
Aku tahu mata itu, namun sudah terlalu dalam terikat. Aku tahu kebencian lalu, tapi rasanya sudah terlalu manis. Manusia tidak akan bisa menenggelamkan dirinya dalam duka berlanjut tanpa sebuah keinginan. Aku putuskan untuk berhenti.
Lenia membuka mata, sekarang yang ada dalam tatapannya hanya wajah dengan mata bengkak di depan cermin kamar. Semua terlalu menyakitkan saat tak bisa melewatkannya. Semua pasti dapat dilakukan dengan resiko.
Mengambil tas dari kursi, buku Fiksi tebal berada di pelukan dan menutup pintu lalu melangkah pergi. Langkah-langkah manusia terlihat sama dan membuat senada dengan ketukan nada. Lenia, dengan langkah penuh semangat dan tersenyum melewati kerumunan. Hiruk-piruk dunia terasa hidup. Kendaraan dan langkah seirama. Pekerjaan yang berbeda dan kisah hidup yang tak sewarna, tercampur.
"Selamat pagi pak." tampak senyum setelah kalimat terucap dari bibir Lenia. Seorang ibu duduk di depan rumah, dengan tubuh berisi membalas dengan senyuman ramah. Lenia membawa senyumannya melewati setiap bangunan rumah kayu. Langkah gadis itu berhenti tepat didepan tutup jendela yang terbuat dari plastik tebal dan memperlihatkan seorang gadis dengan ikat rambut sedang duduk dikursi bersama gelas kopi hitam di meja. Laptop tepat dihadapanya. Terlihat fokus pada ketikan.
Lenia tersenyum, lalu menuju pintu kayu putih dan masuk kedalam Cafe Vloren.
"Eli, Eli, Eli apa yang kau lakukan?" mendekati gadis yang bernama Eli dan duduk didepannya, dengan kedua tangan sebagai penyanggah dagu.
Gadis yang di panggil bergumam sebagai jawaban, Eli tetap fokus pada laptopnya.
"Eli, dan Eli." Lenia memasang wajah manis.
bergumam untuk kedua kali, "Lei, aku sedang," kata terpotong dan memilih tetap fokus pada ketikan tanpa pedulikan Lenia di depannya. Lenia mengerutkan kedua bibirnya tanda kesal.
"Kopi hitam dan lamang (makanan khas Dayak) satu porsi yang biasa!" menoleh pada barista tampan berkulit cokelat yang tersenyum padanya. Lelaki itu hanya memperlihatkan telapak tangannya sebagai balasan. Lenia meletakan tas di meja dan membuka buku fiksinya.
"Mari kita lihat sayang, halaman mana yang belum dibacakah!" Lenia membalik halaman demi halaman buku. "Kakakmu hampir lupa, kacamata!"katanya pada buku, membuka tas dan terlihat mencari.
Barista tampan datang meletakan piring dengan lima potong lamang bersama gula merah dan madu disebelahnya.
"Bagaimana penampilanku?" Katanya dengan wajah polos. Barista itu hanya tersenyum manis, "cukup membuatku terkesan!" Tersenyum miring lalu berbalik mengambil kopi. Lenia terlihat polos dan mulai membaca.
Bunyi ketikan berhenti, "Lei! Sebenarnya novelmu ini tentang apa?" Menatap layar laptopnya. "Pertanyaan, kenapa harus fiksi?" Menggeser mouse di telapak tangannya. Lenia tersenyum simpul, "karena aku belum pernah membuat karya fiksikan?" Kata Lenia tanpa memalingkan wajah dari bacaannya.
Eli terlihat mengerutkan keningnya, "siapa dia, di judul?" Menatap kalimat 'kau bukan makhluk yang pantas untuk kudapatkan! Maka pergilah!' Menatap Lenia. Yang di tatap membalas dengan senyuman.
"Dia bukan siapa-siapa?" Tersenyum lepas.
"Kau pasti punya modelnya, dia siapa?" Tanpa sadar barista mengetuk meja. Kedua gadis itu menatap dengan ekspresi wajah terkejut.
"Selalu saja datang tanpa aba-aba!" Eli memukul pundak barista di sampingnya.
Lenia terlihat menggeleng, "Rey, Rey." tersenyum. Rey menarik kursi dan mulai duduk di samping mereka, "aku sedikit penasaran, siapa dia?" Menopang dagu dengan tangan. pertanyaan yang diulang. Wajah Lenia terlihat datar dan tatapannya bukan pada lembar kertas.
"Bukan karena waktu yang kurang tapi, karena pemahaman yang mengintimidasi kisah, kita." Lenia terdiam dan mimik wajahnya terlihat sedih. "Karena semua yang hilang akan kembali, kan?" Tersenyum sendu pada Rey.
Lelaki itu terlihat kaku, "boleh aku memberi saran, aku yakin semua akan terulang walaupun bukan adegan yang sama namun, adegan yang mirip. Kutipan novel yang kubaca." Rey tersenyum misterius sambil menggerakan kepalanya pelan tanpa memalingkan tatapan dari Lenia.
Dia ada, sekarang setelah aku membuka mata, pecahan kaca dimana-mana dan darah penuh di tangan dan sekitar kakiku. Aku duduk diantara pecahan kaca. Wajahku rasanya dingin, untuk mengeluarkan air mata. Tatapanku kosong menatap lantai sekitar dapur. Pergelengan tanganku penuh aliran hangat, darah. Bersandar pada lemari putih, semua terlihat berantakan.
"Dia telah mengantarku pada sesuatu yang sangat menyedihkan." Tatapanku mulai buram.