Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 73



Hari yang cerah tanpa melakukan kegiatan apa-apa. Jongya melamun memikirkan Nazyela yang sudah beberapa hari ini tidak bisa ia jumpai. Hatinya rindu ingin melihat gadis itu walau tidak bertegur sapa.


Ketika ia datang seperti biasa, ia melihat toko itu sedang direnovasi. Terbesit dalam hatinya untuk mendatangi rumah Nazyela.


"Kau tak mengenguntit hari ini?"


"Ck..!"


Kedatangan Suly di depan pintu kamarnya membuyarkan lamunan Jongya.


Gadis itu tersandar di pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kau ini pasif sekali. Apa gunanya kau hanya memandang dari kejauhan?Memang nya dia bisa tahu apa yang kau rasakan dan apa yang kau mau. Pantas saja dia meninggalkan mu kau terlalu lambat. Menunggu itu menjenuhkan dan kau sangat tahu rasanya"


"Aku begini karena aku punya alasan"


"Lalu apa alasanmu?"


"Kau sudah tahu kisahku. Aku hanya ingin dia bahagia karena aku sudah banyak menyakitinya"


"Lalu apa kau yakin dia sudah bahagia? Apa dia sudah meminta mu untuk menjauh? Kau akan menyesal jika kau terlambat sedikit saja. Aku tidak suka melihat kau melamun seperti itu. Kau itu pangeran, seharusnya kau bersikap lebih baik"


"......"


Jongya hanya diam mendengar ucapan Suly. Ia selalu ingat janji nya kepada Adrian untuk menyerah bila Nazyela sudah bahagia.


Nazyela yang di lihatnya saat bersama Ji Chang selalu tersenyum hingga membuat pemuda itu enggan mengganggu hubungan mereka. Ia tidak mau senyum di wajah gadis itu pudar karenanya.


"Ck, aku tak mengerti dengan cinta yang kau jalani"


Suly berdecak kesal lalu meninggalkan Jongya dengan kesendiriannya.


"Jangan melihat ku seperti itu, apa kau mau mati?!"


Suly mengomeli Wison yang secara tidak sengaja berpaspasan dengannya dan hampir bertabrakan ketika lelaki itu hendak menuju kamarnya.


Pemuda itu menggelengkan kepala, rasanya ia selalu disalahkan bila sudah berhadapan dengan Suly. Wilson mencoba mengalah dengan membiarkan Suly berjalan lebih dulu.


"Cih, kau kira aku akan tunduk padamu meski wajah tampanmu adalah tipeku?!"


Gumam pelan Suly yang masih kesal sambil berlalu dari hadapan Wilson.


Wilson yang mulai berjalan perlahan menuju kamarnya tiba-tiba berbalik badan, lalu dengan langkah cepat ia mengejar langkah Suly. Begitu telah dekat, ia pun menarik paksa tangan gadis itu.


"Eh... YA?!! Apa yang kau lakukan?!!"


Suly terkejut bukan main. Ia pun berjalan terhuyung karena tarikan yang kuat dari Wilson yang berhasil membawanya masuk kedalam kamar lelaki itu.


"Kau gila?!! Apa yang kau hmpp. hmpp.. !!"


Suly ngamuk bukan kepalang. Namun suaranya terendap nyaris tak terdengar karena Wilson yang tiba-tiba mencium bibir gadis itu dan mendorongnya ke dinding kamar tak memberikan kesempatan untuk nya berbicara.


Suly yang mencoba meronta, namun ia kalah tenaga dari Wilson yang memegang kedua tangannya kebelakang tubuh dan menahan dengan tubuhnya sendiri.


Merasa Suly tidak lagi meronta, Wilson melepaskan ciumannya dan menatap Suly dengan lekat.


Suly terdiam dengan napaserengah-engah. Gadis itu gugup dengan tatapan itu meski dalam hatinya marah karena Wilson telah melecehkan dirinya tanpa seijinnya.


"Apa sekarang kau sudah tahu?"


Tanya Wilson dengan suara pelan.


"Tahu apa?!"


Jawab Suly yang masih galak menyikapi pertanyaan Wilson meski lelaki itu telah menciumnya.


"Tahu akan perasaan mu padaku. Bukankah kau juga sedikit menikmatinya?"


Suly membuang muka dari tatapan Wilson. Gadis itu mencoba menghindar yang entah kenapa ia merasa malu mendengar ucapan Wilson.


"Belum sadar juga ternyata"


Kata Wilson setelah melihat reaksi Suly.


Pemuda itu lalu menahan kedua tangan Suly di belakang tubuh gadis itu dengan satu tangannya. Kemudian tangan yang satunya lagi menangkup pipi Suly dengan lembut. Perlahan Wilson kembali mencium gadis itu namun kini ia lakukan dengan lembut dan penuh perasaan.


*****


Keesokan harinya.


Bulan yang bersinar terang menemani langkah Jongya menghampiri sebuah pintu malam itu.


Ada keraguan dalam hatinya, namun karena rasa rindu yang tak mampu lagi ia bendung, lelaki itu membulatkan tekad menghampiri Nazyela.


"Tok...tok..tok"


Suara ketukan pintu.


Sekian detik tidak terbuka Jongya mencoba mengetuk kembali. Tangannya terangkat akan mengetuk namun tidak jadi ketika sosok wanita telah membukankan pintu untuknya.


"Ya... yang mulia?!"


Nakuna terkejut bukan main saat mendapati Jongya yang berada di depan pintu rumah.


"Apa aku boleh masuk?"


"Silahkan yang mulia"


Ucap Nakuna sambil membungkukkan badan memberi hormat pada Jongya.


Jongya masuk kedalam rumah Nazyela untuk yang pertama kalinya.


"Ss.. silahkan duduk yang mulia"


Nakuna terlihat gugup menghadapi Jongya.


"Nazyela ada?"


Nakuna bergegas mendatangi kamar Nazyela dan mengetuk pintu kamar gadis itu.


"Krieet.."


"Naku, ada apa...?"


Nazyela bertanya saat membuka pintu dan melihat gadis itu sedikit gelisah.


"I... itu nona, em.. ada yang mulia pangeran di ruang tamu"


Nakuna tertunduk setelah mengatakan apa yang membuatnya gelisah.


"Apa?!"


Jongya... dia kemari? Tapi mau apa?


Jantung Nazyela mulai berdebar-debar. Ia juga merasakan hal yang sama seperti Nakuna. Gadis itu mulai gelisah dan gugup. Pikirannya mulai kalut menerka-nerka apa yang akan terjadi padanya. Nazyela lalu mencoba untuk bersikap tenang. Bohong jika rasa yang sudah mulai tenggelam tidak akan muncul lagi dengan perlahan. Namun Nazyela mencoba menepisnya, ia mencoba menguatkan hatinya yang sudah ia berikan untuk Ji Chang.


Nazyela berusaha menenangkan hatinya. Ia mengatur napas nya sambil memegang dadanya. Gadis itu lalu melangkah kakinya menuju ruang tamu.


"Yang mulia... maaf membuat anda menunggu"


Nazyela membungkukkan badan memberi hormat pada Jongya lalu duduk di sofa.


Kecanggungan terlihat pada keduanya. Namun mereka terlihat berusaha untuk menutupinya.


"Apa kabar mu Nazyela?"


"Aa..aku baik-baik saja. Bagaimana dengan yang mulia?"


"Aku juga baik. Sukurlah..."


"........"


Hening... setelah beberapa kata keluar dari mulut mereka.


Nazyela mencoba menenangkan debaran jantungnya begitu pula Jongya yang merasa berdebar mana kala mata mereka bertemu saat walau rasa gugup menghampiri. Dalam hatinya pemuda itu ingin sekali memeluk tubuh gadis yang di cintainya.


"Ada apa yang mulia tiba-tiba kemari"


Nazyela mencoba memecah kesunyian di antara mereka.


"Aku... hanya ingin tahu kabarmu"


"........."


Kembali keheningan menguasai di antara mereka. Mulut mereka seperti di lem tak bisa bicara, sedang dalam hati masing-masing penuh pertanyaan yang sangat ingin mereka utarakan.


"Hem.. Naz, apa...kau ada waktu luang besok?"


"Ya?!! Ah.. bukan, em... maksudku ada apa?"


Nazyela tersentak saat mendengar pertanyaan Jongya. Gadis itu memandang wajah yang sedari tadi tidak lepas mengamati dirinya.


"Aku ingin mengajak mu ke suatu tempat"


Nazyela terdiam sesaat.


Mungkin, ini waktunya untuk kejelasan hubungan kami selama ini. Tapi aku takut hatiku mudah goyah jika aku pergi bersamanya. Bagaimana dengan tuan Ji yang telah sangat baik padaku selama ini? Nggak...! kali ini aku harus tegas.


"Maafkan aku yang mulia, kalau boleh tahu ada apa yang mulia ingin mengajak aku kesana?"


"Aku... hanya ingin sekedar berbicara dengan mu"


Ada sedikit rasa kecewa di hati Jongya karena Nazyela menolak ajakkannya.


"Kalau begitu yang mulia bisa membicarakannya disini"


"......."


Sesaat mereka saling diam. Terlihat Jongya sedikit mengatur napas nya untuk mulai berbicara kembali.


"Naz... apa kau sudah bahagia?"


"Maksud yang mulia?"


"Apa aku masih punya kesempatan dan harapan pada dirimu?"


Deg, jantung Nazyela kembali berdebar. Namun kali ini debaran jantungnya begitu keras hingga ia tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Pertanyaan yang selama ini ia tunggu dari mulut Jongya bagai serasa petir yang menyambar di siang bolong. Nazyela mulai terlihat gelisah, dan hatinya kembali terombang-ambing. Ia memainkan tangan yang tiba-tiba dingin dengan meremas jari-jarinya. Gelisah di wajah nya sangat terlihat jelas di mata Jongya.


"Aa.. aku.. aku..."


"Tok... tok.. tok?!"


"Wah... sedang ada tamu rupanya?"


"Ttu...tuan..?!"


Betapa terkejutnya Nazyela hingga terduduk lemas melihat pria yang baru saja mengetuk pintu yang memang sedang dalam terbuka masuk menyapa sambil tersenyum. Ia seperti wanita yang kedapatan sedang selingkuh dan di ciduk oleh kekasihnya.


📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.


~Jangan lupa favorit ❤️


~Rate⭐⭐⭐⭐⭐


~Hadiah


~Vote


Terima kasih 🤗


📢 Hari H ya.., di tunggu jejak komen 5 kali nya sampai batas jam 12.00 Wib untuk bisa ikutan even jam 19.30 Wib nanti . Don't miss it 😉