
Lenia membuka mata. Bayangan samar dari lampu orange kamar. Tubuhnya masih dalam pelukan.
'Saat itu sebentar hanya sebentar aku kehilangan air mata. Hanya sebentar...' menutup mata perlahan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa yang ingin kau lakukan di sini?" Tubuh Lenia menyentuh pohon. Bart diam, tatapan matanya lekat.
"Kau berjanji tidak akan menyentuhku!" Berusaha menutup tubuhnya.
"Bagaimana mungkin, kita sudah menikah Lei!" Membungkuk, mendekatkan wajah pada Lenia. Gadis itu berteriak. Bart tersenyum dingin, "aku harus memiliki setiap jengkal tubuh istriku!" Memegang dagu Lenia dan mencium gadis itu. Dia meronta, semua yang dilakukan tidak membuahkan hasil. Karena pemenang sangat terlihat.
'Bahkan matahari belum tenggelam secara keseluruhan, dia berani menyentuhku saat ini. Pembohong besar.'
Bart menyentuh dada gadis itu. Akar pohon perlahan mengikat tangan Lenia. Bart mulai mencium gadis itu dengan kasar. Tangan bergerak di balik kedua paha bagian dalam Lenia. Membalikan kasar tubuh gadis itu, sehingga matanya sekarang hanya menatap batang pohon. Telinga dan leher terasa hangat. Lidah lelaki itu bergerak bebas di bagian tubuh Lenia.
Memasukan tangan di bagian terdalam Lenia. Bart menikmati suara kecil dari gadis itu. Suara kecil itu baginya adalah tarian gila. Tangannya semakin kasar, gerakan tarik ulur sangat memabukkan.
'Semua menjadi getaran, kasar dan buram' air mata gadis itu terjatuh pada akar pohon.
... 'Kenapa kita ditakdirkan demikian...
...Padahal tak ada niat untuk bersama...
...Tahu sejak awal bahwa ini kesalahan...
...Aku tetap melangkah di sampingmu...
...Hati-hati lah dengan diriku...
...Aku bisa menjadi siapapun ...
...Jika kau terbujuk...
...Maka jaringku akan menutup...
...Mencoba untuk keluar...
...Hal yang sia-sia...
...Sebab kau mengikat dirimu padaku...
...Kamu benar-benar takut genggaman tangan hangat...
...Sia-siakan kah waktu kita...
...Aku membuat sihir sekarang di depanmu...
...Terlalu dekat dengan ilusi...
...Air mata yang ku lihat dipipimu...
...Aku bergetar sekarang dan memelukmu...
...Ketakutanku milikmu...
...Sebab bunga liar yang kau beri...
...Jadikanku takdirmu...
...Tidak akan pernah mengkhianati...
...Pohon kehidupan sebagai janji...
...Dari Tulang rusuk'...
Ketukan di pintu membangunkan Lenia. Gadis itu membuka mata cepat dan terduduk. Bart masih di sebelahnya. Laki-laki itu masih terbungkus selimut.
Turun dari tempat tidur, lalu berjalan menuju pintu. Pintu terbuka seukuran wajah dan hanya menampakan kepala Lenia. Rey menatapnya datar. Lenia tersenyum ragu.
"Kita sarapan lalu pulang!" tulus tanpa pertanyaan.
"Aku sarapan di ja," Suara berat Bart terdengar keras dan hal itu memotong dialog Lenia "sengaja!" setengah berbisik. Rey mengangkat sebelah alisnya.
"Pokonya aku tidak sarapan, aku mandi dulu dan tunggu aku di lobby." Menutup pintu dengan kasar. Gadis itu mengelus dadanya, "si bodoh itu!" Berdiri di depan ranjang.
Bart membuka sebelah matanya, "kenapa?"
"Suami macam apa?" Suara pelan dalam marah. Mengambil kimono mandi.
Lenia memasang platform shoes. Kenakan daster di lapisi cardigan rajut berwarna merah panjang. Tas di biarkan pada samping kanannya. Menatap ke arah ranjang, "semoga saja beliau, di usir!" tersenyum miring menatap Bart yang sedang tertidur. Gadis itu menutup pintu dari luar. Tangannya menggenggam kunci kamar, "aku akan kejam kali ini." Menuju lobby.
"checkout!" mengembalikan kunci kamar pada resepsionis.
"Terima kasih atas kunjungannya." Resepsionis itu tersenyum lembut.
Lenia memberi anggukan kecil.
Telepon berdering di meja resepsionis, "kunci kamar penginapan nomor 19. Bukakan dari luar!" Gadis resepsionis itu terteguan sambil menatap punggung Lenia di balik pintu keluar.
"Baik Tuan, ini atas nama siapa?" Lembut.
"Bart Klar, segera bukakan!" Telepon ditutup.
"Siapa?" Seorang bellgirl mendekati meja.
"Tuan pemilik penginapan dikurung!" memberi kunci pada bellgirl. Keduanya menelan kasar air liur. Gadis bellgirl tergesa-gesa dalam melangakah.
"Aku yakin ini bunuh diri" gadis bellgirl itu akhirnya berlari.
Lenia meletakan tas di atas mobil, "lama sekali si babi itu ketika sarapan?" Mengeluarkan gawai.
"checkout!" Rey memberi kunci nomor 20. Resepsionis tersenyum menatap Rey. Bart melangkah melewati Rey yang membelakanginya. Pintu terbuka otomatis tubuh berlapis, kemeja putih dengan sebagian kancing yang terbuka hingga menampilkan otot yang kokoh, bawahannya didampingi dress pants flat front dan sepatu slip on serta toxedo hitam menggantung di lengan. Rambut terlihat masih basah. Penampilan kasar tetapi karismatik. Gadis resepsionis, bellgirl dan pasang mata penghuni penginapan tertuju pada Bart kecuali Rey. Kesan misterius dan dingin terlalu menonjol. Rey mengetok meja, gadis resepsionis tersadar.
Lenia fokus pada layar gawainya. Gadis itu duduk berjongkok. Seseorang mengetok kepalanya.
"Rey!" Mendongak. Bart menatapnya dingin.
"Bart!" Suara terdengan keras.
"Berani mengurungku?" Tersenyum dingin. Menarik tangan Lenia dan mencium leher gadis itu, "morning kiss" melepas Lenia.
"Ternyata aku bunuh diri." Pasrah.
Bart berjalan melewati Lenia yang terlihat lemah.
"Kau liat apa yang akan terjadi nanti, tunggu saja hukumanmu!" Sekilas berbisik.
Lenia menyembunyikan muka pada kaca mobil Rey dengan ke dua tangannya. Suara teriakan kecil terdengar kuat. Bart membuka kunci mobilnya dari jauh. Lelaki itu tersenyum misterius.