Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 100(End)



Berita kelahiran dua pangeran kembar tersebar luas keseluruh penjuru Theora. Tidak terkecuali ruang penjara bawah tanah yang di huni oleh mantan ratu Theora.


Wanita yang telah lama tidak mendapat perawatan itu mulai keriput dengan kulit yang kusam. Ia menangis tersedu-sedu menyesali perbuatannya yang lalu. Setelah penjatuhan hukumannya pada hari itu, ia tidak pernah lagi bertemu suami dan anaknya. Pakaian lusuh yang ia kenakan mulai terlihat koyak disana sini. Ia meringkuk kedinginan dengan mata sembab dan wajah yang pucat.


*****


Leo dan Leon, nama kedua jagoan yang di berikan Nazyela untuk buah hatinya. Dua bayi yang membuat raja Theora selalu tersenyum bahagia. Setelah kelahiran Leo dan Leon, raja meminta Nazyela dan Jongya untuk tinggal di istana. Mau tidak mau mereka pun tinggal di istana untuk sementara. Raja menggelar pesta kelahiran cucu kembarnya sebagai ungkapan rasa bahagianya. Pesta itu di gelar di ibu kota untuk seluruh lapisan masyarakat. Rakyat Theora menyambut dengan suka cita, mereka menikmati pesta itu dengan riang gembira.


Nazyela mendekati sang raja ketika pria paruh baya itu menggendong salah satu putranya.


"Terima kasih anakku, kau melahirkan cucu-cucu yang sangat tampan untukku"


"Saya juga bahagia yang mulia bisa melahirkan Leo dan Leon untuk menjadi cucu yang mulia"


"Panggil saja aku ayah"


"Ya? Baiklah... ayah"


"Apakah ada yang kau inginkan?"


"Apa ayah ingin memberi saya hadiah?"


"Jika kau mau"


Sesaat Nazyela berpikir. Ia terlihat sedikit ragu mengatakan apa yang dia inginkan.


"Apa permintaan mu hingga kau berpikir keras seperti itu?"


Sang raja yang mengamati wajah Nazyela mencoba menanyakan permintaan wanita itu.


"Emm... ituuu, bisakah ayah meringankan hukuman untuk yang mulia ratu? Misalnya memperpendek masa hukumannya. Karena yang mulia ratu tidak lagi muda, saya takut beliau tidak sempat melihat cucu-cucunya yang tampan"


Raja terkejut atas permintaan Nazyela. Sejenak ia terlihat kecewa, namun perlahan lelaki tua itu membuang napas panjang.


"Apa kau tidak takut dia berbuat jahat padamu dan si kembar?"


"Bagaimanapun yang mulia ratu adalah seorang ibu. Beliau tidak mungkin membunuh darah dagingnya sendiri. Saya pernah mengunjungi beliau saat hamil beberapa bulan dulu. Beliau terlihat bahagia dengan kehamilan saya meski beliau mencoba menutupinya. Dari situ saya merasa yang mulia ratu telah menyesali segala perbuatannya. Bukankah lebih baik kita memaafkan jika itu dapat mengubah sesuatu menjadi lebih baik?"


Nazyela menatap sang raja penuh harap untuk menerima permintaannya.


"Akan aku pikirkan"


Wanita itu tersenyum mendengar jawaban sang raja.


Ia pun menyambut suaminya yang datang mendekat padanya.


"Kau dari mana saja sayang?"


"Aku habis bergabung dengan mereka"


Jongya menunjuk ke arah putra mahkota dan isterinya serta Rudy.


Nazyela tersenyum dan menundukkan kepala memberi salam dari jauh untuk Argen dan isterinya ketika mereka tidak sengaja bertatapan.


"Apa kau tidak iri, adikmu sudah memiliki dua orang putra sekaligus"


Tanya Rudy pada Argen sang putra mahkota.


"Aku sangat bersukur dia mendapatkan kebahagiaan yang dia inginkan. Lagi pula kami akan segera menyusul..."


Ucap Argen sambil memandang isterinya dan mencium lembut tangan putih itu.


"Maksudmu... kalian...?!"


Rudy tidak meneruskan kata-kata ketika melihat senyum bahagia di kedua pasangan putra dan putri mahkota itu.


Putra mahkota juga sedang merasakan kebahagian karena sang isteri sedang berbadan dua.


Tidak ada yang menyangka dengan perjalanan liku-liku kehidupan percintaan antara Nazyela dan Jongya. Kaya, makmur, berstatus tinggi, cantik serta rupawan merupakan takdir yang menjadi impian semua orang.


*****


Pagi itu suara kicauan burung dikalahkan oleh suara ribut seseorang yang berada di dapur.


Suara itu memaksa seorang gadis dengan perlahan membuka matanya. Pandangannya buram, ia harus mengerjipkan matanya beberapa kali untuk melihat dengan jelas. Leher nya terasa kaku dan sakit ketika ia mulai mengangkat kepalanya. Pipinya basah oleh genangan air yang tertampung di sebuah buku diatas meja.


Ini dimana?


Gadis itu perlahan bangun dari kursi duduknya. Tenggorokannya terasa sangat kering. Ia pun menghampiri seseorang yang sedang sibuk membersihkan piring kotor di dapur itu.


"Pelayan bisakah kau mengambilkan air putih untukku?"


Pinta gadis itu sambil duduk di kursi yang ada di sana.


Seseorang yang di panggil pelayan itu membalikkan tubuhnya. Gadis itu memperhatikan dengan seksama, Ia seperti mengenali wajah yang tidak asing baginya.


Kenapa wajah pelayan ini mirip banget sama emakku di kehidupan dulu. Tapi selama ini baru kali ini aku lihat ia disini. Apa pelayan baru ya?


Gadis itu serasa dejavu melihat sosok orang yang mirip dengan kehidupannya dulu. Sama halnya ketika ia baru pertama kali melihat Sir. Yukil dan Nakuna. Perasaan seperti waktu pun itu terulang kembali.


"Enak ya, bangun udah matahari diatas kepala, dateng-dateng minta ambilin minum, manggil emaknya pelayan, mau jadi anak durjana kamu?!"


"Kenapa kau berkata sperti itu, apa kau lupa sama nona yang kau layani?"


Wanita paruh baya itu langsung melempar gelas plastik ke arah gadis itu. Untung saja ia segera menghindar. Ia langsung tersadar apa yang di lakukan wanita tua itu sama persis dengan ibunya jika marah padanya di kehidupannya dulu.


"Anak nggak ada akhlak, emak ajarin akhlak yang baik sama kamu pada kemana larinya hah?! Ini anak bener-bener ya..?!"


"Emak?!"


Gadis itu terkejut saat kata-kata yang keluar dari mulut wanita paruh baya itu bagai palu menghantam kepalanya.


Ia bergegas mencari cermin untuk melihat dirinya.


"Ini aku, aku hidup lagi?! Aku menjadi Kuin lagi?!"


Kuin meraba-raba wajahnya. Gadis itu mundur beberapa langkah karena syok melihat wajah aslinya di cermin. Jantungnya serasa akan luruh dari tempatnya. Kakinya lemas dan nyaris ambruk jika ia tidak segera bertahan pada sandaran tempat tidurnya yang berada di dekat dengannya.


Serasa tidak percaya dengan kenyataan yang ada, ia mengumpulkan tenaga menghampiri ibunya yang masih mengomel di dapur.


"Mak, ini beneran emak?!"


"Ngomong apa sih nih anak?! Emang kamu punya emak berapa?"


"Bukan gitu maksudnya mak, apa Kuin habis meninggoy kemarin terus hidup lagi apa bagaimana mak?! Apa mati suri?!"


"Nih anak makin ngelantur ya?! Kamu itu tidur dari semalem nggak bangun-bangun, udah tinggi hari gini baru bangun?! Sana mandi, iler mu baunya sampai kemari?!"


Apa ini, ini mimpi apa bagaimana? Lalu kehidupanku jadi Nazyela bagaimana? Apa berakhir? Yah... udahan dong?!


"Huuuaaaaa.... huuaaaa.... hiks.. hiks.. huaaaaaa"


Kuin menangis sejadinya-jadinya. Ternyata yang ia alami selama ini hanyalah mimpi. Mimpi dirinya meninggal hingga hidup di dunia berbeda membuat ia menelen pahit kenyataan setelah terbangun dari mimpi panjangnya.


Gadis itu terisak sambil meraih handphonenya. Ia melihat banyak notifikasi dari beberapa aplikasi di layar hapenya. Tangisnya berhenti setelah cacing dalam perutnya mulai berdemo. Ia pun ke kamar mandi membersihkan diri sambil menenangkan pikiran.


Mimpi itu sangat terasa nyata bagi Kuin. Ia mengucapkan banyak-banyak istighfar dalam hatinya setelah dapat menerima kenyataan bahwa semua itu hanyalah mimpi semata.


Wellcome back to realita Kuin.


Tamat.


Note : Alhamdulillah novel ini bisa kelar sesuai target yang di inginkan. Aku terhura sendiri nggak nyangka. Terima kasih untuk para readers yang selalu mendukung dengan like, komen, vote dan gift🙏🙏. Tanpa kalian aku bukan apa-apa. Terima kasih untuk keluarga halu A͜͡ⁿᵘ yang selalu mendampingi, memberi motivasi dan dukungan saat aku males dan gabut karena nggak ada ide buat nulis😁.


Sekali lagi untuk semuanya TERIMA KASIH 🙏.