Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu: Terpikat Dengan Apa yang Seharusnya Tidak



      Suara langkah kaki kasar, cepat lalu berhenti. Langkah yang terus berulang.


      "Aku mulai menaikan derajat emosi!" Lenia mendongak dengan wajah kaku, pipi merah dan kedua tangannya menarik rambut. Gadis itu terlihat kacau.


      "Sadar, sadar Lei. Sadar!" menepuk dada kasar dan kembali berjalan gontai, "apa yang kamu lakukan Lei, dia hanya anak kecil! Sadar!" Meluapkan kemarahan pada dirinya lewat layar gawai. Penampilan gadis itu tampak sangat kacau.


      "Masih belum bisa sadar Lei kamu bukan pedofil kan?" Beralih dari gawai dan mulai menunjuk bayangannya dengan penuh amarah bercampur malu. "Aku tahu aku salah tapi ini, jantung sialan untuk apa berbunyi keras. Sadar dia anak kecil, orang sepertiku sulit membedakan antara berbagai emosi!" Menarik nafas, "aku putus asa pada diriku sendiri." berjalan lemah. Beberapa orang melewatinya hanya menatap bingung.


      "Nak kau tidak apa-apa?" Kata seorang nenek dari dalam rumah, melihat Lenia di depan pagar rumahnya, tampak menggeliat seperti ular.


      "Nek, jangan pedulikan aku. Aku baik-baik saja nek, terima kasih." berjalan lemah dengan wajah meringis, "semua syarat ku telah putus asa untuk di sadarkan." Lenia berbisik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


      Semua menghitam dan kini layar telah terpasang rapi. Diatur sedemikian rupa untuk ucapan selamat datang pada samudera. Lenia membuka mata, pemandangan labirin bunga, sampatong, dan wangi serbuk adalah oksigen terbaik dari alam.


Semua yang nyata pasti akan binasa, namun apa salahnya menikmati selagi ada. Jika kau terlalu mengagumi akan membuatmu terbiasa.


      "Bocah, tempat ini benar-benar milikmu?" Menghirup wangi kerumunan bunga yang berfungsi sebagai pintu labirin.


      "Kakak terlihat sangat menyukai bunga?" Berjalan ke arah Lenia pelan.


      "Aku menyukai hal yang membuatku tertarik?" Menghirup satu persatu bunga tanpa menoleh.


       "Kalau begitu, apa kakak menyukaiku jika aku membuat kakak tertarik?" Berdiri tepat di samping Lenia dan menatap gadis itu. Kedua mata saling menatap dengan penuh tanya, salah satu bunga mawar merah muda sebagai pemisah.


      Lenia mundur, "bocah kau belajar dari mana cara merayu orang dewasa?" Kalimat terbata-bata sambil mengerutkan dahi, mempertahankan mimik wajah agar tetap dingin.


      "Tidak perlu belajar untuk mengatakan hal jujur pada orang yang kita suka, bukan?" Tersenyum miring, "akan ku tunjukan taman bunganya!" Masuk ke labirin.


      "Tunggu memang bocah, aku tidak mengenal jalan di sini. Dasar, aku yakin orang tuanya." Lenia terdiam lalu menarik nafas. Setengah berlari mengikuti.


      Kelopak bunga yang terjatuh menjadi karpet berwarna-warni. Setiap lorong labirin selalu ada kupu-kupu, kepik, tawon, belalang sembah dan lebah bunga. Di kuasai oleh para serangga pecinta bunga. Lenia terlihat seperti ekor yang takut terpisah dari tuannya.


      "Kakak punya seseorang yang sedang disuka?" mempertahankan langkah anggunnya.


      "Masih belum ada dan mungkin tidak ada. Kenapa bertanya?" tangan terulur ke arah kupu-kupu, "kenapa ku jawab?" kata yang setengah berbisik. Kupu-kupu yang ingin di sentuh gadis itu malah terbang ke rambut anak lelaki yang berada di depannya. Tanpa sadar tangan Lenia sudah berada di rambut anak itu. Dia menarik cepat tangannya.


      "Kakak harus bertanggung jawab padaku!" Senyum itu berubah miring.


      "Tanggung jawab untuk?" Lenia mengerutkan dahi.


      Anak lelaki itu seketika berbalik dan membuat tidak ada pembatas di antara mereka. Memegang tangan Lenia dan meletakan tangan gadis itu pada kepalanya. Kupu-kupu di kepala anak itu terbang.


      "Kupu-kupunya." Lenia menatap pada kupu-kupu yang terbang.


       "Kalau seperti ini dan tanpa kata izin aku merasa dikhianati!" Anak itu menarik Lenia padanya dan sebuah ciuman tepat di bibir gadis itu. Membuat mata Lenia terbuka lebar, dia telah menemukan bahwa dirinya menjadi kaku tanpa alasan yang jelas. Semua terjadi begitu cepat dan tanpa sadar tangan anak itu tepat berada pada punggungnya hingga tangan yang lainnya berada pada leher gadis itu tanda mengeratkan ciuman. Semua pikiran menjadi kosong. Ciuman bibir berubah menjadi tarian lidah. Tinggi tubuh keduanya menjadi tolak ukur, tetapi bukan penghalang. Ciuman semakin dalam serta intens, Lenia tiba-tiba menutup mata pelan. Senyum miring sekilas tersungging dari bibir anak itu.


      Namun, sesuatu menyadarkan Lenia dan membuka mata dengan cepat. Gadis itu tersadar. Melepas ciuman mereka secara paksa dan mendorong pelan anak itu. Kedua pipi gadis itu merah.


      "Aku" Kata tercekat.


      "Dasar bocah mesum apa yang," berlari ke arahnya, menarik rambut anak itu. Lenia terjatuh di atasnya. Kedua tangan Lenia di genggam erat, "kakak tahu tentang pelecehan seksual pada anak-anak kan?" Tersenyum miring diatas tumpukan kelopak bunga. Lenia menarik tangannya. Lalu berdiri cepat, "pelecehan seksual, bocah sepertimu lebih dulu melakukannya pada orang dewasa sepertiku!" Marah dan malu.


      "Bukannya kata orang kalau laki-laki tak meninggalkan bekas, sedangkan seorang gadis meninggalkan bekas. Kalau ku lakukan di sini dengan kakak apa yang akan terjadi kira-kira?" Menatap dengan senyum.


     "Aku bukan kakakmu bocah, dasar membuatku serangan jantung, hal itu hanya berlaku dulu dan berbeda dengan sekarang karena gadis pun bebas untuk memilih alur hidupnya entah berbekas atau tidak!" Membalikan tubuh melangkah cepat meninggalkan anak itu yang masih terduduk, "anak kurang ajar. Tolong aku, memang bocah mesum!" Memaki dengan nada hampir menangis.


      Lenia menatap sekeliling, "baiklah, sekarang aku di mana?" Semua dinding labirin terlihat sama, "dan tersesatlah." gadis itu terduduk lemah. Membuatnya menunduk lesu.


Waktu berselang cepat, suara burung semakin menggema.


      "Sepertinya ada satu burung yang tersesat?" Lenia mendongak.


Anak lelaki itu sedang menatap burung pingai terbang di atas mereka.


      "Entah kenapa aku yang tersinggung!" Jawab Lenia ketus.


      "Bagaimana dengan bunga?" Mengulurkan telapak tangan.


      "Rey akan mengambilnya sendiri, tunjukan jalan keluar!"


Berdiri dengan kekuatan sendiri. Anak itu tersenyum miring, "sangat mampu." menggelengkan kepala sambil tersenyum.


       Setiap takdir adalah pilihan. Setiap kata adalah pikiran dan rasa. Jangan terjebak hal yang menjadi rumit.


Lenia membuka pintu depan cafe dengan kasar. Suara pagar menggema karena dibiarkan dalam posisi tak stabil, membuka dan menutup yang berulang. Karena langkahnya tampak tidak stabil gadis itu menabrak batu dan jatuh telungkup di tanah. Dia berusaha duduk, pada pakaian tertinggal jejak rumput.


      Berjongkok di depan Lenia, "ternyata orang dewasa memilih bertingkah seperti anak-anak. " Tersenyum meremehkan.


"Bocah!" Lenia berdiri dan mencoba menstabilkan langkah.


      "Muler nama panggilan untuk bocah ini." menunjuk dengan tangan terbuka pada dadanya. Seolah menekankan pada Lenia untuk mengingatnya.


Perkenalan diri yang membuat penyesalan, Muler berdiri menatap punggung Lenia.


      "Aku tidak akan mengingat namamu, dasar bocah mesum!" Melangkah pelan.


      Leon berdiri di belakang Muler dengan kaos putih dibalut open cardigan hitam, dress pants flat front dan brogue.


Tatapannya dingin.