Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 37



Angin dingin dari celah ventilasi masuk mengusik tidur lelap seorang pemuda. Perlahan ia mencoba membuka matanya dengan kepala yang masih terasa berat.


Uughh... sakit sekali


Jongya memegang kepalanya dan memperhatikan sekeliling dimana ia berada. Ada kelegaan sedikit karena itu kamarnya. Namun beberapa detik kemudian ia sangat terkejut mendapati dirinya tanpa pakaian dan terlebih lagi Camila yang berada disampingnya tanpa pakaian pula. Wanita itu sedang tertidur pulas dengan wajah yang tampak kelelahan.


Apa yang terjadi!!


Jongya berusaha mengingat kejadian semalam. Pemuda itu ingat setelah makan malam tak beberapa lama ia merasakan pusing serta panas yang luar biasa. Dan ia mencoba untuk istirahat dikamarnya.


Jadi tadi malam itu aku tidak sedang bermimpi bercinta dengan Nazyela, tetapi sebenarnya aku meniduri Camila


Oh.. Sial!! Aku terlalu ceroboh tidak mewaspadai rencananya. Hah...


Jongya bangun dan membersihkan dirinya dikamar mandi. Pikirannya kacau dan ia begitu marah pada dirinya sendiri. Bagaimana kini ia menjalankan rencananya jika ia telah meniduri Camila.


Jongya berencana akan menceraikan Camila jika ia telah mendapat dukungan politik dari berbagai pihak. Ia ingin melawan kekuatan sang ratu ibunya. Terlebih lagi ia telah mendengar sendiri bahwa raja juga mendukung dirinya. Namun jika akibat dari percintaan semalamnya dengan Camila wanita itu jadi mengandung sepertinya ia harus merubah rencana itu.


*****


Dikediaman Kley.


Kastil itu semakin hari semakin di sibukan oleh bangsawan-bangsawan yang datang berkunjung. Mereka mencoba mengambil hati tuan Histon dengan berbagai cara politik agar tujuan mereka tercapai. Hal seperti ini sudah biasa terjadi dalam negeri ini. Mereka yang ingin memperkuat posisi atau menambah kekuasaan mereka sudah selayaknya berusaha mencari rekan yang kuat dan memiliki status yang tinggi.


Ada yang menawarkan putra dan putri mereka untuk disandingkan putra dan putri Kley. Ada juga yang beberapa ingin bekerja sama melalui bisnis bahkan ada yang menawarkan harta mereka untuk meminta perlindungan kepada bangsawan Kley.


Tidak hanya itu, para pemuda dari berbagai daerah juga datang mencoba mendaftar menjadi calon kesatria-kesatria pasukan Kley. Bahkan para gadis juga berharap bisa menjadi pelayan didalam kediaman Kley.


Di Kastil Tua.


Nazyela duduk termenung memandang danau ditemani Nakuna yang sedang memberikan vitamin pada rambutnya. Rambut Nazyela perlahan mulai memanjang meski baru sepanjang ukuran rambut laki-laki.


Sejumlah pengawal berjaga ketat di sekitar kastil itu.


Kastil yang sempat ditinggal Nazyela kini dipergunakan lagi untuk proses kesembuhan gadis itu. Karena kastil utama yang selalu ramai didatangi oleh para bangsawan dan ingin melihat keadaannya. Akhirnya Adrian memutuskan agar Nazyela kembali ke kastil tua demi masa pemulihannya. Adrian tahu bahwasannya para bangsawan itu hanya ingin mendapat simpati dari keluarganya dengan menjenguk Nazyela.


"Nona apa anda ingin makan buah saya akan mengupasnya"


Nazyela mengangguk mengiyakan saran dari Nakuna.


Nakuna merasa senang kini nonanya sudah banyak mengalami kemajuan. Dulu gadis itu enggan untuk berbicara dengan siapapun bahkan sering tidak merespon orang yang sedang mengajaknya bicara. Walau hanya sepatah dua patah kata namun hal itu merupakan kebahagian bagi Nakuna yang sangat merindukan nonanya kembali seperti dulu.


"Nona.. apa nona tahu kalau pangeran sudah menikah?"


Dengan hati-hati Nakuna bertanya sambil mengupas buah pear untuk Nazyela. Gadis itu mengangguk dengan tatapan jauh kedepan.


Perlahan air mata Nakuna menggenangi kedua pelupuk matanya. Tak dapat ia bayangkan jika apa yang terjadi pada nonanya di alami olehnya. Patah hati karena ditinggalkan serta harus mengalami penyiksaan dalam waktu yang lama. Sungguh membuat hati gadis itu pilu membayangkannya.


"Saya tahu nona adalah wanita terkuat yang pernah saya temui selama ini. Saya yakin nona akan baik-baik saja"


Meski berkata demikian namun air mata gadis itu menetes perlahan.


"Yah.. aku baik-baik saja Naku"


Nazyela tersenyum dengan masih menatap kearah danau yang sedikit bergelombang karena burung yang mencoba menangkap ikan disana.


Memang akan sulit bagiku untuk mencoba melupakan kisah di antara kami. Tapi aku akan mencobanya. Di kehidupan dulu, kisah seperti itu sering terjadi, dan aku bisa melewati semua itu. Rasa sakit memang selalu enggan untuk pergi. Rasa sakit itu selalu datang menghampiri. Aku juga nggak berharap seperti ini.


Aku tahu dirinya kini menjadi milik orang lain. Dan aku nggak ingin apa-apa. Tapi bisakah rasa rindu dan sakit ini pergi begitu saja tanpa harus selalu datang menghampiri?


Nazyela berusaha melepaskan Jongya dalam hatinya. Sangat berat, sakit dan kecewa namun ia tak ingin menghancurkan kebahagiaan orang lain.


"Kenapa kau harus menangis Naku? Kau tak perlu khawatir. Bukankah patah hati seperti ini sering di alami orang-orang?"


Tak terasa bulir bening juga mengalir dipipi gadis itu dengan senyum diwajahnya. Nakuna semakin histeris melihat nonanya yang berusaha tegar meski ia tahu bahwa gadis itu rapuh.


Beberapa waktu berlalu hingga kedua gadis itu tidak lagi menangis. Keadaan jadi lebih sedikit tenang.


"Naku.. bisakan kau panggilkan Sir. Yukil serta Sir. Afik dan juga Lani kesini?"


"Baiklah nona akan segera saya panggilkan"


Nakuna bergegas melaksanakan permintaan nonanya.


Beberapa waktu kemudian mereka datang tanpa Lani.


Mereka menunduk hormat kepada Nazyela. Ada rona bahagia diwajah mereka mendengar Nazyela memanggil mereka. Pasalnya sudah berapa bulan mereka tidak bertemu sapa dengan Nazyela mengingat gadis itu di culik serta kembali dalam keadaan trauma mendalam. Nazyela sempat membenci laki-laki yang berada disekitarnya. Berkat terapi yang dilakukan setiap 2 hari sekali oleh dokter kediaman mereka akhirnya Nazyela perlahan-lahan bisa mengatasi trauma itu.


"Bagaimana keadaan nona? Maaf Lani sedang menjalankan tugas yang saya berikan ke kota Britaraya nona"


Sir. Afik mengatakan sebelum Nazyela menanyakan Lani karena gadis itu sedang tidak berada dikastil. Lelaki itu terlihat sangat senang melihat wajah mungil yang tidak sepucat dan sekurus dulu.


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja"


"Sukurlah.."


"Lalu ada apa nona memanggil kami?"


Sir. Yukil terlihat ingin tahu permintaan pertama yang nonanya inginkan setelah sekian lama ia tak pernah mendapat perintah lagi dari Nazyela.


"Laporkan padaku perkembangan apa saja terjadi selama aku sakit"


Sir. Afik dan Sir. Yukil saling tatap. Mereka terlihat ragu untuk memberitahukan kepada Nazyela mengingat kondisinya yang belum terlihat normal seperti dulu.


Sir. Yukil lalu melihat ke arah Nakuna, gadis itu membalas dengan anggukan yang berarti tidak apa-apa.


"Nona.. sepertinya belum waktunya untuk nona kembali bekerja"


Saran Sir. Yukil.


"Aku sungguh tidak apa-apa, bukankah kalian juga ingin aku segera kembali seperti dulu?"


"Benar.. kami memang sangat berharap nona kembali seperti dulu, tapi bukan berarti nona harus memaksakan diri seperti ini"


Tegas Sir. Yukil lelaki itu tampak sangat khawatir.


"Hah.. apa kalian sudah tidak percaya padaku?"


"Bukan begitu nona, hanya saja kami tidak ingin kesehatan nona jadi terganggu"


"Aku baik-baik saja, tolong percaya padaku"


Pandangan mata Nazyela terlihat sendu manatap kedua lelaki itu.


"Hah.. baiklah"


Sir. Yukil akhirnya mengalah setelah melihat keinginan yang kuat dari nonanya. Dan Sir. Afik hanya bisa menunduk dan membuka catatan bukunya yang siap ia laporankan kapan saja.




📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Terima kasih 🤗