Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 93



Semua sibuk, kediaman Kley dan terlebih lagi istana. Raja sengaja memberikan ijin untuk mengadakan pesta ini semeriah dan semewah mungkin. Pasalnya, Nazyela adalah target yang sejak awal ia inginkan menjadi menantunya.


Tidak hanya istana, Britaraya yang merupakan ibu kota Theora menjadi ramai oleh rakyat maupun bangsawan dari berbagai kota. Mereka berdatangan ingin melihat dan mengikuti meriahnya pesta, bahkan ada juga yang ikuti berpartisipasi dalam nikah massal.


"Kau gugup?"


Tanya Adrian kepada adiknya.


"Um..."


Jawab Nazyela singkat.


"Hehehe... ini pernikahan keduamu. Disini para penjahat itu tidak ada, lagi pula kita lah penguasa negara ini setelah kaisar"


"Aku tahu kak, bukan itu yang aku cemaskan"


"Lalu?"


Adrian tampak bingung.


"Waktu itu, aku menikah tidak seramai ini. Dan ini.. hampir seluruh rakyat hadir di pestaku. Aku gugup kak.."


"Hehehe... tutup saja mata dan telingamu, anggap lah... mereka hanya lah orang-orang yang datang karena ingin berbelanja di toko kita"


"Hehehe.. kau benar kak"


Nazyela sedikit dikit tenang setelah mendengar ucapan Adrian.


Saat hari yang di tunggu tiba, Nazyela sudah terlihat cantik dengan balutan gaun yang indah. Jongya pun tampan dengan baju kerajaan khas ala Theora.


Para pemuka agama sudah duduk bersiap untuk menikahkan mereka.


Para tamu undangan duduk dengan rapi dan tenang mengikuti prosesi akad nikah.


Sebagian bangsawan tentunya ada pro dan kontra mengenai adat pernikahan ini. Namun raja tidak mengubrisnya karena yang terpenting adalah kebahagian putranya dan kemakmuran negaranya.


"Semua wali sudah hadir?"


Ustad bertanya pada Jongya.


Lelaki itu memandang sekitar dan menganggukan kepala.


"Karena orang tua dari mempelai memiliki perbedaan keyakinan, maka akan di ganti dengan wali hakim"


Jelas sang ustad.


Ustad lalu memimpin doa sebelum memulai ijab kabul di mulai, lalu kemudian sampai lah saat yang di tunggu-tunggu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Nazyela Estelle Kley binti Histon Kley dengan mas kawin tersebut tunai"


"Sah?"


"Sah.."


"Sah.."


"Sah.."


"Alhamdulillah..."


Dan sekali lagi Nazyela menyandang status sebagai seorang isteri namun kali ini bersuamikan Jongya. Keduanya terlihat sangat bahagia.


Doa-doa lalu di panjatkan untuk kebahagiaan mereka berdua.


Menyusul kemudian Sir. Yukil dengan kekasihnya Nakuna. Sir. Yukil yang terlihat gugup mulai mengatur napasnya.


"Jika salah jangan harap kau bisa tidur denganku"


Bisik Nakuna ke arah Sir.Yukil yang berada disampingnya.


Jantung Sir.Yukil bedegub dengan keras.


Tidak, moment ini sudah lama aku tunggu. Naku... percayakan pada kemampuanku ini..


Sang ustad lalu menjabat tangan Sir. Yukil.


"Saudara Yukil Hariadi bin Wahyugi Mail, saya nikahkan dan saya kawinkan anda dengan Nakuna Warah binti Arifin yang walinya telah mewakilkan kepada saya, untuk menikahkannya dengan anda dengan mas kawin cincin emas di bayar tunai?!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Nakuna Warah binti Arifin dengan mas kawin tersebut di bayar tunai"


"Sah?"


"Sah.."


Jawab serempak wali.


Ijab kabul pun berjalan dengan lancar tanpa hambatan.


Lalu berikutnya mereka menghadiri upacara pernikahan Wilson dan Suly. Ucap janji pernikahan keduanya menjadi awal di mulainya janji suci pernikahan untuk para bangsawan dan rakyat yang memiliki kepercayaan yang sama terhadap Wilson dan Suly.


Sungguh kemeriahan yang luar biasa. Usai upacara pernikahan para rakyat bersorak-sorak, menari-nari dan bergembira. Tak terkecuali pasangan utama yaitu Jongya dan Nazyela.


"Mau dansa?"


"Tentu..."


Uluran tangan Jongya di sambut hangat oleh Nazyela. Mereka berdansa mengikuti lantuna musik yang indah.


"Oh...lihat lah..?! Aku bahagia sekali melihat senyum nona secerah itu"


"Kita kan juga menikah, apa kau tidak bahagia menikah denganku?"


"Tentu saja aku bahagia, tapi kisah kita tidak berliku seperti nona. Dan aku tahu kau pasti akan menikah denganku"


"Hah, kau percaya diri sekali ternyata"


"Karena aku tahu kau tidak bisa tanpaku"


Sir. Yukil sedikit kesal bercampur malu dengan apa yang ia dengar dari isterinya Nakuna, yah.. semua yang di katakan nya adalah benar.


Sir. Yukil lalu mendekat dan memeluk pinggang ramping Nakuna dari belakang.


"Ini di tempat umum?!"


"Aku tidak peduli, kau isteriku sekarang"


Tangannya bergerilya dari pinggang naik ke punggung lalu jatuh ke bokong Nakuna.


"Kebiasaan meraba mu tak pernah hilang ya?!"


Nakuna berkata sambil mendelik jengah.


"Tenanglah.. hanya kau yang aku raba"


Ujar Yukil dengan senyum menggoda.


Nakuna hanya bisa merona mendengar ucapan pria yang kini telah menjadi suaminya.


*****


Beda pasangan beda pula jenis kebahagian yang mereka luahkan.


Suly tidak melepaskan pangutan Wilson yang bagai berada di gurun pasir yang haus akan dahaga. Selama 3 bulan mereka menahan segala hasrat dalam diri mereka. Kini hasrat itu tak terbendung lagi.


Perlahan Wilson mulai membuka pakaian yang Suly kenakan. Tangannya mulai lihai mencari celah yang dapat melancarkan aksinya.


"Pakai gaun saja, karena pesta masih akan berlanjut sampai malam kan?"


Suly berkata hingga membuat aksi Wilson yang sedang menciumi lehernya berhenti dengan tangan yang telah manurunkan setengah resleting gaun yang di pakai oleh Suly.


"Haaah... kau mengacau saja, kau lihat dia dari tadi sudah menegang"


Suly melihat ke arah yang dimaksud oleh Wilson. Dan benar saja, sesuatu yang berada di balik celana lelaki itu tampak membesar hingga menerikan kain di sekitarnya.


"Hehehe... maafkan aku"


Suly perlahan memegang sesuatu yang membesar itu sambil mengusap dengan lembut.


"Ouuh... kau membuat ku gila?!"


Wilson melenguh dan langsung membawa tubuh Suly ke ranjang pengantin mereka.


"Kiyaaaa?!"


Wilson melepaskan pakaian yang Suly kenakan satu persatu, meski Suly memperingatkannya masih ada acara yang harus mereka hadiri.


Namun lelaki itu tak peduli lagi. Tangannya terus berusaha membuka satu persatu yang masih melekat di tubuh isterinya. Selama ini ia sudah cukup menahannya. Ciuman pun mendarat bertubi-tubi di tubuh Suly. Pergulatan panas pun dimulai, hingga mereka melakukannya.


Sementara itu, di aula istana, Jongya dan Nazyela masih sibuk menyapa para tamu dan undangan. Meski terlihat lelah namun senyum bahagia selalu terpancar di wajah keduanya.


"Aku tak melihat Wilson"


Bisik Jongya mendekat di telinga Nazyela.


"Mungkin mereka sedang memulai peperangan"


Balas Nazyela berisik sambil tersenyum kepada bangsawan yang menyapa mereka.


Mata Jongya langsung melirik ke arah Nazyela. Dalam hati pemuda itu sangat iri kepada Wilson yang langsung bisa mencicipi gairah asmara.


"Apa kita kabur saja seperti mereka"


Jongya kembali berisik pada Nazyela.


"Kau ingin kita di kurung karena tidak memiliki etika kerajaan"


Jawab Nazyela sambil tersenyum menyapa tamu.


"Haaah, andai aku bukan anak raja"


Jongya langsung terlihat lesu.


Nazyela lalu mencubit pinggang pemuda itu. Seketika Jongya langsung memiliki energi yang sangat melimpah dengan senyum yang sangat lebar.


📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat.


~Jangan lupa favorit ❤️


~Rate⭐⭐⭐⭐⭐


~Hadiah


~Vote


Terima kasih 🤗


Mohon maaf, Othor lagi ada kesibukan jadi up date nya mungkin sering lewat beberapa hari 🙏😊