Come Here Datu

Come Here Datu
Come here datu



     "Aku akan mendengarkan!" Berbalik arah dan berjalan menuju tempat tidur kingsize maroon, duduk pada ujungnya. Lenia membuka heelnya pelan. Bart duduk di samping gadis itu dan menarik Lenia untuk duduk di pangkuannya.


      "Apa istriku menyukai pelayanku?" Mencium leher Lenia.


      Lenia menarik napas panjang, "aku jatuh hati itu benar dan tidak akan mengelak tetapi aku sudah memiliki suami dan bagiku komitmenku itu mutlak!" Menatap tegas pada Bart.


      "Suamimu hanya ingin tahu dan tidak akan mempermasalahkannya, karena bagaimanpun juga hatimu milikmu tetapi milikku pantang kubagikan pada makhluk lain Lei!" Senyuman dingin di setiap sela dialog. Suara berbisik tetapi tegas.


      "Kalau begitu kamu tahu semuanya." Sedikit lega. Tangan Bart menggenggam dada Lenia dan bergerak pelan di atas kebaya sebagai pembatas antar daging. Dengan kedua tangannya, Gadis itu memegang tangan Bart tetapi tidak mampu untuk menghentikan gerakan lelaki itu pada dadanya.


      "Jika pembicaraan kita selesai aku akan keluar!" Tetap membiarkan Bart bergerak di tubuhnya.


      "Lei aku tidak akan selesai hanya dengan ini?" Sunggingan senyum jelas terlihat menggoda. Suara gawai di dalam bag mini pada sisi tempat tidur, "ambilkan gawaiku!" Lenia kesulitan keluar dari pelukan Bart, lelaki itu menurut.


      "El aku bersama Bart!" Menatap sekilas pada pemilik nama.


      "Katakan padaku sebelum pergi Lei!" Suara meninggi di sisi halaman, sedikit menjauh dari kerumunan.


      "Aku akan ke situ lagi!" Tersenyum.


      "Kamu sekarang di mana Lei?" Menatap sekeliling halaman.


      "Di kamar mungkin, aku matikan El nanti aku ke situ!" Satu sentuhan pada layar gawai, panggilan mati. Eli mengerutkan dahi, "suami-istri yang mencari kesempatan pada kesempitan, enak sekali mungkin memiliki suami?"


      Sesuatu terasa keras di bawah Lenia, gadis itu sedikit menarik diri menjauh dari Bart dan mencium bibir lelaki itu. Tarian demi tarian pada lekuk mulut. Lenia memejamkan mata sedangkan Bart dalam senyum menikmati tatapan pada kelopak mata gadis itu. Lenia melepas ciuman dan menarik dirinya, "aku menemui Eli!" Duduk di sebelah Bart dan memasang heel. Meletakan gawai ke dalam mini bag dan berjalan pelan ke arah pintu. Bart dengan cepat berada di belakang gadis itu, menahan pintu  dengan tangan kanan pada samping kepala Lenia.


      Menarik napas panjang, "hubungan suami-istri itu di bicarakan bukan dipaksakan dari pihak tertentu!" Menoleh ke kiri, Bart mencium bibir Lenia lembut dan gadis itu terdiam.


      "Aku tidak akan berkata manis pada istriku karena yang manis sudah menjadi milikku, kuharap selamanya seperti itu!" Menarik tangan dari pintu dan membiarkan Lenia membuka pintu tetapi gadis itu terlihat memerah hampir larut dalam tatapannya.


      Sesuatu yang agresif akan terlihat menggoda saat tujuannya tepat dan hal itu terjadi pada yang pasif. Godaan yang menyihir adalah bukti dari sebuah  penderitaan hati. Sukses menarik untuk terjun dalam bayangan mata.


      Pintu toilet laki-laki dan perempuan berada di tengah tubuh gedung yang melingkar. Lenia masuk tergesa-gesa ke dalam ruang toilet perempuan dan masuk ke salah satu pintunya. Tidak memiliki celah untuk bagian bawah dan atas serta kiri dan kanan. Wastafel dan cermin terpajang di dinding ruang toilet dan menjadi ujung pembatas atar 20 ruang toilet, yang saling berhadapan. Beberapa perempuan merapikan make up di sana dan akhirnya beberapa perempuan meninggalkan cermin dengan dialog, dan menyisakan Lenia di dalam toilet. Gadis itu menarik sedikit roknya ke atas dan menurunkan celana tipis hingga ke betisnya. Meraba bagian bawah dan terlihat sedikit cairan lengket pada tanganya, Lenia menarik napas dan membuangnya pelan.


      "Aku sudah mengunci pintu setidaknya permisi, ini ruang toilet perempuan Bart!" Gadis itu tampak gusar, karena ingatannya jatuh pada saat dia merasa sudah menutup pintu toilet.


      Bart mendorong Lenia ke dinding, dan kedua tangan gadis itu sebagai penopang tubuhnya. Kedua lutut menyentuh tutup toilet, tubuh belakang gadis itu tampak menatap Bart, lelaki itu menarik rok Lenia ke atas dan mencium celah pemisah antara gundukan bagian bawah gadis itu.


      "Bart, jangan melakukannya di sini?" Suara Lenia bergetar, setengah berbisik.


      "Lei, kuperingatkan bahwa tempat ini bukan ruang kedap suara!" Berbisik di telinga gadis itu, mengeluarkan tubuh bawahnya dan membuat belaian lembut di dua belahan berbentuk gempalan yang mencuat pada bagian bawah Lenia. Tangan kiri Bart mengeratkan pegangan pada kedua tangan gadis itu, hingga lekat pada dinding.


      Hentakan langkah kaki dengan pantofel merah melewatkan toilet perempuan. Bart terdiam ketika ingin mencium leher Lenia. Lelaki itu, memasukan tubuh bawahnya kembali, menjauh dari Lenia, dan menarik gadis itu padanya, satu ciuman jatuh pada pipi, "kita lanjutkan di tempat yang berbeda!" Tersenyum miring dengan sedikit godaan dalam nada bicara. Garis wajah gadis itu menunjukan kebingungan, "kutunggu di luar!" Membuka pintu toilet dan membiarkan Lenia di dalam dengan perasaan penuh tanya. Suara air dari toilet sedikit membuat suasana serak.  


      High heel  perak, kebaya hitam dan gerakan pinggul yang menampakan sebuah godaan dari setiap lekuk. Gadis itu melewatkan Bart dengan belaian lembut pada dada bidang lelaki itu, yang sedari tadi berdiri di depan pintu ruangan toilet perempuan, hanya sekadar menunggu Lenia.  Bart menatap gadis itu dengan tatapan dan senyuman miringnya. Salah satu pintu toilet terbuka dan salah satu pintu toilet ujung tertutup. Lenia keluar dari toilet dan berjalan menuju pintu keluar dengan Bart menunggunya, sedangkan gadis itu masuk ke dalam salah satu toilet.


      Membuat sudut segitiga pada tangan, menarik pelan tangan Lenia dan melingkarkan pada tangannya, "aku takut istriku hilang!"


      Lenia tersenyum, "sepertinya aku selalu di anggap anak kecil!"


     "Senyuman itu yang membuatku tidak pernah menyesal!" Lenia menghentikan senyumannya, hal itu membuat kedua pipinya serentak memerah, "aku takut kita terlambat melihat tarian!" Sedikit menarik Bart.


      Beberapa tatapan menghantam jeruji besi, dan melingkarkan garis takdir di permukaan. Air mata dan senyuman, kita tidak akan pernah tahu yang mana menjadikan kita kuat. Namun kesempatan adalah kesepakatan akhir.


      "Kesempitan atau kesempatan, dari mana saja Lei!" Duduk di kursi tetapi tatapan jatuh pada dua tubuh yang sedang berdiri bergandengan di depanya, "membuat suasana hati semakin parah!" Menatap sinis Bart dan Lenia.


      "Aku ingin melihat tarian El tapi aku tidak mampu melihatnya, kau tahu tinggi tubuhkukan, jangan bahas yang lain!" Senyum simpul.


      "Aku akan mengang," Bart menghentikan kata ketika telapak tangan Lenia ada di mulutnya, "jangan pernah membantuku, banyak solusi yang lain!" Bart menarik pelan tangan gadis itu dari mulutnya dan menggengamnya.


      Seorang lelaki dengan toxedo hijau tua duduk di kursi sendirian, tanpa aura kesepian di sana dan tatapannya jatuh pada kerumunan orang yang menatap tarian Dayak pada panggung. Gelas tuak beras dan kue menari di atas mejanya, menu dan pesana dapat di antar dengan membuat pesanan pada layar meja, dan lelaki itu melakukannya. Seorang gadis dengan batik hijau dan rok hitam menghampirinya, "nasi ketan dan tuak kedua, silahkan di nikmati tuan Ricard!" Tersenyum ramah.


      "Terima kasih!" Balasan berupa senyuman ramah, gadis itu terlihat menunduk dan pergi. Ricard mengangkat gelas tuak seolah membuat kesepakatan, tatapan dan senyuman terarah menuju Bart. Lelaki itu hanya membalas dengan senyuman miringnya.