
Dua minggu berlalu.
Kini mereka sedang berada di Jerman, menikmati konser Mozart yang sangat di nanti Nazyela. Ia duduk kursi paling depan bersama Adrian dan juga Naila. Nakuna dan Sir. Yukil duduk dibelakang mereka sambil berpegang tangan. Konser ini menciptakan ke romantis di antara mereka.
Nazyela sangat menikmati alunan musik orkestra itu.
Setelah selesai menonton konser mereka memutuskan kembali ke penginapan.
Di kamar Nazyela, Naila mendatangi gadis itu dan duduk di sofa panjang yang ada dalam ruangan itu.
Nazyela pun ikut duduk si sofa yang sama.
"Kau senang selama kita liburan? "
Nazyela menganggukan kepala.
"Tentu.. aku sangat berterima kasih padamu dan kak Adrian. Harusnya ini adalah liburan bulan madu kalian"
"Ah... tidak apa-apa, kami juga sangat menikmati bulan madu kami. Sukurlah kau sangat menikmati liburan ini"
"Tok.. tok.. tok..?!"
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka.
Adrian muncul dari balik pintu itu.
"Wah... disini kau rupanya?!"
Adrian terlihat senang menemukan Naila yang berada dalam kamar Nazyela. Pemuda itu lalu mencium pipi Naila sesaat sebelum ia duduk di sofa.
Naila tersipu karena Adrian menciumnya didepan Nazyela. Sedangkan gadis itu memutar bola matanya jengah melihat keromantisan yang di tunjukan padanya.
"Naz..., aku berencana kembali ke Theora 2 minggu lagi"
Nazyela mempertimbangkan perkataan kakaknya.
Ahh... kakak pasti segera kembali karena banyak pekerjaan yang telah tertunda selama bulan madunya. Kasihan juga jika ayah harus bekerja keras selama kami tidak ada..
"Baik lah kak, kakak pasti memikirkan pekerjaan kakak. Sebaiknya kita semua kembali sesuai rencana kakak"
"Tidak perlu. Aku berharap kau masih menikmati liburan ini. Aku berencana akan membeli rumah untuk kau tinggal lebih lama lagi disini. Aku ingin kau benar-benar senang dan tenang selama disini, setelah apa yang terjadi selama ini padamu"
Terlihat Adrian sangat tulus dan begitu berharap Nazyela menuruti apa yang ia katakan.
"Baiklah kak...tapi aku tidak ingin tinggal disini, aku ingin ke Korea Selatan dan tinggal disana"
"Apa kau yakin?"
Nazyela mengangguk dengan cepat pertanyaan kakaknya dengan tersenyum lebar. Tentu saja ia tidak akan melewatkan untuk tinggal di negara oppa-oppa itu.
Wuuaaahh.... setelah sekian banyak penderitaan yang aku alami akhirnya masa indah datang juga.. Oppa.. i'm coming...!!
"Baiklah.. aku akan mempersiapkan segala sesuatunya"
Ucap Adrian menyetujui keinginan adiknya.
Tiga hari kemudian mereka berangkat ke Korea Selatan.
Seminggu perjalanan dengan menggunakan kapal akhirnya mereka tiba juga di Busan Korea.
Adrian tidak membuang waktu, ia langsung mencari rumah untuk tempat tinggal adiknya.
Rumah yang di belikan Adrian di sana cukup sederhana, sesuai permintaan adiknya Nazyela. Rumah itu terletak di area kota Incheon.
Setelah dua minggu masa yang di tunggu akhirnya datang juga. Adrian sedikit berat melepaskan adiknya untuk tinggal di negara kimchi itu. Adrian menitipkan perlindungan Nazyela kepada Sir. Yukil dan Nakuna.
Mereka pun berpisah untuk sementara.
*****
Menjalani kehidupan di Korea awalnya cukup sulit bagi ke tiga orang itu. Tentu saja karena bahasa mereka yang berbeda. Namun ini lah ke unikan Nazyela selama di kehidupan barunya. Bahasa apapun yang orang lain ucapkan terdengar bagai bahasa yang ia gunakan di kehidupan sebelumnya. Sama halnya saat ia berada di Austria, Paris, dan juga Jerman. Apapun bahasa yang orang lain gunakan baginya hanya terdengar seperti mereka mengucapkan bahasa Indonesia.
Nazyela, Nakuna dan Sir. Yukil mencocokan gaya kehidupan mereka selama tinggal di Korea.
"Tok.. tok! "
Nazyela mengetuk pintu kamar Sir. Yukil yang sedang terbuka lebar.
Pemuda itu menoleh dan terkejut nona nya mendatangi kamarnya.
"Boleh aku masuk?!"
"Oh.. masuklah nona, maaf kamar saya berantakan"
Sir. Yukil langsung menghampiri nona nya.
Benar, kamar nya saat itu sedang dalam keadaan berantakan karena Sir. Yukil sedang membereskan barang-barangnya.
"Peti apa itu?"
Nazyela penasaran dengan peti besar yang tergeletak di tengah-tengah lantai ruangan itu.
Nazyela pun berjalan mendekati dan melihat ke dalam peti itu.
Nazyela melongos setelah melihat isi dalamnya.
"Kau membawa ini selama perjalanan kita?!"
"Emm... iya nona"
Sir. Yukil terlihat canggung dan bingung.
"Astaga... kita tak membutuhkan itu disini?!"
Sir. Yukil sangat bingung dengan perintah nona nya.
"Kita tidak butuh benda itu disini"
"Tapi saya memerlukan benda-benda ini untuk melindungi nona"
Nazyela menutup mulutnya tak percaya. Ternyata selama ini Sir. Yukil membawa beberapa pedang, belati serta granat dalam sebuah peti besar.
"Singkirkan!"
"Tapi nona?!"
"Aku bilang singkirkan!!! "
Mendengar keributan antar Nazyela dan Sir. Yukil, Nakuna segera menghampiri kedua orang itu.
Ia melihat keduanya yang berdebat dan saling tak ingin mengalah.
" Ada apa ini?"
Nakuna terlihat sedikit cemas dan bingung.
"Naku.. apa kau tahu selama ini kekasihmu membawa benda-benda ini?"
Nazyela menunjuk kedalam peti besar itu.
"Tentu saja.. itu semua untuk melindungi nona"
Jawab Nakuna polos.
Tentu saja Sir. Yukil tersenyum kepada kekasihnya.
"Astaga... kalian sama saja. Aku tidak mau tahu.. kau harus singkirkan benda-benda ini! "
Sir. Yukil masih tak habis pikir dengan kemauan nona nya. Jika semua benda itu dibuang bagaimana ia harus melindungi nona nya dan Nakuna.
Terlihat kebingungan Sir. Yukil pun mengemasi benda-benda itu dan akan menyingkirkannya.
" Kita tidak lagi di Theora Sir... di negara ini aku tahu ada benda yang lebih praktis di bawa kemana saja. Dan kau bisa melindungiku dengan benda itu"
"Apa nona yakin?"
"Tentu saja. Besok kita akan segera mencari benda itu"
Nazyela berkata dengan percaya diri.
Tentu saja aku yakin Sir.. selama perjalanan aku mengamati kehidupan negara ini tenyata lebih maju dari Theora. Dan aku yakin pistol pasti sudah ada disini. Kehidupan disini memiliki kemajuan industri serta teknologi yang sudah mulai berkembang. Bagi ku ini terasa lebih mudah..
Aku juga harus mengubah tampilan mereka yang selalu jadi pusat perhatian. Terutama Yukil, lihat saja akan kubuat kau menangis..
Keesokan harinya.
Mereka bertiga mendatangi salon untuk mengubah penampilan mereka. Rambut Nakuna yang selalu di sanggul dipotong dan di ubah dengan gaya di geraikan.
Tampilan Nakuna yang berbeda membuat Sir. Yukil pangling melihatnya.
Ketika giliran Sir. Yukil untuk memotong rambutnya lelaki itu terlihat beringas saat hendak di pegangi kepalanya.
Nazyela langsung menjitak jidat lelaki itu dengan jarinya. Seketika Sir. Yukil terdiam dan langsung duduk dengan tenang.
Setelah itu mereka mendatangi pusat belanja, membeli beberapa pakaian yang sesuai dengan orang-orang di negara itu.
Terakhir mereka mencari tempat dimana bisa mendapatkan senjata pistol.
Mereka duduk di sebuah taman sore itu.
Di taman itu dikunjungi orang-orang dari berbagai usia.
Sesaat Nazyela terfokuskan pada beberapa orang yang terlihat sedang mengawal seorang lelaki tua yang terlihat seperti orang kaya.
"Kalian tunggulah disini, jangan ikuti aku. Aku akan kesana sebentar"
Nazyela memberi perintah kepada kedua asistennya.
Sir.Yukil dan Nakuna hanya melihat apa yang sedang nona nya lakukan.
Nazyela mendekati seorang pria yang sedang bejaga. Ia mencoba untuk berbicara dengan pemuda itu.
"Permisi tuan, bisakah anda membantuku?"
Ucap Nazyela.
Pemuda itu lalu melepaskan kaca mata hitamnya.
"Maaf saya sedang bertugas nona"
Wahh.. tampannya oppa ini!!
Nazyela tersenyum ramah. Ia lalu menyodorkan 10 koin emas kepada pria itu. Lalu mendekati wajah pria itu dan berisik.
"Di mana aku bisa membeli pistol seperti yang tuan gunakan di dalam jas itu?"
Pria itu sedikit terkejut gadis itu mengetahui posisi pistol yang ia sembunyikan.
Sekilas ia melirik ke sekitar lalu dengan cepat mengambil koin di tangan Nazyela.
Ia pun mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan sesuatu disana.
Nazyela menerima kertas itu lalu kembali menghampiri Sir. Yukil dan Nakuna yang sedang menunggunya.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Terima kasih 🤗