
Pesta perayaan penyambutan kemenangan pangeran Argen begitu meriah. Kastil kekaisaran Theora dihias dengan sangat indah. Jalan - jalan di ibu kota Britaraya di warnai umbul-umbul serta pita-pita yang beraneka bentuk.
Pangeran Argen dan pasukan kembali menaiki kuda dengan gagahnya. Para rakyat bersorak-sorak bahagia menyambut pangeran mereka.
Di kastil, para bangsawan berbagai kelas telah berkumpul menikmati pesta. Para gadis berlomba-lomba berdandan secantik-cantiknya guna memikat hati orang yang mereka tandai.
saat keluarga Bolafra memasuki ruangan, semua bangsawan terdiam. Suasana menjadi sunyi dan mencekam.
"Oh... tuan Duke Khiden silahkan menikmati pestanya"
Kepala pelayan kastil kekaisaran menunduk hormat menyambut duke Bolafra dengan penuh senyum ramah. Namun sedikitpun duke Bolafra tak membalas senyum itu. Tatapan pria itu tetap saja dingin bagai es.
Duke Bolafra dan duke Kley saling tatap lalu mengangguk sekedar memberi salam dari jauh.
Dua gadis yang berseteru beberapa lama ini akhirmya bertemu.
Naila Bolafra memandang sinis Nazyela dari ujung rambut hingga ujung gaun. Raut wajahnya menandakan ia sangat tidak menyukai gadis itu. Apalagi mendengar bahwa Nazyela juga salah satu calon regina sama seperti dirinya.
Keluarga raja mulai memasuki aula pesta. Semua orang yang hadir disitu memberi hormat kepada sang raja, ratu beserta ke dua pangeran.
Bisik-bisik kaum gadis yang sangat kagum akan ketampanan pangeran Argen hampir memenuhi seluruh isi ruangan.
Lelaki itu tetap diam tak bergeming di tatap banyak mata. Wajahnya yang terkesan cool tak mematahkan semangat para gadis untuk tetap kagum padanya.
Berbeda dengan pangeran Jongya, ia terkesan lebih santai karena tak ada gadis yang mencoba mencuri pandang padanya kecuali Nazyela. Gadis itu terlihat merona bila bertemu mata dengan Jongya yang berdiri tepat disamping kakaknya Argen.
Naila Nolafra merasa sangat tidak senang melihat wajah yang merona itu. Tangannya terkepal geram, jiwanya meronta-ronta ingin segera menjambak rambut gadis itu atau menampar dengan buas pipi gadis itu.
Nazyela pamit hendak mencari udara segar. Setelah beberapa waktu berada didalam dirinya merasa sesak. Ia berjalan menyusuri lorong hingga berakhir di balkon. Angin dingin yang berhembus lebih ia nikmati dari suasana pengap ramainya tamu yang datang. Belum lama ia menikmati kesendiriannya pintu kaca itu di buka oleh seseorang. Nazyela sangat terkejut ketika melihat wajah yang ia hindari berada tepat berdiri dihadapannya.
"Salam saya kepada Lady Naila Bolafra"
Dengan anggun Nazyela menunduk hormat memberi salam pada gadis itu.
Naila Bolafra melangkahkan kakinya begitu cepat lalu dengan segera menjambak rambut belakang Nazyela. Gadis itu terkejut dan merintih kesakitan. Tangannya menahan tangan Naila yang terus menarik rambutnya kebelakang.
"A.. apa... yang kau lakukan?!!"
Naila lalu melepas genggamannya dari rambut Nazyela. Gadis itu memegang kepalanya yang sakit, namun dengan cepat Naila menampar pipinya dengan sekuat tenaga hingga Nazyela terhuyung dan jatuh tersungkur. Pergelangan kaki Nazyela menjadi terkilir karenanya.
"Yaaaa!! Sumpah ya.. apaan si lo?!! Gue salah apa sama lo hah!!"
Naila terkejut mendengar bahasa yang di gunakan Nazyela. Ia terlihat tidak mengerti apa yang gadis itu bicarakan.
Kampret ni cewek!! Bar-bar banget main sruduk aja dah kek banteng. Sakit kepala gue...
" Kita baru kali ini bertemu, tapi sapaan anda sungguh luar biasa?!!"
"Diam!!! Kau tak pantas berbicara denganku?!!"
Wajah tenang Naila berubah menjadi terlihat galak.
"Lalu apa yang pantas aku lakukan padamu?! Membalas semua perbuatanmu?!! "
"Hahahaha... apa kau sanggup melawanku?!! Dengar gadis rendahan, jauhi pangeran jika kau sangat menyayangi nyawamu!"
Nazyela terkekeh mendengar perkataan Naila. Gadis itu mencoba berdiri dengan kakinya yang sakit.
"Dia siapa?? Kekasihmu? Tunangan mu? Suamimu?? Oh.. maaf aku tak pernah mendengar hal itu. Sepertinya dia pria yang masih bebas"
"Kau...!!! Ini peringatan terakhir dariku sebaiknya kau bersiap!!"
Naila geram hingga mengancam Nazyela.
"Hah.. aku tidak takut padamu!! Dan ingatlah pangeran yang menentukan pasangannya bukan kau?!!"
Naila terlihat sangat marah mendengar perkataan Nazyela, tangannya sedari tadi tak hentinya mengepal. Ia berbalik badan lalu pergi dengan wajah yang terlihat menyeramkan.
Fiuhh... mimpi apa aku semalem bisa sial kek gini..asem banget dah ah, tampilan udah berantakan, kepala nyut-nyutan, pipi memar, kali keseleo.. komplit banget dah.
Kalau bukan karena tempat ini kastil raja negeri ini dah gue granat lu Naila!! Uuggh..!!
Wajah Nazyela terlihat kesal sambil meringis kesakitan. Ia mencoba berjalan perlahan-lahan sambil berpegang pada dinding koridor.
"Nazyela?!!"
Terdengar suara teriakan pria yang segera berlari menghampiri dirinya.
"Lady.., Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa seperti ini?"
Pria itu melihat Nazyela dari atas hingga kebawah. Pipi merah yang lebam serta rambut yang terlihat berantakan membuat laki-laki itu tampak khawatir.
"Hehehe.. saya bertemu anjing gila, dia mengejar hingga saya terjatuh dan jadi seperti ini"
"Apa?!! Bagaimana bisa pengawasan dikastil teledor seperti ini?! Sebaiknya anda segera di obati. Aku akan memanggil dokter kerajaan"
"Hentikan memanggil yang mulia saat kita sedang berdua anda sudah janji itu. Dan anda harus di obati, ini perintah!"
" Baiklah pangeran"
"Jongya..!"
Lelaki itu memberi tekanan pada namanya.
"Iya..iya..Jongya..."
Nazyela tersenyum nyengir.. dalam hatinya ia berteriak melihat wajah cemas lelaki itu terlihat menggemaskan.
Didalam sebuah ruangan, kaki Nazyela sudah diperban. Memar di wajah sudah di olesi salap, dan rambutnya sudah kembali di tata oleh pelayan kerajaan.
"Sebaiknya pakai ini untuk menyamarkan luka diwajah anda nona"
Saran pelayan yang memakaikan asesoris di kepalanya.
"Terima kasih, berkat bantuanmu penampilanku tidak berantakan lagi"
"Dengan senang hati saya bisa membantu nona. Kalau begitu saya permisi"
Pelayan itu undur diri dan menunduk hormat.
"Siapkah anda kembali ke pesta lady? Sepertinya acara puncak akan segera dilaksanakan. Tapi jika tidak bisa, anda bisa tetap beristirahat di sini"
Jongya merasa khawatir dengan Nazyela melihat perban yang terbalut dikaki gadis itu.
"Tidak.. saya bisa mengikuti pesta kembali. Lagi pula ada yang ingin saya sampaikan nanti"
"Benarkah? Apa itu?"
"Nanti.. anda juga akan segera tahu"
Nazyela sengaja membuat Jongya penasaran.
Gadis itu berjalan perlahan sambil memegang tangan Jongya sebagai sandaran.
Mereka pun tiba di aula saat raja sudah mulai menyampaikan tujuannya.
"Aku memberi kesempatan kepada 3 putri bangsawan yang akan menjadi regina untuk putraku Argen"
Naila Bolafra maju lalu menunduk hormat kepada raja dan ratu serta pangeran Argen.
Roana Shaden yang terlihat ragu akhirnya juga maju dan menunduk hormat mengikuti Naila Bolafra.
Nazyela yang melihat hal itu mau tak mau menghela napas lalu berjalan mendekati mereka dan ikut menunduk hormat.
Jongya terkejut melihat Nazyela memberi salam. Ia tak menyangka jika gadis itu kini menjadi calon regina.
Jadi ini yang ingin disampaikannya tadi.
Ugghh...!
Tampak kekecewaan diraut wajah pemuda itu. Ia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan aula itu.
Nazyela yang melihat kepergian Jongya tahu kalau lelaki itu pasti kecewa padanya. Saat ini ia hanya bisa menghela napas.
Note : Naila Bolafra ganti yang ini saja visualnya ya, π
Beri dukungan untuk aku dongπ
* Like π
* Komen
* favorit β€οΈ
*Rateβββββ
*Hadiah
*Vote, Terima kasih π€
Baca juga Cintai Aku Seikhlasmu , bagi yang suka kisah yang menyesakkan dada π.
Terima kasih π