Dream Destiny

Dream Destiny
Episode 62



Nazyela yang masih syok memutuskan untuk tidak pergi ke toko. Seharian itu ia uring-uringan dirumahnya. Masih banyak hal yang ingin dia ketahui dari Sir. Yukil namun pemuda itu lebih dulu melarikan diri memilih menemani Nakuna menjaga tokonya.


Dari dalam toko Nakuna berbisik kepada Sir.Yukil setelah melihat Ji Chang dari kejauhan.


"Dia datang lagi?! "


Bisik Nakuna.


Sir. Yukil melihat orang yang datang setelah mendengar suara bel pintu berbunyi.


"Selamat pagi tuan.. "


Sapa Nakuna ramah.


"Dimana dia?"


Tanya Ji Chang yang merasa tidak adanya Nazyela di sana.


"Nona sedang tidak enak badan tuan"


Jawab Sir. Yukil menundukan kan kepala memberi hormat.


"Oh.. kau rupanya"


Jawab Ji Chang saat melihat Sir. Yukil. Ia masih ingat pada lelaki itu yang menemani Nazyela dulu.


Apa karena aku mengatakan menyukainya lalu dia berusaha menghindar dari ku?


Ji Chang terlihat berpikir sesaat.


"Apa dia ada dirumah?"


"Benar tuan"


Jawab Nakuna.


"Baiklah aku akan kesana"


Ji Chang memegang gagang pintu hendak keluar dari toko.


"Tapi... "


Perkataan Sir. Yukil yang menggantung berhasil menghentikan langkah Ji Chang. Ia sebenarnya hendak mengatakan bahwa Nazyela sepertinya sedang enggan di ganggu, namun Nakuna berusaha menghentikan perkataan Sir. Yukil dengan memegang lengannya.


"Silahkan tuan, nona pasti sangat senang dengan kedatangan tuan"


Nakuna berkata sambil tersenyum.


Ji Chang lalu menutup pintu dan pergi menuju rumah Nazyela.


"Kenapa kau membiarkannya pergi Naku? Saat ini suasana hati nona sedang tidak enak"


"Kenapa?"


Nakuna melihat Sir. Yukil penasaran.


"Karena... tadi malam aku telah menceritakan semua yang terjadi di Theora saat kita pergi"


"Apa??!! Jadi anda yang membuat nona kembali murung?!"


Nakuna marah terhadap apa yang dilakukan kekasihnya itu. Pantas saja nona nya terlihat begitu tidak semangat pikirnya.


"Bukan begitu, tadi malam aku melihat nona gelisah seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu ia mengatakan bahwa tuan Ji Chang menyatakan bahawa ia menyukai nona. Karena saya lihat nona ragu lalu saya menceritakan bahwa pangeran berhasil memenangkan perang melawan negara timur. Melihat reaksi nona saya yakin nona masih mencintai yang mulia.


"Hah...astaga!! Lalu dari mana anda tahu kabar itu"


"Melalui surat yang saya kirim lewat jasa pengantar. Meski memakan waktu sebulan lamanya tapi akhirnya tuan Adrian membalas surat saya"


"Apakah pangeran benar-benar sudah berpisah?"


Nakuna akhirnya melunak dan ingin tahu apa yang terjadi.


"Benar, mereka sudah sah bercerai. Pangeran bahkan meminta alamat kita disini untuk menemui nona. Tapi sudah berapa bulan pangeran tidak juga datang kemari"


"Apa yang mulia sudah menyerah ya terhadap nona?"


Nakuna sedikit berpikir mendengar pangeran yang harusnya sudah menemui nona nya tetapi malah belum terlihat sampai sekarang.


"Entahlah.. tapi kata tuan Adrian, pangeran terlihat begitu sungguh-sunguh mencintai nona. Maka dari itu saya menceritakan tentang perang itu tadi malam kepada nona. Saya pikir cinta mereka akhirnya bisa bersatu"


"Nona sangat sedih bila perang terjadi. Tapi jika nona masih sangat mencintai yang mulia pangeran bisa saja nona memaafkan kesalahan pangeran. Tapi.. entahlah,, hah... dari awal hubungan mereka sangat rumit"


Nakuna terlihat stres memikirkan persoalan nona nya dan pangeran Jongya.


"Apa nona tahu pangeran mungkin ada di negara ini? "


" Tidak, aku kabur ke sini sebelum nona bertanya macam-macam"


Nakuna terkekeh melihat kelakuan kekasihnya. Ia tahu bahwa kekasihnya akan melunak jika sudah berhadapan dengan nona nya.


*****


Sementara itu, di tempat yang berbeda.


Ji Chang memperhatikan keadaan rumah di sekitar, dan mencoba mengetuk pintu. Berulang kali Ji Chang mengetuk, akhirnya dari balik pintu muncul. lah wajah kusut Nazyela.



"Oh.. tuan Ji Chang"


Nazyela sedikit terkejut melihat tamu di depan pintu rumahnya adalah Ji Chang.


"Wah...apa kau habis berkelahi? Rambutmu kusut sekali"


"Hehehe... masuk lah"


Ji Chang melangkahkan kaki masuk kedalam rumah. Baru kali ini ia masuk ke dalam rumah itu.


"Duduk lah tuan. Ada hal apa yang membuat mu datang kemari?"


Ji Chang lalu duduk di sofa ruang tamu itu bersama Nazyela.


"Apa kau masih bertanya tentu saja aku mencari kopi?!"


"Apa kopi di toko ku telah habis hingga kau datang kesini tuan?"


Selidik Nazyela.


"Kopi mu belum habis, tapi aku mencari pembuatnya. Dan ternyata malah ada disini"


"Jadi sekarang kau ingin memintaku membuatkan kopi?"


Nazyela terkekeh, ternyata Ji Chang datang hanya ingin mencicipi kopi buatannya. Gadis itu beranjak ke minibar yang terletak bersebelahan dengan ruang tamunya. Ia membuatkan kopi untuk Ji Chang.


"Yah.. begitulah dirimu tuan"


Beberapa saat kemudian Nazyela datang dan meletakkan kopi buatannya di atas meja.


" Tidak. Aku kesini ingin meminta pertanggung jawaban dari mu?!"


Ji Chang terlihat serius menatap Nazyela.


"Aku?! Kenapa?"


Nazyela kebingungan.


"Apa yang kau perbuat padaku, hingga sehari saja aku tak melihatmu aku jadi semakin rindu"


Senyum lebar terukir di wajah tampan pria itu.



"Hah... yang benar saja tuan, kau sungguh pandai menggoda"


"Khekeke... jadi kenapa dengan mu? Apa kau mau menghindar dari ku karena penuturanku tadi malam?"


"Bukan begitu... hanya saja, aku sedang banyak pikiran"


"Hmm... begitu rupanya, apa kau mau berbagi denganku?"


" Hehehe.. kau tak akan sanggup mendengarnya tuan?"


Nazyela terkekeh karena jelas nanti nya pemuda itu pasti akan sakit hati bila mendengar apa yang sedang mengusik pikirannya.


"Benarkah...? Tapi aku ingin mendengarnya"


Ji Chang tidak patah semangat untuk mengetahui apa yang membuat gadis itu gelisah.


"Aku memikirkan seseorang yang berasal dari negaraku"


"Apa dia orang yang penting bagimu?"


"Dia orang yang aku cintai"


Senyum Ji Chang mendadak sirna mendengar penuturan Nazyela.


Nazyela malah terkekeh melihat raut wajah Ji Chang yang mulai berubah.


"Hehehe... sudah aku katakan kau tak akan sanggup tuan"


"Ehem... teruskan"


Ji Chang berdehem mencoba mengatur kembali hati dan ekspresinya.


"Kau memaksa kan diri. Aku tak akan bertanggung jawab jika nantinya kau patah hati tuan"


"Kau meremehkan ku rupanya. Aku tidak apa-apa, mungkin saja itu masa lalu mu dan aku harus siap menerimanya"


"Baiklah...tuan yang percaya diri"


Nazyela duduk tersandar dikursi lalu menceritakan awal dirinya bertemu dengan Jongya, masa dimana ia diselamatkan Jongya saat ia dikejar pemburu hingga tragedi cinta nya yang harus melepas Jongya menikah dengan wanita pilihan ibunya.


"Lelaki bodoh. Apa ia tidak bisa melawan ibunya?!"


"Apa anda menginginkan ia menjadi anak yang durhaka tuan? Apa lagi ibunya memiliki kekuasaan tinggi di negaraku. Ibu nya adalah ratu di negaraku"


"Ini menarik. Jadi dia anak seorang raja?"


"Dia seorang pangeran, anak ke dua dari yang mulia raja. Anak pertama adalah putra mahkota"


"Ini seperti pernikahan politik?! "


"Benar tuan"


"Hmm... ini mirip dengan negaraku"


"Mungkin iya sedikit mirip. Tapi negaraku pertumbuhan dan perkembangan ekonomi maupun teknologi nya jauh tertinggal dari negara lain. Mungkin karena negara ku adalah negara kecil dan terletak di wilayah terpencil"


Ji Chang mendengarkan dengan seksama.


"Tapi kau memiliki banyak koin emas Nazyela dan itu benda berharga"


"Pembayaran di negara ku masih menggunakan koin tuan. Emas yang tertinggi, lalu perak, dan perunggu yang paling rendah"


"Pantas saja dulu kau membayar ku dengan emas . Lalu apa statusmu disana?"


"Hanya rakyat biasa yang beruntung dalam menjalankam bisnisnya"


"Khekeke... kau pintar berkelit"


"Tuanlah.. yang pintar mengorek privasi seseorang"


Nazyela menatap sendu pada Ji Chang.


"Apa itu membuatmu sedih?


"Entahlah... "


Hanya kata itu yang mampu Nazyela ucapkan.


Raut kesedihan yang ditahan terpancar di wajah Nazyela.


Ji Chang menyadari satu hal bahwa Nazyela sepertinya masih mencintai pria yang bernama Jongya itu.



Ji Chang mendekat pada gadis itu dan meraih kedua tangannya. Lelaki itu mencoba untuk menguatkan Nazyela.


"Ijinkan aku bersamamu untuk menghadapi semuanya. Aku tidak meminta mu untuk membalas cintaku. Tapi biarkan aku tetap berada disisi mu.. "


Nazyela hanya diam. Lalu beberapa saat kemudian ia mencoba untuk tersenyum.


" Kopi dirumah ku sangat mahal tuan. Kau harus membayar nya dengan sepadan"


Nazyela mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Khekeke... kau menggemaskan, pintar sekali kau menghindar. Baiklah.. nanti aku akan membayar kopi di rumahmu ini dengan sepadan".


Ji Chang terkekeh meski Nazyela membuat nya penasaran dan menjadikan nya harus lebih berusaha mendapatkankan hati gadis itu.


📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Terima kasih 🤗


👉Jika kalian menyukai komedi baca juga karya Author berjudul Bukan Soulmate. Semoga kalian suka😉