Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 31



Bau kayu yang terbakar menyeruak dipenciuman Nazyela. Dinginnya suhu membuat gadis itu terbatuk-batuk. Tubuhnya mulai panas dan menggigil, disertai dengan bibirnya yang kering dan pucat.


Perlahan dia membuka matanya, samar-samar ia melihat sosok pria yang sedang melemparkan potongan kayu kering ke perapian. Namun karena kondisi tubuhnya yang lemah, ia tidak mampu membuat dirinya mengangkat kedua kelopak matanya. Hingga gadis itu kembali memejamkan matanya.


Pria itu mengambil beberapa kain tebal dan menyelimutkannya, menutupi seluruh tubuh gadis yang sedang menggigil kedinginan.


Ia meneguk anggur hitam untuk menghangatkan tubuhnya. Tatapan matanya tak pernah beralih dari gadis yang sedang terbaring lemah.


Cantik....


"Sruuupp"(Suara minuman di serap oleh mulut )


Aku bisa saja membunuhnya saat ini. Tapi sebaiknya aku bermain - main dulu dengannya.


Bukankah itu lebih menarik?


Sekilas senyum menjijikkan terlihat diwajah pria itu. Ia berjalan mendekati Nazyela mengusap pipi lembut gadis itu.


Mengambil beberapa helai rambut yang menjuntai lalu mencium aroma dari rambut itu.


Matanya terpejam menikmati aroma rambut Nazyela. Senyumnya semakin merekah karena Nazyela memiliki aroma tubuh yang sangat menggoda baginya.


"Umm... emh...?! "


Sayup-sayup mata gadis itu terbuka sedikit.


"Emh.. too.. loong akuuu....."


Suara pelan yang merintih membuat laki-laki itu terdiam sesaat.


Ia terus mengamati wajah mungil Nazyela hingga gadis itu kembali terpejam.


Mendengar suara Nazyela, lelaki itu mengurungkan niatnya sesaat.


Hah... kenapa aku jadi seperti ini..


Sudah lah kita lihat saja ketika dia sudah sehat, apakah bisa lebih menarik lagi.


Akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk merawat Nazyela sementara waktu.


*****


Berita di culiknya Nazyela menggemparkan kediaman bangsawan Kley. Tuan Histon jatuh sakit karena mendengar kabar itu. Adrian marah besar, lalu memerintahkan bawahan mereka untuk menyisir keberadaan Nazyela diseluruh pelosok negeri itu. Semua daya dan upaya dikerahkan guna menemukan putri berharga bangsawan Kley.


Sir. Yukil menyalahkan dirinya sendiri atas kecerobohannya. Ia menguras emosi dengan melakukan latihan fisik ekstrim tanpa istirahat. Sedang Nakuna mengurung diri dikamar, gadis itu terlihat shock kehilangan nona mudanya didepan matanya.


"Saya merasa ini ulah Serikat Dragon lagi. Saat ini yang menjadi musuh terbesar nona adalah Bangsawan Shaden"


Tegas Sir. Yukil.


Adrian Kley mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Pemuda itu tampak berpikir keras berusaha untuk menemukan adiknya. Seminggu berlalu namun usahan mereka belum juga membuahkan hasil. Penculik yang menculik Nazyela berhasil menyembunyikan gadis itu dengan baik.


"Mungkin saja karena nona telah mundur dari calon regina. Jadi tidak ada alasan lagi Naila Bolafra menjadikannya musuh"


Ujar. Sir. Afik menyimak pembicaraan mereka.


"Ya kau benar, aku juga telah meminta pelayan itu untuk mencari tahu dengan bertukar informasi tentang Naila Bolafra. Ia merasa Nazyela bukan lagi rivalnya"


Adrian Kley mengutarakan informasi apa yang sudah ia dapatkan.


"Lalu jika benar itu ulah Serikat Dragon, kira-kira level mana yang menculik nona?"


Lani yang menjadi asisten Nazyela kini memiliki peran dalam kemajuan bisnis membantu Sir.Afik juga ikut dalam rapat kali ini.


"Entahlah.. level manapun yang jelas kita tahu itu ulah Dragon dari Shaden"


"Bagaimana jika kita coba menyusup kedalam serikat itu?!"


Tiba-tiba Sir. Afik terlintas ide untuk memata-matai kelompok itu.


"Maksudmu memata-matai bagai Rosi?"


"Benar, tapi kita harus meletakkan seseorang yang benar ahli mengatasi itu"


Semua mata mengarahkan padangannya ke arah Sir. Yukil. Mereka tahu keahlian Sir. Yukil dapat dipercaya. Sir. Yukil yang ditatap oleh semua sedikit terlonjak.


"Jangan saya, saya selalu mendampingi nona kemana-mana. Mereka mungkin sudah hafal dengan wajah saya"


Tolak Sir. Yukil dengam alasan yang masuk akal.


"Jika brewok dan kumis anda dibuang lalu rambut ada di pangkas dan di ubah gayanya, saya yakin mereka tidak akan mengenali anda Sir. Afik"


"Ehem.. uhuk.. uhuk..?!"


Sir. Afik terkejut mendengar penuturan Lani.


"Benar, sepertinya kau cocok.. bukankah kau juga pintar dalam berbicara?"


Sir. Yukil menambahkan.


"Kalau begitu bersiaplah Afik.."


Perkataan Adrian artinya keputusan telah di ambil dan menjadi Sir. Afik sebagai mata-mata kali.


"Tu... tuan...?! Haah... baiklah"


Sir.Afik menunduk hormat.


Rapat itu kemudian berlanjut membahas perencanaan dan pengelolaan kemajuan bisnis mereka. Tanpa Nazyela Sir. Afik dan Lani menjadi lebih ekstra dalam pekerjaan mereka. Pengambil keputusan yang biasanya dilakukan oleh Nazyela kini harus di bahas dan di informasikan ulang ke Adrian.


3 Jam berlalu akhirnya rapat yang menguras waktu dan pikiran mereka akhirnya selesai juga. Mereka yang keluar dari rapat itu tampak lemas. Namun kewajiban dan tugas adalah sesuatu yang tak dapat mereka hindari. Mereka pun melanjutkan aktifitas berikutnya.


Sir. Afik pergi kesalon merapikan penampilannya sesuai arahan Lani.


Kumis dan brewok laki-laki itu dicukur habis. Rambutnya dipendekkan dengan gaya yang berbeda dari biasanya. Dan benar saja perubahan drastis terlihat di wajah Sir. Afik. Pria itu terkesan jaub lebih muda dari biasanya.


Lani yang berpas-pasan dengan Sir.Afik di lorong kediaman Kley menjatuhkan berkas-berkasnya secara tidak sengaja saja setelah melihat wajah tampan yang dulu biasa saja baginya.


Pipi gadis itu tiba-tiba merona lalu dengan cepat ia berpaling menghindari tatapan Sir. Afik. Debaran jantungnya tidak biasa, ia pun menjadi sedikit salah tingkah karena malu pada Sir. Afik.


Sir. Afik membantu memungut selebaran-selebaran kertas yang bertaburan di lantai, lalu memberikannya kepada Lani.


"Terima kasih"


Lani tidak berani mengangkat wajahnya. Gadis itu terus tertunduk menyembunyikan rona wajahnya.


"Bagaimana persiapanku, apa begini tidak akan ketahuan?"


Mendengar perkataan Sir. Afik, Lani terpaksa mengangkat wajahnya.


"Em.. iya, anda sudah terlihat seperti orang lain. Anda menjadi lebih muda dan tampan"


Hah.. apa yang sedang aku ucapkan?


Kenapa mulut ku tidak tahu diri begini sih?!


Astaga.. aku malu..


"Ah..."


Sir. Afik cukup terkejut mendengar perkataan Lani sehingga pria itu tidak bisa meneruskan kata-kata.


"Ka.. kalau begitu saya permisi"


Lani buru-buru membungkukkan badan lalu berjalan cepat menghindari Sir. Afik.


Lelaki itu terdiam di tempatnya tanpa kata.


Dibalik tembok yang tak jauh dari keberadaan Sir. Afik, Lani menyandarkan tubuhnya dan meraba dadanya.


Astaga... jantungku, kenapa berdebar seperti ini. Dia sungguh berbeda dari sebelumnya.. Padahal setiap hari kami bertemu tetapi kenapa baru sekarang?! Bagaimana aku harus bertemu Sir. Afik nanti? Aarghh... entahlah..


Wajah Lani memerah, gadis itu tak mampu menutupi gejolak hatinya.


*****


"Naku... apa kabar ya nona kita sekarang. Saya rasanya tidak sanggup menatap nona jika bertemu dengannya. Saya merasa sudah tidak pantas menjadi pengawal nona"


"Hah... sudahlah.. penyesalan yang tiada habisnya tidak akan merubah sesuatu yang telah terjadi. Tapi ingat lah.. jangan berbuat seperti itu lagi yang akhirnya menjadi penyesalan. Jika kita telah mengetahui seperti apa rasa penyesalan itu, sebaiknya kita menjadikan diri kita lebih baik lagi. Saya juga merasakan hal yang sama. Tapi saya tidak ingin larut"


Kedua sejoli itu menghela napas merasakan sesak karena rasa khawatir mereka terhadap Nazyela yang belum ditemukan hingga sekarang.


Angin malam setelah badai salju yang mereda membuat tubuh mereka meringkuh dalam dingin diantara pelukan satu sama lain di depan tungku perapian.


✨Arahin jempol kalian untuk FAVORITE ❤️kan novel ini karena itu Gratis guys. Dan jangan lupa untuk LIKE👍 dan KOMEN yang seru-seru karena jejak kalian adalah dukungan buat Author. Terima kasih 🙏🤗


✨Cintai Aku Seikhlasmu, bagi kalian yang suka kisah yang menyesakkan dada. Terima kasih 🤗