Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



...Bab IV...


      Pergantian yang dingin. Masalah ada karena sebuah solusi bukan delusi. Lari bukan sebuah tanggung jawab. Ilusi yang tidak orang percaya tertutup oleh rumor bukan bukti. Satu kesalahan akan membuatmu salah selamanya, pada mata orang yang sedari awal tidak mengenalmu.


      Ketukan pada pintu, Eli di depan pintu. Jeans biru dengan bulu burung sebagi dekorasi terlipat rapi di atas mata kaki dan baju off shoulder berwarna merah, sneakers model pelangi serta sling bag dengan model yang sama. Lenia terlihat berantakan dengan piyama kuning.


      "Buatkan aku kopi!" Eli duduk di sofa.


      "Bukanya kau tadi mengantar Cerel?" Berjalan gontai menuju dapur, gadis itu menguap.


      "Aku memanaskan air dan mandi dulu!" Listrik electric kettle di biarkan menyala. Berjalan melewatkan sofa menuju kamar, "baru jam 6!" Berkata pelan lalu menutup pintu kamar.


       Cahaya matahari pagi. Gorden menari di pinggir jendela. Lenia membuka mata pelan, gadis itu menggosok mata dengan punggung tangan. Duduk pelan selimut jatuh ke paha gadis itu, tubuhnya tanpa sehelai kain. Di bagian perut, dada dan leher terlihat warna merah keunguan. Gadis itu mengerutkan dahi wajahnya merah. Menarik napas panjang dan menghembus kasar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


      Lenia beranjak dari tempat tidur dan menuju jendela. Dia berjalan pelan, terlihat sulit menyesuikan langkah. Tatapan tertuju pada halaman belakang.


      "Dia tidak tahu dengan kata sakit!"  Mengerutkan bibir, melangkah kembali menuju tempat tidur.


      "Tua mesum itu di mana?" Tangan memegang tubuh bagian bawahnya, "perih dasar mesum. Gawaiku diletakkan di mana?" Melihat sekeliling hanya kamar yang luas, "bau sabun?" Melangkah pelan ke arah kamar mandi, "Bart gawaiku, kau meletakkannya  di mana?" Bersandar di depan pintu.


      "Berbicara denganku?" Bart dari arah sebaliknya, dari sebuah pintu di ujung ruangan berdekatan dengan tempat tidur. Tubuh di balut celana kain cokelat tanpa lipit, dan tanpa mengenakan atasan, polos. Rambut panjang berwarna putih tertata rapi dibiarkan begitu saja. Jelas terlihat jika ruangan itu adalah lemari.


      "Gawaiku di mana?" Membalikan tubuh depannya ke arah pintu kamar mandi.


      Seketika Bart berada di belakang punggung Lenia. Tubuh atasnya menyentuh punggung gadis itu. Lenia sedikit terdorong ke pintu.


      "Satu tindakan sebagai syarat!" Memegang kedua pundak Lenia. Rambut Bart menyentuh pundak gadis itu.


      "Syaratnya!" Terbata-bata. Sambil menutup dada dengan kedua tangan pelan.


      "Berbalik ke arahku!" Lenia menurut, gadis itu berbalik pelan. Tatapan ke arah jendela. Bart merapatkan tubuhnya lagi, "jangan melakukan hal itu lagi, sakit!" Gadis itu terbata-bata. Bart menarik kedua tangan Lenia dari dada, gadis itu sedikit melawan. Tapi akhirnya menyerah.


      "Lei!" Lenia mendongak pelan, Bart menatapnya lekat.


      "Gawai, ada di ransel!" Tersenyum dan mundur satu langkah dari gadis di depannya.


      Lenia terlihat bingung, "kau, aku akan ke bawah!" Berlari kecil, terlihat langkahnya tidak stabil. Bart memperhatikan hingga tubuh Lenia tertutup oleh pintu. Menekan cincin pada jari jempol dan sebuah layar di depannya. Pesan masuk, 'kau bersama dengan gadisku?'


      "Selalu, dia bersamaku jangan ada kata menggongong!" Suara yang dilontarkan, membentuk sebuah ketikan pesan pada layar dan terkirim.


      Tatapan Lenia pada layar gawai, gadis itu terlihat lemah duduk di sofa pelan. 269 panggilan tidak terjawab di layar dan 109 pesan tidak terbaca baik dengan aplikasi dan bukan aplikasi. Semua tergabung, dari Rey dan Eli.


      "Eli akan membunuhku, dari 1--100 kalau boleh memilih aku kabur karena jelas 100 dia mebunuhku dengan kuliah paling horor!" Meringkuk di sofa. Sebuah panggilan masuk, Lenia dengan cepat menghubungkan.


      "Eli," kata berhenti.


      "Bodoh kau di mana, aku di depan penitipan motor di sini. Aku berkeliling dengan tim di sini mencarimu hingga masuk dua kali ke gunung Kasali!" Sangat marah.


      "Aku segera ke sana!" Mematikan gawai cepat. Mengambil pakaian dari ransel dan mengenakannya. Panggilan ulang di layar. Lenia mencari titik lokasi arah gunung Kasali pada gawainya. Ketika menemukan lokasi, gadis itu mengenakan ranselnya, mengambil sepatunya dari lemari tamu, "sudah dia besihkan!" menuju pintu dan melempar dua sepatunya ke luar. Berlari ke arah tangga tapi niatnya di urungkan, "akan ku hubungi lewat gawai nanti!" Kembali menuju pintu keluar. Sepatu terpasang, memasangkan helm, menghidupkan motor dan pergi.


      Rey, Cerel dan Eli duduk di pondok sewa. Lenia mematikan motor dan berlari dengan helm tanpa mengambil kunci dari motor. Napas tersenggal-senggal berhenti di depan pondok sewa.


      "Kau baik-baik saja?" Rey berdiri.


      "Jangan pernah merasa kasihan pada orang yang tidak kasihan pada diri sendiri dan orang lain!" Berdiri di depan Lenia. Wajahnya terlihat menahan marah. Cerel memperhatikan dari tempat duduknya.


      "El!" Memeluk Eli sambil menahan tangis.


      "Tahu kesalahankan!" Eli Luluh.


      Langkah keempat orang itu pelan menuju parkir.


      "Kenapa bau mawar, kau tidak pernah ganti parfume sebelumnya?" Lenia menghentikan langkah di samping Eli yang memperhatikannya.


      "Aku suka bau kak Leilei!" Cerel menjawab cepat.


      "Ku perhatikan dari atas sampai bawah dan kenapa ada sesuatu di leher!" Eli mengangkat alis.


      "Aku akan menjelaskannya nanti!" Terbata-bata dan melanjutkan langkah. Eli memperhatikan, tatapan tajam pada punggung Lenia.


      Bart menuju tangga, "baunya hilang!" Pesan pada layar di depannya, 'aku pulang, keadaan darurat. Terima kasih sudah membersihkan sepatuku!' Bart menyungging senyum, "perempuan ini, dia tidak tahu kalau aku mudah marah!"


      Gelas kopi di letakkan pelan di meja.


     "Katakan sekarang atau kapan lagi, sudah berapa hari kau selalu menunda Lei!" Eli mengangakat gelas kopi cepat.