mau habiskan koin mu cuma-cuma. Oh.. aku tak percaya kau sebodoh ini. Apa kau tahu dengan ini kau saja kau sudah sangat kaya. Kau bisa memiliki rumah, mobil bahkan membeli dunia. Hei.. Jongya kau dengar aku tidak?!"
Suly menggambar kan yang seharusnya bisa Jongya miliki.
Jongya tak bereaksi apa-apa, pemuda itu telah tertidur meski suara Suly tak berhenti memarahinya.
*****
Keesokan harinya.
Jongya dan Wilson pergi ke kantor Suly. Mereka langsung bekerja hari itu juga. Karena wajah dan tubuh mereka sudah sesuai kriteria fotografer tinggal mengarahkan gaya berfoto mereka. Namun di luar dugaan, tanpa arahan mereka bisa mengusai imaje yang di minta produk yang mereka tawarkan.
" Bagus sekali, kalian sungguh berbakat!! "
Fotografer itu merasa sangat puas dengan hasil jepretannya.
Ia lalu melihat kembali satu persatu foto yang ia ambil. Suly ikut memperhatikan hasil foto-foto itu.
"Hebat juga mereka baru pertama kali langsung dapat hasil sebagus ini?!"
Ungkap Suly tak percaya.
"Kau dapat dari mana barang langka seperti ini? Aku sangat puas, mereka benar-benar fotogenik?!"
"Mereka keluarga ku yang datang dari negara yamg jauh, jadi perlakukan mereka dengan sebaik-baiknya"
"Tentu saja, aku tak akan menyia-nyiakan bakat mereka"
Ujar fotografer penuh semangat.
Jongya dan Wilson sedang beristirahat di ruang make up. Mereka langsung di kerumuni model-model cantik yang ada disana untuk di ajak berkenalan.
Wilson yang melihat pangeran nya seperti engga meladeni gadis-gadis itu lalu maju kedepan menghalangj mereka dengan menyodorkan dirinya sendiri untuk berkenalan.
Tak ada yang menolak Wilson karena sejatinya Wilson juga lumayan tampan dengan bentuk tubuh yang sempurna.
Namun ada juga yang merasa tidak suka lelaki itu di kerumuni oleh para gadis.
"Cih, punya badan bagus sedikit saja langsung pamer"
Gumam Suly kesal.
Di antara para wanita-wanita itu ada seorang gadis yang tidak ikut berkenalan seperti teman-teman nya.
Ia memilih duduk sendiri sambil melihat lembar perlembar majalah fashion yang berada di tangannya.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.
~Jangan lupa favorit ❤️
~Rate⭐⭐⭐⭐⭐
~Hadiah
~Vote
Terima kasih 🤗
Nih Othor bagi visualnya Wilson kalau penasaran 😁
👉Baca juga karya Author berjudul Bukan Soulmate, Dara Dan Damar.
Semoga kalian suka😉